
..."Berharap cinta dan hobi berjalan beriring ternyata sulit, terlebih jika kata memahami mulai luntur. Apa kamu harus kulepas?" (Bias)🥀...
...______________________________________...
20 menit berlalu, tapi angkot yang ditunggu Zee selalu penuh padahal hari mulai gelap. Akhirnya Zee memilih berjalan hingga lampu merah berharap banyak penumpang yang turun di sana dan Zee bisa naik.
Langkah kaki itu sangat lamban, otak Zee seketika mengembara ke peristiwa bertahun silam saat Zee masih duduk di bangku sekolah dasar. Farid ayah Zee tak pernah membiarkan Zee pulang berjalan kaki. Ayahnya akan meminta Satyo sang sopir untuk menjemputnya. Belum lagi bel berbunyi, Satyo pasti sudah ada di depan kelas Zee dan tersenyum sangat manis menyambut Zee keluar kelas.
Maklum lah saat itu Farah ibu Zee sedang hamil besar Joy, hal yang membuat Farid cukup protect pada Farah. Jarak usia kehamilan Zee dan Joy yang terbilang jauh adalah alasan Farid tak ingin terjadi sesuatu pada Farah. Ya, kehamilan kedua Farah saat itu memang sangat dinanti Farid.
Bulir itu seketika tumpah. Mengingat hidupnya yang dulu berkecukupan tapi berubah dalam sekejap. Zee terlarut dalam angan tak menyadari suara klakson motor terus berbunyi di belakangnya.
TIN ... TIN ....
Zee tersadar dari lamunannya, ia menoleh dan terhenyak. Dibasuh dengan hati-hati bekas air mata di pipinya tak ingin pewarna yang ia sematkan terhapus baru setelahnya ia mengangkat wajah ke arah pengendara motor yang kini menatap serius ke arahnya.
"Jangan bengong! Sebentar lagi gelap! Ayo gue anter!" Zee masih bergeming memastikan kalimat ajakan yang keluar dari bibir lelaki bermotor yang tak lain adalah Bias.
"Zee!"
"Eh, i-ya Kak?"
"Ayo naik!" Zee bergeming.
"Kenapa bengong? Ayo!"
"Ng-gak, Kak!" Satu sisi hati Zee senang Bias peduli padanya, satu sisi hati yang lain tidak membenarkan kedekatannya dengan Bias. Ya, satu sisi hati itu ingin menjaga agar hati pemiliknya tak hancur sebab kedekatan itu hanya akan melambungkan Zee sesaat dan menjatuhkannya, sebab sangat tidak mungkin kakak kelasnya itu menyukai dirinya yang jelek.
"Zee, besok lo harus latihan lagi. Kehadiran lo itu penting untuk tim basket kita! So gue nggak mau dibantah! Ayo gue anter!" Zee bergeming. Walau jelas-jelas alasan perhatian Bias sebab kepentingan tim basket, ada kebahagiaan di rasa Zee. Pun Zee seketika teringat kerapuhan Bias di sekolah Mandala tempo hari. Zee menatap lekat wajah Bias yang begitu tenang, sangat jauh dari citra rapuh.
Kak Bias tidak bisa ditebak. Tempo hari ia terlihat sakit, tak lama ia sudah tegar berpidato bahasa Inggris di depan juri. Beberapa saat setelahnya ia menyendiri di belakang sekolah, terlihat tenang lagi saat berbaur dengan yang lain dan setelah menerima piala, ia terlihat sangat sedih dan marah. Kenapa kak Bias begitu? Ada apa sebenarnya? Sekarang kak Bias sangat tenang, tapi apa ia benar baik-baik saja?
Zee yang masih melamun, kaget saat tarikan ia rasakan di tubuhnya. Melihat Zee yang tak merespon panggilannya, Bias menarik lengan Zee hingga mendekat ke motornya.
"Ka-k!"
"Gue bingung lo ngelamun terus Zee. Ayo buruan naik, udah adzan juga! Anak gadis nggak baik malem-malem di jalanan sendiri." Ucapan itu terlontar. Zee masih bingung.
"Zee, ayo!"
Mendengar ajakan yang terus berulang, Zee tak enak juga terus menolak. Zee akhirnya menurut. Ia naik akhirnya ke motor besar berwarna hitam Bias.
"Di mana rumah lo, Zee? Arahin jalannya, ya!"
__ADS_1
"I-ya, Kak! Masih lu-rus te-rus lampu merah be-lok ki-ri!"
"Masih jauh, nggak? Kita mampir masjid dulu, gimana?"
"Luma-yan, Kak. Sho-lat dulu a-ja."
"Okelah." Pun Bias langsung menuju Masjid yang kubahnya sudah terlihat di kejauhan. Bias mengambil stir ke kiri masuk ke pelataran masjid.Keduanya berpisah setelahnya.
Di tempat wudhu wanita, seorang gadis tampak berlama di toilet, setelah mengelap sisa air wudhu di tangan dan wajah menggunakan handuk yang selalu ia bawa di tas, ia mengambil kotak kecil dari dalam tas yang berisi bubuk arang, ia meratakan arang lagi ke kulitnya yang terlihat, sebelum akhirnya masuk ke dalam masjid dan menjalankan ibadah menggunakan alat sholat berbahan parasit berwarna navy miliknya.
Bias telah selesai lebih dulu, ia kini duduk di atas motor menunggu Zee sambil mengedar pandang ke sekitar. Melihat sepasang muda-mudi yang sedang makan di rumah makan lesehan di muka masjid hatinya berdesir. Seketika ia teringat pernah makan di tempat itu bersama seseorang yang hari ini begitu menggebu meminta berpisah dengannya.
🥀FLASHBACK
"Yang, kamu kenapa sih akhir-akhir ini selalu ngindarin aku? Please jawab, Yang!"
"Minggir ah, Bii. Sudah jelas kan ucapan aku tadi siang. Aku mau kita putus, titik!" Gadis bertubuh semampai bak model dengan hidung mancung yang tampak sibuk memoles wajahnya dengan taburan bedak itu merasa Bias mengganggu aktivitasnya. Ia berkali menyingkirkan tangan yang meminta wajahnya untuk menoleh ke arah sang pria tapi, tapi sang pria tak patah semangat dan tetap berusaha meyakinkan sang gadis untuk melihatnya sekejap saja.
"Bii, minggir, ini nanti gak rata bedaknya!" Suara itu meninggi, Biar melepaskan jemarinya dari wajah gadisnya.
"Kasih alesan ke aku, Yang! Kenapa tiba-tiba kamu minta putus." Suara itu sangat lembut dan lirih. Jelas Bias tak ingin perpisahan itu terjadi.
"Kamu masih nggak nyadar, Bii?"
"Kamu nggak peka, Bii! Kamu fikir sendiri deh bagaimana sikap kamu ke aku selama ini!"
"A-ku? Sikap aku ke-napa?"
"Sya!" Belum lagi tanya itu dijawab, seorang gadis yang masih menggunakan rok sekolah di atas dengkul dengan kaos membentuk tubuh tiba-tiba masuk dan memanggil sang gadis. Dia adalah sahabat kekasih Bias yang juga anggota ekskul Dance, kini matanya membulat, ia kaget ada Bias di dalam kelas itu bersama Nasya sahabatnya. Ya, kekasih Bias itu bernama Nasya.
"Sorry ... Sorry, gue nggak tau kalau ada Bias. Sorry gue ganggu kalian!" ucap gadis bernama Helen sambil menatap Nasya.
"Gpp Len, ini gue juga udah kelar, kok. Yuk kita pergi!"
"Loh, Yang. Tunggu dulu!"
"Apalagi sih, Bii. Jangan halangin jalan aku, deh!" Lagi-lagi Nasya berusaha menyingkirkan lengan Bias yang menghalanginya.
"Jawab dulu pertanyaan aku!"
Setelah bicara pada Nasya, Bias mengarahkan pandangannya pada Helen. "Len please, bisa tinggalin kami berdua!" Helen menatap Nasya bergeming sesaat tapi Nasya mengangguk setelahnya, pun Helen pergi akhirnya meninggalkan keduanya.
"Jawab, please!" lirih Bias saat Helen sudah tak terlihat.
__ADS_1
"Kamu terlalu sibuk sama aktivitas kamu, Bii! Selalu nggak ada waktu untuk aku! Itu jawaban aku, udah denger, kan? Sekarang biarin aku pergi!" lirih kata itu terucap. Bukan membiarkan Nasya pergi, Bias justru menahan lengan Nasya agar tak beranjak.
"Jadi lagi-lagi karena itu. Kamu kan tahu kemarin aku itu sibuk karena tanggung jawab aku sama sekolah. Bukan pure mau aku! Sorenya aku juga dateng ke rumah kamu, tapi kamunya nggak mau ketemu."
"Aku lagi istirahat!"
"Jangan minta pisah ya, please ...! Aku sayang kamu, Yang!" Nasya menatap wajah kesungguhan Bias.
"Tapi aku udah capek, Bii. Aku itu mau kamu selalu ada waktu untuk aku, tapi dari kelas 10 sampe kelas 12 sekarang, selalu aja ... basket, OSIS, lomba, itu terus! Kamu terlalu sibuk!" Suara Nasya melembut, ia berusaha menjelaskan keadaan yang ia rasa.
"Sekarang aku ada waktu, jalan yuk! Kamu mau apa? Makan? Shopping? Atau main ke time zone?" Sebenarnya mendengar kata shopping Nasya mulai tergerak, tapi ia ingat janjinya dengan seseorang.
"Aku udah ada janji sekarang!"
"Mau ke mana sih? Dandannya juga cantik banget!" Bias memperhatikan wajah dengan polesan make up yang mempercantik tiap sisi wajah Nasya.
"Mau jalan sama Helen!"
"Aku yang antar, ya?" Bias mengusap-usap bahu Nasya.
"Nggak usah, aku lagi mau berdua sama Helen aja!"
"Kalo nggak mau dianter yaudah, tapi pulangnya hubungin aku biar aku jemput, gimana?" Nasya menggeleng. Bias membuang napasnya kasar.
"Please jangan keras-keras hatinya dong, Yang. Izinin aku perbaiki diri!"
"Kalau kamu bener sayang aku, besok aja pulang sekolah kita jalan. Aku mau shopping, bi-sa?" ucap Nasya menatap lekat netra Bias. Bias membalas tatapan itu sesaat, terdiam, baru berucap setelahnya.
"Besok a-ku ada latihan, Yang. Sorry."
"Ah, kamu, udah aku duga!"
"Habis magrib aja aku jemput, gimana? Mau ya?"
"Lupain aku aja! Aku selalu kalah sama latihan-latihan kamu itu!"
...________________________________________...
🥀Happy reading😘😘
🥀Jangan lupa like & komennya ya, makasih juga yang udah ngasih gift❤️❤️
🥀Sambil nunggu novel Bubu up, baca juga yuk cerita sahabat literasi Bubu🤗
__ADS_1