
🥀3 TAHUN KEMUDIAN
"Bagaimana, Sayang?" Seorang lelaki paruh baya dengan banyak rambut di bagian rahang itu melontar tanya pada putrinya yang baru keluar dari sebuah Kafe.
"Zee di terima bekerja, Ayah. Yeaaa!" Gadis cantik bertubuh proposional itu merona, ia langsung memeluk sang ayah yang berdiri di hadapannya.
"Hebat! Ayah sudah yakin kamu pasti diterima. Bodoh sekali pemilik Kafe itu kalau menolak putri ayah yang cantik ini!" Zee tersenyum.
"Ayo kita pulang!" Zee mengangguk. Farid dengan cekatan membuka pintu bagian depan angkot yang dibawanya. Ya, setahun lalu Farid sudah menyelesaikan masa tahanan dan kini ia bekerja sebagai sopir angkot.
"Kita harus merayakan ini! Beli makanan apa ya kira-kira untuk dimakan bersama!"
"Tidak perlu, Ayah! Jangan boros! Bukannya Ayah harus membayar setoran juga?"
"Kamu itu! Tenang! Uang setoran sudah Ayah pisahkan, masih ada lebih malah!" Farid menyodorkan uang dua ribu dan lima ribuan yang agak kumal tapi lumayan banyak. "Hari ini penumpang angkot Ayah banyak! Hari ini benar-benar hari keberuntungan keluarga kita!" Melihat pancaran bahagia Farid, Zee ikut tersenyum.
"Zee!"
"Iya, Ayah?"
"Sayang, maaf Ayah belum bisa mendaftarkan Zee ke Universitas! Harusnya Zee kuliah, tapi sekarang Zee justru bekerja."
"Ayah bicara apa? Zee bahagia dengan hidup Zee. Punya ayah, ibu, Joy dan Zaa semua sangat sempurna. Tujuan kuliah itu akhirnya untuk bekerja juga, kan? Lagi pula tidak sedikit juga lulusan Universitas yang nyatanya menganggur!" Farid melihat wajah putrinya dengan bangga. Ia menarik kepala itu dan mengecup kening gadisnya.
"Oh ya, Sayang. Lalu bagaimana murid-murid les kamu kalau kamu berkerja?"
Setelah lulus SMA, Zee memang memberi les matematika bagi siswa SD kelas 5 dan 6, juga siswa SMP. Zee senang dengan aktivitas itu. Karena sejatinya ilmu itu harus diulang dan dibuka selalu agar tidak luntur dari otak kita.
"Tadi Zee sudah bilang pada manajer Kafe di dalam tentang aktifitas mengajar Zee. Dia memberi toleransi. Zee hanya dijadwalkan bekerja sore hingga malam. Senin sampai Minggu kecuali selasa, Zee akan bekerja dimulai dari pukul 15.00 sampai pukul 23.00." Farid mengangguk-angguk.
"Apa Zee bahagia melakukan semuanya?"
__ADS_1
"Kenapa Ayah bertanya itu?"
"Ayah tidak mau Zee terlalu letih!" lirih kata itu terucap. Zee tersenyum.
Zee mendekatkan tubuhnya pada Farid, ia merangkul bahu tegap itu. "Zee sangat bahagia! Zee menikmati setiap yang Zee lakukan!" ucap Zee. Zee mendaratkan kecupan di pipi Farid setelahnya.
___________________
"Zivanya?"
"Iya Pak?"
"Ini masih pukul 2, tapi kamu sudah datang?"
"Hee, i-ya, Pak. Saya takut telat, Pak!" ucap Zee. Kemal sang manajer terus mangangguk. Ia senang dengan kedisiplinan Zee.
"Oh ya, Ziva. Ini seragam kamu! Kamu bisa ganti di ruangan di sudut itu. Ini kunci loker kamu, ada nomernya di sana!"
"Oh, i-ya, Pak." Zee terus tersenyum sepeninggal sang manajer.
Ruangan ganti plus loker pekerja tampak sepi. Ya, memang 3 orang lain yang satu shift dengan Zee belum datang. Zee masih berdiri di depan cermin panjang di hadapannya. Berkali ia berusaha menurunkan rok kerja yang tampak minim itu tapi begitu sulit, hingga akhirnya Zee pasrah.
Kalau ibu tau seragam aku sependek ini, bisa marah besar ibu. Ahh hanya saat bekerja, bukan? Maaf ya Tuhan!"
Sambil menunggu jam kerjanya yang dimulai 30 menit lagi, Zee duduk di kursi di sudut Kafe sambil memainkan ponselnya. Sesekali Zee tersenyum melihat gambar-gambar anak didik lesnya yang ia ambil saat mereka mengerjakan tugas. Ia selalu merasa terhibur dengan polah anak didiknya itu. Zee masih asik dengan aktivitasnya hingga sebuah suara terdengar memanggilnya.
"Ziva!"
Zee seketika berdiri.
"Sa-ya, Pak."
__ADS_1
"Memang ini belum masuk jam kerja kamu, tapi ada karyawan yang mendadak sakit perut. Bisa kamu menggantikan pekerjaannya?"
"Bisa, Pak!" lugas Zee. Zee langsung mematikan ponsel dan memasukannya ke saku.
Zee mengikuti Kemal dan keduanya berhenti di meja saji. "Ini pesanan meja nomor 20, kamu antar, ya!"
"Meja nomor 20 di-mana, Pak?"
"Kursi hitam yang di sudut dekat jendela. Itu meja 20. Layani ia dengan baik, ia langganan Kafe ini!"
"Oh, ba-ik, Pak!"
Zee segera berjalan ke kursi itu. Setiap langkah yang ia pijak seakan berirama, Zee sangat bersemangat dengan pekerjaan di hari pertamanya.
Jarak dirinya dan kursi itu semakin dekat, sudah terlihat kepala dengan topi cream yang dipastikan tamu itu adalah pria. Zee yang sebelumnya tenang dan santai, entah mengapa tiba-tiba resah. Melihat jam tangan yang melingkar di lengan tamu itu Zee merasa sesak. Jam itu tidak asing untuk Zee. Ya ... walau sudah lama sekali ia tak melihat benda yang mirip seperti itu. Zee menarik napas panjang dan tersenyum. Ia merasa bodoh telah terbawa masa lalu.
Jam tangan! Ada banyak orang memiliki jam tangan yang sama. Zee ... Zee ... sadar, Zee!"
Kini langkah Zee kembali cepat, tak lama ia sudah berada di hadapan meja itu. Pria yang memesan tampak sangat serius membaca surat kabar hingga wajah itu nyaris tak terlihat.
"Permisi, Pak! Ini pesanan Bapak!"
Mendengar panggilan sang waiters padanya yang menyebut Bapak, sang lelaki menurunkan surat kabarnya. Ia menatap wajah yang baru pertama dilihatnya di Kafe itu. Ia merasa asing. Berbeda dengan Zee, ia tampak sibuk meletakkan steak dan avocado smoothie ke atas meja tak menyadari tatapan tajam sedang membidiknya.
"Lo pasti karyawan baru! Lain kali gue nggak mau denger lo manggil gue Bapak!"
Dada Zee sesak, ia tak asing dengan suara yang baru saja didengarnya. Zee mengangkat wajah dan terhenyak!
🥀Happy reading😘
🥀Maju mundur cantik yaa❤️❤️
__ADS_1
🥀Please komen, dari mana saja asal kalian? Bubu mau kenal😍😍