
Bias masih mengarahkan ponsel di telinga saat seorang gadis semampai yang masih memakai seragam putih abu-abu berpadu sweater pink masuk. Bias langsung mematikan panggilannya pada Helen.
"Kamu di sini, Yang?" Sepasang tangan dengan jari-jari lentik langsung melingkar di leher Bias. Bias mengangguk dan perlahan melepaskan tangan Nasya dari lehernya.
"Kamu baru pulang? Darimana aja?" lugas Bias.
Jemari itu kembali bergerak ke tempat yang sebelumnya, Nasya melingkarkan lagi lengannya ke leher Bias dan kali ini jarak tubuh keduanya semakin dekat.
"Sya, jangan begini!" lirih Bias berusaha melepaskan eratan itu lagi tapi Nasya menahan.
"Kamu panggil nama aku, nggak pakai sayang?"
"Jawab dulu kamu darimana?"
"Kamu jahat mulai curiga sama aku, aku bisa kemana lagi sih, Yang. Kalau aku nggak sama kamu, ya berarti aku sama Helen." Nasya melepaskan lingkaran tangannya.
"Aku tuh bosen Yang di rumah. Sepi, lagi-lagi Bibik sama mang Ujang aja yang aku lihat. Mama semenjak ada virus yang lagi gencar nyerang ibu hamil itu sering stanbye di Rumah Sakit, observasi katanya, nggak boleh lengah. Papa aku, kamu tahu sendiri datang seminggu sekali. Dan kamu pacar aku, selalu sibuk sama ekskul kamu! Kalau aku nggak boleh ke rumah Helen, aku bisa stress, Yang. Sedang aku minta putus biar bisa buka hati untuk yang lain, kamu nggak mbiarin. Kenapa hidup aku salah terus sih, Yang!!" Netra Nasya mulai berkaca, ia duduk di sofa sambil menunduk sangat sedih.
Melihat kesedian Nasya, seketika muncul rasa bersalah di hati Bias. Ia membuang napas kasar dan duduk mendekat pada kekasihnya itu. Dipeluk raga Nasya yang tampak rapuh di hadapannya.
"Ma-af! Maafin aku, Yang! Aku cuma takut kamu berpaling dan diam-diam pergi sama yang lain di belakang aku. Aku nggak mau itu terjadi! Kamu cuma punya aku! Pacar aku!" Bias menaikkan dagu Nasya yang terus menunduk.
"Kamu mau maafin aku kan, Yang?" ucap Bias lagi.
"Kamu aja nggak percaya aku, ngapain juga aku maafin kamu. Kita putus aja, Yang! Sudah cukup!"
"Nggak! Aku nggak mau putus sama kamu! Oke, aku janji nggak akan berasumsi sendiri lagi. Aku percaya kamu itu setia! Please! Jangan marah, ya!" Nasya diam beberapa saat dan mengangguk setelahnya.
Nasya memang sebetulnya tidak benar-benar marah. Justru ada rasa bersalah di sudut hati itu melihat wajah tulus Bias. Wajah tulus seorang pria cerdas dengan talent basket yang sangat mencintainya. Menurut penuturan Bias, rasa suka terhadapnya sudah dirasa sejak keduanya duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Kini, pria yang selalu diidolakan di sekolah dan diagungkan karena tak pernah absen membawa piala dalam ajang lomba nyatanya sedang ia permainkan. Nasya menarik napas panjang menyadari semua tidak adil untuk Bias, ia salah. Nasya sadar bersalah telah bermain-main dengan pria lain di belakang Bias. Kesalahan yang membuatnya bahagia, sebab Reno kakak Helen itu nyatanya selalu ada untuknya. Reno telah mengisi jiwa Nasya yang kesepian saat Bias tak bisa selalu ada.
Melihat Nasya mengangguk, Bias mempererat dekapannya. Bias senang kekasihnya itu memaafkan kesalahannya.
"Udah, Yang. Badan aku sakit!"
"Eh, maaf." Keduanya sama-sama tersenyum dan kembali berbaikan setelahnya.
"Oh ya, Yang. Kok kamu masih pakai celana sekolah juga, sih? Jangan bilang kamu juga belum pulang ke rumah." Bias menggeleng.
__ADS_1
"Jahat! Pacar aku lebih banyak habisin waktu sama bola basket ketimbang sama aku!" Bibir Nasya memberengut, Bias tersenyum.
"Isshh ... jangan manyun dong! Jelek tau!"
"Biarin, jelek-jelek kamu juga cinta!"
"Iya, aku memang udah terlanjur bucin. Makasih ya Yang, atas pengertian kamu!" lirih Bias. Nasya mengangguk.
"Oh ya, ayo ikut aku, Yang!"
"Eh, mau ke mana?"
Nasya menarik lengan Bias hingga langkah kaki keduanya terus menaiki satu persatu anak tangga yang jelas menuju lantai atas itu. Sampai di depan pintu berdominasi pink, langkah Nasya berhenti membuat Bias menoleh ke arah Nasya dengan cepat.
"I-ni, kan?"
"Ayo masuk!"
"Jangan, kita di bawah aja!"
"Sayang ... kamu kenapa sih? Gini Yang, aku tuh sebetulnya ada tugas Bahasa Inggris, aku mau minta bantuan kamu!"
"Di sini aja gpp, Yang. Sekalian aku capek mau rebahan!"
"Yang ...."
"Kenapa? Kamu takut berdua sama aku?" Bias terkekeh.
"Sebaliknya, justru aku mau tanya, emang kamu nggak takut sama aku?"
"Takut kenapa?"
"Takut aku macem-macem, gitu?"
"Kalau kamu emang lelaki yang mau macem-macemin aku, pasti udah kamu lakuin dari dulu. Tapi nyatanya kamu nggak begitu." Bias tersenyum.
"Yuk masuk!"
__ADS_1
"Etz, udah segitu aja! Jangan rapat-rapat nutupnya!" Nasya menatap wajah pria yang mulai mengarahkan tubuh ke sofa, ia menggelengkan kepalanya mendengar Bias melarang ia menutup rapat pintu kamar. Ya, Bias berusaha menjaga keduanya.
"Ini tugas aku, Yang." Nasya menunjuk soal dalam buku paket di tangannya. Bias meraih pena dan mulai menjawab satu persatu soal.
"Aku tinggal mandi sebentar kamu gpp sendiri kan, Yang!" Bias mengangguk, namun matanya fokus ke setiap soal di hadapannya.
Beberapa saat berlalu Nasya kembali dengan setelan kaos oblong dan celana di atas paha yang memperlihatkan kaki jenjangnya. Bias menatap sekilas dan mengalihkannya.
"Kamu nggak ada celana yang lebih panjang, Yang?"
"Kenapa sih kamu, toh kita cuma berdua di kamar, nggak ada juga yang lihat!"
"Tapi aku lihat, dan justru karena kita berdua, celana yang seperti itu lebih baik dihindari, dipakai nanti aja pas aku udah pulang!" ucap Bias masih sembari mengerjakan soal.
"Kalau gitu kamu jangan lihat, gampang kan!"
"Tapi aku punya mata dan aku laki-laki normal. Ganti, yaa!"
"Ahh kamu tuh, gara-gara celana aja panjang deh!" Bias tersenyum melihat Nasya akhirnya bangkit dan meraih sebuah celana dari lemari dan menuju kamar mandi di sudut kamar.
"Sudah selesai, ada PR yang lain?" Bias menatap pancaran ayu di hadapannya yang sudah berkali-kali menguap itu.
"Hmm, oh i-ya ada satu lagi PR aku, Yang. Sebentar."
"I-ni. Ma-pel Sejarah."
Bias membaca buku paket di hadapannya, baru menjawab tiap soal itu. Bias masih fokus mencari jawaban saat dilihatnya Nasya sudah pulas terlelap di sofa yang mereka duduki. Bias menggeleng dan fokus menjawab soal.
Sepuluh menit berlalu, Bias merapihkan buku-buku Nasya ke dalam tas. Ia mengangkat tubuh semampai itu ke ranjang setelahnya.
Bias bergeming mengusap kepala dengan wajah yang begitu polos saat tertidur itu. Ada rasa iba dirasa Bias membayangkan gadisnya itu hidup dalam kesepian. Bias melirik jam analog di tangan menunjukkan pukul 22:05 dan ia merasa harus pulang.
"Mimpi indah ya, Yang! Aku pulang dulu!" bisik Bias. Baru hendak mengangkat badan, cengkraman jemari Nasya menahan lengan Bias.
"Jangan pulang, Yang! Temenin aku di-sini."
..._______________________________________...
__ADS_1
🥀Happy reading😍
🥀Matur suwun sanget untuk yang selalu menunggu kelanjutan kisah Zee dan Bias ini❤️❤️💋💋