ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
MENGETUK HATI PAPA


__ADS_3

"Kamu? Kenapa di sini? Minggir!" Zee yang mendengar pengajian di mushola menandakan subuh akan tiba langsung membuka mata. Ia kaget lengan kekar membelit tubuhnya. Ia menghempas lengan itu.


"Yang ... kamu udah bangun? Tidur sebentar lagi, Yang!" Sesaat Bias lupa jika Zee sedang marah padanya. Bukannya melepas lengannya, ia justru mempereratnya.


"Lepas!" Zee menghempas lengan itu cukup kuat, ia beranjak dan langsung menuju kamar mandi.


"Yang! Ahh____


Bias kaget. Ia menyugar rambut, sedih bercampur kecewa Zee masih saja marah. Ia menarik napas dan menetralkan emosinya. Ia tidak boleh ikut emosi yang justru akan semakin memperkeruh semua. Bias yang melihat Zee ke luar kamar mandi kini bergegas ke kamar mandi, ia juga mau bersiap ibadah.


"Jangan kemana-mana! Kita harus bicara!" ucap Bias setelah Zee membuka kain sembahyang dan baru saja ingin ke luar kamar.


"Lepas! Aku nggak mau bicara sama kamu!"


"Kita harus bicara! Kita nggak bisa begini terus, Yang!" Zee terdiam masih membuang wajah.


"Kamu fikir aku nggak marah sama papa? Aku sangat marah dan kesal sama perilaku papa, Yang! Aku sama kayak kamu, kaget! Lelaki yang sudah membuat hidup istri aku dan keluarganya sulit ternyata adalah papa aku sendiri! Aku bingung harus bagaimana! Aku juga gak bisa mengubah masa lalu! Tapi satu yang aku tahu, aku bisa mengubah masa kini! aku janji akan membayar kesedihan kamu dan keluarga akibat ulah papa. Perlahan aku akan kembalikan semua harta keluarga kamu yang dulu dipakai untuk ganti rugi perbuatan papa.


"Kami sudah nggak butuh harta itu!" terang Zee.


"Oke, terus apa dong yang harus aku perbuat untuk kamu? Supaya kamu nggak marah lagi, Yang!"


"Jangan dekati aku!"


"Duh, itu sama aja aku lagi buka peluang syetan untuk tertawa dan merasa berhasil! Inget lho, Yang ... salah satu misi syetan itu memisahkan sepasang suami istri." Bibir Zee mencebik.


"Yang, kamu nggak kangen aku! Aku kangen lho. Udahan ya marahnya!" Zee menantap lekat netra Bias.

__ADS_1


"Mungkin bagi kamu meminta maaf maka semua masalah selesai. Tapi aku dan adik-adik yang kena imbas sulit melupakan semuanya. Kami kehilangan sosok ayah, waktu bercanda dengan ayah, kehadiran ayah, pencari nafkah kami seketika hilang. Ibu memutar otak agar kami bisa hidup seperti anak lain, bersekolah, membeli jajan, punya pakaian baru, sepatu dan hal lainnya. Kami melihat ibu sampai malam menjahit, kadang makan dan dirinya sendiri dia lalaikan. sekarang kamu dengan mudahnya minta aku berhenti marah dan melupakan semua! Egois kamu tuh!"


"Oke sorry!" Bias terdiam dan menunduk beberapa saat.


"Baik aku nggak akan mengganggu kamu, tapi satu aku pinta! Jangan pernah ke luar dari rumah kita ini. Kita akan sama-sama mencerna seberapa besar cinta kita. Apa cinta kita begitu kecil hingga dengan mudah tergilas oleh dendam masa lalu?" Zee membuang wajah, ia tahu Bias sedang menyindirnya.


"Sekali lagi aku minta maaf!"


Saat itu masih pukul 6 pagi, tapi Bias memilih berangkat ke Kafe. Bias merasa Zee cukup terganggu dengan kehadirannya di rumah. Zee hanya diam melihat raga Bias menjauh dan tak lama deru motor berbunyi. Bias pergi. Ada bulir jatuh di sudut mata Zee, ia juga tak suka keadaan ini. Tapi semua cerita kelam itu sulit ia pupus.


Siang menjelang, setelah semua pekerjaan selesai. Bias merasa perlu menemui seseorang. Hal yang ingin ia lakukan sejak beberapa hari lalu namun belum bisa terlaksana karena kesibukannya. Bias merasa hari itu ia harus lakukan.


Bangunan restoran berdominasi hitam putih Bias masuki. Beberapa karyawan langsung menganggukkan kepala melihat kedatangan Bias. Bias tersenyum.


"Apa papa ada di ruangannya saat ini?" tanya Bias pada seorang kasir.


Tok ... Tok ....


"Masuk!"


Libra masih asik menatap pantulan laptop saat Bias memasuki ruangan. Ia tak menyadari kehadiran Bias.


"Pa!"


Libra kaget mendengar suara yang tak asing. Ia menutup sedikit laptop hingga wajah Bias terlihat.


"Ka-mu? Untuk apa kamu datang!"

__ADS_1


"Bias sudah tau segalanya, Pa. Termasuk kedatangan Papa ke rumah Bias yang mengakibatkan ayah Farid mengalami serangan jantung!"


"Ayah Farid! Manis sekali panggilan itu!" ketus Libra.


"Pa, sadari semua salah Papa dan minta maaf lah! Tindakan Papa di masa lalu sangat memalukan dan berimbas besar pada kehidupan tante Farah juga ketiga anaknya. Ingat dosa, Pa! Kebohongan, kelicikan, tuduhan, semua adalah hal yang dibenci Pencipta kita! Bertaubatlah, Pa! Minta maaflah dengan baik pada keluarga Zee!"


"Wah wah! Anak Libra kini sangat mendukung Farid. Hai Bias, sadar dari mana kamu berasal! Keluarga mana yang membesarkanmu? Darah siapa yang mengalir di tubuhmu? Keringat siapa yang bercucur untuk bisa memberikan semua kebutuhanmu? Kamu yang bertaubat! Pergi dari rumah orang tua, mencuri investor terbesar Papa, membuat wanita yang melahirkanmu bersedih dan yang terakhir ... kamu bahkan menikah dengan wanita tanpa restu orang tua! Kamu anak durhaka, Bias!" Jantung Bias berdetak cepat. Kata-kata Libra membuatnya sakit.


"Sebelumnya terima kasih atas setiap jerih payah yang Papa lakukan untuk Bias. Bias durhaka kata Papa? Kenapa Papa bisa berucap seperti itu! Kata-kata itu sangat menyakitkan, Pa! Papa jangan lupa, Bias saat itu ke luar dari rumah karena perintah Papa! Bias juga tidak pernah mencuri investor Papa! Pak Alaric sendiri yang datang menawarkan kerjasama itu! Masalah Zee, Bias sudah mengantongi restu Mama! Untuk Mama yang bersedih, Bias akan membayarnya dengan kesuksesan Bias!"


"Sok pintar!" Libra menggebrak meja dan bias seketika kaget.


"Ma-af, Pa!"


"Kalau kamu datang hanya untuk memberi ceramah, sebaiknya tidak perlu muncul! Papa juga sudah lama tidak menganggapmu anak!" Bias menggeleng-gelengkan kepala.


"Kenapa masih di sana! Pergi!"


Hati itu hancur. Berupaya menyatukan dan mengetuk hati Libra, namun hati itu begitu keras. Terkunci rapat. Bias kini pergi. Ia sangat butuh Zee saat ini, namun mengingat emosi Zee sedang buruk padanya, Bias akhirnya memutuskan standbye di Bandung. Cabang Kafe Bias di Bandung adalah yang paling baru di buka. Masih butuh pemantauan lebih, Bias masih perlu membaca sejauh mana minat dan antusiasme customer.


Siang terik itu dengan berbagai pelik otak Bias melajukan cepat maticnya. Ia terus bergerak membelah jalan, melewati satu demi satu mobil di depan. Hingga sampai di sebuah tikungan agak terjal tiba-tiba sebuah truk galon melintas dengan kecepatan tinggi. Bias yang kaget segera membanting stir ke arah kiri hingga motor itu terseret jauh ke jalan berbatu dan tubuh Bias terlempar.


BUG


...______________________________________...


🥀Happy reading😘

__ADS_1


🥀Terima kasih sudah memberi support karya ini❤️❤️


__ADS_2