
..."Kita hanya perlu ikhlas menjalani. Man Jadda wa jada, siapa yang bersungguh-sungguh ia akan berhasil."🥀...
...______________________________________...
Adzan ashar mulai bersahutan saat Johan meminta seluruh anggota tim basket putri berhenti.
"Oke semua keren, tapi kita istirahat dulu ya, guys! Kumpul lagi jam 4. Elo Zee, habis istrirahat langsung masuk ikut tanding. Kita buat 2 kubu, gue mau lihat kemampuan kerjasama kalian. Paham semua!"
"Paham, Bang." Jawab semua anggota serempak.
Seluruh anggota mulai menuju kantin, tapi tidak dengan Zee. Zee memilih duduk di depan mushola walau beberapa kakak kelas mengajak bergabung. Zee memang masih sungkan berbaur dengan kakak-kakak kelasnya itu.
Langkah kaki Zee tampak landai tak seperti biasanya, wajah yang biasanya begitu bersemangat tampak berbeda, lesu tanpa gairah. Ya, dalam keadaan sendiri seperti ini, Lesu itu ia tampilkan berbeda saat berada di lapangan, Zee berusaha keras menjaga moodnya tetap On walau tanpa kehadiran Bias.
Sepuluh menit berlalu. Seketika Zee teringat sesuatu, ia tak sengaja mencuri dengar saat di kantin bahwa para pengurus OSIS siang ini akan rapat di salah satu kelas di lantai 2. Hati yang merindu juga rasa penasaran akan aktivitas sang pujaan akhirnya membawa Zee menyingkirkan logikanya. Zee sangat ingin melihat wajah lelaki yang tanpa permisi telah masuk ke hati dan angannya itu.
Baru lolos menaiki anak tangga terakhir di lantai dua, terdengar suara pintu dibuka. Terlihat setelahnya satu-persatu orang keluar dari sebuah kelas dengan berbagai aktivitas, ada beberapa siswi yang sedang bercengkrama, memainkan ponsel dan ada juga yang terlihat terburu-buru turun ke lantai bawah.
Apa itu kelas para pengurus OSIS rapat? Jika benar, harusnya kak Bias juga a-da dan akan keluar juga dari ruangan itu. Ahh aku pura-pura di sini saja. Aku mau lihat kak Bias ....
Tekad Zee sudah bulat, dan benar saja, sambil menunggu 10 menit lagi latihan basket di mulai, Zee berdiri tak jauh dari kelas di mana belasan orang tadi keluar. Namun Zee kecewa, karena sosok yang ingin dia lihat tak juga muncul. Zee akhirnya memutuskan pura-pura melintasi kelas itu untuk mengetahui aktivitas di dalamnya.
Perlahan Zee melangkah, hingga sampai di muka pintu ia menoleh. Desiran itu langsung muncul tatkala ia melihat sosok pujaannya. Ternyata Bias, Reyyan dan Ratu masih membicarakan kegiatan kepemimpinan yang akan diadakan sekolahnya itu.
Sampai di sudut lantai 2, Zee kembali berbalik melewati kelas itu dan lagi-lagi ia melihat Bias. Senyumnya seolah tak ingin berhenti mengembang. Dalam hati ia berharap Bias keluar dan mereka saling bersapa, tapi nyatanya semua tidak terjadi. Zee yang melihat jam latihan akan di mulai segera menuju lapangan. Pun ia langsung mengikuti instruksi dan ikut bertanding dengan kakak-kakak kelasnya itu.
Zee bertanding dengan penuh semangat. Ya, kilas kejadian beberapa saat lalu ketika ia melihat Bias sungguh menjadi imun untuk Zee. Zee seakan ingin terus tersenyum membayangkan tingkah konyo*lnya tadi, berpura-pura lewat untuk melihat Bias. Hal bodoh yang nyatanya membuat Zee bahagia. Mengetahui bahwa Bias masih berada di sekolah, satu lokasi dengannya walau tak bersapa sekalipun Zee sudah merasa senang. Zee kini terus bergerak dengan sangat mantap, ia berusaha melakukan yang terbaik dalam pertandingan sambil sesekali melihat ke lantai atas. Ya, dalam hati Zee membayangkan Bias sedang memperhatikannya dari sana.
"Bagus ... bagus!! Keren kalian! Go go Zee!" Suara teriakan Johan terdengar penuh semangat. Ia bangga, sangat bangga melihat kemampuan Zee di luar ekspektasinya. Ya, Zee memang sudah beberapa kali bertanding mengikuti perlombaan jadi dia tidak awam. Latihan dan praktek yang beberapa hari lalu disampaikan Bias bahkan menambah sempurna kemampuannya.
__ADS_1
Melihat jam menunjukkan pukul 5 sore, terpaksa Johan menghentikan pertandingan. Johan meminta Zee mulai besok bergabung dan terus berlatih bersama tim putri. Zee mengangguk penuh semangat. Tidak lupa sebelum membubarkan latihan, Johan mengajak semua anggota berdoa agar semua senantiasa diberi kesehatan hingga hari perlombaan.
Seluruh anggota bersiap pulang setelahnya, Zee beberapa kali melirik ke lantai atas, otaknya dipenuhi tanya mengenai keberadaan Bias.
Apa kak Bias masih rapat? Atau sudah pulang?
Zee mempercepat langkah menuju area parkir dan ia kecewa, ada kesedihan ia rasa melihat motor Bias sudah tidak ada. Karena asik berlatih, Zee memang tidak menyadari Bias yang turun ke lantai bawah dan izin pulang lebih dulu pada Johan.
_____________________
Pukul 16:15, Bias menyalakan motor dan meninggalkan bangunan sekolah. Tanpa berpikir, Bias langsung mengarahkan kemudinya ke rumah Nasya. Hati Bias sungguh tak tenang. Sejak jam istirahat ia memberitahu Nasya bahwa akan diadakan rapat OSIS sepulang sekolah, wajah Nasya memberengut. Sangat jelas Nasya kesal. Nasya bahkan meminta Bias kembali ke kelasnya dan tak perlu menemuinya lagi.
Di jam pulang, Bias tidak mendapati Nasya di kelas. Bias berusaha menghubungi ponsel Nasya, tapi tak juga diangkat. Bias menghubungi Helen setelahnya, namun lagi-lagi hal sama terjadi. Helen tak merespon panggilannya.
Kini satu-satunya cara adalah dengan bertemu Nasya secara langsung. Ya, Bias berharap Nasya berada di rumahnya saat ini.
Gerbang hitam menjulang seketika terbuka saat Ujang menyadari Bias yang datang. Ujang lagi-lagi kaget Bias datang seorang diri tanpa Nasya. Pun Bias mendekat.
"Belum, Den."
"Mamang kenapa nggak jemput?"
"Itu dia Den, saya nggak boleh jemput sama non Nasya." Bias mengeleng-geleng.
"Mamang mau membantu saya?"
"Ban-tu a-pa, Den?"
"Stanbye diluar menjelang Nasya pulang, Mamang harus lihat apakah ada yang mengantar Nasya, orangnya seperti apa nanti beritahu saya!"
__ADS_1
"Ta-pi, Den_____
"Ini untuk Mamang juga, coba pikir bagaimana jika tante Utari dan om Kenan tanya tentang Nasya, pergi kemana, dengan siapa, apa yang akan Mamang jawab?" Ujang terdiam.
"Ja-di?"
"Baik, Den. Aden bener. Saya akan coba cari tahu tentang non Nasya."
Bias menepuk-nepuk bahu tegap di hadapannya. "Bagus! Bagus, Mang! Mamang keren!" Bias baru saja hendak beranjak, namun tiba-tiba ia berbalik lagi.
"Ini buat Mamang beli rokok!"
"Eh, a-pa ini, Den?"
"Ambil aja, Mang! Bagi-bagi rezeki."
"Oh, makasih ... makasih, Den. Den Bias paling top deh!"
Di mana Nasya? Coba aku cari di rumah Helen.
Butuh waktu 10 menit untuk sampai ke rumah Helen, bersyukur Nasya pernah meminta Bias mengantarnya ke rumah Helen sehingga Bias tau dimana rumah teman kekasihnya berada.
Seorang penjaga langsung membuka gerbang saat Bias mengatakan bahwa ia adalah teman Helen. Pun Bias langsung mengarahkan langkah ke rumah dominasi ungu itu.
...________________________________________...
🥀Happy reading😘😘
🥀Nikmati setiap babnya, yaa❤️❤️
__ADS_1
🥀Like, komen, vote dan rate selalu Bubu tunggu💋💋