
"Tante, tidak perlu begini," ucap Bias melihat Farah lagi-lagi menyodorkan bungkusan berisi kotak makan saat ia hendak pulang.
"Tidak apa-apa, bawa saja, Bi!" lugas Farid.
"Besok-besok kamu juga nggak perlu bawa martabak atau yang lainnya kalau datang ke sini! Mending uangnya disimpan untuk keperluan kamu pribadi dan untuk mencari kerja!" Bias tersenyum.
Zee diam-diam memperhatikan di kejauhan, ada kesedihan dia rasa melihat Bias yang rela meninggalkan keluarganya dan sedang bersusah payah untuknya.
"Kamu ngapain diem aja di situ, Zee! Ini bawain bungkusannya gantung di motor Bias!"
"Eh, i-ya Bu!"
"Kakak, Zaa saja yang taruh plastiknya di motor mas Bias!" Zaa tiba-tiba mendekat meraih bungkusan yang di pegang Zee, ia berlari ke luar.
"Bias pamit Om, Tante!" Bias mencium tangan Farid dan Farah bergantian.
"Joy, Mas pulang dulu!"
"Pulang aja!" ketus Joy. Joy memang masih belum menerima Bias sepenuhnya. Ia justru sering rindu Johan.
"Joy, nggak bisa sopan kamu? Cium tangan mas Bias!"
"Biar, nggak pa-pa, Tante."
"Joy bangun nggak!" Farah berteriak.
"Ini masalah sopan santun, Bi. Joy sudah bukan usia anak kecil!"
"Iya, iya!" Joy akhirnya bangkit mencium tangan Bias dan masuk ke kamar setelahnya.
Bias beriringan dengan Zee menuju ke luar, belum lagi melewati pintu Farid bicara. "Bi, jangan lupa waktu kamu tinggal satu bulan lho!"
"Yah!"
"A-yah?" Farah dan Zee kaget bersamaan.
"Ayah hanya mengingatkan Bias, karena ayah suka lelaki yang memegang ucapannya!" Bias bergeming sesaat dan mengangguk setelahnya.
Satu bulan ini memang berbagai lowongan sudah Bias coba. Walau ia mahasiswa pintar bahkan bisa menyelesaikan S1-nya lebih cepat dari mahasiswa kebanyakan, namun nyatanya itu tidak menjamin saat memasuki dunia kerja. Jangankan perusahaan besar, perusahaan kecil pun lebih mengutamakan orang yang memiliki pengalaman bekerja. Bukan Bias tak memiliki kemampuan, namun sampai berbusa ia berucap, setiap HRD yang ia temui menginginkan bukti tertulis dari perusahaan tempat sebelumnya ia bekerja dan Libra tidak menerbitkan itu.
"Kamu tadi kenapa bengong aja lihatin aku?" tanya Bias saat keduanya berada di dekat Ducati Bias.
__ADS_1
"Maaf kamu harus kerja keras cari kerja kayak gini, harusnya kamu duduk manis cuma ngecek bisnis Papa kamu," ucap Zee.
"Kamu bicara apa, hem? Semua yang terjadi pasti terselip hikmah. Mungkin ini cara Pencipta supaya aku jadi sosok mandiri!" Zee mengangguk lirih.
"Tapi tinggal sebulan lagi!"
"Masih 30 hari! Doain ya, aku kayaknya mau berbisnis kayak papa."
"Bisnis apa?"
"Cafe/Restoran sesuai yang aku pelajari dari bisnis Papa!"
"Tapi itu modalnya gak sedikit, harus berani sama resiko juga. Apalagi kamu pemula, Yang. Kamu harus berjuang dari 0 menarik customer."
"Setiap hal ada resikonya, Sayang. Kayaknya aku akan lepas Ducati ini!"
"Tapi ini hadiah mama kamu, kan?"
"Gak ada pilihan! Buat modal!"
"Aku sih terserah, kamu pasti udah mikirin semua." Zee memaksa tersenyum.
"Gpp! Yang penting yang ngebonceng tetap kamu!" Bias tersenyum.
"Yaudah aku pulang, ya!" Baru menarik kepala Zee, Zee menahan.
"Ada Zaa tuh, jangan macem-macem!" Bias kembali tersenyum, ia mengangguk.
___________________
Hari sudah tengah malam, tapi Bias di kontrakannya masih berkutik dengan laptopnya. Masuk ke aplikasi jual beli online dan memposting Ducatinya. Besok rencananya bias juga akan main ke tempat teman-teman Kuliahnya dan menawarkan pada mereka mungkin saja satu dari mereka akan tertarik.
Selain mengurus penjualan motornya, Bias juga mulai membuat perencanaan usaha yang ingin ia kembangkan. Jenis makanan apa yang akan ia jual, seberapa besar kira-kira minat dan daya tarik konsumen, di mana sebaiknya lokasi usaha itu dilakukan, dan berbagai aspek pendukung lainnya. Bias juga sudah mulai membuat perhitungan modal yang ia butuhkan. Berapa kira-kira motornya akan laku dijual, perencanaan motor apa yang akan ia beli nantinya untuk mobilitas, juga berapa kira-kira sisa penjualan motor itu setelah dikurangi untuk modal dan membeli motor.
Bias menyeduh kopi, duduk sejenak di teras sambil sesekali meneguk kopi yang sudah dibuat. Ia menggulirkan layar ponsel setelahnya. Melihat wajah Dona, Dara dan Zee beserta keluarga Zee mampu menambah semangat Bias. Ia masih duduk menikmati sejuknya malam saat tiba-tiba ponselnya bergetar. Ada pesan dari Zee. Zee yang sadar Bias saat ini hidup sendiri memang lebih sering mengirim chat dan memberi perhatian Bias. Zee tidak mau Bias merasa sendiri.
"Pasti belum tidur?" tertulis Pesan dari Zee.
"Iya," jawab Bias dengan membubuhkan emoji orang yang tersenyum.
"Jangan terlalu keras berfikir!"
__ADS_1
"Aku nggak mau sedetik pun berlalu dengan percuma!"
"Terima kasih, kak Bias kesayanganku. Aku selalu berdoa semoga ihtiar Kakak dipermudah," ketik Zee dengan emoji hati.
"Aamiin. Oh ya, belum ada kabar mengenai pengajuan beasiswa kamu?"
"Belum."
"Aku video call kamu, ya! Mau ngobrol sambil lihat wajah kamu!"
"Iya."
"Hai Sayang ... kamu selalu cantik!"
"Mulai deh gombalnya."
"Gambar apa itu di baju kamu? Spongebob, ya? Kamu lucu banget sih Yang pakai dress kuning dan motif kartun begitu, cerah."
"Kamu nelfon aku cuma mau bahas baju aku?" Bias terkekeh.
"Oke, oke, sorry. Oh ya, memang kamu mau ambil jurusan apa kuliah nanti?"
"Hukum."
"Wah, serem ya jurusan yang calon istri aku suka." Zee tersenyum dan Bias senang melihat senyum itu.
"Ayah aku pernah mengalami ketidakadilan di masa lalu. Aku mau cari orang yang membuat keluarga kami seperti sekarang!" Wajah Zee seketika serius.
"Kamu nggak pernah bahas ini! Ada apa sama ayah kamu?" Wajah Bias antusias.
"Hmm, suatu saat aku pasti cerita! Tapi malam ini aku lagi nggak mood cerita itu."
"Yauda kalau gitu kamu cerita tentang anak-anak les kamu aja!"
Zee pun mulai bercerita. Keduanya saling berbagi cerita, tertawa, memberi semangat dan tak tertinggal mengungkapkan rasa. Hingga tak terasa waktu menunjuk pukul 2 dini hari, keduanya memutus panggilannya dan beristirahat.
..._______________________________________...
🥀Happy reading😘
🥀Senin ceria. Terima kasih selalu mengikuti❤️❤️
__ADS_1