ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
PEMBUKA REZEKI


__ADS_3

"Pokoknya kamu harus mendatangi Pak Hendra, Do! Gak bisa kelalaian seperti ini diselesaikan hanya dengan minta maaf melalui sambungan telepon! Tipe menyepelekan berarti dia! Datangi dan tanyakan keseriusannya men-supply daging pada Kafe kita. Memang secara usia ia lebih tua, tapi tidak ada jenjang usia dalam bisnis. Jika ia tidak bisa memperbaiki kesalahannya atau di kemudian hari terjadi hal semacam ini, katakan kita akan menarik kerjasama dengan mereka. Mereka pikir kita tidak memiliki koneksi supplier daging lain. Ini adalah usaha berbahan utama daging, ingat! Bahan utama! Pastikan kita mendapat supplier yang paham tanggung jawab dan tahu kita bukan pengusaha lemah! Kamu paham, Do!"


Ridho ia menatap lekat lelaki yang lebih pantas menjadi kakak untuknya ketimbang atasan. Lelaki yang biasanya sangat jarang marah kini terlihat menaikkan nada suara dengan ekspresi gusar. Bagaimana tidak Perusahaan Hendra yang telah menyetujui perjanjian kerjasama akan selalu mengirim daging tepat waktu, hari ini tiba-tiba menelepon meminta maaf akan ada keterlambatan pengiriman. Bias geram, karena satu orang yang tidak bekerja maksimal ia mendapat kerugian, toko yang buka terlambat, karyawan di jam pertama hanya duduk-duduk saja, juga customer yang kecewa. Wajar bukan jika Bias marah?


"Pa-ham, Pak," jawab Ridho menatap tajam netra Bias, ia setelahnya tampak undur diri dari zoom meeting pagi yang dilakukan pula bersama Redi saudara kembarnya yang juga menjadi manajer di cabang berbeda, juga Andri. Baru saja Bias hendak mendengar perkembangan Kafe pagi itu dari manajer toko yang lain. Zee tampak berdiri 3 meter dari sofa tempat Bias duduk, ia terus mengarahkan telunjuk ke jam tangan berwarna putih yang melingkar di lengannya. Waktu memang sudah pukul 08:30 saat ini, Zee harus segera ke kampus sebab jam 9 nanti mata kuliahnya akan dimulai. Sejak pagi memang bias terus mengatakan ia akan mengantar Zee ke kampus.


"Oke zoom meeting pagi ini akan kita persingkat, Redi dan Andri kalian hanya perlu menjelaskan garis besar yang terjadi di Kafe. Oke silahkan Red, kamu lebih dulu!"


Bias menyimak apa yang kedua manajer itu ucapkan sambil netranya tak berhenti melirik aktivitas Zee yang terus mondar-mandir merasa tidak sabar untuk berangkat.


"Oke thanks atas laporan kalian, selamat bekerja dan tetap semangat!" lugas Bias sebelum akhirnya menutup zoom meeting pagi itu. Kini ia berdiri meraih jaket dan berdiri mendekat ke arah Zee.


"Lama!" decak Zee seketika.


"Maaf Sayang, yuk!"


Menggunakan sebuah becak, keduanya menuju lokasi kampus Zee, hingga 15 menit kemudian keduanya sampai.


"Udah sampai sini, aja! Aku masuk ya, Yang. Kamu gpp kan sendiri?"


"Iya, kamu belajar yang bener jangan genit-genit!" ucap Bias sambil mengusak kepala Zee. Zee mengerucutkan bibir.


"Aku masuk! Udah mepet! Bye, Yang!" ucap Zee berdiri ke luar dari becak.


"Yang, gak ada kiss?" ucap Bias menyentuh pipinya.


"Tadi udah kan, nanti di rumah lagi!" lirih Zee. Bias tersenyum. Ia hanya menggoda Zee, ia juga tahu itu adalah tempat umum.


"Yang!" Baru berjalan beberapa langkah Bias memanggil lagi, Zee membalik badan.


"Nanti aku jemput!" Zee mengangguk, ia melambai tangan baru kembali membalik badan dan berjalan cepat menuju fakultasnya.

__ADS_1


Waktu berlalu, matahari sudah merangkak naik saat Bias sudah berdiri di depan gerbang fakultas hukum menunggu Zee, wanita tercintanya. Tak menunggu lama seorang wanita dengan sweater panjang berwarna merah ati dan celana jeans berjalan mendekat. Langkah kaki itu bertambah cepat setelah melihat sang suami sudah ada menjemputnya.


"Kamu udah dari tadi jemput?"


"Baru kok." Zee merasa tenang.


"Kita langsung ke kossan aku yuk, nyamperin Risya. Mau bantu mindahin barang dia sekaligus beresin barang aku juga."


"Siap, tapi cari makan dulu, yuk! Aku laper!"


Wajah Zee langsung berubah. "Tadi aku buatin omlet sama mie goreng emang gak kamu makan?" tanya Zee sebab Bias menyebut kata lapar yang membuatnya merasa bersalah.


"Yang itu udah aku makan, tapi aku udah laper lagi," ucap Bias sambil terkekeh.


"Kamu tuh, kirain." Zee tersenyum akhirnya.


Bias tampak berjalan mendekati sebuah matic kini. "Yaudah yuk naik!"


"Aku sewa. Udah jangan banyak tanya, ayo naik!"


"Nyewa motor begini emang gak mahal?" Bias tersenyum sembari menggelengkan kepala. Ia tahu pertanyaan ini pasti terlontar.


"Nggak! Aku tau kamu bakal ngomong ini, makanya aku pilih motor yang paling murah. Kamu nggak nyusahin, ini murah, Yang! Penting soalnya untuk mobilitas!" Zee paham Bias mengambil keputusan juga untuk kebaikan keduanya, Zee mengangguk. Ia meraih helm yang disodorkan Bias dan naik ke motor itu.


Setelah makan siang dan mampir ke sebuah masjid karena Bias harus menjalankan ibadah, keduanya kini menuju kosan bercat biru yang setelah semalam akan menjadi tempat tinggal Risya.


Berhubung seluruh penghuni kossan sedang kuliah, Risya yang masih syok dengan kejadian-kejadian dan tidak berangkat ke kampus hari itu bergegas menuju pagar saat bunyi bel berbunyi.


"Zee," sapa Risya langsung memeluk tubuh sahabatnya itu.


"Kamu udah baik-baik aja, kan?" tanya Zee memperhatikan penampilan Risya dari atas kepala ke kaki, memastikan sahabatnya itu baik-baik saja.

__ADS_1


"Alhamdulillah."


"Yuk masuk!" Ketiga raga sudah duduk di bangku teras. Risya melirik kehadiran Bias. Semalam keduanya memang sudah bertemu, tapi Risya tidak memperhatikan Bias seksama. Kini mereka hanya bertiga dan Bias yang lelaki sendiri saat itu jadi menonjol.


"Eh iya, kenalin ini suami aku! Yang tempo hari kamu denger lagi nyanyi!" Zee berbicara lirih ke arah Risya. Kata-kata lirih yang membuat Bias penasaran juga. Bias menarik sepasang alisnya saat ini.


"Bukan apa-apa, Yang. Aku cuma lagi ngenalin kamu ke Risya.


"Hai, salam kenal, Bias." Bias mengangguk kepala.


"Risya," ucap Risya singkat. Bias mengangguk.


"Jadi bagaimana agenda hari ini! Kita langsung ke kosan lama Risya dan membawa barang Risya atau bagaimana?" lontar Bias.


"Semalem bang Johan bilang aku jangan ke kossan itu dulu. Nanti dia yang pulang kerja mau bantu aku angkutin barang," ucap Risya.


"Oh yaudah, berarti aku beresin barang aku aja!" kata Zee.


"Kamu yakin ngelakuin ini, Zee?" tanya itu terlontar, Risya merasa tak enak hati sudah dibiarkan tinggal di tempat yang sebelumnya menjadi kediaman sahabatnya.


"Kenapa tanya itu. Kemarin kamu denger juga kan, yang sudah menikah gak bisa tinggal di sini. Jadi ya aku harus pindah!" ucap Zee.


"Mengenai pembayaran kos juga, kalian gak perlu ngelakuin ini semua untuk aku," lirih kata itu terucap, sangat terlihat Risya sedih merasa dirinya memberi beban orang lain. Zee menatap Bias.


"Gpp, kamu temen Zee, terima kasih sudah jadi teman istri aku," ucap Bias menyatakan ia serius dengan ucapannya dan hal itu tidak memberatkannya.


"Lagipula ringan kok kossan di Jogya. Gpp, anggaplah sebagai pembuka rezeki kami," tambah Bias lagi. Zee merangkul bahu Risya.


Zee mulai merapihkan barang setelahnya, membiarkan lemari yang disediakan pemilik kos kosong dan siap di masukkan barang-barang Risya. Menjelang ashar Zee pamit. Ia dan Bias akan istrirahat, sebab malam nanti keduanya ada janji dengan Johan mencari kossan untuk Zee. Sementara Zee belum mendapat kossan, ia membiarkan barang-barangnya berada di kossan Risya.


...______________________________________...

__ADS_1


🥀Happy reading😘


__ADS_2