
Setelah berjalan kurang lebih 10 menit, keduanya kini berada di muka sebuah homestay yang tampak asri dengan pemandangan pepohonan dan pot-pot bunga yang indah. Tak jauh dari kamar mereka juga terdapat kolam renang cukup bersih disertai kursi-kursi kayu dengan payung di bagian atasnya.
Keduanya diarahkan kini ke sebuah kamar yang berada di sudut setelah menyelesaikan pembayaran. Hal yang membuat Bias semakin merasa cocok dengan tempat ini adalah resepsionis di muka homestay menanyakan perihal hubungan keduanya juga meminta keduanya menunjukkan buku nikah. Bias yang sudah berjaga membawa buku nikah merasa tenang. Ya, usia keduanya yang masih muda membuat Dona yang tahu Bias akan ke Jogya meminta putranya itu membawa dokumen penting yang mungkin saja dibutuhkan dan ternyata benar firasat Dona, karena tempat menginap yang Bias pilih nyatanya tidak sembarangan menyetujui permintaan check in pasangan berbeda jenis kelamin.
"Yang ... kamu lama banget sih di kamar mandinya?" ucap Bias yang sudah mandi lebih dulu dan kini tengah berbaring di ranjang menunggu sang istri.
Tak berselang lama pintu terbuka, Zee tampak menggunakan kaos longgar seperut dengan celana hotpants yang membuat Bias dikejauhan sudah tersenyum saja dibuatnya.
"Sini, Sayang!" ucap Bias melihat Zee mendekati wadah sampah di sisi partisi yang menyekat kamar itu dengan ruangan dapur. Zee berbalik ke arah Bias dan langsung naik ke ranjang. Zee terus menatap Bias, ia tahu suaminya itu pasti menginginkan dirinya, tapi sayangnya sang suami sedang tidak beruntung, sore tadi bahkan tamu bulanan Zee baru saja datang. Zee yang tidak ingin membuat Bias langsung kecewa memilih tidak memberitahu suaminya itu dulu.
"Ahh, Sayang ...." Baru saya tubuh Zee mendarat ke ranjang, lengan itu sudah mengunci tubuhnya, mendekapnya erat.
"Ahh, nyamannya. Kamu tahu, Yang. Susah banget aku tidur 3 bulan ini tanpa peluk kamu!" lirih kata itu terucap. Zee mendangak melihat wajah Bias. "Maaf," lirih Zee, ia sadar sudah sangat egois memilih mempertahankan beasiswa, kini justru waktu, tenaga juga uang Bias banyak keluar untuknya, untuk menemuinya. Belum lagi Zee mengingat Bias yang bersedia membantu membayar kos Risya. Ada rasa bersalah di hati itu.
CUP ....
Sebuah kecupan di daratkan Bias ke bibir Zee, membuat manik mata Zee seketika berkedip.
"Kamu kenapa, hem?" ucap Bias menyadari Zee terus terpaku menatapnya. Zee mengalihkan tatapannya dan menjatuhkan wajah ke dada Bias, mendengus harum yang ia rindukan juga mendekap tubuh yang selalu membuatnya nyaman.
__ADS_1
"Gpp," ucap Zee.
"Yang ...." Bias mengusap-usap kepala Zee membuatnya kembali mendangak, sebuah kecupan di daratkan lagi. "Aku cinta kamu," ucap Bias.
"Aku juga." Zee menaikkan wajahnya dan mendekati bibir Bias, membiarkan Bias menciumnya lebih. Ia tahu Bias sedang rindu, walau ia sedang terbatas melayani suaminya, tapi memberi hal lain ia masih bisa.
Keduanya saling menyamankan dan meluapkan rasa melalui kecapan yang dilakukan, hingga Bibir Bias mulai mengabsen leher jenjang Zee, memberi beberapa tanda kepemilikan di sana. Jemari Bias mulai menaikkan atasan, membuka sepasang pengait, mengusap serta memainkan jemari dan bibirnya di setiap inci tubuh Zee. Zee terus menggeliat, namun beberapa saat Zee sadar Bias harus tahu kondisinya.
"Yang tung-gu!"
"Ahh, i-ya?" Bias mendangak.
"Tung-gu! Dengar aku!"
"Bu-kan. Ada yang harus kamu tahu!" Alis Bias terangkat.
"Yang ...," lirih Zee meraih bahu Bias. Bias perlahan merangkak naik hingga wajah kedua sejajar. Bias menahan tubuh dengan kedua lengan dan lututnya.
"Bilang aja ada apa?"
__ADS_1
Zee menangkup wajah itu. "Ma-af, Yang! Aku lagi da-tang bu-lan!"
"Hah?"
Bias terdiam sesaat, ia mencium kening Zee setelahnya. "Yaudah kamu istirahat," lirih kata itu terucap. Perlahan Bias mengangkat tubuh dan beranjak ke kamar mandi setelahnya.
_________________
"Kamu gpp, Yang?" ucap Zee sudah berpakaian rapi dan kini bersandar di bahu Bias.
Bias tersenyum. "Gpp, ternyata striker masih harus puasa," ucapnya.
"Kamu gak marah?" Zee memperhatikan wajah Bias seksama, mencari raut kemarahan di sana tapi ia tidak menemukannya.
"Memang kodrat wanita begitu, kan? Yaudah lah, masih ada hari lain juga. Berapa hari biasanya?" tanya Bias sambil beberapa kali mendaratkan kecupan di puncak kepala Zee. Ia sebetulnya kecewa, tapi ia harus bersyukur dengan kebersamaannya dengan Zee saat ini, bisa saling mendekap, mencium tanpa jarak adalah hal indah, itu yang ia tanamkan di otaknya.
"Aku baru dapet tadi sore, biasanya 6 sampai 7 hari."
Ekspresi wajah yang sebelumnya terus berusaha tersenyum mendadak berubah. "Masih la-ma, ya____
__ADS_1
...____________________________________...
🥀Happy reading😘