ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
NODA APA?


__ADS_3

"Kenapa aku lihat Mas mondar-mandir terus?" seorang gadis beranjak dewasa menghampiri Bias yang tengah berada di balkon kamar. Aktivitas Bias yang sejak sampai rumah terlihat gelisah ternyata menjadi perhatian Dara.



"Eh kamu, Mas gpp. Sini duduk ceritain aktivitas kamu sepekan ini." Jujur ada rasa bersalah di hati Bias karena kesibukannya, ia jadi jarang memperhatikan adiknya itu. Kini karena ia di rumah, ia menggunakan kesempatan untuk berbincang dengan Dara walau sejujurnya sudut hatinya dipenuhi kekhawatiran mengenai keberadaan Nasya.


"Aku seperti biasa aja kok, Mas. Pulang sekolah aku langsung pulang. Hari Senin, Rabu, jum'at aku les bahasa Inggris diantar mang Satyo." Bias mengangguk-angguk.


"Mas Bias tumben sih di rumah? Mas nggak latihan basket?" tanya Dara dengan nada polosnya.


"Nggak, Mas tadi ada rapat OSIS jadi nggak latihan. Oh ya, Ra___


"Iya?"


"Maaf ya, Mas sering sibuk dan nggak merhatiin kamu." Dara mengangguk.


"Kamu kalau ada sesuatu di sekolah, harus cerita ke Mas, ya! Jangan suka memendam masalah sendiri!" Dara kembali mengangguk.


"Hmm ... di sekolah suka ada yang nakal nggak sama Dara?"


"Ng-gak ada."


"Alhamdulillah, Mas tenang. Yang penting kita harus baik dan tulus dulu sama orang lain, maka orang lain akan berbuat yang sama pada kita." Dara mengangguk.


"Mas juga seneng lihat Mama sekarang wajahnya happy terus, karena yang terpenting buat Mas adalah kamu sama mama bahagia."


"Mungkin karena Papa sekarang jarang ke luar kota, Mas."


"Hmm ... iya juga sih. Alhamdulillah, Mas seneng kalau mama dan papa baik-baik." Dara tersenyum sambil lagi-lagi mengangguk.


"Mas, aku lanjutin ngerjain tugas dulu, ya!" Kini Bias yang mengangguk dan tak menunggu lama raga adiknya sudah tak terlihat. Bias memperhatikan wajah gadis dalam wallpaper ponsel setelahnya.


Yang ... kamu tuh di mana sih? Maafin aku selau buat kamu kecewa ....


sudah jam 7 malem, Ujang ... kenapa dia belum juga ngasih kabar kepulangan Nasya? Apa aku ke rumah Nasya lagi aja?


Baru menutup pintu kamar seorang ART mendekat membawa sebuah kaos berwarna putih.


"Mas Bias ...."


"Iya, mbok?"


"Mas, Mbok minta maaf sebelumnya. Mbok bener-kan nggak tahu bagaimana kaos Mas Bias ada noda hitam seperti ini, Mbok sudah berusaha hilangkan tapi susah banget."


"Noda? Coba aku lihat, Mbok!"


Bias memperhatikan kaos putih yang berada di tangannya. Ia masih sangat ingat memakainya beberapa hari lalu. Tapi masalah noda, ia juga kaget mengapa ada noda melingkar di pinggangnya. Memang agak samar, tapi kehitam-hitaman di dasar berwarna putih membuat noda itu terlihat.


Bias terus mengingat-ingat apa saja yang ia lakukan, hingga muncul noda itu. Bias mengingat bahwa hari itu ia latihan dan sempat mengantar Zee yang terkena noda datang bulan, ia mampir ke rumah Zee dan pulangnya mampir ke rumah Nasya. Bias masih terdiam dan berfikr di mana ia sebetulnya memperoleh noda itu, mengapa nodanya melingkar seolah memeluk dirinya.

__ADS_1


"Mas Bias, Mbok jadi curiga ... apa mung-kin i-tu ulah makhluk kasat mata?" Bias menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum.


"Ya, karena mas Bias ganteng dia ngikutin mas Bias dan diam-diam meluk Mas. Jadi kaos Mas ada noda begitu, kayak dipeluk dari belakang!"


"Ah mbok bisa aja, yaudah lah biarin, buang aja kaosnya. Aku nggak percaya sama yang begituan."


"Hee, kali aja itu juga, Mas ...."


"Mbok ... Mbok .... yaudah sana lanjutin beberes!"


Noda yang aneh, tapi kena apa, ya? Ahh sudah lah!


__________________


"Zee, mampir mushola dulu, ya!" teriak Johan sambil menolehkan sedikit wajahnya ke samping.


"Hahh?" Zee yang mendengar samar suara Johan tak paham maksud ucapan kakak pelatihnya itu.


"Cari mushola! Kita sholat dulu!" ucap Johan lagi.


"Eh iya, Kak."


"Kak, aku tunggu di sini, ya!" ucap Zee saat Johan mulai hendak beranjak ke dalam.


"Lo nggak sholat?"


"Oh, oke oke!"


Zee masih duduk di depan Mushola saat Johan keluar dari bangunan berkubah itu. Johan memperhatikan jaketnya yang masih terikat di pinggang Zee membuat ia jadi ingin tertawa. Ya, Zee itu nyatanya sangat pemalu, banyak gadis yang ia ingin dibonceng Johan di kampusnya, tapi seorang Zee menolak ajakannya. Ia takut pahanya terlihat di depan Johan.


Zee ... Zee, lo lucu banget sih. Gue lihat paha putih tuh biasa. Elo yang item segitu takutnya.


Zee seketika berdiri melihat Johan mendekat. Keduanya kini berjalan menuju motor Johan. Baru saja Zee ingin naik, Johan melihat penjual bakso di pelataran masjid.


"Zee, gue laper. Temenin gue makan dulu, ya!"


"Makan?"


"Iya tuh ada tukang bakso. Sebentar aja nanti kita langsung pulang."


"Hmm____


Belum juga Zee mengiyakan, Johan sudah berjalan menjauh menuju penjual bakso dan langsung memesan 2 porsi bakso. Zee tak ada pilihan akhirnya mengikuti. Kini keduanya duduk di bangku plastik. Johan menatap wajah itu, ia tersenyum sekilas, Johan jadi teringat kemampuan Zee tadi bertanding dan lagi-lagi tak menyangka.


"Zee ...."


"Iya Bang?"


"Jujur deh, Lo sebetulnya emang udah sering main basket, kan?" Zee menoleh.

__ADS_1


"Kenapa diem?"


"Iya waktu SMP pernah."


"Suka ikut lomba juga?" tanya Johan lagi memastikan dugaannya.


"Hmm___


"Iya?" Zee akhirnya mengangguk.


"Pas banget sama dugaan gue. Gue tuh lihat lo tanding tadi gue yakin banget lo udah biasa maen. Trus waktu lo lomba waktu SMP menang nggak?"


"Harapan, Bang."


"Wah keren, udah bagus itu."


"Yuk sambil makan!" ucap Johan lagi melihat penjual Bakso menghampiri dan menyodorkan dua mangkok bakso ke hadapan keduanya.


"Mata Bias emang keren banget, padahal waktu itu cuma lihat lo lempar tangkap sama Dinda, tapi doi udah yakin banget lo bakalan bisa gantiin Mayang masuk tim basket." Zee yang mendengar nama Bias disebut seketika menoleh, Zee menyimak setiap kata yang diucapkan Johan. Zee merasa senang mendengar Johan menceritakan perihal lelaki pujaannya itu.


Jadi kak Bias yang ngusulin aku ke bang Jo, padahal waktu itu kak Bias bilang Bang Jo yang ngusulin aku. Hu kak Bias ....


Zee tak bisa menahan senyum, ia bahagia nyatanya Bias yang mengajukan dirinya. Zee masih bergeming hingga tiba-tiba terfikirkan olehnya untuk menanyakan perihal Bias pada Johan.


"Bang Jo!"


"Eh iya?" jawab Jo setelah menelan kunyahan bakso di mulutnya.


"Kalau kak Bias emang pinter main basket dari kelas sepuluh juga, ya?"


"Bias?" Johan, memastikan yang didengarnya. Zee mengangguk. Mendengar tanya Zee, semakin yakin ia kalau Zee memang suka pada salah satu anggota basket andalannya itu. Johan tersenyum baru menjawab tanya Zee.


"Doi malah dari TK udah main basket!"


"Oh ya?"


"Bokapnya dulu juga pemain basket yang exis di tiap lomba basket, dari kecil Bias udah dicekokin basket sama bokapnya, diikutin les, sampe dia ikut lomba sana sini dari kecil. Jadi buat dia basketnya kayak dirinya. Ya, kayak gue gini lah."


Mata Zee berbinar, semakin bangga ia mendengar penuturan Johan tentang kesukaan Bias pada basket. Zee yang juga suka basket merasa tambah bersemangat untuk membuktikan kemampuan dirinya dan membuat Bias bangga.


Johan menangkap pancaran wajah Zee, ia tersenyum hingga akhirnya ia melontar kata.


"Zee, Lo suka Bias, ya?"


...________________________________________...


🥀Happy reading 😘😘


🥀Makasih yang masih mengikuti kisah ini❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2