
"Yang ... ayo buka pintunya! Gimana hasilnya, Yang?"
Dua bulan berlalu, walau kehidupan rumah tangga muda dipenuhi banyak drama setiap harinya, tapi mereka akan kembali sadar dan berbaikan. Maklumlah usia keduanya yang muda, tapi sudah mengemban banyak hal membuat raga itu lebih lelah, ingin dimengerti namun di saat bersamaan ia harus mengerti dan tetap memberi cinta.
Bias sudah tidak pernah kontrol ke Rumah Sakit lagi, ia merasa kakinya sudah benar-benar sembuh. Menurut dokter kakinya sudah menyatu dengan sempurna. Ia pun merasa bisa berlari walau sadar tak boleh terlalu berlebihan dan harus tetap di jaga.
Mengenai mimpi memiliki anak, dua bulan ini datang bulan Zee tidak stabil, kadang maju dan bulan ini bahkan sudah lewat dari perhitungan tamggal tamu bulanannya itu datang, tapi tak juga datang. Keduanya yang tidak ingin berasumsi sendiri lekas ke apotek dan membeli alat pengecek kehamilan.
Kini sudah 5 menit Zee berada di kamar mandi namun belum juga ke luar. Bias yang awalnya penasaran kini jadi khawatir.
"Yang, kenapa belum ke luar? Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Bias lagi di balik pintu putih yang membatasi dirinya dan Zee.
Tak berselang lama Zee ke luar, tanpa berkata ia langsung naik ke ranjang dan menutup wajahnya dengan guling semakin membuat Bias bingung saja. Bias masuk ke kamar mandi dan mencari testpack yang sebelumnya dibawa Zee masuk ke dalam. Tespack akhirnya ditemukan di dalam tong sampai yang menampilkan garis satu. Bias menarik napas dan membuangnya perlahan, ia juga kecewa tapi merasa harus lebih kuat dan tegar dari Zee.
Bias menghampiri Zee di ranjang setelahnya. Mengusap-usap bahu dan menciumi puncak kepala Zee. "Sayang ... sabar!" lirih Bias. Zee seketika membuka wajah yang sudah bercucur air mata.
"Maaf, Yang! Aku belum bisa kasih kamu anak," lirih Zee membuat keharuan memenuhi otak Bias, ia menyingkirkan guling dan menarik tubuh Zee masuk dalam dekapnya.
"Gpp, berarti Pencipta masih mau kita pacaran dulu, berduaan dulu!"
"Kamu pasti kecewa kan, Yang?" ucap Zee lagi.
"Kamu sehat dan ada di samping aku, aku sudah bersyukur," lirih Bias.
"Kamu lagi nyenengin aku aja kan, yang!"
"Kata siapa? Aku serius, kalau masalah anak, nanti kita usaha lagi, usaha terus, setiap hari kita buat, sampai jadi!" lontar Bias semakin mempererat dekapannya.
"Makasih ya, Yang!"
"Iya."
"I love you, Yang!"
"I love you too."
"Oh ya, Yang. Hari ini kamu di rumah aja istirahat, ya! Aku ke Kafe sebentar dan akan langsung pulang, mau mastiin semua di Fatmawati berjalan lancar," ucap Bias lagi. Zee mengangguk.
Sebulan ini memang kafe di Fatmawati mulai beroperasi. Konsepnya tentu sama seperti kafe sebelumnya. Redo yang sebelumnya bertugas di Cikini dipindah tugaskan ke Fatmawati, sementara di Cikini seorang karyawan lama yang terlihat gesit dan competible untuk memimpin dan memahami konsep Kafe Bias di training untuk menggantikan Redo. Beberapa karyawan lama juga di tempatkan di Fatmawati, sedang di Cikini yang sudah stabil di masukkan karyawan baru. Semua bukan tanpa alasan. Kehadiran karyawan lama di Fatmawati akan mempermudah jalannya marketing, promosi, dan berbagai cara menarik pelanggan sebab mereka sudah pernah mengalami sebelumnya.
Seperti janji Bias hari itu ia pulang cepat, Bias tak ingin Zee larut dalam kesedihan mengajak Zee berjalan-jalan dan berakhir di rumah eyang Ratri di Kawasan Sentul. Udara di sana yang sejuk dan suasana yang tenang membuat Bias merasa tempat itu cocok untuk Zee saat ini. Terlebih ia juga lupa kapan terakhir bertemu neneknya itu.
__ADS_1
Mobil Bias terparkir sempurna dan keduanya masuk. "Eyalahh akhirnya kamu inget Eyang juga, Bii," ucap Ratri mengawali perjumpaannya dengan dua pasangan muda yang kini ke sana sudah berstatus menikah.
"Nakal! Nikah gak mengabari Eyang, kecelakaan pula Eyang tidak diberi tahu dan malah tau dari Dara. Eyang mau ke sana, eh gak dibolehin Libra. Katanya kondisi kamu sudah ditangani dan Eyangmu ini suruh istirahat aja di rumah! Libra itu memang! Waktu itu Eyang sempet nginep lama di Jakarta juga, tapi pas kamu lagi di Jogya jadi kita gak ketemu. Gimana kabar kakimu, hem?" ucap Ratri sambil memeluk Bias, ia menuntun Bias masuk dan duduk di sofa. Ratri tampak mengusap-usap kaki Bias setelahnya.
"Bias sudah baik, Eyang," ucap Bias.
"Oh ya, Eyang, Bias juga bersama istri Bias."
"Oh ya Allah, kok Eyang sampe lupa. Sini Sayang." Zee mendekat dan duduk di samping Ratri.
"Istrimu ini gadis yang tempo hari kamu bawa ke sini itu kan, Bi?" Ratri yang sudah hampir menginjak kepala 7 itu mengingat-ingat dan memperhatikan wajah Zee.
"Betul Eyang. Ayo, Eyang inget gak namanya?" goda Bias.
"Hmm, siapa ya_____
"Ayo inget-inget lagi Eyang!" Zee menarik alisnya, ingin Bias berhenti mengganggu eyangnya.
"Nama aku Zee, Eyang. Zivanya," ucap Zee yang melihat eyang kesulitan mengingat.
"Oh iya Ziva, duh kok Eyang bisa lupa sih. Oh iya, Ziva udah mulai kuliah? Kata Dona Ziva ingin jadi pengacara, ya?" tanya Ratri setelahnya. Zee yang bingung menjawab hanya terdiam.
"Oh iya bagus itu. Istri itu sebaiknya mendukung usaha suaminya. Satu mimpi untuk masa depan bersama akan lebih terarah. Kamu juga gak capek belajar lagi dan mengerjakan tugas-tugas. Itu sudah aman banget dan yang terpenting satu, jangan pernah lupa doain suami! Eyang juga selalu ingetin Dona masalah ini dan Alhamdulillah usaha Libra semakin berkembang." Zee mengangguk mendengar ucapan eyang Ratri yang begitu hangat. Ratri sendiri yang pernah diberitahu Dona bahwa Zee belum ingin punya anak memilih tak menyinggung Masalah anak, toh kedua cucunya itu masih muda.
"Ya sudah kalian istirahat di kamar sana! Pasti capek, kan? Nanti sore ikut Eyang ke kebun belakang panen buah anggur."
"Eyang ada pohon anggur?" antusias Zee.
"Ada, itu awalnya Dara yang merengek minta Libra menanam anggur di belakang waktu kelas 5 SD, eh sekarang Alhamdulillah semakin menjalar luas. Mang Deden itu yang ngurusin, eyang mah sudah gak telaten," ucap eyang semringah bercerita.
"Wah Zee bisa gak mau pulang ini, Yang!" celetuk Bias.
"Ya gpp, semakin lama kalian menginap Eyang semakin senang."
"Iya, dan Bias gak usah kerja gitu?"
"Kamu sih kerja saja sana! Maksud Eyang tentang Ziva. Ziva nginep lama di sini temani Eyang mau kan, Nak?" tanya Ratri.
"Eh gak boleh, Yang! Zee kan istri Bias. Ya, tempatnya di samping Bias dong Eyang," lugas Bias.
"Haa ... iya iya, sudah sana istirahat!"
__ADS_1
•
•
"Ini kamar kamu, Yang? Nyaman banget aku suka," ucap Zee duduk di tepi ranjang yang berbalut selimut lembut berwarna navy. Ini memang kali pertama Zee masuk ke kamar Bias di Sentul, ia sebelumnya tidur di kamar Dara yang juga di lantai atas bersebelahan dengan kamar Bias.
"Iya nyaman, aku juga selalu senang tidur di sini! Ya, memang gak sebesar kamar di rumah kita," jawab Bias merebahkan tubuhnya di ranjang nomer satu itu.
"Walau gak besar tapi aku suka, minimalis dan adem, mungkin karena warnanya gelap kali ya." Zee berdiri mengarah ke balkon mini namun nyaman dengan pemandangan pepohonan nan asri. Bias mengikuti.
"Udaranya sejuk banget, Yang! Bener kata kamu kayaknya aku bakalan betah." Zee berdiri di tepi balkon menatap hamparan hutan yang membuat suasana begitu sejuk. Bias memeluk istrinya dari belakang, menciumi bahu Zee dengan aroma parfum lembut yang ia sudah sangat hafal.
Zee berbalik badan. "Kamu pasti dulu sering menghayal kak Nasya di sini kan, Yang?" Zee mengusap wajah Bias.
"Kamu pinter!" Zee memberengut.
"Manghayal apa hayo?" Alis Zee terangkat.
"Menghayal ini!" Bias seketika mendekatkan bibirnya.
"Eh mau apa? Nanti ada yang lihat, Yang!"
"Yang lihat paling burung. Gak ada rumah di belakang kita, Sayang! Ini masih tanah keluarga." Bias menyatukan bibir keduanya setelahnya, kecapan itu sangat lembut dan saling berbalas.
"Yang, kita buat fotokopian a-ku disini, yuk!" lirih Bias mendorong tubuh Zee hingga mendarat ke sofa.
"Hah! Di Bal-kon?" Bias kembali menyatukan bibir keduanya, kini lebih lama dari sebelumnya.
"Iya!" jawab Bias setelah aktivitas keduanya selesai. Zee tak menyadari kancing kemejanya sudah dilepas seluruhnya oleh Bias.
"Na-kal kamu, Ya-ng!"
...____________________________________...
🥀 Happy reading😘😘
🥀Semoga alurnya masih asik dinikmati🤧
__ADS_1