ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
MEMINTA BANTUAN


__ADS_3

Hari berganti, Zee bingung Risya semakin sulit dihubungi. Sepulang kuliah Zee sengaja menuju fakultas Risya, namun pemandangan tak terduga muncul. Risya dijemput oleh Bowo, lelaki yang kerap mengganggu Risya. Zee merasa semakin aneh. Ia menghubungi Risya tapi Risya tidak menjawab. Sebuah pesan ditulis Zee, ia menanyakan mengapa Bowo menjemput Risya, namun diluar dugaan Risya justru membalas pesan Zee dengan kalimat singkat yang tidak pernah terpikir oleh Zee. Risya meminta Zee tidak menemuinya lagi dan tidak pulang melewati kossannya.


Siang itu akhirnya Zee pulang sendiri. Zee merasa nyaman saja melewati kossan Risya, melirik sekilas ke kossan itu dan berjalan pulang. Sampai di kamar seperti biasa Bias menelepon.


"Assalamu'alaikum, Sayang," sapa Bias seperti biasa.


"Wa'alaikumsalam, Yang."


"Kamu kenapa? Baik-baik saja, kan?" tanya Bias melihat raut tak bersemangat Zee.


Zee yang tidak ingin Bias khawatir, bercerita seperti biasanya, menceritakan aktivitasnya di kampus seperti biasa, Bias pun demikian terus menceritakan aktivitasnya. Keduanya saling bercerita dengan semringah, Zee membuang sejenak rasa khawatirnya pada Risya. Sebetulnya Zee ingin pula menceritakan perihal Risya, tapi ia urungkan. Pembicaraan mengenai Risya selalu memicu perdebatan untuknya dan Bias.


Keduanya kini tampak saling mengungkapkan kerinduan, berbalas saling menyanyi hingga tak disadari Zee tertidur. Bias mematikan panggilannya menyadari istrinya tidur, Zee pasti begitu lelah belajar, pikir Bias.


Sore pun tiba. Zee yang datang bulan, kehabisan stok pembalut. Setelah mandi Zee memutuskan ke mini market mencari pembalut sekaligus membeli beberapa kebutuhan kamar mandi yang habis. Di mini market Zee lagi-lagi bertemu Johan. Johan sudah berdiri di muka pintu ke luar saat Zee hendak ke luar.


"Hai Zee, kenapa belanja sendiri?" tanya Johan menatap Zee sebagai seorang teman. Johan sadar semua sudah berbeda, Zee sudah milik pria lain, tapi Johan tetap ingin hubungan keduanya berjalan baik.


"Ba-ng Jo," lirih Zee yang masih saja sungkan bertemu Johan. Zee memaksa tersenyum saat ini sambil menatap wajah yang juga sedang tersenyum padanya.


"Mau mengobrol?"


Zee seketika terdiam, ia mengingat beberapa waktu lalu Bias memintanya untuk meminta izin sekedar berbincang dengan Johan. Kini Zee tampak meraih ponsel di saku dan menekan beberapa tombol huruf. Ia mengirim pesan ke ponsel Bias.


📤Yang, aku ke Mini Market dan bertemu bang Jo. Aku izin berbincang dengan bang Jo, ya?"


Begitu isi pesan Zee. Zee terdiam beberapa saat menunggu balasan Bias tapi tetap ceklis satu yang muncul. Ia yang berpikir yang penting sudah memberi tahu suaminya itu akhirnya mengangguk menerima ajakan Johan.


Kini keduanya duduk di Kafe tempat sebelumnya mereka berbincang. Setengah hati Zee merasa ini salah, ia yang sudah bersuami duduk berdua dengan pria di sebuah Kafe, hati itu tak tenang. Namun tidak dengan sebelah hati Zee yang lain. Zee yang beberapa hari belakangan gundah mengenai Risya namun tidak bisa berbagi cerita pada Bias, entah mengapa ia merasa ingin berbagi segalanya dengan Johan.


"Kenapa diam saja?" tanya Johan membuang keheningan.


"Ehh."


"Bagaimana rasanya hidup sendiri di kota orang?" tanya Johan lagi.


"Biasa saja," ucap Zee lirih.


"Tapi muka kamu gak biasa. Ada masalah? Atau kesepian jauh dari suami." Kata yang jelas berat diucap Johan tampak terlontar, Johan sudah berdamai dengan takdir. Zee tersenyum getir.

__ADS_1


"Kalau ada masalah cerita saja, walau semua keadaan sudah berubah, hubungan pertemanan tidak boleh berakhir." Zee manatap wajah Johan sesaat dan mengangguk. Zee membenarkan ucapan Johan bahwa keduanya bisa tetap berteman. Zee pun mulai berpikir mungkin saja Johan bisa membantunya memberi solusi perihal Risya.


"Ba-ng Jo ... sebenarnya ada yang____


Ucapan Zee seketika terhenti, ia tiba-tiba teringat Bias. Ia khawatir Bias akan mempermasalahkan kedekatannya dengan Johan. Zee kembali meraih ponselnya. Kalimat izinnya bahkan belum di baca Bias, masih centang satu. Tak biasanya suaminya itu mematikan ponsel seperti ini.


"Kenapa gak dilanjut? Kamu ragu cerita ke aku karena Bias?"


"Ehh," decak Zee tersenyum getir.


"Jelas banget semua karena Bias! Gpp gak usah cerita kalau memang ragu!" ucap Johan sambil meminum cappuccinonya.


"Bang Jo!" Lirih Zee berucap, Johan menarik sepasang alisnya.


"Sebenarnya ada yang mau aku bicarain. Bukan tentang a-ku, tapi menyangkut te-man aku!"


"Kenapa memangnya teman kamu?" Melihat Zee mulai bicara, Johan mengikuti alur Zee. Ia tampak bersemangat mendengar cerita Zee.


"Bang Jo ingat kan teman aku yang tempo hari ke sini juga sama aku? Yang duduk di kursi itu!" Zee menunjuk tempat di mana Risya duduk saat keduanya bertemu pertama kali itu.


"Oh, iya ingat. Kenapa sama dia?" tanya Johan lagi dengan sangat tenang, ia membiarkan Zee nyaman bercerita.


"Risya tinggal di sa-na, Bang."


"Hah?" Zee tampak kaget mendengar ucapan Zee.


"Kok kamu baru bilang? Yuk kita ke sana!" Tanpa aba-aba dengan cepat Johan berdiri, Zee mengikuti.


"Aku denger di sana suka pesta miras juga, semoga aja temen kamu bisa jaga diri!" ucap Johan di jalan menuju Mini Market. Setelah sampai Mini Market, Johan bicara lagi.


"Kamu tunggu di sini, Aku ambil motor! Biar cepet sampe!" Zee yang panik mengangguk dengan cepat.


"Ayo naik!" Zee tak ada pilihan, ia naik. Johan mengemudikan motor itu dengan cepat. Tak ada 5 menit keduanya sudah sampai ke kossan Risya.


"Di mana kamar Risya?"


"Lantai 2, Bang!" Kaki-kaki itu dengan cepat menaiki tangga, hingga di lantai 2 Johan bertanya lagi. "Yang mana kamarnya?"


"Itu! Kalau gak salah kata Risya yang itu, Bang!" ucap Zee menunjuk sebuah kamar di sudut.

__ADS_1


"Eh ada apa ni? Mas bukan orang sini, kan? Jangan ngerusuh di sini!" Dua orang wanita yang baru pulang kerja di sudut lantai dua bingung melihat ekspresi Johan.


"Sorry, aku nggak ada urusan sama kalian! Aku baru tahu cewekku kos di sini. Aku mau nengokin!" Johan melontar kata yang ada otaknya saat ini saja. Mendengar ucapan Johan dua wanita itu akhirnya membiarkan Johan melewati mereka.


TOK ... TOK ....


Johan menghentakkan jarinya dengan kuat ke pintu kamar Risya, namun tak ada respon.


TOK ... TOK ....


Johan mengulangi ketukan dengan lebih kuat. "Sya, Risya, buka Sya!" teriak Zee lagi kali ini terdengar suara pekikan tertahan.


"Bang, aku yakin Risya di dalam! Aku tadi denger suara!" utar Zee.


"Risya atau siapa pun yang ada di dalam, gue itung sampe 3 kalau pintu nggak dibuka gue akan gerbak paksa! Dan kalau gue lihat hal gak baik terjadi, gue nggak akan ragu untuk laporin ke polisi!"


"Satu ... Dua ... Ti____


"Slow, Mas!"


...________________________________________...


🥀Maaf otakku lagi kebagi-bagi, up-nya telat🤧🤧


🥀Semoga alurnya masih bisa dinikmati❤️❤️😘😘


🥀Promosi karya sahabat Bubu lagi nih, yuk baca blurnya dan mampir yaaa😍😍


~ BAD WIFE ~


karya : oktiyan_ghassani.


BLURB :


"Sudahlah, pergi! jangan sok suci kau. Seperti baru di pakai saja." ucap Pria itu yang baru saja melihat tubuh Hanum dengan balutan selimut berdiri, dengan mode kesakitan dan menahan sesuatu seperti mengejan. Ia menatap Hanum berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan.


Hanum masih menangis setelah ingin meraih tas, dan trolly kebersihannya. Menjadi pengganti house keeper di kamar 501 adalah awal kesengsaraan hidupnya, dan Hanum kembali bertemu dengan pria itu. Hanum bagai berada dalam roller coaster yang membuat ia tersanjung tinggi, namun dihempaskan paling terdalam.


'Jika jodoh itu adalah cerminan diri, dari pria baik aķan mendapatkan wanita baik. Mengapa aku tidak termasuk kategori seperti itu?'

__ADS_1


__ADS_2