ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
IBU DUKUNG ZEE


__ADS_3

"Mau cerita yang terjadi sama aku? Kamu bukannya bekerja, hem? Kenapa begitu cantik?" Johan mengusap-usap pipi itu dan menaikkan dagu Zee.


"A-ku___


"Hem?" Johan tak sabar menunggu kata yang seolah ragu diucap Zee.


"A-ku mau pu-lang, Bang!"


Johan bergeming kecewa tak mendapat jawaban dari tanyanya. "Oke kita akan pulang, tapi bilang dulu tadi kamu kenapa? Kamu bilang tadi takut, takut apa?"


"Ma-af aku belum bisa cerita, ba-wa aku pulang ya, Bang! A-ku ca-pek!"


"Oke tapi jawab satu pertanyaan aku aja, kamu habis ada acara tadi?" Johan melihat penampilan Zee dari atas kepala, otaknya berusaha menerka dan mencari clue untuk memuluskan asumsinya.


"I-ya, acara Ka-fe!" Johan mengangguk-angguk.


"Oke ayo kita pulang, pakai jaket aku supaya kamu gak dingin!" Zee menurut, ia memakai jaket Johan baru naik ke motor itu.


Sepanjang jalan lagi-lagi Zee diam, Johan sadar beberapa hari ini Zee berubah. Ada sesuatu yang terjadi dan Zee enggan berbagi padanya. Johan menarik napas panjang, berusaha tidak terbawa asumsi negatif dan berfikir mungkin saja Zee seperti ini karena sedang pra menstruasi. Jo menarik lengan Zee hingga merapat, ia senang merasakan kehadiran wanita yang ingin selalu ia jaga. Johan sadar hati Zee tidak utuh untuknya, tapi merasakan kehadiran Zee nyata di sisinya ia senang. Johan yakin masalah rasa pasti akan tumbuh seiring kebersamaan.


Bangunan sederhana sudah berada di hadapan keduanya. Berdalih letih, Zee melarang Johan yang ingin mampir. Johan memahami. Ya, kondisi Zee jelas sedang kurang baik. Ia hanya perlu memberi waktu Zee untuk sendiri dan esok ia yakin Zee akan bercerita.


Di jalan Johan teringat penampilan Zee yang tampak berbeda, acara Kafe yang dijadikan alasan Zee menelisik otak Johan pasalnya lokasi ia menjemput Zee jauh dari Kafe, bahkan berlawan arah. Entah mengapa Johan spontan mengambil arah kemudi ke Kafe tempat Zee bekerja, ia ingin memastikan yang terjadi.


Motor itu terparkir sempurna di hadapan bangunan bergaya vintage tempat sebelumnya Johan pernah menjemput Zee. Tangan itu membuka pintu Kafe dan raga itu sudah masuk ke tempat sang kekasih beberapa hari belakangan bekerja.


Kondisi Kafe tampak normal, tidak ada aktivitas pesta atau acara yang baru saja digelar. Semua karyawan bekerja melayani para tamu dengan serius. Johan memanggil satu pelayan, memesan sebuah minuman dingin sambil diam-diam menanyakan perihal Zee dan aktivitas Kafe beberapa saat lalu. Mata itu membulat Johan terhenyak dengan kenyataan yang ia dengar bahwa karyawan baru bernama Zivanya hari itu izin tidak masuk, juga tidak adanya acara yang diadakan Kafe malam itu.


____________________


"Kamu kenapa? Ini sudah waktunya bekerja lho," lembut tanya itu terlontar melihat Zee yang bukannya bersiap melainkan semakin menarik selimut menutup kepalanya saat Farah masuk ke dalam kamar.


"Kakak kenapa?" Zaa yang ikut masuk bersamaan dengan Farah meletakkan jari kecilnya ke kening Zee.


"Aku sepertinya kurang sehat, Bu. Aku akan telfon pak Kemal dan bilang nggak bisa datang," ucap Zee.


"Tapi Kakak nggak panas!" Gadis 8 tahun berceloteh lagi.


"Iya Kakak gak panas, tapi badan Kakak lemes, Zaa," tutur Zee.


"Apa mau ke Dokter?"

__ADS_1


"Nggak, Bu! Zee hanya perlu sendiri!" Farah memperhatikan Zee, menatap wajah yang agak berbeda sejak kepulangannya kemarin.


"Zaa, kamu main dengan kak Joy dulu, ya! Ibu mau cek kondisi Kak Zee!" Zaa mengangguk dan tak lama ia ke luar dari kamar Zee.


"Zee duduk ya, Nak! Ibu mau bicara!" Melihat Farah mendadak serius, Zee menurut. Ia duduk.


"Baju semalam sudah ibu cuci dan sudah ibu setrika. Bajunya bagus. Bermerk, cantik. Baju butik. Zee mau cerita sama ibu apa yang kemarin terjadi?" Zee terdiam.


"Zee kemarin izin kerja, tapi masih jam 9 sudah pulang dengan memakai gaun dan aksesoris. Zee dari mana semalam, hem?"


Bukan menjawab, Zee bangkit dari berbaringnya dan berdiri di tepi jendela. Seperti biasa Zee akan mengalihkan kesedihan dengan berpura melihat awan.


"Ibu ada di sini, kenapa kamu berdiri di situ? Ke mari!"


"Zee!"


Mendengar panggilan ibunya dengan nada meninggi, Zee berbalik.


"Kamu kenapa? Sini cerita!"


"I-bu ...." Zee seketika mendekat pada Farah dan memeluk ibunya itu.


"Ada apa? Jangan pernah memendam sesuatu! Ibu lihat kamu berbeda semenjak diterima kerja nggak seperti biasanya kamu senang bercanda dengan adik-adik dan Johan. Sekarang cerita kamu kenapa? Ada masalah dengan Johan? Johan menyakiti kamu?"


"Terus?"


"Zee, bicara!"


"Ka-k Bi-as, Buu ...."


"Bias? Jangan bilang kamu bertemu lagi sama dia!"


"I-ya, Bu. Zee bertemu kak Bi-as!"


"Bukannya 3 tahun ini dia pergi jauh. Bagaimana mungkin ia kembali? Zee, ingat! Kamu boleh suka Bias, tapi jangan bodoh! Bias itu nggak pernah suka kamu! Cinta bertepuk sebelah tangan itu cuma bikin sakit___


Setelah diam sejenak, Farah bicara lagi. "Sekarang cerita di mana kamu bertemu anak itu?"


"Di-Kafe, Bu."


"Kafe tempat kamu kerja?" Zee mengangguk.

__ADS_1


"Hah, bagaimana bisa bertemu lagi, sih? Dia tamu?"


"Lebih dari i-tu. Dia anak pemilik Kafe tempat Zee kerja, Bu."


"Astagfirullah, dia ngenalin kamu?"


"Ng-gak."


"Hah, syukurlah. Ya sudah, sebelum dia tau dan kamu makin sakit hati, berhenti bekerja dari sana saja!"


"Tunggu, tunggu! Terus yang kemarin kamu pakai gaun i-tu___ Jangan bilang kamu habis pergi sama Bias?"


"I-ya, Bu."


"Lho, bagaimana bisa?"


"Terpaksa, Bu. Kak Bias meminta Zee ikut ke sebuah acara, kalau Zee masih mau bekerja di Ka-fe."


"Dia ngancem?" Zee mengangguk.


"Apa-apaan sih anak itu! Semaunya saja. Terus kalau dia gak ngenalin kamu kenapa kamu kelihatan sedih begitu kemarin?"


"Pesta itu milik mantannya kak Bias dan mantannya itu ngenalin aku. Dia bicara ka-sar, Bu." Tangisan itu pecah, Farah menarik raga putrinya.


"Anak orang kaya, tapi mulutnya nggak sekolahnya ya begitu. Dia itu pacarnya Bias yang hamil itu?" Zee mengangguk.


"Wanita murahan berarti. Kamu jangan pernah lemah di hadapan wanita kayak begitu! Zee anak ibu itu cantik! Anak baik! Pintar! Lebih dari segalanya dari wanita murahan itu! Jangan mau direndahkan!" Zee terdiam.


"Pokoknya ibu setuju kamu nggak usah dateng lagi ke Kafe itu! Gak usah kerja di sana. Kerjaan banyak kok. Jaga perasaan Johan! Kamu udah terima dia, dia pacar kamu! Johan lelaki baik, sering bantu keluarga kita saat ayah nggak ada. Sayang kamu, ibu dan adik-adik. Dia tulus sama keluarga kita. Kamu benar hari ini udah nggak datengin Kafe. Sekarang jangan sedih! Jalani hidupmu seperti saat Bias itu nggak ada! Bahagia, semangat, ceria! Jauh dari orang-orang jahat seperti mantannya Bias itu. Sekarang ayo bangun! Kamu siramin tanaman sana!"


"Bu, ta-pi___


"Tapi apa?"


"Zee cinta kak Bi-as."


"Zee!"


...__________________________________________...


🥀Happy reading😘😘

__ADS_1


🥀Mampir ke karya sahabat literasi Bubu ini, yuk!😍



__ADS_2