
"Zee ...!" Baru saja Zee memasuki sebuah Kafe yang berada dalam sebuah Mall besar di Jakarta, ia langsung mendengar teriakan seseorang memanggil namanya.
Zee memang bukan orang yang akan sibuk dengan penampilan dan make up tebal. Berpakaian casual celana jeans dipadu kemeja bermotif garis juga pewarna nude yang menghias bibir, ia kini masuk ke sebuah Cofee shop sebuah Mall sesuai alamat yang diberikan Siska.
Zee seketika mendekati gadis yang tampil sexy dengan dress hijau membentuk tubuh yang sudah berdiri menyambutnya.
"Honey ...." Siska langsung memeluk Zee.
"Siska ... kamu cantik banget!"
Siska tertawa. "Thanks, lo juga cantik natural, gak berubah!" ucap Siska menatap Zee dari atas ke bawah dan tiba-tiba meraih jemari Zee.
"Hmm ... awalnya gue ragu pas denger dari Zaa kalo lo udah nikah, ternyata bener udah ada cincinnya. Oh ya, terus Bias yang disebut Zaa bener satu orang sama Bias kakak kelas kita the perfect guy in the school?" Belum lagi duduk Siska sudah memberondong Zee dengan banyak tanya.
"Aku gak disuruh duduk dulu, nih?" seloroh Zee.
"Eh iya aduh sampe lupa, kan. Sorry!" Keduanya setelahnya duduk.
"Waiter!" Siska melambai tangan pada salah satu pelayan, Siska memesan 3 lemon tea dan beberapa menu desert.
"Kenapa tiga?" tanya Zee bingung.
"Ya kita bertiga?"
"Jangan bilang kamu lagi hamil!" celetuk Zee menerka.
"Eh, nggak lah. I'm single, Honey!" Zee tersenyum.
"Ya kali. Kalau tebakan aku salah, terus siapa dong satu orang lagi?"
"Hmm, gak sabar banget sih! Tunggu sebentar, orangnya masih otw. Eh itu dia!" Zee seketika menoleh dan_____
"A-yu?" Zee melihat ke arah Siska dan Siska mengangguk.
"Duh mimpi apa aku semalem. Hari ini bisa ketemu kedua sahabat aku!" ucap Zee.
"Eh, nih anak dari dulu jalannya masih lama aja. Come on, Ay!!" teriak Siska tak peduli banyak mata menatapnya.
"Kamu tuh gak berubah ya, Sis!" lontar Zee melihat aksi spontan Siska yang senang bertindak spontan dan cuek. Siska tertawa.
"I'm still Siska, Zee! Let's, let's! Hurry up, Ay!" pekik Siska lagi. Kini Ayu mempercepat langkah hingga jarak ketiganya semakin dekat.
"Zee ... Sis!" Ayu memeluk dua sahabatnya bergantian, wajah ketiganya tampak merona.
"Yuk, yuk, duduk!" ajak Siska. Ayu menatap dua sahabatnya bergantian tak bergeming.
"Kalian berdua tambah cantik!" ucap Ayu menatap Zee dan Siska bergantian, ia merasakan bahagia yang sama seperti halnya Zee dan Siska karena bisa bertemu lagi setelah sekian lama.
"Lo juga tambah cantik, Ayy!" seloroh Siska.
"Kalian cantik! Aku nih yang begini aja!" Kini Zee yang tampak merendah merasa dirinya masih apa adanya seperti dulu. Zee memang akan berhias di momen-momen tertentu saja.
"Apa sih Zee. Lo malah yang paling cantik kali! Kenapa? Karena lo yang udah laku diantara kita bertiga! Tolong digaris bawahi ya! Sudah laku!" Siska berucap dengan menggebu. Jelas pertemuan ketiganya begitu berkesan.
__ADS_1
"Eh, bener lo udah laku, Zee?" Ayu penasaran menatap Zee sambil mengeratkan jemarinya keduanya.
"Nah ini yang gue bilang ke elo, akan ada big surprize at the moment! Its about Zee! Zee kita, Ay!"
"Lebay deh!" Zee mencubit gemas hidung Siska yang sejak tadi begitu ekspresif membicarakan dirinya.
"Haduh make up gue luntur deh!" ucap Siska memberengut. Zee berucap lagi. "Biar luntur sekalian sama otak kepo kamu!" Zee tersenyum setelahnya.
"Duh, kok kalian jadi sibuk berdua sih? Apa dong surprise besarnya!"
"Nah kan Ayu udah gak sabar. Ayy, lo masih inget kan sama idola sekolah kita kak Bias?" Ayu menatap Siska, bingung mengapa Siska membicarakan Bias yang pernah mengukir kisah kelam ketiganya. Ayu menatap Zee setelahnya memastikan Zee baik-baik saja saat nama orang masa lalunya disebut.
"Heii!" Zee tersenyum sembari melambai tangan ke depan wajah Ayu yang mematung.
"Eh, sorry. Apa tadi?" lirih Ayu.
"Apa! Apa! Yang ada kita tanya kenapa lo jadi melamun gitu! Mabok pesawat lo?"
"Eh! Ng-gak, kok!" Ayu mengerucutkan bibirnya. "Ja-di apa surprize-nya?" tanya Ayu lagi dengan terbata, ia khawatir pembahasan ini akan memperburuk mood Zee padahal ketiganya baru saja bertemu.
"Bias is___
"Is a-pa?" lirih Ayu penasaran.
"Zee's husband, Ayy!" Mata Siska membulat menjelaskan yang terjadi.
"Hah! Serius? Serius, Zee?" Ayu menghadapkan kini wajahnya pada Zee. Zee tersenyum sembari mengangguk.
"Yeaaa ...." Secara spontan Ayu menggenggam dua jemari Zee dan mengayun-ayunkannya seperti bocah kecil yang habis dibelikan balon.
"Calon dokter norak banget!" celetuk Siska.
"Siapa lagi! Tuh ibu yang satu itu!" Siska mengangkat dagu ke arah Ayu.
"Wahh, keren! Congrats, dokter apa, Ay? Sudah selesai kuliah kamu!" seloroh Zee dengan mata berbinar. Ia senang mendengar kesuksesan temannya.
"Stop berhenti bahas gue! Gue mau denger cerita tentang lo dulu Zee Sayangku yang cantik!"
"Betul! Gue juga penasaran nih sama cerita Zee!" tambah Siska.
"Ha-rus ya?" lirih Zee.
"Harus!!!" pekik Ayu dan Siska bersamaan.
"Jadi gini_____
Zee pun menceritakan kisah yang di awali dengan pertemuannya kembali dengan Bias di Kafe Dona. Tentang ia yang mengantar Bias ke acara Nasya, Bias membawanya ke Sentul hingga banyak yang terjadi di sana, tentang ayahnya yang mengajukan tantangan agar Bias menikahinya, Bias yang diusir dari rumah karena tidak direstui menikah muda, Bias yang kecelakaan hingga tentang ia dan Bias yang merintis usaha bersama.
Tak terasa 40 menit berlalu saat Zee menyelesaikan ceritanya.
"Hahh, Zee ...! Gak nyangka banget ih perjuangan Bias ngedapetin lo! Eh tunggu deh, kok bokap lo gampang banget sih nyetujuin bahkan minta Bias nikahin lo, sorry, tapi usia kalian kan masih muda banget loh?" seloroh Siska.
"Lo gak Hamil duluan, kan?" celetuk Ayu.
"Ihh kalian tuh negatif aja! Nggak lah! Ayah ngizinin aku nikah muda kar-na___
"Ayo karena apa?" sela Siska tak sabar.
"Ya karena biar tenang aja, gak jadi dosa kalau berduaan! Tuh denger ya sodara-sodara ucapan aku!" Zee terkekeh setelah ucapannya selesai. Zee memang tidak mungkin menceritakan kisah masa lalu orang tuanya dan orang tua Bias, jadi ia memilih tak menjabarkan alasan sebenarnya.
__ADS_1
"Denger tuh, Sis!"
"Elo tuh yang denger, Ayu!!"
Setelah saling melempar ledekan Ayu bertanya lagi. "Eh, berarti sudah berapa lama lo udah nikah sama Bias?" Ayu mulai bertransformasi menjadi wartawan dadakan.
"Setahun sebulanan."
"Hah, sudah setahun lebih dan kita baru tau!" Mata Siska membulat.
"Ya gimana, aku juga gak tau cara ngubungin kalian," utar Zee.
"Iya sorry, nomer ponsel gue emang ganti. Gara-gara gue iseng ikut dating online, gue jadi dikejar-kejar cowok, parahnya tuh cowok ternyata pengangguran. Males, kan?" terang Siska.
"Lo juga sih percaya begituan! Kalo gue ganti karena hp lama gue disita nyokap. Katanya biar bisa fokus kuliah. Oh ya Zee, berarti lo gak jadi kuliah?" tanya Ayu lagi yang tau Zee sangat ingin melanjutkan kuliah dulu semasa SMA.
"Aku sebenarnya sempet dapat beasiswa di Jogya, tapi ada satu dan lain hal yang akhirnya bikin aku kembali ke Jakarta."
"Pasti karena lo sama Bias nggak kuat long distance ya?" tanya Siska menggoda Zee. Ia tiba-tiba menarik kerah Zee.
"Eh kamu mau apa?" Zee menahan kemejanya.
"Mau lihat tanda buatan Bias!"
"Eh, nakal ihh!" Zee memukul lengan Siska.
"Gimana juga Bias saat di ranjang?" Ayu menambahi ucapan Siska membuat netra Zee membulat.
"Kalau kalian ngomong beginian lagi aku pulang, ya! Dosa tau gak aktivitas di kamar diceritain!" seloroh Zee.
"Duh jadi iri deh gue," utar Ayu sudah membayangkan yang tidak-tidak. Zee tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Eh gantian dong! Sekarang kalian yang cerita tentang diri kalian!" ucap Zee.
Setelahnya Siska menceritakan tentang dirinya yang kuliah mengambil Seni Peran dan di Amerika ia sudah membintangi beberapa iklan di layar Televisi. Kini ia kembali karena mendapat kontrak dari perusahaan makanan yang memintanya menjadi model iklan produk mereka.
Setelahnya Ayu yang bercerita bahwa ia masih menyelesaikan S1 kedokteran di Malaysia, tapi rencananya ia ingin mencari kampus yang competible saja di Jakarta karena Ayahnya sudah sakit-sakitan.
"Jadi kalian akan menetap di Jakarta?" tanya Zee setelahnya dengan wajah merona.
"Gue sih fix berkarir di indo dulu!" ucap Siska.
"Gue insyaAllah, karena masih cari-cari kampus juga!" lirih Ayu.
"Aamiin aamiin semoga dipermudah ya, Ayy! Pastinya aku bakal senang kalau kalian menetap lagi di Jakarta, kita akan sering ketemu dan menghabiskan waktu bareng-bareng!" ucap Zee. Kedua sahabatnya tampak mengangguk.
"Eh jadi rencana ke depan lo gimana Zee, serius gak mau ngelanjutin kuliah?" tanya Ayu lagi.
"Sayang loh Zee kalau kepintaran lo gak dipake! Gue yang otaknya limit aja gak berhenti belajar," tambah Siska.
"Betul tuh Zee! Kuliah aja sih sambil bantu bisnisnya kak Bias! Wanita masa kini harus lebih manfaat untuk sesama dong Zee."
"Iya, bukannya kalo gak salah dulu lo mau jadi pengacara buat bantu kalangan bawah yang mengalami ketidakadilan?" ucap Siska.
"Hmm, ga-k tau ya nan-ti!" lirih Zee, dalam hatinya ia mulai berpikir sesuatu. Ya, Zee membenarkan ucapan kedua sahabatnya tentang pentingnya pendidikan dan bermanfaatnya diri.
"Oh God, sampai lupa kan dari tadi minuman kita belum diminum! Udah yuk buruan minum! Makan juga desertnya, habis itu kita muter-muter Mall!"
..._______________________________________...
🥀Happy reading😘😘
__ADS_1