ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
KERJASAMA TIM


__ADS_3

Hari ketiga pembukaan usaha Bias dan Zee. Pukul 8 saat itu, sebuah angkot tampak terparkir di depan Kafe Zee dan Bias.


"Ibu dan Ayah yakin mau melakukan ini?" Keduanya mengangguk tenang. Zee seketika tersenyum, ia memeluk dua raga paruh baya yang menghadirkan dia ke dunia tersebut.


____________________


🥀Flashback satu hari sebelumnya.


Matahari telah tenggelam ke arah barat, langit sudah menghitam menandakan rembulan siap berjaga. Pukul delapan saat itu, di ruang tamu rumah Zee dua insan muda yang sedang mengukir mimpi masa depan terlihat asik di depan laptop.


"Begitu bagus, Yang!"


"Yakin? Gak mau ganti warna dasar?" tanya Bias sambil menggerakkan jari telunjuknya ke atas dan ke bawah memastikan design yang ia buat sudah cukup oke.


"Nggak, begitu keren. Sesuai tema Kafe kita orange bola basket."


"Iya juga, sih."


Zee yang membungkuk di samping Bias, membaca ulang setiap kalimat dari design yang dibuat kekasihnya, hingga pada suatu kalimat netranya terhenti. Ia terus mengulang membaca kalimat itu.


"Yang, kamu yakin nih kasih diskon 30%?" tanya Zee pada Bias yang kini asik menulis sebuah perencanaan pada sebuah buku.


"Yakin, seminggu aja kok!" Mantap Bias.


"Gak rugi?"


"Nggak, masih ada untung sedikit. Seenggaknya kita sedang mengenalkan produk kita, menu kita! Semakin banyak orang tahu, kemungkinan semakin banyak yang datang semakin besar. Kamu kan pernah bilang, steak kita tuh enak, konsep Kafe kita juga cozy!"


Zee Mengangguk sambil terus menatap wajah Bias. Ia sering dibuat bangga pada setiap perencanaan yang dibuat Bias. Ya, walau secara praktek lelakinya itu mudah down, tapi setidaknya di situ lah tempat ia mengisi, mengembalikan semangat Bias lagi.


"Yang, kamu kok bisa kepikiran bikin diskon begini, sih? Kamu pinter!" Bias tertawa. "Sini duduk," ucapnya menepuk tempat di sisinya. Zee yang sedang membungkuk menghadap laptop menurut.


"Tiba-tiba aja aku inget, ada kerabat mama, namanya tante Hikmah, ia buka usaha kuliner juga. Awalnya sepi juga kayak Kafe kita, tapi waktu buat promo diskon selama seminggu alhamdulillah usahanya jadi rame. Nggak cuma itu dia juga buat ketentuan promo. Jadi yang mau dapet promo harus follow sosmednya dan dia ikut post kuliner tante Hikmah."


"Dan hasilnya?"


"Seminggu itu dia dibuat capek karena banyak orang yang ngejar diskonan, tapi karena dia yakin sama rasa kulinernya, setelah seminggu orang yang kemarin cuma datang karena diskon akhirnya pada balik lagi, suka sama masakan tante Hikmah! Bukan itu aja, karena banyak yang post di medsos, kuliner tante Hikmah semakin rame dan berkembang!"

__ADS_1


"Wow, tante kamu keren banget, Yang!" ucap Zee. Ia terus menatap wajah Bias setelahnya.


"Kenapa kamu, ngeliatnya aneh gitu?"


"Aku seneng kalau kamu lagi semangat begini, otak kamu terbuka. Tapi inget ya, Yang ... rezeki setiap orang itu beda. Ada yang nanjak dengan cepat, ada yang perlahan sebab pencipta masih ingin kita berproses." Zee berucap dengan sangat lembut. Bias mengangguk perlahan.


"Kamu nggak boleh gampang down!" lirih Zee lagi, Bias memperhatikan wajah itu.


"Ma-af ...."


"Eh, ada calon pengusaha muda. Kalian lagi pada buat apa tuh?" Farah, Farid beserta Zaa yang baru pulang menghadiri pernikahan tetangga pulang. Ketiganya langsung duduk di sekitar Zee dan Bias.


"Ini Bu, kami sedang buat selebaran. Kami buat diskon selama seminggu untuk menarik pembeli. Trik marketing!" ucap Zee penuh semangat.


"Bagus itu! Rencana di sebar ke mana aja?"


"Kebetulan Kafe Bias dan Zee di sekitar Mall dan kampus. Bias berfikir untuk membagi selebaran ke pengunjung yang baru ke luar dari Mall, mahasiswa kampus juga orang sekitar yang melintas. Sekalian juga Bias akan buat sampel steak mini untuk mereka coba."


"Keren ide kamu, tapi emang gak rugi?" Tanya yang sama seperti kekhawatiran Zee sebelumya dilontar Farah juga.


"In sya Allah dari harga diskon masih ada lebih. Ya sementara, Bias berfikir untuk gaji pak Andi dulu." Setelah menjawab Farah, Bias menghadap Zee.


"Jangan lupa! Selain disebar, kamu tempel juga di jalan-jalan. Ibu sering lihat tuh banyak tempelan promosi di tiang-tiang listrik juga!"


"Ibu betul, Yang!" lirih Zee.


"Makasih sarannya, Tante."


"Tempel diangkot Ayah juga gpp, Ayah juga mau bawa selebarannya, Ayah bagikan sama temen-temen sopir angkot juga!" Baik Zee, Bias mau pun Farah menatap Farid seketika. Farid yang sejak tadi diam tiba-tiba berucap yang membuat semua kaget.


"Ayah ...," lirih Zee terharu, ia seketika memeluk Farid.


"Terima kasih banyak, Om!" lugas Bias. Di kejauhan Farah tersenyum. Farid mengenyampingkan kisah masa lalunya. Ya, bagaimana pun Bias berani ke luar dari rumah merupakan sebuah hal besar, terlebih Farid dan Farah sama-sama melihat bagaimana kegigihan kedua insan itu mencapai mimpi keduanya.


"Supaya Bias cepet halalin kamu! Ayah mana yang mau anak gadisnya dibawa ke sana kemari terus sama lelaki padahal belum sah!" Kata-kata menohok, didengar Bias. Ia menelan kasar salivanya.


"In Syaa Alloh segera, Om!"

__ADS_1


"Udah-udah seriusnya. Eh, terus kalau kalian muter bagiin selebaran yang jaga Kafe siapa, dong?" tanya Farah.


Bias dan Zee spontan saling menatap, hal yang luput mereka fikirkan justru diingat Farah. Bias kini memikirkan ucapan Farah. Kafenya memang tidak memiliki pelayan. Hanya dia dan Zee untuk saat ini pemilik, pengelola, sekaligus pekerjanya pula. Bias kini bergeming.


_________________


"Mana seragamnya?" tanya Farah penuh semangat.


"Seragam?" Zee dan Bias saling tatap.


"Iya, bukannya kalian biasanya melayani pengunjung dengan seragam basket?" lugas Farah membuat netra Zee dan Bias membulat.


"Ibu dan ayah mau pakai baju basket juga?" ucap Zee.


"Iya lah, Sayang! Kami beberapa hari ini akan bekerja bersama kalian!" ucap Farah lagi.


"I-ya, Yah?" Zee menatap wajah Farid yang tanpa diduga mengangguk.


"Kenapa sih kalian ini? Ayah dan ibu waktu muda juga atlit basket lo! Ayo buruan mana bajunya! Sekalian ayah sama ibu mau mengenang masa muda." Zee tersenyum melihat wajah semringah Farah. Zee senang kedua orang tuanya tidak main-main mensupport dirinya dan Bias.


"Udah buruan ambil, Yang!" Bias tak kalah semringah, ia senang dengan perilaku keluarga Zee yang tanpa dibuat-buat, tulus dan apa adanya.


Hari itu semua orang akhirnya bekerja keras. Bias dan Zee terus berkeliling membagikan selebaran dengan membawa tester steak mereka. Di Kafe tak kalah riweh. Ya, beberapa pengunjung mulai berdatangan mendatangi Farah dan Farid menunjukkan bukti mereka telah mem-follow Sosmed Bias. Mereka sedikit bingung karena kebanyakan Kafe memiliki waiters muda mudi, tapi tidak di Kafe yang mereka datangi saat ini.


Kehadiran Farid dan Farah, sosok paruh baya yang tampak dengan ramah melayani setiap pengunjung dengan menggunakan pakaian basket nyatanya memberi nilai lebih. Para pengunjung merasa Kafe tersebut unik, konsep muda dengan wajah tua pelayannya. Banyak yang jadi penasaran dan bertanya-tanya.


Sebelum pengunjung pulang, Farah yang juga merangkap menjadi kasir sudah berdiri membungkukkan badan, ia dengan ramah tersenyum dan menyodorkan selebaran sebagai bentuk promosi.


"Ibu nulis-nulis apa, sih?" tanya Farid yang baru saja mengantar menu pada pengunjung. Ia bingung melihat Farah sibuk dengan pena di tangan. Tanpa menjawab Farah berdiri melihat ada pengunjung yang sudah akan keluar.


Farid menatap selebaran di atas meja kasir dan matanya membulat.


"Bantu promosi ya, usaha ini untuk modal putra-putri kami menikah!" Tampak tertulis di bagian bawah selebaran itu.


..._______________________________________...


🥀Happy reading😘😘

__ADS_1


🥀Jangan cuma senyum-senyum! Harus komen juga lho😁😁😜


__ADS_2