
"Jadi mama___
"Mas, please jangan!" Dara menahan tubuh Bias yang ingin menuju kamar pribadi orang tuanya. Bias terbakar emosi, tak menyangka dengan perilaku Dona.
"Gak bisa Ra, mama nggak bisa ngelakuin ini semua sama gue! Lo tau artinya kan! Secara gak langsung mama minta Zee jauhin gue! Tega mama!"
"Iya Mas, aku baru sadar, tapi Mas jangan kasar ke mama! Please jangan samperin mama! Jangan ganggu mama, Mas! Mama juga pasti marah ke aku!"
Dara terus memohon, ada rasa bersalah di hati itu sudah jujur pada Bias. Dara takut kakaknya itu melakukan hal buruk dan semua semakin memperkeruh semua. Keharmonisan keluarga mereka sedang dipertaruhkan. Belum lagi reaksi Dona jika tahu Dara lah yang memberitahu kejadian hari itu. Dara menangis.
Bias mengusap wajah Dara. "Lo tenang aja, Ra! Mama nggak akan tahu gue tau semuanya dari mana! Lo sekarang istirahat masuk kamar, ya!"
"Mas, aku nggak mau terjadi apa-apa sama Mas!"
"Gue nggak akan kenapa-napa. Mas lo ini udah dewasa, Ra! Lo tenang aja, ok!"
"Mas!" Bias tak menggubris ucapan Dara lagi, ia melangkah naik ke lantai atas dengan cepat, menuju kamar orang tuanya.
"Ma, buka Ma! Ma, Mama ...!" Lagi-lagi Bias mengulang ketukannya dengan lebih keras, hingga pintu kamar di hadapannya akhirnya terbuka.
"Bi ... kamu belum ti-dur, Nak?" Dona memicingkan mata, belum sepenuhnya sadar.
"Bias kecewa Mama! Sangat kecewa! Mama pakai cara kotor untuk jauhin Bias dari Zee. Jahat Ma! Bias gak nyangka Mama bisa lakuin itu semua sama Zee!"
"Bi, kamu bicara a-pa?"
"Mama nggak usah pura-pura lupa deh! Bias kecewa sama Mama!"
"Bi ... Bi, dengar Mama dulu, Sayang!"
"Dengar apa? Dengar kebohongan Mama? Bias fikir Mama tulus mau kenal Zee tapi Mama sama aja sama Papa!"
"Mama serius suka Ziva, Sayang!"
"Tapi Mama bikin Zee minta putus ke Bias! Supaya Mama tau, Bias nggak akan nyerah Ma! Bias akan nikah sama Zee terserah Mama Papa setuju apa nggak!"
"Bi, pikir lagi, Sayang! Jangan gegabah, Nak!" Dona berusaha meraih tubuh Bias, tapi Bias menghempasnya.
"Bi, jangan begini! Maafin Ma-ma, Nak! Kamu tau sendiri kalau kamu nekat bagaimana reaksi papa! Tahan diri kamu, Sayang!" Wajah Dona mengiba.
"Apa ini! Malam-malam berisik! Ganggu tidur saja!" Pria tampan berusia matang ke luar dari kamar. Sesaat lalu ia terganggu mendengar suara gaduh.
__ADS_1
"Papa!" kaget Dona.
"Bias akan segera menikahi Zee, Pa!"
"Apa ini malam-malam!"
"Terserah Papa dan Mama setuju atau nggak Bias akan menikah sama Zee!"
"Gila kamu!"
"Bi ...." Dona terus menggeleng di kejauhan. Bias membuang wajah.
"Bias janji akan tetap fokus bekerja, Pa!"
"Sekali nggak ya nggak! Gak ngerti juga kamu! Anak bau kencur kok ingin menikah!"
"Bias tetap akan menikah!"
Libra melihat seksama wajah putranya itu. Ia berdecih. "Sombong kamu! Sudah merasa hebat!"
"Maaf tapi Bias sudah mantap!" Bias seketika berbalik menuju kamarnya.
"Hei mau ke mana kamu! Kamu mau menikah, 'kan? Berarti kamu sudah siap pergi dari rumah ini!" teriak Lutfi membuat langkah Bias terhenti. Ia berbalik.
"Bukannya kamu sudah hebat! Tentu bisa hidup sendiri tanpa tangan orang tua! Sana pergi! Mantap menikah, kan? Atau kamu mulai takut nggak bisa memberi makan istri kamu kalau ke luar dari rumah ini? Mulai ragu menikah kamu? Takut kekurangan uang? Cih, gaji masih dari perusahaan orang tua tapi sudah sombong!"
"Pa, sudah dong, Pa!" lirih Dona.
Bias menggelengkan kepala. Dianggap tak bisa hidup tanpa kedua orang tua, hatinya sakit. Ia merasa bekerja dengan baik tapi dari ucapan Libra seolah ia makan gaji buta selama ini. Harga dirinya terluka.
"Bias akan pergi dari rumah!" tegas Bias.
"Bi, sadar Sayang! Hidup diluar nggak mudah!" ucap Dona.
"Mama tenang aja, Bias bisa kok hidup tanpa uang Papa!" Sebelah bibir itu terangkat. Bias dengan cepat berlalu ke kamar dan mengemasi barangnya. Beberapa saat setelahnya ia ke luar dengan tas ranselnya.
"Bi ... jangan pergi, Sayang!" Dona menahan langkahnya itu.
"Maaf, Ma. Bias akan buktikan bisa berhasil tanpa bantuan Papa!"
"Jangan tinggalkan Mama, Nak!" Bias mengecup kening Dona. "Terima kasih sudah lahirkan Bias ke dunia Ma!"
__ADS_1
"Sayang ... ma-af!"
"Walau Mama menyakiti Bias, Mama selalu ada di hati Bias. Doakan Bias sukses!"
"Nak, jangan ...!"
"Jangan tahan anak itu, Ma!" Bias melirik wajah Libra dan berlalu.
"Jangan bawa mobil!" ucap Libra lagi melihat Bias membawa kunci mobil milyaran pemberiannya itu. Bias menoleh dengan cepat.
"Pa!" pekik Dona.
"Jangan lupa mobil itu masih atas nama Papa!" lugas Libra.
"Bawa Ducatimu, Nak. Itu milik kamu!" Bias menatap wajah Dona. Ducati itu memang pemberian Dona. Bias mengecup lagi kening Dona, ia pergi.
Di balik pilar menjulang, Dara memperhatikan segalanya, ia menangis merasa semua yang terjadi adalah salahnya.
Bias membelah Jakarta. Mencari kontrakan di tengah malam sangat tidak mungkin, ia tidur di sebuah masjid akhirnya.
____________________
Tiga hari berlalu, Bias sudah mendapat rumah kontrakan yang asri dengan harga yang terjangkau. Bias memang memiliki lumayan tabungan, tapi ia tahu tidak boleh boros. Terlebih ia berniat menikahi Zee, ia merasa harus segera mencari kerja.
Malam itu Bias datang ke rumah Zee setelah sebelumnya menghubungi Zee. Ia mengirim pesan mengatakan telah tahu semua perbuatan mamanya pada Zee. Ia juga cerita sudah meninggalkan rumah dan sudah mendapat rumah untuk di tinggali. Ia melontarkan keseriusannya. Zee yang mengetahui Bias mengorbankan banyak hal untuknya membiarkan ia datang malam itu.
Pintu dibuka, Zee mempersilahkan Bias masuk. Bias langsung meminta bicara dengan Farid. Farid dan Farah yang sudah diceritakan perihal Bias oleh Zee membuka tangan menyambut Bias.
"Saya serius dengan Zee Om, tapi saat ini saya belum menemukan pekerjaan. Sebetulnya saya masih ada uang, tapi saya sadar tidak bisa bertahan mengandalkan tabungan. Tolong beri kelonggaran waktu sampai saya mendapat pekerjaan dan saya akan menikahi anak Om. Tapi tolong sampai saat itu tiba biarkan saya tetap berhubungan dengan Zee!"
Farid dan Farah saling menatap. Semalam mereka sudah berbincang dan keduanya merasa puas dengan yang terjadi, Bias meninggalkan keluarganya.
Farid tentu akan memegang ucapannya dan sudah memperkirakan kejadian hari ini akan terjadi. Namun, keduanya merasa surprize dengan ucapan Bias, sebelumnya mereka berfikir Bias akan tetap meminta menikahi Zee secepatnya, tapi ternyata Bias berfikir lebih rasional dari dugaannya.
"Baik, kami tunggu hari itu tiba. Kami beri waktu dua bulan dari sekarang. Lebih dari waktu itu, kamu harus melupakan Zee!"
"Ayah, mengapa harus ada jangka waktu?" lirih Zee.
"Dua bulan cukup untuk mendapatkan pekerjaan, Sayang! Bukannya kamu bilang Bias anak yang pintar?"
...________________________________________...
__ADS_1
🥀Happy reading😘
🥀Senin manis jangan lupa votenya, yaa❤️❤️