ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
STRIKER YANG GAGAL


__ADS_3

"Zee, panggil ayah sama Bias suruh sarapan!"


"Iya, Bu." Zee yang sedang membantu menyiapkan piring menghentikan aktivitasnya. Ia berjalan kini ke arah teras.


Kondisi memang sudah kembali normal, keluarga besar Farid dan Farah sudah kembali ke kota masing-masing subuh tadi dan kini penghuni rumah kembali hanya keluarga Zee bertambah Bias.


"Zee ... Zee ... ke sini dulu deh, ibu mau bicara!" Zee yang sedang berjalan melewati ruang tamu seketika berbalik. Zee menurut ketika Farah meminta Zee mengikutinya ke kamar. Keduanya kini duduk di tepi ranjang dan Farah menatap wajah Zee serius.


"Ibu kenapa lihat Zee begitu?"


"Hmm, kamu masih semangat nunggu balesan beasiswa?" tanya Farah, Zee seketika mengangguk.


"Kalau me-mang masih semangat kuliah, ka-mu sama Bi-as sebaiknya bisa saling menjaga!" Farah berucap dengan sangat lembut dan hati-hati.


"Mak-sud ibu?"


"Sebenarnya ini juga gak betul. Di mana-mana orang menikah itu pengen buru-buru punya anak, tapi kamu sama Bias kan kondisinya beda. Masih ada yang ingin kalian capai! Kalau kamu memang masih semangat mau kuliah, menurut ibu kamu harus hati-hati jangan sampai hamil dulu. Kuliah saat hamil itu berat. Ibu cuma kasihan kamu! Tapi ya kembali komitmen kamu sama Bias. Kalau kalian siap punya anak, berarti harus sama-sama berani nanggung konsekuensi. Bias harus lebih siaga anter jemput kuliah kamu dan kamu juga gak boleh banyak ngeluh, terlalu stres, juga terlalu capek. Sebaliknya kalau kalian komitmen menunda, berarti harus dijaga saat berhubungan atau kalau kamu mau KB itu lebih aman." Zee terlihat fokus menatap Farah.


"Ibu di sini sih cuma mengingatkan. Kalau ternyata kamu milih gak jadi kuliah, mau ngembangin bisnis sambil merawat anak, balik lagi semua keputusan ada di kamu. Ibu juga malah seneng cepet punya cucu. Tapi usia kamu memang masih muda dan berhubung kamu sekarang udah nikah, semua harus kamu bicarakan baik buruknya sama suami kamu!" Zee mengangguk, ia bicara setelahnya.


"Terima kasih, Bu. Zee dan kak Bias sudah punya komitmen sejak awal akan menunda memiliki anak."


"Oh, bagus kalau kalian punya komitmen!" Farah sedikit melirik ke area sensitif bawah Zee, seketika ia ingat Zee berjalan agak aneh tadi, ia berkata lagi. "Ta-pi apa sema-lam kalian su-dah____ Kamu belum K-B kan, Zee?"


"Hmm, masalah se-malam kami pastikan aman kok, Bu!" ucap Zee seketika. Ia tau kemana arah bicara Farah.


Farah memang tidak paham secara pasti. Tapi setelah melihat Zee punya semangat besar untuk pendidikannya, ia memilih mempercayai setiap yang anak menantunya itu lakukan saja.


"Oh yaudah kalau kalian berdua paham! Yuk kita sarapan! Kamu panggil ayah sama Bias, ya!"


"Iya, Bu!"


___________________

__ADS_1


"Oya, jadi ibu tau kalo semalem kita___


"Aku juga bingung ibu tau darimana, intinya sih ibu pengen kita nentuin sikap mau seperti apa kita ke depan, terlebih dengan status kita saat ini!" terang Zee sambil merapihkan pakaiannya ke lemari di kontrakan Bias.


Siang itu mereka memang izin pada Farah untuk menyicil memindahkan barang Zee ke kontrakan Bias. Farah sadar setelah menikah Zee memang sewajarnya tinggal bersama suaminya dan Bias ingin keduanya tinggal terpisah dari orang tua agar lebih mandiri membina rumah tangga.


"Kamu bilang kalau kita punya komitmen?" ucap Bias kini setelah mendengar ucapan Zee.


"Iya akhirnya aku bilang dan ibu mulai tenang." Bias mengangguk.


"Kamu jangan mikir ibu terlalu campur aduk sama rumah tangga kita ya, Yang! Ibu cuma ngasih pandangan aja. Kalau begini konsekuensinya ini, dan kalau begitu konsekuensinya itu. Untuk keputusan ia sadar semua hak kita."


"Iya aku paham kok, Yang!" Bias yang duduk di samping Zee, seketika meletakkan dagunya ke bahu Zee. Ia menoleh setelahnya hingga hidungnya bersentuh pipi Zee. Bias terus mengusap-usap pipi Zee dengan hidung setelahnya.


"Jangan ganggu aku, Yang!"


"Andai aja ibu tau kalau semalam striker belum berhasil membobol gawang karena sang kiper mendadak menghentikan pertandingan!"


"Yang ma-af! Kamu marah sama aku, Yang?"


"Nggak lah, kita kan bisa coba next time. Aku jamin deh tanpa strawberry gak akan seperti semalem! Tapi sambil jalan ke rumah ibu nanti kita mampir bidan, suntik KB!" bisik Bias. Zee bergeming sesaat kemudian mengangguk. Zee gadis baik, ia sadar tidak boleh mempersulit Bias, Bias berhak mendapat haknya.


____________________


Dua hari berlalu, hari ini adalah hari terakhir kafe tutup dan besok rutinitas akan kembali mengisi hari-hari keduanya. Di hari terakhir itu, Zee dan Bias memilih memutari Mall mencari barang yang dibutuhkan Zee dan belum ada di kontrakan Bias.


Hari menjelang sore saat dua pasang langkah memasuki sebuah restoran cepat saji. Tak lama mereka memesan nasi, ayam berselimut tepung dan 2 gelas cola. Keduanya baru saja hendak makan saat sebuah suara tak asing terdengar memanggil nama Bias.


"Pak Bias."


"Eh, Pak A-ric?" Bias kaget saat dilihatnya sosok pria tegap menggendong bocah 2 tahun berdiri di samping meja.


"Senang bertemu Pak Bias di sini," ucap Alaric.

__ADS_1


"Saya juga demikian. Mari ... mari, Pak!" Si pria dengan usia berkisar 31-32 tahun memenuhi ajakan Bias, ia duduk.


"Maaf sebelumnya saya mengganggu acara makan siang pak Bias dan pacar." Sang pria melirik sekilas Zee.


"Nggak masalah, Pak. Tapi maaf, dia bukan pacar saya, dia istri saya," terang Bias. Bibir sang lelaki membulat, ia tersenyum setelahnya ke arah Zee. Zee yang sedang asik memperhatikan bocah perempuan dalam pangkuan sang lelaki kini tersenyum ke arah lelaki.


"Sayang, ini pak Alaric, ia salah satu investor di restoran papa."


"Senang berkenalan dengan Bapak, perkenalkan saya Zee." Zee sangat lembut dan sopan memperkenalkan dirinya. Alaric tersenyum, senang ada pasangan yang berani menikah muda, ia melirik tak jauh istrinya Sashi duduk bersama dua anaknya yang lain.


"Kalian menikah muda? Wahh ... hebat! Di sana itu istri saya, kami menikah saat dia berusia 19 tahun."


"Oh ya?" Netra Zee berbinar.


"Kamu bisa menemui dia, dia akan senang mendapat teman baru! Kebetulan saya juga ingin bicara dengan suamimu."


Bias mengangguk menatap Zee. Zee akhirnya berdiri dan mendekati Sashi.


...______________________________________...


🥀Masih pada ingat Sashi dan kak Alaric, kan? (Berbagi Cinta : TETANGGKU TERNYATA MADUKU)


🥀Maaf semalem ada pengajian di rumah baru up😃 Semoga review hari ini gak lama. kemarin bab 85 dari jam 8 baru masuk siang🙄🙄


🥀Happy reading,😘😘


🥀Thanks for big support dan masih menunggu❤️❤️❤️


🥀Mampir ke novel karya sahabat bubu ini, yuk,😍ceritanya beda dari yang lain dijamin buat kalian ketagihan baca😘🙏🙏


JUDUL : DENDAM


PENULIS : NAZWATALITA

__ADS_1


Setelah disiksa, dikhianati dan dibuang di suatu tempat dalam keadaan hampir tak bernyawa, Gendis bertekad Mengubah takdir demi membalas dendam pada Arga Demian, pria tampan berhati iblis yang pernah menjadi kekasih rahasianya.


Akankah Gendis berhasil membalaskan dendam dan sakit hati pada pria yang selama ini terus bersemayam di hatinya? Ataukah dia justru kembali terjebak dan terjerat pada pesona Arga Demian dan kembali menjatuhkan hatinya pada pria itu.


__ADS_2