
"Eh, Om!" Mata Bias membulat kaget. Baru saja ia hendak menutup Kafe, ia melihat Farid berdiri.
"Boleh Om masuk?"
"Tentu, Om! Mari silahkan duduk!" Bias mempersilahkan Farid duduk di meja lesehan. Baru saja Bias hendak membuat minuman hangat, Farid menahan.
"Jangan sibuk! Duduk saja!" Bias tersenyum dan duduk di hadapan laki-laki yang dua hari lagi akan menjadi ayahnya.
"Bagaimana, sudah hapal lafadz akadnya?" Pertanyaan basa basi dilontar Farid untuk memulai perbincangan.
"Su-dah, Om!"
Sebuah tepukan mendarat di bahu Bias. "Kenapa kamu! Santai saja lah! Putriku itu akan menjadi milik kamu, itu artinya Om juga akan menjadi ayahmu. Apa begini caramu berbicara pada ayahmu?" Bias tersenyum.
"Ma-af, Om!"
"Oh ya, bicara tentang ayah, apa ayahmu benar-benar tidak mencarimu? Kamu tidak mengabari perihal pernikahanmu, Bii?" lugas Farid.
"Mengabari sama saja saya sedang bunuh diri, Om. Papa dengan pengaruhnya pasti akan memisahkan Bias dan Zee. Jadi biarlah kami menjalani hidup masing-masing!" Lugas kata itu terucap.
"Dan ibumu? Kamu tidak rindu dia?"
"Ma-ma_____
Berbeda saat bicara perihal sang ayah, kini saat Bias ingin bercerita mengenai Dona. Kata ikut begitu sulit terucap. Tidak ada seorang pun yang tidak mencintai ibunya, demikian halnya dengan Bias. Ia sebetulnya rindu Dona.
"Temui ibumu dan ceritakan rencana pernikahanmu, jika ia tidak berkenan hadir, setidaknya ia tahu bahwa putranya akan menikah!" Bias mengangkat wajah menatap Farid. Ia selalu terkesima dengan ucapan Farid yang tak terduga.
"Selain i-tu, rindumu juga terobati, bukan?" ucap Farid lagi. Bias mengangguk.
"Usahakanlah tetap berhubungan baik dengan ibumu. Doa ibu itu berkah, memudahkan setiap langkah yang akan kamu dan Zee lakukan. Selain itu, putriku juga akan senang memiliki mertua, ibu lain, wanita yang telah melahirkan lelaki yang ia cintai." Bias masih menatap wajah Farid, lagi-lagi ia mengangguk.
"Oh ya, apa Deo melakukan pekerjaannya dengan baik?"
Tiga hari lalu, Farah memang melarang Zee ke Kafe, tradisi pingitan menurut Farah. Membiarkan dua insan mempersiapkan diri masing-masing menuju pernikahan, saling memendam rindu hingga hari H tiba dan keduanya akan dipertemukan.
Beruntung keluarga besar Farid dari Aceh sudah tiba, salah satunya Deo yang merupakan anak dari kakak Farid. Deo seusia Zee dan berkeras ingin hadir di hari pernikahan sepupunya. Farid akhirnya menggunakan Deo untuk menggantikan Zee membantu Bias menjalankan usaha.
"Deo bekerja dengan baik, Om!" Farid menatap Bias.
"Panggilan Ayah sepertinya akan lebih enak didengar! Belajarlah memanggilku ayah dan memanggil Farah ibu !" Bias tersenyum.
"Tentu, dengan senang hati Om, eh, Ayah!" Farid tertawa.
"Kamu sangat lucu Bias!" Bias ikut tersenyum.
__ADS_1
"Oke sudah malam, kamu harus beristirahat! Besok gunakan waktu sebaiknya untuk rehat agar wajahmu segar di hari H! Oke, Ayah pulang dulu!"
"Iya. Terima kasih banyak Ayah sudah datang dan selalu memahami Bias!"
__________________
"Halo assalamu'alaikum, selamat siang."
"Wa'alaikumsalam Ma!"
"Ka-mu___
"Ini Bias!"
•
•
Wanita paruh baya duduk di sebuah kursi taman. Jemarinya tak henti memutar-mutar gelang yang dipakai. Dada wanita itu berdegup cepat. Ia yang dua bulan belakangan memendam rindu yang teramat pada Bias sang putra akhirnya mendapati suara putranya lagi. Putranya akhirnya ingat memiliki ibu. Bahagia dirasa Dona, ia yang diminta datang oleh sang putra ke sebuah Taman, kini sudah duduk manis menunggu kedatangan putranya.
Hati Dona bergemuruh, ia memang tahu putranya memiliki uang hasil penjualan motornya, tapi bagaimana putranya menjalani kehidupan masih menjadi tanda tanya yang menyesakkan bagi Dona. Ia tak siap jika harus mengetahui putranya kesulitan hidup.
Dona mengedar pandang. Ia sungguh tak sabar melihat wajah putra yang 22 tahun silam ia keluarkan dari rahimnya. Putra tampannya. Ya, Dona rindu putra tampannya itu.
Sebuah matic berhenti tak jauh dari Dona berada, namun Dona tak menyadari itu adalah Bias. Hingga pria dengan jaket kulit membuka helmnya, netra Dona seketika berbinar. Binar disertai lelehan bulir yang tak bisa Dona kendalikan. Dona berdiri, ia berjalan mendekat ke raga yang juga tengah berjalan mendekat padanya. Beberapa saat jarak itu terkikis dan keduanya berpelukan.
"Bias ... Biasku! Kamu Biasku!"
"Iya, iya Ma! Ayo kita duduk, Ma!" Bias merangkul tubuh Dona dengan sayang, ia mengarahkan langkah keduanya ke sebuah kursi dan keduanya duduk.
"Sayang, bagaimana kabarmu? Apa yang kamu lakukan belakangan ini, Nak?" Dona menahan wajah Bias dan berkali-kali mencium wajah itu.
"Kesayanganku, kesayangan Mama! Mama senang kamu masih ingat Mama! Tidak melupakan Mama!" Belum lagi tanyanya dijawab, Dona sudah bicara lagi sambil sesekali mencium pipi Bias.
"Mana mungkin Bias melupakan Mama! Bias tentu selalu ingat Mama!"
"Ah, Sayang .... Oh ya, kamu sudah bekerja? Bagaimana kabar Ziva? Apa kalian sudah menikah? Apa kalian hidup dengan baik? Tidak kesulitan makan?"
"Ma, Ma ... cukup Ma! Biarkan dulu Bias bicara!" Dona tersenyum dan mengangguk. Putranya benar. Bahkan sejak tadi ia tak membiarkan putranya itu bicara.
"Ma, Bias hidup dengan baik. Bias sekarang memiliki bisnis. Bisnis yang berkembang. Bias tidak kesusahan. Bias juga memiliki karyawan!"
"Benar-kah? Kamu tidak bo-hong?" Dona mengusap-usap wajah Bias.
"Untuk apa Bias bohong! Oh ya satu lagi, besok Bias akan menikah! Mama akan datang, kan?"
__ADS_1
"Be-sok?"
"Iya, Ma. Restu Mama sangat penting untuk Bias!"
"Maaf tapi besok tidak bisa, Sayang."
"Ada masalah, Ma?"
"Mama diminta Papa ikut ke Batam, menemui klien. Tapi tenang saja Mama merestui kalian. Sudah Mama katakan kalau Mama suka Ziva, bukan!"
"Terima kasih Mamaku yang cantik!" Bias kini yang mencium Dona.
"Ah Sayang, andai kamu tau yang terjadi setelah kamu pergi____
"Apa yang terjadi, Ma?" Bias menghentikan aktivitasnya, ia menatap Dona serius.
"Dua klien Papa yang saat itu sign kerjasama denganmu mendadak membatalkan kerjasama mereka."
"Kenapa?"
"Mereka tahu kamu tidak lagi menghandle bisnis Papa dan mereka membatalkan kontrak! Mereka menyatakan lebih suka cara kerja kamu dibanding Papa!"
"Hah! Benarkah?" Kaget Bias.
"Jangan ditanya betapa hancurnya harga diri papa dibanding-bandingkan dengan kamu! Ia yang sedang marah bertambah marah saja!"
"Bias akan bicara pada investor itu untuk kembali!"
"Bodoh, untuk apa! Jangan muncul! Papamu sedang membencimu saat ini! Kebaikan apa pun yang kamu lakukan akan tetap salah! Tetap ditempat kamu saat ini dan jangan dulu mengusik papa!"
"Begitu-kah?"
"Iya. Ah Sayang ... ayo sekarang ceritakan mengenai bisnismu!"
•
•
Keduanya terus berbincang, hingga waktu menjelang sore. Rindu keduanya telah terobati walau Bias merasa sedih mengetahui papanya masih menutup diri darinya. Bias berusaha tegar saat perpisahan itu harus terjadi lagi. Bias merasa sedih pula sebetulnya Dona tidak bisa datang di hari spesialnya, tapi kesedihan itu harus ia kikis karena bagaimana pun Dona menyatakan merestui pernikahannya. Kini Bias melambai tangan saat mobil yang dinaiki Dona semakin menjauh.
...______________________________________...
🥀Ada karya baru bubu yang ikut even juga. Mampir yuk! Tapi up-nya masih santai yaa❤️❤️
__ADS_1
🥀Happy reading😘😘