ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
TIDAK CINTA LAGI


__ADS_3

Seminggu berlalu, selama itu Zee kembali seperti dulu tidak ingin bertemu Bias. Bias bingung. Setiap pesan yang dikirim tidak ditanggapi Zee. Saat ke rumah Zee, Farid juga mengusir Bias karena merasa Bias tidak serius dengan Zee. Ia ingin Bias menjauhi Zee. Bias bertambah bingung.


Hari hujan, Bias masih berada di gang rumah Zee. Bias tak putus asa terus mengirim pesan pada Zee. Mengatakan kehadirannya di luar dan ia akan tetap menunggu hingga Zee ke luar. Malam itu masalah harus diselesaikan, Bias ingin tahu apa yang terjadi dan membuat Zee menjauh darinya.


Zee membaca pesan Bias, melihat hujan yang mulai deras. Hati itu terus bertanya. Apakah Kak Bias masih di gang menunggu aku?


Zee hanya membatin, tapi lagi-lagi pesan masuk ke ponselnya.


Aku masih menunggu kamu! Kamu tega membuat aku kehujanan! Kamu sepertinya memang bukan Zee yang aku kenal!


Zee meletakkan ponsel ke nacash setelah membaca pesan bias. Hati itu tak tenang. Zee melewati ruang tamu. Jam analog menunjukkan pukul 21:10. Ruang tamu sudah gelap, sebab semua raga sudah masuk ke kamar masing-masing.


Zee mengambil payung dan mengendap ke luar. Hati dan rasa Zee lagi-lagi mengalahkan logikanya. Ia yang sedang memberi jarak mendadak menyingkirkan pembatas itu sejenak. Ia menuju gang yang mulai gelap dan sepi. Ya, saat hujan memang orang lebih senang mempercepat jam istirahatnya.


Zee menghentikan langkah melihat raga tegap pemilik hatinya kebasahan di sana. Bias tak berbohong, ia menunggu Zee.


"Kakak bodoh! Kenapa hujan-hujanan!" ucap Zee menarik raga itu ke rumahnya untuk menepi dari hujan. Keduanya duduk di teras dalam diam.


"Mau Kakak apa? Kenapa seperti ini!" lirih Zee tak ingin orang rumahnya ada yang bangun.


"Aku yang harusnya nanya kamu, Yang! Ayah kamu bilang supaya aku menjauhi kamu! Kenapa begitu? Aku masih berusaha wujudkan pinta ayah kamu. Perjuangin hubungan ini! Aku masih bujuk Papa aku!"


"Aku berubah pikiran, Kak! Aku nggak mau menikah sama Kakak. Aku mau tenang kuliah! Aku udah ngajuin beasiswa dan aku mau fokus berkarir dulu!"


"Kamu lupa komitmen kita? Kita bisa saling support setelah menikah kan, Yang! Aku nggak ngelarang kamu kuliah, kok!" Mata itu mengiba.


"Tapi aku udah nggak cinta Kakak lagi!" ucap Zee melirik Bias menautkan lengannya bersidekap dada. Bias kedinginan.


"Aku nggak percaya! Kamu akan selalu cinta aku. Aku yakin itu!"


"Mending Kakak pulang! Baju Kakak basah, nanti sakit aku yang disalahin!" lugas Zee dengan suara kecil.


"Kata-kata kamu aja jelas kamu perhatian sama aku, Yang!"


"Sudah aku bilang, aku nggak cinta Kakak lagi!"


"Bibir kamu bisa bohong, tapi aku yakin hati kamu nggak!"


"Sana pulang, Kak! Kita udah ngobrol kan? Aku mau kita putus dan saling melupakan!"


"Aku nggak mau kehilangan lagi! Aku nggak mau kita putus!"


"Kakak keras kepala!"


"Memang! Dan aku akan tetap di sini sampai kamu jujur masih sayang sama aku! Biar aja aku kedinginan di sini! Hah, padahal besok pagi aku ada meeting loh, Yang!" Bias berusaha meyakinkan Zee, mengetuk hati yang entah mengapa dikunci rapat itu.

__ADS_1


"Terserah Kakak! Aku mau tidur!" Zee berdiri dan beranjak ke dalam.


"Yang, kok aku ditinggalin sih?" Zee tak menggubris, ia masuk ke dalam rumah.




Di dalam kamar Zee tidak tenang, ia terus merubah posisi tidur. Ia yang penasaran apakah Bias sudah pulang atau belum akhirnya bangun dan mengintip dari tirai. Bias masih di sana. Ia kehujanan. Kedinginan hingga menggigil.


Hati itu iba. Zee mendengus. Ia akhirnya menuju ruangan di sisi dapur tempat Farah biasanya menyetrika. Zee mengambil satu baju sang ayah dan sebuah handuk. Zee beranjak ke luar.


Bias seketika berdiri, wajahnya berbinar.


"Jangan senang dulu, aku cuma mau ngasih ini! Ganti terus kakak pulang! Bawa mobil, 'kan? berarti gak akan kebasahan!"


"Terima kasih." Zee seketika membalik badan.


"Sudah selesai," ucap Bias, Zee kembali berbalik.


"Ini bawa payung biar Kakak nggak basah sampai ke mobil!" Bukan meraih payung, Bias justru mendorong tubuh Zee. Ia menyudutkan Zee ke dinding.


"Ka-kak mundur!"


"Bilang dulu kamu cinta aku! Aku mau kita nikah! Kemarin aku bahagia saat kita merencanakan ini dan itu, tapi aku nggak tau kenapa kamu berbalik!" Zee terdiam.


"Aku kangen kamu, seminggu ini rasanya berat!" Bias mengusap-usap kepala Zee.


"Mundur, Kak! Jangan macam-macam, ada orang tua aku!"


"Biar aja ketahuan, biar langsung dinikahin!"


"Mun-dur!" Zee mendorong tubuh itu cukup keras ke belakang.


"Kamu ndorong aku, Yang!"


"Kakak ngerti nggak sih ucapan aku! Aku nggak cinta Kakak lagi! Aku benci Kakak! Kakak cuma suka karena aku cantik! Kakak nggak tulus! Aku sekarang nyesel milih Kakak! Aku mau kembali ke bang Jo aja yang lebih tulus sama aku dan keluarga aku!" Zee berucap secara spontan agar Bias membencinya.


"Zee!"


"Cukup jelas kan ucapan aku! Sekarang Kakak pergi!"


"Zee!"


"PERGI!"

__ADS_1


_____________________


"Mas belum tidur?"


Gadis muda yang merupakan adik Bias turun dari lantai atas menuju dapur untuk minum. Ia kaget melihat kakaknya duduk di kegelapan. Ia sering melihat aktivitas seperti ini dulu setelah Bias ditinggal Nasya menikah dan kini gadis belia itu bingung mengapa sang kakak seperti ini lagi padahal sudah ada Zee yang mencintai dan dicintainya.


"Eh, elo? Gue belum ngantuk!"


"Kata mama, Mas besok mau ke kafe mama pagi-pagi, kenapa jam segini belum tidur?" Dara melontar tanya.


"Gue gak bisa tidur, Ra!"


"Emang Mas lagi ada ma-salah sama mba-k Zi-va?" Dara bertanya lagi dengan sangat hati-hati.


"Sini lo duduk!" Dara menurut.


"Gue nggak tau Zee kenapa, Zee minta gue lupain dia! Padahal gue udah semangat banget mau nikahin dia!"


"Emang harus nikah sekarang, Mas? Mungkin mbak Ziva mau fokus kuliah dulu, kan gpp Mas nikah nanti yang penting terus sama-sama," ucap Dara sebab tahu Libra tak suka Bias menikah muda.


"Masalahnya kalau sekarang gue nggak nikahin Zee, ayahnya Zee nggak akan biarin gue deket sama Zee!"


"Ayah mbak Ziva udah setuju emang?"


"Justru dia yang minta gue nikahin anaknya! Bukti keseriusan katanya!"


"Emang Mas bener udah cinta mbak Ziva?"


"Lo ngeraguin gue juga, Ra?" Bias menatap tajam wajah adiknya.


"Bukan begitu, soalnya aku lihat dulu Mas cinta banget sama mbak Nasya, aku aja heran kok Mas sekarang bisa senekat ini sama mbak Ziva!"


"Karena cinta lah Ra, Zee bisa bikin gue bahagia terus, tingkahnya spontan dan dia apa adanya."


"Iya sih, mbak Ziva juga cantik, kan?"


"Iya, dia juga bisa ngasih gue cinta yang tulus. Lo tau nggak, waktu SMA Zee pernah nyatain suka sama gue!"


"Oya. Wah keren dong dia tetep cinta Mas selama itu!"


"Itu dia. Tapi sekarang gue heran saat Zee minta gue lupain dia, nggak cinta gue lagi katanya! Sedih gue, Ra! Baru juga gue ngerasa nemuin cinta baru tapi Zee ninggalin gue. Gue ngerasa aneh aja! Mana ada cinta sekian lama tiba-tiba bisa hilang! Apa salah gue ...!"


Dara terdiam, ia ingat kejadian di restoran tempo hari. Ia yang hari itu merasa bingung ibunya memberi uang banyak pada pelayan yang saat itu berbisik memanggil masnya.


...___________________________________________...

__ADS_1


🥀Happy reading😘


__ADS_2