
..."Keluarga adalah syurga kecil tempat pulang terbaik bagi anak-anaknya, ini sejatinya! Jika ia merasa hampa, jangan salahkan ia mencari dekapan lain di luar rumah!" (Nasya)🥀...
...___________________________________...
Nasya Hamid, wanita cantik yang sudah 3 tahun berstatus menjadi kekasih Bias. Dia terlahir bukan dari keluarga miskin. Ayahnya seorang dokter yang cukup terkenal yang memilih mengabadikan diri ke sebuah daerah terpencil dan menjadi dokter di sana. Ia akan menengok Nasya dan mamanya setiap akhir pekan sekali, atau tak jarang 1 bulan sekali.
Ibu Nasya wanita yang tak kalah sibuk, dia berprofesi sebagai dokter juga. Dokter spesialis obgyn atau kandungan. Setiap saat ibu Nasya harus ready jika ada pasien yang membutuhkan kedatangannya di rumah sakit. Hal itu jua lah yang membuat ibu Nasya tidak bisa ikut suaminya ke tempat prakteknya saat ini. Ya, kedua orang tua Nasya adalah orang yang sibuk.
Karena kesibukan kedua orang tuanya itu, Nasya yang cantik sering merasa kehilangan kasih sayang. Pun ia memilih menghabiskan waktu bersama orang-orang yang bisa memberinya kehangatan dalam sebuah hubungan, cinta dan perhatian untuknya.
Sesungguhnya harta dan materi bukan impiannya, toh dari uang yang diberi orang tuanya ia bisa membeli sendiri apa yang ia mau. Tapi ... Nasya tipikal wanita yang akan menganggap sebuah pemberian adalah tanda cinta. Jadi dia senang dan tak pernah menolak pada setiap pemberian.
Walau Nasya adalah anak dua orang cerdas yang sukses berkarier, kurangnya kontrol orang tua menjadikan Nasya menjadi gadis yang meremehkan pendidikan dan belajar. Ia bahkan cenderung tak ingin pintar, untuknya semakin pintar dan memiliki karir mapan, seseorang cenderung lupa orang sekitarnya dan hanya akan fokus dengan mimpinya sendiri. Beruntung Nasya selama ini memiliki Bias dan Helen yang dengan telaten membantu masalah akademiknya. Ya, Bias dan Helen adalah orang-orang yang menjadi otak Nasya, teman terdekat yang sangat peduli dengan tugas dan nilai-nilai akademik Nasya di sekolah.
Rembulan semakin meninggi dan desir angin semakin semangat menyergap pori. Rintik hujan yang mulai turun membasahi bumi tak menyurutkan niat pria yang masih berada di atas kemudi itu melajukan motor besarnya menuju rumah sang pujaan hati. Walaupun berbeda jalur dari rumahnya, sungguh tak menjadi kendala untuk Bias menjumpai Nasya.
Bias menekan klakson saat Ducatinya berhenti sempurna di depan pagar hitam kokoh yang menghalangi lajunya. Seorang pria paruh baya yang sudah hapal dengan motor besar milik kekasih tuan rumahnya langsung membuka pagar pembatas tersebut. Bias menganggukkan kepala sebelum akhirnya masuk ke pelataran rumah berdominasi putih dan biru muda itu.
Tanpa permisi Bias langsung menekan bel dan tak lama wanita berusia sekitar 45 tahun keluar dengan seragam ART-nya.
"Den Bias," sapa sang ART sambil melihat ke sekitar raga Bias.
"Nasya ada kan, Bik? Tolong bilang saya datang ya!"
"Lho, Den. Bukannya non per-gi dengan Den Bias, ya?" ucap ART itu apa adanya.
"Maksud Bibik, Nasya sedang pergi?"
"I-ya, Bibik pikir non pergi dengan Aden. Kan biasanya begitu!"
"Dari siang Nasya belum pu-lang?" tanya Bias lagi, ART itu mengangguk.
Kemana Nasya?
"Bik, tapi kemarin-kemarin Nasya pulang tepat waktu, 'kan?"
__ADS_1
"Pokoknya sebulan ini lah Non pulang malem terus, eh ... kok Den Bias malah tanya Bibik sih? Bukannya perginya sama Aden, ya?" ART itu menatap serius wajah Bias, ia heran.
"Aduhh, kenapa saya jadi lupa sih. Iya iya ... memang kemarin Nasya pergi sama saya. Oh ya, Bik. Kalau kemarin Nasya sampai rumah jam berapa? Kemarin saya ada urusan jadi nggak bisa nganter sampai rumah soalnya," tanya Bias lagi mulai menyelidik. Bias spontan membuka dua kancing kaos berkerahnya itu, Bias seakan tiba-tiba merasa gerah.
"Jam 9 seperti biasa, Den. Oh ya sampai lupa, Aden mau minum apa?"
"Apa aja boleh, Bik!"
Sepeninggal ART, Bias mulai mencari kontak Helen di smartphonenya. Ia langsung menghubungi Helen, namun ... belum lagi Helen menjawab seorang gadis semampai yang masih memakai seragam berpadu sweater pink masuk, ia langsung mendekati Bias. Bias mematikan kembali panggilannya.
"Kamu di sini, Yang?"
___________________
🥀FLASHBACK
"Terima kasih untuk hari ini, Beib." Seorang wanita yang masih duduk di atas Vespa melontar kata pada pria di hadapannya yang lengannya dipenuhi tato yang selalu siap meluangkan waktu untuk Nasya. Dekapan itu seakan belum ingin ia lepas, tapi bangunan berdominasi putih dan biru sudah berada lima meter di hadapannya. Ya, Nasya memang tidak suka diantar sampai depan gerbang, karena orang rumahnya hanya tahu Biaslah kekasih Nasya.
"Aku langsung aja!"
"Kok kamu buru-buru banget, sih?"
"Bukan karena kamu mau nemuin pacar kamu itu?"
"Hmm, nemuin dia sebentar juga sih."
"Hahh kamu tuh, dia tinggal di kos-kosan, awas aja kalau kamu macem-macem, Beib!"
"Kamu juga punya cowok dan aku nggak pernah larang kamu ketemu dia, kan?" ucap sang pria menarik sepasang lengan sang wanita hingga dekapan itu semakin erat.
"Tapi aku sama cowok aku nggak pernah macem-macem!"
"Ta-pi dia normal, kan?" Sang pria tampak melontar tanya.
"Kamu tuh, maksud kamu aku pacaran sama lelaki yang nggak normal? Sete-ngah gitu?"
__ADS_1
"Bukan, bukan normal itu! Normal yang lain." Sang wanita terkekeh.
"Dia normal lah! Tapi dia lelaki baik."
"Maksud kamu aku nggak baik?"
Sang wanita menarik hidung sang pria dari belakang dengan gemas. "Kamu tuh sensitif banget, Beib. Udah ah aku masuk aja, nanti kamu kemaleman lagi ke tempat yayang kamu!" ucap wanita sambil turun dari vespa, si pria tertawa.
"Oh iya, Beib. Jangan lupa besok kita nggak ketemu dulu, ya. Aku ada janji jalan sama pacar aku!"
"Hmm .... Oke lah." Baru sang wanita hendak beranjak, sang pria memanggil.
"Beib!"
"Hem?"
"Sini sebentar!" Sebuah kecupan singkat diberikan oleh sang pria di bibir sang wanita membuatnya langsung menoleh ke arah sekitar.
"Kamu tuh, nanti kalau ada yang lihat gimana?" Sang pria tertawa.
"Maaf, sudah sana masuk!"
Pun keduanya berpisah di tempat itu. Tak lama berselang, raga sang wanita sudah di depan gerbang, ia berteriak memanggil nama seorang pria yang bekerja di rumahnya dan pria itu dengan cepat membuka gerbang.
"Non ...."
"Kenapa mamang kaget gitu ngelihat aku?" ucap Nasya.
"I-tu a-da den Bias____
"Bias? Di-sini?" Nasya mengedar pandang ke pelataran dan tampaklah motor yang tak asing untuknya. Walau kaget, ia dengan cepat melangkahkan kaki menuju rumah. Ia berkali menarik napas agar tak gugup bicara dengan pria yang masih berstatus kekasihnya itu di dalam nanti.
..._____________________________________...
🥀Makasih supportnya selalu😘
__ADS_1
🥀Like, komen, vote dan rate jangan sampe lupa ya😍
🥀Happy reading💋💋