ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
MALAM TERAKHIR


__ADS_3

"Yang, masih belum kelar juga?" Bias memandang Zee dengan sorot sayu. Wanita yang sudah menempati tempat di hatinya itu tampak terdiam dengan tangan terus memasukkan pakaian-pakaian ke dalam koper.


Zee memang akan pergi, pengajuan beasiswa yang selama ini dinantinya akhirnya mendapat balasan. Bagaimana Zee tidak senang, tentu Zee senang. Akan tetapi itu sebelum ia membaca bagian bawah balasan email yang diterimanya.


Untuk nama yang tersebut di atas telah diterima dalam Fakultas Hukum Universitas Gajah Mungkur, Jogyakarta. Mohon dilengkapi seluruh berkas dan persiapkan keperluan yang akan dibawa. Minggu depan nama tersebut diharapkan datang ke fakultas menemui Bapak______


Zee di terima di Fakultas Hukum salah satu kampus terbesar di Jogyakarta, batin itu langsung bergemuruh. Beberapa bulan lalu memang Zee mengirim pengajuan beasiswa pada beberapa kampus yang terkenal memiliki fakultas hukum terbaiknya. Beberapa merupakan kampus yang berada di Jakarta sedang satu adalah Universitas Gajah Mungkur yang bertempat di Jogyakarta. Universitas Gajah Mungkur adalah pilihan terakhir di otaknya, namun entah mengapa justru kampus itu yang menerimanya.


Seminggu itu Zee merasa dilema. Suaminya masih dalam proses penyembuhan, pernikahannya tergolong baru dijalani, bisnis mereka juga sedang berkembang. Jika ia harus ke Jogya ia akan membuat suaminya melakukan segalanya sendiri. Tapi bagaimana lagi, semua adalah mimpinya. Zee bingung, ia tak bisa tidur. Beberapa kali Bias menawarkan kuliah melalui jalur umum, tapi otak Zee menolak. Suaminya sudah melakukan banyak hal untuk keluarganya. Ia tak tega jika harus menambah bebannya, belum lagi karyawan mereka saat ini tak sedikit. Banyak jiwa yang harus suaminya itu pikirkan juga. Akhirnya dengan berat hati Zee meminta suaminya mengikhlaskannya pergi.


"Yang ...." Bias mengulangi panggilannya. Zee tampak mondar-mandir seakan sibuk membereskan ini dan itu, namun nyatanya ia tengah menghindari bertatap dari Bias.


"Yang!"


"Eh." Suara Bias yang meninggi membuat Zee seketika mendekat. Zee masih menunduk menyembunyikan wajahnya.


"Maaf, habis kamu sibuk terus! Kamu gak mau ngeliat aku, Yang? Ini malam terakhir kita lho, Yang!" Zee masih tak merespon, ia masih tak membalik badan. Membiarkan Bias hanya menatap punggungnya saja.


Perlahan Bias mendekat, sangat dekat. Ia menciumi tengkuk Zee. Zee masih bergeming, Bias yang bingung memutar bahu itu hingga Zee kini menghadapnya. Bias mengangkat dagu Zee, ingin melihat wajah yang sejak tadi begitu sibuk hingga ia sendiri sulit menatapnya. Wajah yang seolah terus menghindarinya. Mata Bias kini membulat, wajah yang ingin ia tatap telah terangkat. Mata itu terlihat begitu sendu, menyimpan bulir yang tertahan. Wajah yang ia pikir akan bahagia sebab inginnya ia kabulkan nyatanya terlihat begitu rapuh.


"Sa-yang ... kamu kenapa?" Mendengar tanya Bias bibir itu mengerucut seketika, bulir itu satu persatu tumpah. Zee dengan cepat memeluk tubuh Bias. Ia menangis tersedu.


Bias tak sanggup berkata, ia hanya terus mengusap bahu Zee, mengecup kening dan kepala wanita tercinta yang begitu ia kasihi dan esok akan berjauhan darinya. Ada kesedihan Bias rasa tapi ia tak ingin memberatkan langkah wanitanya. Bias memilih berpura tegar.


"Yang, mimpi kamu sudah di depan mata, kenapa kamu jadi sedih begini?" lirih Bias berucap. Zee seketika memberi jarak tubuhnya.


"Kamu gak sedih mau jauh dari aku, Yang?" tanya Zee dengan netra sayu. Bias terdiam.

__ADS_1


"Menurut kamu?"


"Kamu harusnya sedih!"


"Kalau aku sedih dan menahan kamu pergi, aku berarti egois!" Bias menunduk.


"Maafin aku ya, Yang ...!" Zee mencium sepasang pipi itu bergantian dan memeluk kembali tubuh Bias.


"Aku sebetulnya berat ninggalin kamu, kamu akan melakukan semuanya sendiri. Tapi aku juga gak bisa melepas beasiswa itu, Yang" Zee menatap lagi wajah bias.


"Aku ngerti. Kamu belajar yang rajin, ya! Kita akan sering komunikasi dan cerita banyak hal. Do'ain terapi aku lancar dan cepet bisa jalan tanpa bantuan alat. Kalau itu terjadi, aku akan langsung samperin kamu." Zee mengangguk penuh semangat.


"Kamu jauh dari aku jangan nakal lho, Yang! Jangan genit sama cewek-cewek!" ucap Zee lagi dengan nada manja.


"Aku mau genit gimana sih, Yang! Kaki aku aja belum bisa berdiri tegap, Hem?" Bias menjawil hidung itu membuat Zee tersenyum getir.


"Yang ada kamu yang harus jaga diri dengan baik! Fokus aja belajar dan jangan banyak keluyuran! Pakai baju jangan yang pendek-pendek! Inget kamu tuh udah punya suami!" bisik Bias. Zee terus mengangguk.


"Yang, ini udah belum? Mata aku udah perih, Yang!" Bias seketika tertawa, ia mengusap-usap kepala Zee dan menarik kepala itu ke dadanya. "Duhh, istri aku ternyata sangat penurut, ya! Aku tadi cuma bercanda, Sayang!" Bias menciumi puncak kepala itu.


"Nakal, nakal! Kamu nakal, Yang!" Zee memukul-mukul dada Bias. Bias terus tersenyum. "Sayang, dengar!"


"Gak mau, nanti kamu ngerjain aku lagi!"


"Nggak, kali ini aku serius!"


"A-pa?" lirih Zee. Bias merapihkan anak-anak rambut Zee kebelakang dan menarik rambut yang menutupi sebagian wajah Zee ke belakang telinga.

__ADS_1


"Aku tuh sayang kamu! Cinta kamu! Tanpa menatap lama seperti tadi, wajah kamu udah tersimpan di sini!" lirih Bias menyentuh dadanya. Zee mengangguk. Kedua netra itu saling menatap dalam. Bias merangkum wajah Zee, mencium lembut kening, sepasang mata, hidung, pipi, bibir, dagu, leher dan bahu Zee.


"Yang ...." Bias menghentikan aktivitasnya, ia mendongak. Zee menahan wajah itu.


"A-ku juga sayang kamu, cinta ka-mu, dari du-lu!" ucap Zee. Bias mendekatkan wajahnya dan berbisik. "Aku tau!"


Tanpa aba-aba Bias menyatukan bibir keduanya, memberi kecupan lembut dan semakin dalam. Sebelah jemari Bias sudah menahan tengkuk Zee dengan sebelahnya yang lain terus mengusap-usap punggung Zee, berpindah kebawah dan menyelusup masuk ke dalam dress, meraba tubuh, hingga sampai pada sepasang pengait yang begitu menantang untuk di buka.


"Ah, Ya-ngg ...."


"Terakhir, Yang." Zee mengangguk.


"Keeper masih harus jadi pemimpin ya, Yang!" Zee kembali mengangguk.


..._____________________________________...


🥀Happy reading😘😘


🥀Promo sahabat Bubu hari ini, yuk mampir semuaa😍😍


JUDUL : PESONA TUAN DE LUCA


AUTHOR : KOMALASARI


CUPLIKAN SINOPSIS :


Matteo de Luca adalah putra mahkota dari Klan de Luca, yang merupakan organisasi mafia terselubung dan sangat disegani. Sang ayah begitu menyayangi dan melindunginya. Ia seakan memiliki rasa kurang percaya terhadap Matteo, sehingga membuatnya merasa terkekang. Atas dasar itulah, Matteo mencoba melepaskan diri untuk membuktikan bahwasannya ia mampu.

__ADS_1


Matteo melakukan transaksi ilegal dengan seorang sahabat lama yang ternyata mengkhianatinya. Dalam kondisi terluka, Matteo melarikan diri ke kota Venice. Di sana ia bertemu dengan sosok Mia yang kemudian merawat luka dan memberinya tumpangan untuk menginap di dalam kedai milik ayahnya.


Benih-benih cinta mulai tumbuh di antara mereka. Namun, Matteo memilih untuk pergi dan menolak Mia dengan kasar, sehingga membuat gadis itu pergi dan mencoba membuka hatinya untuk pria lain. Akan tetapi, ketika Mia memutuskan untuk menikah, Matteo menjadi kalut dan datang kembali serta meminta Mia membatalkan pernikahannya. Terjadilah penyerangan pada acara pesta pernikahan Mia, yang menewaskan ayah serta suami yang baru ia nikahi.


__ADS_2