
Risya, seorang gadis muda yang tengah tertidur mendadak terbangun. Ia kaget ada suara lelaki di kamar yang ia tempati. Panggilan sayang diikuti nyanyian merdu itu seketika membuat matanya kian segar. Ia sedikit mengangkat kepala memastikan yang terjadi. Ia mendengar asal suara berasal dari laptop yang membelakangi tubuhnya. Tak berselang lama Risya mendengar gerak langkah yang mendekat, entah mengapa tanpa pikir panjang Risya spontan membaringkan lagi kepalanya. Selanjutnya berbagai percakapan terus ia dengar, percakapan yang menyertakan namanya, dirinya.
Berbagai hal muncul di otak Risya, mengenai sosok yang menelepon sahabatnya itu. Zee memang agak tertutup jika bicara mengenai lelaki. Selama ini Risya ingat-ingat ia lah yang mendominasi perbincangan dan Zee lebih banyak menjadi pendengar. Kini, melihat Zee berkomunikasi dengan lelaki ia mulai meyakini satu hal, Zee memiliki kekasih.
"Aku nggak mau denger kamu! Kamu yang harus denger aku! Denger ya, Yang! Kamar ini punya kita! Raga kita udah berjauhan! Satu-satunya yang bisa bikin kita deket cuma media! Bisanya aku meluapkan rindu aku ya dengan nelfon kamu, lihat wajah kamu, lihat aktivitas kamu, saling mengungkapkan sayang, bernyanyi atau melakukan apa aja yang cuma kita yang tahu! Kamu sama aku! Privasi kita! Dengan kamu membagi kamar kamu sama teman kamu, itu artinya ruang bersama kita terbagi! Dan aku gak mau ya membagi itu semua!" Zee bergeming.
"Kamu ngerti ucapan aku kan, Istri?"
Risya masih memejamkan mata, mendengar setiap kata yang terucap jelas melalui indranya. Setiap kalimat yang Zee ucapkan plus lelaki itu tanggapi. Lelaki yang berbincang dengan Zee jelas tak suka dengan dirinya, kehadirannya di kamar itu. Risya masih diliputi tanya, mengapa lelaki itu seolah menguasai Zee dan merasa Zee harus mendengarnya. Tanya yang tiba-tiba terjawab sekejap. Ya, kata-kata terakhir yang terdengar dari si lelaki membuat Risya tercekat, kaget dan tak menyangka.
Istri? Mengapa ia menggunakan panggilan itu? A-pa Zee memang sudah menikah dan i-a adalah suami Zee?
Seketika Risya teringat cincin yang melingkar di jari manis Zee. Cincin yang hanya ada saat keduanya bertemu usai pulang kuliah. Zee yang selalu mengalihkan jawab saat ia bertanya perihal cincin itu, mengatakan cincin itu hanya cincin biasa.
Risya sejujurnya ingin bangun, tapi melihat perbincangan itu belum selesai, ia mengurungkannya. Ia tak ingin Zee merasa tak enak hati jika tahu Risya mendengar segalanya.
"Yang, kok kamu diem aja? Kamu ngerti ucapan aku kan, Istriku sayang?"
Kata istri itu lagi-lagi terdengar Risya, Risya menelan kasar salivanya. Ia kini meyakini sesuatu. Status yang disembunyikan Zee, bahwa Zee sahabatnya ternyata telah menikah.
"Eh, i-ya aku paham, Yang. Ta-pi hmm___ a-ku juga mau bantu Risya, Ya-ngg ...." Zee masih berkeras membantu Risya. Risya yang mendengar merasa tersentuh. Zee yang baru dikenalnya 3 bulan belakangan ini nyatanya begitu peduli padanya.
"Kamu itu baik banget sih, Yang! Emang begitu meresahkannya ya tetangga Risya? Mungkin cuma mau kenal biasa aja kali. Kamu aja yang terlalu berlebihan. Biasa kan, usia-usia kayak mereka, kayak kita juga sih seharusnya, usia saling mengenal, saling suka lawan jenis, ingin tahu lebih dekat. Semua lumrah lho, Yang!" ucap Bias.
"Hmm ... iya sih. Tapi aku gak tau lihat mata cowok-cowok itu khawatir aja. Kayak buaya ngeliat mangsa, ingin buru-buru nangkep. Serem ihh!" Bukan ikut masuk dalam kekhawatiran Zee, Bias justru tertawa dengan semringahnya.
__ADS_1
"Kamu tuh lucu banget sih, Yang! Buaya ngeliat mangsa? Aku jadi penasaran lihat mata mereka tadi." Bias yang terus bercanda membuat Zee geram.
"Yang, aku serius loh. Kok kamu malah bercanda sih!"
"Oke-oke sorry! Emang cantik banget apa si Risya itu? Kamu jogging sama dia, kan? Kok yang mereka taksir Risya? Padahal buat aku kamu tercantik loh. Kok pesona Risya lebih tersorot? Tapi bagus juga sih mereka gak macem-macem sama kamu. Awas aja kalau mereka berani ganggu istri aku!"
"Ish kamu itu, Yang! Iya Risya memang lebih cantik dari aku! Puas! Kamu tau gak kenapa? Karena madu aku udah aku kasih ke kamu, Yang! Udah ah, aku mau sholat! Males ngomong sama kamu!" Zee yang kesal langsung menutup panggilan itu.
TUT TUTT ....
"Yang ... Yang!"
Ah dimatiin! Zee pasti marah! Padahal aku cuma bercanda aja kok, Yang! Kamu tercantik untuk aku selamanya ....
Zee masih bersungut. Ia langsung meletakkan ponsel dan berwudhu. Ia menjalankan ibadah setelahnya. Setelah ibadahnya selesai Zee lantas bangkit. Ia kaget melihat Risya yang sudah duduk menatapnya.
"Hei Sya, kok bengong sih?" Zee berucap lagi. Ia bingung melihat Risya yang terus menatapnya, Zee mengaburkan angan Risya dengan memanggilnya. Kini ia terlihat salah tingkah, namun ia sadar harus mengambil sebuah sikap setelahnya.
"Zee, aku langsung balik ke kossan aku aja deh," ucap Risya yang membuat Zee bingung. Sesaat tadi bahkan Risya terlihat begitu ketakutan dan berucap enggan pulang. Ya, sebelum akhirnya ia membaca buku dan tertidur.
"Lho kok? Nggak Sya! Menurut aku sementara kamu di sini aja! Nanti sore kita ke kossan kamu, ambil buku dan perlengkapan kamu, kamu nginep di sini aja!" ujar Zee. Zee yang sedang marah pada Bias berucap apa yang menurut hatinya benar saat itu. Zee merasa tak tenang jika Risya kembali ke kossannya.
"Aku terima kasih atas niat baik kamu Zee, tapi aku sebaiknya pulang!" Risya yang sudah mendengar semua ucapan Bias merasa kehadirannya akan memperkeruh hubungan Bias dan Zee. Ia memilih kembali pada tempatnya, walau ia sendiri takut dan tidak bisa membayangkan apa yang bisa terjadi padanya. Ia positif thinking saja.
"Kenapa? Kamu gpp kok nginep di sini! Aku lebih tenang ketimbang kamu ke kossan dan dua cowok norak tadi akan ganggu kamu!"
__ADS_1
"Aku bilang enggak Zee! Sebaiknya kamu pikirin hidup kamu aja. Aku bisa jaga diri, kok! Aku juga gak bisa nyusahin kamu terus!"
"Tapi aku nggak merasa di susahkan! Kita sama-sama sendiri di kota ini Sya. sudah sewajarnya kita saling menjaga dan melindungi. Kamu di sini aja, please!"
"Aku bilang nggak ya nggak Zee!"
"Sya, jangan keras kepala deh! Ayo masuk!" Zee menarik lengan Risya yang baru saja ingin meraih gagang pintu!"
"Zee, lepas!" pekik Risya dengan nada meninggi membuat Zee kaget.
"Sya?"
"Kamu nggak bisa denger ucapan aku Zee! Ini hidup aku, biar aku sendiri yang menanggungnya!" pekik Risya.
"Nggak! Kamu temen aku! Aku akan bersama kamu!" Zee berkata tak kalah keras, ia sungguh tak ingin hal buruk terjadi pada Risya.
"Nggak Zee! Kalau kamu bantu aku nanti suami kamu marah! Ups____
Risya berucap spontan. Ia menutup rapat mulutnya dengan telapak tangan kini. Ia menyesali ucapannya.
"Sya? Ka-mu denger se-mua?"
...______________________________________...
🥀 Happy reading❤️❤️
__ADS_1
🥀Maaf mas Bro lagi libur plus anak2 UTS susah untuk nulis🙏🤧🤧
🥀Makasih untuk kalian yang memberi vote Zee di Senin manis ini😍😍😘😘