ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
TEKAD ZEE SUDAH BULAT


__ADS_3

"Zee ...!" panggilan dari suara yang tak asing itu terdengar, Zee yang baru berjalan beberapa langkah berhenti. Perasaan di hati itu masih sama, jantung itu sudah berdetak cepat di dalam sana. Zee masih mematung, hingga wangi parfum itu mulai tercium inderanya, Bias sudah berdiri sangat dekat darinya.


Kata-kata Bias dan Nasya tempo hari langsung terngiang nyata di telinga Zee. Sakit dan menusuk. Bukannya berbalik menyambut orang yang dipujanya menghampiri, Zee justru berjalan lebih cepat. Ia berjalan tanpa memperdulikan Bias yang terus mengejar. Setelah melewati gerbang sekolah Zee berdecih, lagi- lagi angkot yang seharusnya membawanya ke rumah tak juga terlihat. Pun ia akhirnya meninggalkan bangunan dominasi biru itu dengan berjalan kaki.


Melihat Zee melewati bangunan sekolah, Bias segera berlari. Ia mengedar pandang dan Zee sudah berjalan cukup jauh. Bias mengambil motornya dan mengejar Zee.


"Zee!" teriak Bias entah sudah keberapa kali, namun Zee memilih seolah tak mendengar. Bias mempercepat lajunya dan memberhentikan motornya di tepi. Ia menghampiri Zee, namun langkah Zee semakin cepat saja. Setelah beberapa saat, akhirnya Bias bisa meraih lengan Zee.


"Lepas, Kak! Tolong jauhi aku!"


"Zee, jangan begini! Gue mau bicara!" Sepasang lengan itu menahan bahu Zee dan membaliknya.


"Aku nggak mau bicara sama Kakak!"


"Zee, please jangan keras! Lo gadis baik, ini bukan sifat lo! Izinin gue ngomong!"


"Aku nggak mau ada orang yang ngelihat kita dan bicara macem-macem lagi tentang aku!"


"Nggak ada yang lihat!"


"Tolong lepas, Kak!" Zee berusaha berontak, tapi eratan tangan Bias justru semakin kuat.


"Jangan buat gue jadi nyakitin elo!" Zee bergeming.


"Zee ... please! Kasih kesempatan gue ngobrol sama lo!"


"Aku nggak mau kak Nasya berfikir macem-macem!"


"Nggak, Nasya nggak akan mikir begitu. Dia juga hari ini nggak masuk." Mendengar Bias membicarakan Nasya, Zee membuang wajah. Ia jelas tidak nyaman dengan situasi yang terjadi.


"Kita ngobrol sebentar ya, Zee!"


"Motor Kakak di mana? Kalau diambil orang, gimana?" Zee mengedar pandang dan melihat Ducati itu tertinggal jauh. Bias tersenyum, Zee justru mengkhawatirkan motornya.


"Nanti gue ambil motor gue, tenang aja! Tapi kita bicara dulu, ya!"


"Nanti motor Kakak hilang!"


"Yauda gue ambil motor gue dulu, tapi lo jangan pergi dan tetap di sini!"


Zee menatap wajah itu sekilas dan membuangnya. Melihat wajah pria yang begitu ia sukai, desiran sesak itu menyelimuti. Ia marah pada sosok itu, tapi ia nyatanya khawatir. Zee akhirnya mengangguk.


"Terima kasih. Itu! Di situ ada Kafe, lo tunggu di Kafe itu, ya! Lo pesen yang lo mau, nanti gue ke sana!" Zee masih bergeming. Menimbang benar atau salah perilakunya itu.


"Zee ... please!" Kata memohon itu terlontar lagi, Zee akhirnya mengangguk.


"Good, thanks." Bias mengacak rambut itu dan berlari menghampiri motornya.

__ADS_1


Zee menatap bahu yang menjauh itu, meletakkan telapak tangannya ke atas kepala, meraba rambut bekas sentuhan Bias. Ia merasa senang dengan perilaku itu, tapi ia merasa tak boleh lemah. Bias tidak menganggap lebih perilaku itu. Zee tidak membiarkan kesedihan menguasainya. Dengan berjalan landai, Zee menghampiri Kafe yang ditunjuk Bias. Zee duduk di sebuah kursi dengan payung besar di atas kepala.


Zee sudah duduk di Kafe, tapi tak satu pun waiters yang menghampiri dan menyodorkan menu. Zee memilih santai dan cuek. Ia duduk dan melihat Bias yang sudah datang.


"Belum pesen apa-apa?" tanya Bias seketika.


"Yang kerja di sini tau aku orang miskin kali, jadi nggak dilayani!" Bias menggeleng-geleng.


"Kak!" teriak Bias. Seorang wanita dengan kemeja hitam dan celemek yang menyerupai rok tergopoh mendekat.


"Mau pesan a-pa, Dek?"


"Mana manager Kakak!"


"Ada apa ya mencari Manager saya?"


"Gue mau komplain! Temen gue dari tadi duduk di sini tapi nggak dilayani!"


"Tunggu di sini sebentar ya, Zee! " Zee masih bergeming saat Bias mulai mengarahkan kaki ke dalam Kafe.


"Dek ... ja-ngan! Tolong jangan la-por ke atasan saya, Please ...! Oke, Semua salah saya, sorry!"


Bias menatap wajah itu beberapa saat baru berucap. "Lain kali Kakak nggak boleh membedakan orang, siapapun yang datang ke Kafe harus dilayani, pembeli adalah raja!"


"Iya, iya Dek." Pelayan itu mengikuti Bias setelahnya ke meja di mana Zee duduk.


"Mau minum apa, Zee?" Melihat Zee masih bergeming, Bias melontar tanya.


"Apa saja, Kak!" Bias akhirnya memesankan minuman yang biasa dipesan Nasya. Avocado smoothie 2 porsi.


"Kayaknya lo sekarang sibuk banget, Zee!"


"Biasa aja." Bias mengangguk-angguk.


"Kita tim basket kangen ngelihat lo latihan lagi. Hmm ... hampir sebulan ya lo nggak latihan," ujar Bias dengan sangat hati-hati.


"Aku udah bilang sama Bang Jo keluar dari ekskul basket, Kak!"


"Iya, Bang Jo sih udah bilang, tapi gue di sini mewakili Tim yang lain maunya lo mikirin lagi keputusan itu!"


"Keputusan aku udah bulat, Kak!"


"Zee, please! Tim putri bertambah solid setelah kehadiran lo. Jangan keluar, ya!"


Bias menatap pancaran wajah itu. Lelaki di hadapannya seolah tak memahami hatinya yang sedang terluka, yang ada di otaknya hanya basket dan basket saja. Ada kegetiran di rasa Zee. Ia menunduk.


"Lo mau mikirin keputusan lo lagi kan, Zee?" Bias berusaha menatap wajah Zee yang menunduk.

__ADS_1


Zee menggeleng. "Nggak, Kak!"


"Zee!"


"Aku nggak mau bertanding lagi. Sampaikan maaf aku untuk semua, aku nggak bisa!" Kata itu lirih terucap.


"Kalo lo gak mau latihan karena ada gue, gue akan menjauh!"


Zee mengangkat wajah dan tersenyum getir.


Kak Bias nyatanya sadar semua sebab dia. Tapi, sayangnya semua yang kakak lakukan cuma demi basket. Bener-bener aku merasakan rasa ini sendirian. Kak Bias sama sekali nggak ada rasa itu. Kasihan banget sih lo, Zee. Sa-kit!


"Zee," panggil Bias setelah menyesap avocado di hadapannya.


"Tekad aku udah bulat, Kak!"


"Please, jangan campur adukkan masalah pribadi dan kepentingan ekskul basket. Tim putri butuh lo!"


"Sayangnya aku nggak bisa nggak mencampur adukkan itu!"


"Banyak cowok di sekolah ini! Lo bisa buka hati buat yang lain lagi. Dengan cara pendekatan yang baik, lo akan nemuin cowok yang tulus dan nerima lo apa adanya!"


Zee bergeming.


"Dengan cara pendekatan yang baik? Apa kak Bias masih nyangka aku sengaja buat surat cinta itu. Jahat! Dan hati nggak semudah itu berpaling, kak! Nerima aku apa adanya? Wajah aku yang hitam kah? Atau aku yang jelek? Aku dengan wajah palsuku!


Zee serasa ingin tertawa dalam kegetirannya.


"Jadi gimana, Zee?"


"Kakak buang-buang waktu! Keputusan aku nggak akan berubah. Permisi, aku mau pulang!" Zee langsung pergi tanpa meminum sedikit pun avocado di meja.


Bias ingin mengejar, sebuah panggilan terus berbunyi di ponselnya.


"Assalamu'alaikum, ada apa, Ma?"


"Wa'alaikumsalam. Di mana kamu, Bi? Cepat pulang ada mamanya Nasya di rumah!"


..._______________________________________...


🥀Happy reading😘


🥀Terima kasih support kalian semua❤️❤️


🥀Jangan lupa masih ada 10 hari masa pengumuman pemenang giveaway yaa ... beri dukungan dan komen terbaik kalian. Untuk giveawaynya apa akan Bubu share di Bab mendatang😍😍


🥀Mampir juga ke karya sahabat literasi Bubu, yuk!

__ADS_1



__ADS_2