ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
UCAPAN SI BAPAK


__ADS_3

"Yang ... kamu di mana Yang? Aku di sini! Yang ... Yang ... sini, Yang!"


"Aku di sini!"


"Lho suara kamu kok jauh, sih? Sini, Yang! Aku tunggu kamu, kita bareng-bareng!"


Dua raga tampak saling memanggil, menunggu dan mengarahkan langkah. Hingga keduanya jalan berdampingan kini melewati sepasang pohon beringin besar di tanah lapang luas itu


Dua raga yang sebelumnya hanya ingin menghabiskan waktu di homestay mendadak merubah rencananya. Keduanya merasa bosan tak ke mana-mana, akhirnya mereka memutuskan main ke Alun-Alun Kidul.


Bukannya diam dan konsentrasi, dua raga beberapa saat lalu justru saling memanggil dan mengarahkan, hingga akhirnya mereka berdua bisa lolos dalam tantangan menutup mata melewati sepasang beringin besar di sana.


Seorang bapak tua langsung menghampiri saat keduanya sudah berhenti. Ia tampak takjub melihat kerjasama dua insan itu. Bias dan Zee langsung menyerahkan penutup mata yang sebelumnya ia sewa dari si bapak.


"Kalian sepasang kekasih pasti!" ucap si bapak tua menatap Bias dan Zee bergantian.


Zee mengangguk tapi tidak dengan Bias, ia justru berkata yang sebenarnya mengenai status mereka. "Kami pasangan suami istri, Pak!" Mata Bapak tua langsung membulat.


"Oh, sudah menikah to?" Si bapak memastikan lagi.


"Iya, Pak!" Bias mengarahkan jemari Zee untuk menunjukkan cincin kawin keduanya. Si Bapak baru mengangguk setelah melihat buktinya.


"Kalau gitu Bapak doakan perkawinan kalian selalu baik-baik saja, akur sampai maut memisahkan! Mas ini kalau Bisa harus selalu dekat Mbaknya, jaga terus Mbaknya. Mbaknya ini akan selalu mengarahkan Mas, membuka jalan Rizki dan kebahagiaan, Mas. Mbaknya ini punya banyak pesona, jadi lebih baik kalian tidak berjauhan supaya ikatan perkawinan kalian selalu langgeng. Karena badai orang ketiga akan selalu membayangi rumah tangga kalian!" ucapnya membuat Zee dan Bias saling menatap. Bias seketika mempererat eratan jemarinya.


"Makasih, Pak. Udah yuk, Yang!" Seketika Zee mengajak Bias menjauh. Kedua raga kini menuju bakulan kuliner yang berada di tepi lapangan.


Keduanya memesan roti bakar, jagung bakar dan wedang ronde pada pemilik bakulan. Sambil menunggu pesanan datang, Bias tak berhenti menatap wajah Zee, dan mengecup jemari Zee. Dalam hati ia kembali mengingat setiap yang si bapak ucapkan. Bias yang mendengar Zee adalah pembuka banyak kebaikan untuknya semakin merasa bersyukur memperistrikan Zee. Tapi disatu pihak Bias juga takut akan ancaman orang ketiga yang akan muncul. Ia membenarkan jika Zee memang cantik dan memiliki pesona karena sifat baik dan kepintarannya.


"Yang, kamu kenapa sih lihat aku begitu?" tanya Zee heran.


"Aku lagi inget ucapan bapak tadi dan aku bersyukur memiliki kamu. Kalau diingat-ingat sejak aku keluar dari rumah, kamu memang orang yang selalu mendukung setiap mimpi aku, kamu selalu bisa menyemangati aku yang gampang down ini." Bias mencium jemari Zee lagi. Zee bergeming menatap Bias. Ia senang jika memang Bias bahagia bersamanya.


"Yang ...."


"Hem?"


"Maaf aku tanya ini. Hmm ... apa nggak bisa ya, kalau kamu kuliah di Jakarta aja! Biar kita bisa selalu barengan kayak sepekan ini. Aku mau selalu di dekat kamu, Yang!"

__ADS_1


"Kok kamu tumben bahas ini? Bukannya kita udah sepakat long distance gak akan jadi penghalang hubungan kita?" Zee bertanya serius, ia menatap lekat netra Bias.


"Permisi Mas, Mbak!" Seorang pria muda mendekat meletakkan pesanan ke atas meja. Zee dan Bias sesaat terdiam mempersilahkan.


"Gak tau, tiba-tiba aja pengen ngomong ini," ucap Bias lagi setelah melihat penjaja sudah menjauh.


"Jangan bilang karena kamu terbawa ucapan bapak tadi Masalah badai-badai itu?" Bias tersenyum getir mendengar ucapan Zee.


"Yang, sebetulnya ini memang harapan jauh di hati aku. Yah, memang aku sedikit terbawa sama ucapan bapak tadi, tapi aku percaya kamu. Aku bener-bener gak mau jauh dari kamu, Yang. Kita juga bisa saling menyemangati dan mendukung dari dekat. Please, ikut aku pulang aja yuk lusa! Aku akan urus kepindahan kuliah kamu, masalah biaya kamu gak nyusahin aku! Ingat kan kata Mama, semakin banyak uang yang aku keluarin untuk kamu, rezeki aku akan semakin mengalir. Gimana? Kamu mau kan, Yang?" tanya itu terlontar. Zee tampak terdiam, ia merasa Bias lagi-lagi goyah dan Zee tidak suka sifat Bias itu. Ia membenarkan perihal rezeki yang diutarakan Dona, tapi ia sudah mulai bersosialisasi dengan dosen dan teman-temannya di sini. Pindah ke kampus baru artinya ia akan memulai segalanya dari awal. Zee masih terdiam, hingga beberapa saat ia bicara.


"Yang, aku berterima kasih sebelumnya kalau kamu gak nyesel nikah muda sama aku, ngikutin keinginan ayah aku sampai keluar rumah dan berjuang membangun usaha untuk masa depan kita dari 0." Bias mengangguk.


"Tapi mohon maaf aku gak bisa. Aku akan tetap dengan tekad aku! Oh ya, kita juga gak sepatutnya mendengar gambaran dari manusia akan begini dan begitu, kata ayah itu namanya mendahului ketentuan sang Pencipta. Tentu aku akan selalu bersama kamu, menjalani banyak hari dan menggapai banyak mimpi sama kamu dan kamu pasti tahu alasannya, karena aku cinta kamu! Pernikahan kita dan semuanya aku jalani tulus dan serius, jadi kamu jangan takut aku akan berpaling dan ninggalin kamu. Orang ketiga atau alasan lain gak akan menghancurkan ikatan yang terlalu indah ini! Jangan goyah dan biar semua berjalan sesuai rencana awal kita. Aku di sini, kamu di Jakarta. Jarak nggak akan jadi penghalang kita! Please pahami aku, Yang!" Bias menatap intens Zee, mencerna setiap kata yang Zee ucapkan.


"Kamu pasti berpikir aku lelaki yang lemah dan plin-plan!" lirih Bias, Zee meraih jemari itu.


"Bukan begitu, aku paham kok kamu begini karena kamu cinta aku, tapi kita harus saling percaya. Mimpi yang kita tekadkan ya kita wujudkan, jangan goyah!" Bias membuang napas kasar.


"Oke, sorry!" ucap Bias. Zee tersenyum setelahnya.


"Kita makan, ya!" ucap Zee, Bias lagi-lagi mengangguk.


"Yang coba ini, deh! Roti bakarnya enak banget!" Bias seketika menelan kunyahan jagung di mulutnya, ia membuka mulut membiarkan garpu dengan roti bakar yang disodorkan Zee masuk. Keduanya tampak seperti biasa lagi. Bias merasa harus memahami Zee, Zee yang kuat pendirian, ia akan maju terus jika sudah bertekad. Dalam hati Bias bertekad pula akan selalu menjaga Zee walau keduanya akan berjauhan lagi. Zee cinta dirinya, ia harus ingat itu.


Jam analog di lengan Bias menunjuk pukul 22:02 saat keduanya baru saja menghabiskan makanan. Bias langsung mengajak Zee pulang.


"Kenapa, Yang?" tanya Zee melihat Bias seketika berhenti saat hendak menuju tempat maticnya terparkir.


"Ponsel tadi aku silent dan ternyata banyak banget panggilan dari bang Jo. Ada apa, ya?" Bias tampak heran. Zee menggeleng tidak bisa menebak.


"Yaudah deh jangan dipikirin! Kita pulang, mungkin aja bang Jo mau tanya jam berapa besok kita ke kontrakannya," ucap Bias lagi. Zee mengangguk. Keduanya naik ke atas matic setelahnya.


A thousand miles between us now


It causes me to wonder how


Our love tonight (our love tonight)

__ADS_1


Remains so strong (remains so strong)


It makes our risk (it make our risk)


Right all along


The time we spent apart


Will make our love grow stronger


But it hurt so bad I can't take it any longer.


I wanna grow old with you


I wanna die lying in your arms


I wanna grow old with you


I wanna be looking in your eyes


I wanna be there for you


Sharing in everything you do


I wanna grow old with you.


Bias bernyanyi sembari mengemudi maticnya. Lirik demi lirik milik Westlife mengalun merdu dan begitu dalam, Zee meletakkan kepala di bahu Bias dan mendekap erat tubuh Bias. Sapuan angin malam menambah kesyahduan dua sosok yang lagi-lagi akan terpisah jarak itu. Keduanya saling manyamankan hingga tiba-tiba.


DUG ....


Dua motor menyerempet motor Bias, membuat kendali Bias tak terarah dan ia seketika menghentikan laju motornya.


"Hai cantik, senang akhirnya bisa bertemu kamu lagi!"


...___________________________________...


🥀Happy reading❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2