ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
PENUH TANYA BIAS


__ADS_3

"Eh, Bang Jo?"


Pintu rumah baru saja dibuka dan Zee kaget ada Johan sedang membantu ibunya membalik pouch yang sudah selesai dijahit dan dibersihkan sisa benangnya.


"Kamu tumben pulang telat, Zee?" tanya Farah di tengah aktifitas menjahitnya.


"I-ya, Bu. Tadi a-ku ada urusan du-lu di sekolah."


"Bang Jo udah lama di sini? Gak kuliah?" Setelah menjawab tanya Farah, Zee menghadap Johan.


"Pulang kuliah tiba-tiba aja gue inget Zaa sama Joy, yauda gue ke mari!"


"Oh."


"Kak Jo, lihat tulisan Zaa bagus nggak?" Zaa yang sedang mengerjakan tugas sekolah mengarahkan bukunya kepada Johan.


"Wah ini sih bagus banget!"


"Bener Kak? Kak Jo nggak bohong?"


"Bener dong, tuh lihat tulisan kamu aja rapi begini. Dulu waktu kak Jo Taman Kanak-kanak, Kak Jo malah belum bisa nulis."


"Kenapa nggak bisa nulis? Kak Jo pasti malas belajar!"


"Eh, nakal ya! Awas kamu!" Johan menarik tubuh kecil Zaa kepangkuannya dan menggelitiki gadis kecil itu. Zaa terus tertawa terbahak-bahak. Zee yang melihat segalanya tersenyum, ia senang. Di rumahnya memang sudah lama tidak ada sosok laki-laki dewasa dan kini Zaa seolah mendapat kasih sayang itu. Farah yang sedang menjahit melirik aktivitas Johan dan Zaa terus menggelengkan kepala.


"Zee, ngapain kamu bengong di situ? Sana bersihkan diri, jijik ibu lihat wajah hitam kamu, keringetan lagi tuh!" decak Farah. Johan yang mendengar tertawa menatap wajah hitam Zee.


"Bang Jo kenapa lihat aku begitu? Mau ejek aku juga?"


"Ihh, pede!" Johan menghadap Farah. "Bunda, anak Bunda pede banget tuh!"


"Makanya cepet mandi, perempuan kok milih jelek!"


"Mulai deh ibu, iya ... iyaa ...."


_________________


"Tadi Bias jadi nemuin kamu?"


"Kamu? Tumben Bang Jo panggil aku kamu biasanya elo!" Johan tersenyum.


"Lagi pengen aja, takut Zaa sama Joy ikutan ngomong pakai bahasa elo, gue!"


"Oh."


Ya, beberapa saat setelah membersihkan diri, Zee memang duduk di teras dan Johan mengikuti.

__ADS_1


"Jadi tadi ketemu?" tanya Johan memastikan apa yang ingin diketahui.


"Hah?"


"Kamu tuh kalau diajak ngomong konsen kek, oh hah heh aja!" Zee tersenyum getir.


"Maaf, Bang. Iya, tadi kak Bias ngajak ngobrol. Eh, bang Jo kok tau, sih?"


"Semalem Bias telfon, doi berat kalau harus cari orang baru lagi untuk tim putri. Terus gimana?"


"Apanya?"


"Ya, gimana? Kamu bersedia balik latihan lagi gak?"


"Nggak!"


"Yakin? Kalau latihan bisa ketemu Bias loh!"


"Bang Jo seperti yang lain seneng ngeledek aku."


"Habis dari awal muka kamu tuh jelas banget suka Biasnya, jadi aku seneng ngeledek!"


"Aku bodoh ya, Bang! Pakai kirim surat ke kak Bias pula lagi!"


"Yakin mau bahas ini? Nanti mewek la_gi!" Zee tersenyum getir. Johan memang tau segalanya dan ia berada di tengah antara Zee dan Bias. Menurut Johan, keduanya hanya korban kebohongan.


"Masih belum tau orangnya?" Zee menggeleng.


"Teman sekelas lo kali?"


"Nggak tau!"


"Eh, tuh dua temen lo kan yang lagi jalan ke sini?"


"Eh iya." Zee melambaikan tangan ke arah dua sahabatnya yang terlihat datang membawa bermacam sembako itu.


"Temen lo baik-baik, ya!"


"Nggak tau, udah aku bilang kalau main dateng aja nggak usah bawa apa-apa, ehh__ bawa lagi, bawa lagi."


"Kadang seseorang bisa begitu baik karena memang tulus dan sayang, tapi bisa juga ia bersikap baik untuk menutupi kesalahannya!"


"Apaan sih Bang Jo! Jangan bilang Bang Jo mikir ka-lo____


"Udah jangan dipikirin, aku cuma asal bicara!"


__________________

__ADS_1


Seorang lelaki turun dari Ducati dengan tergesa. Kakinya langsung masuk ke bangunan rumah dengan perasaan campur aduk. Ialah Bias yang sangat khawatir pada Nasya sang kekasih. Nasya memang diketahui Bias hari ini sakit dan kedatangan Utari ibunda Nasya sungguh membuat otak Bias dipenuhi prasangka buruk.


Baru saja masuk ke ruang tamu, seorang wanita paruh baya dengan rambut yang di cepol ke belakang langsung mendekat dan mengayunkan jarinya ke pipi Bias.


PLAK


"Tan-te?"


"Mbak, sesalah apapun anakku jangan pukul dia!" Dona maju dengan wajah geram. Dona yang tipikal mudah panik, bergetar tangannya menyentuh pipi Bias.


"Sakit?"


"Bias gpp Ma! Tapi ada apa sebetulnya?"


"Kita duduk dulu, Mbak!"


"Aku kesini bukan untuk duduk!" Utari mengarahkan pandang pada Bias setelahnya. "Tante kecewa sama kamu Bias! Tante fikir kamu anak berpendidikan yang beradab, ta-pi nyatanya____


Air mata sudah mengalir di pipi Utari. Ia memejamkan mata sesaat dan melihat Bias lagi setelahnya.


"Kalau sudah begini, apa yang bisa aku banggakan! Anakku itu cuma satu dan sekarang dia pun tidak punya masa depan! Tante kecewa, Bias!"


"Ma, Tante! Bias nggak paham!" Netra itu menatap Dona dan Utari bergantian.


"Mbak Dona yang akan memberitahu atau aku?" Utari dengan tatapan tajamnya menatap Dona. Dona mengangguk.


"Bii___ kenapa, Sayang? Kenapa kamu buat kecewa Mama, he-m?" lirih Dona terlihat rapuh. Ia menjatuhkan tubuh setelahnya ke sofa.


"Maa, ada apa dengan Bias? Bias buat Mama kecewa apa?" Bias mengusap bahu Dona dengan sayang.


"Jangan bertele-tele, Mbak! Ingat kondisi putriku!"


"Ada apa dengan Nasya, Tante?" Bias bertambah bingung saja.


Hah, setelah kamu menghancurkan Nasya, bisa-bisanya kamu seolah bingung, Bias!


..._________________________________________...


🥀Happy reading😘


🥀Bubu sediakan 5 pcs Sling bag ini untuk kalian 3 fans teratas dan 2 pemilik komentar dengan like terbanyak❤️❤️



🥀 Lepas dari giveaway ini, Bubu sayang kalian semua dan tidak bermaksud membedakan. Jadikan ini hanya bonus kesenangan kalian membaca kisah ini.


🥀 Giveaway diumumkan tanggal 16 yaaa😍

__ADS_1


🥀Terima kasih kehadiran dan support kalian selalu💋💋


__ADS_2