ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
MAAF


__ADS_3

Ducati itu meliuk-liuk di jalan beraspal dengan cepat. Ada rasa gusar, marah, sedih, kecewa dan bingung di otak Bias. Kapan, bagaimana, dengan siapa, mengapa dan banyak tanya lain ingin Bias lontarkan.


Awas saja! Aku nggak akan membiarkan siapa pun yang merusak kamu bernapas dengan tenang. Hah, Yang ... kenapa bisa begini! Terus aku harus bagaimana? Kenapa kamu nggak bisa menjaga cinta kita. Nasya ... Nasyaa ....


"Woiii udah ijo tuh lampu!"


Bias kaget seseorang berteriak ke arahnya. Bias sadar dan melihat lampu lalu lintas sudah berubah warna. Ia melihat ke belakang sebuah mobil menunggunya beranjak. Pun Bias langsung memainkan stang motor dan kembali melaju menuju Rumah Sakit.


Tergopoh Bias berjalan, ia sudah tak sabar bertemu Nasya. Bias meraih ponsel dan melihat lokasi kamar Nasya dari pesan yang dikirim Utari.


Seruni, 3


Nama kamar yang sesuai dengan pesan Utari berada di hadapan Bias. Bias memejamkan mata sekilas baru dengan santai masuk. Ya, Bias berusaha keras menutupi kacaunya hati itu.


Wanita dengan seragam rumah sakit terlihat sedang tertidur pulas. Bias menghampiri dan menatap wajah cantik yang nyatanya telah mengkhianatinya.


Bias menaikkan selimut itu. Sesak itu bertambah kuat melihat Nasya yang tertidur sangat polos bak bayi. Wanita yang difikirnya akan selalu setia dan akan menjadi miliknya saja, namun siapa sangka tega bermain dengan lelaki lain hingga melakukan hal di luar batas.


Bias merasa marah sekaligus sedih. Ada janin di tubuh kekasihnya, janin entah milik siapa. Mata Bias sudah berkaca, ia sedih dan merasa Nasya bukan miliknya lagi. Tubuh itu sudah disentuh orang lain. Bias tersenyum getir untuk dirinya sendiri setelahnya. Dirinya yang dengan mudahnya dibohongi selama ini.


Bias masih bergeming, hingga 2 orang suster masuk dan langsung mengecek kondisi Nasya. Mendapat sentuhan suster, Nasya terbangun. Ia kaget saat membuka mata dan melihat Bias di sana. Nasya yang sadar Utari sudah tau dan tentu Bias pun juga terus menatap wajah itu dan berusaha menerka apa isi hati Bias. Nasya menunduk, ia sangat sedih karena Bias seolah membuang wajah dari wajahnya. Bias terlihat menatap aktivitas suster tanpa menggubrisnya.


Beberapa saat setelahnya, kedua suster ke luar kamar meninggalkan dua sejoli yang mematung. Bias yang sadar tujuannya ke tempat itu langsung menatap Nasya. Wajah itu terlihat sangat sedih. mata itu menyipit dan memerah menahan tangis yang memaksa ke luar.


Bias cinta Nasya adalah sebuah kebenaran. Melihat wajah Nasya yang bersedih, ia merasakan sedih itu pula. Bias merasa iba, namun teringat Nasya menghianatinya hati itu sakit.


"Ya-ng ...." Akhirnya Nasya yang lebih dulu menyapa Bias. Ia yang menjadi tersangka utama penyebab sakitnya hati Bias sebab penghianatan yang dilakukan merasa perlu meminta maaf.


Bias mengangguk, ia masih sulit melontar tanya yang di motor tadi begitu memenuhi otak, tapi kini begitu sulit diutarakan.


"Kamu pasti marah sama aku, Ya-ng?" lirih Nasya. Satu persatu bulir sudah mulai ke luar dari pelupuknya.


Bias bergeming sesaat dan berucap lagi setelahnya. "Siapa laki-laki i-tu?" lugas Bias.


"Ya-ng .... Sorry!"


"Jawab aja siapa!"


"Di-a___


"Yang, tapi please kamu jangan tinggalin aku! Kita jangan sampai putus, ya!"


"Sya, kamu hianatin aku sampai ada janin di perut kamu yang aku nggak tau itu perbuatan siapa, terus sekarang kamu mau kita jangan putus! Kamu mikir nggak sih!"


"Kamu nggak panggil aku sayang lagi?"


"Percuma panggilan sayang toh kamu nyatanya nyakitin aku!"

__ADS_1


"Yang, ma-af!" Mata Nasya mengiba, tapi Bias sedang dikuasai amarah.


"Siapa dia?"


"Aku nggak mau inget dia!"


"Dia bikin kamu hamil, Sya. Dia harus bertanggung jawab!"


"Aku nggak mau menikah muda!"


"Telat bicara itu sekarang! Harusnya kamu inget sebelum berbuat itu!"


"Yang ... ma-af! Kamu pasti kecewa sama aku!" Bias bergeming sesaat.


"Gak perlu mikirin perasaan aku, fikirin saja tentang kamu dan janin kamu!"


"Yang ... aku cuma ngelakuin itu satu kali aja. Aku juga bingung kenapa bisa hamil padahal aku udah minum pil yang dia kasih."


"Dia ngasih kamu pil?" Nasya mengangguk. Bias menggelengkan kepala.


"Yang, aku mau kamu tetep di deket aku!" Bias menatap wajah itu, ada kesedihan dia rasa mengetahui lelaki yang menghamili Nasya sangat pengecut dan nyatanya takut Nasya hamil.


Nasya bodoh, lelaki itu mempermainkannya! Kurang ajar! Aku akan buat lelaki itu nggak bisa lari dari tanggung jawabnya!"


"Yang, aku takut! Papa pasti marah besar seperti halnya mama tadi, terus sekolah aku, anak ini. Aku harus bagaimana, Yang!" Bias bergeming.


"I-tu, waktu kamu selalu sibuk sama ekskul kamu, maaf, Yang! Tapi aku kesepian dan dia selalu ada untuk aku!" Bias membuang napas kasar.


"Jadi selama ini kamu diam-diam duain aku?"


"Yang ... ma-af!"


"Sakit, Sya! Kamu mempermainkan perasaan aku. Sesibuk apapun, aku nggak pernah lupain kamu. Tapi ka-mu____


"Yang ...."


"Semua sudah terjadi, lelaki itu harus bertanggung jawab. Anak kamu nggak boleh lahir tanpa ayah!"


"Aku nggak mau anak ini, Yang!"


"itu anak kamu! Sudah hidup di rahim kamu, jadi harus kamu terima!" Nasya terus menggeleng. Bias menatap lekat wajah Nasya.


"Sya, bilang ke aku, siapa lelaki itu? Di mana dia sekarang?"


"Aku nggak tau dia di mana, Yang!"


"Hahh?" Mata Bias membulat, Nasya terus menggeleng.

__ADS_1


"Setelah dia ambil semuanya, dia menghilang. Aku nggak bisa hubungin dia!"


"Baji*ngan! Rumahnya? Kamu tau rumahnya?"


"Ru-mah__ Di-a___ Kamu juga tau ru-mah di-a, Yang!"


"Aku tau? Aku kenal dia?"


"Bu-kan! Kamu nggak ke-nal. Ta-pi____


"Apa?"


"Ka-mu tau ru-mahnya."


"Jangan bikin aku bingung! Langsung aja, di mana rumahnya!"


"He-len."


"Helen tau rumah tuh cowok?"


"Ta-u, soalnya di-a____


"Jangan ragu, bilang Sya! Aku akan selalu support kamu!"


Bias sejujurnya sangat sedih, tapi hubungannya dan Nasya memang sudah terjalin lama. Antara kedekatan cinta dan persahabatan sudah menyatu. Bias sadar Nasya kini tak terjangkau untuknya. Ada pembatas besar setelah kenyataan hari ini, tapi__ keinginan menjaga dan melindungi itu masih ada. Ia sayang Nasya. Bias terus mengusap kepala itu saat ini.


"Yang, di-a____


Belum lagi Nasya menjawab pintu ruang isolasi Nasya dirawat seketika terbuka.


"Om!"


"Kamu di sini? Kurang ajar!"


Lelaki paruh baya dengan kacamata itu langsung menarik kerah seragam Bias dan menariknya ke tepi. "Sudah puas kamu setelah merusak anakku! Baru pukulan itu hendak di daratkan. Nasya berteriak.


"Jangan, Pa!"


"Kamu masih membela lelaki brengsek ini?"


"Anak kurang ajar! Apa keluargamu tidak mengajarkan tatakrama dan cara menghargai wanita! Om tidak menyangka Bias!"


"Papa jangan! Bukan Bias, Pa! Jangan sakiti Bias!"


"Bu-kan?"


..._________________________________________...

__ADS_1


🥀Happy reading😘


__ADS_2