ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
UCAPAN PAPA


__ADS_3

Dua hari berlalu, seperti siang sebelumnya. Ba'da Zuhur seorang gadis dengan tas ransel hitam masuk ke kamar isolasi Bias. Seperti biasa ia akan langsung mencium tangan dan memeluk lembut lelaki yang sudah tampak lebih segar dibanding dua hari saat pertistiwa naas itu terjadi.


Tubuh lelaki itu memang belum pulih total, bagian kaki yang sebelumnya pernah patah juga belum boleh digunakan berjalan dulu, luka-luka disekujur tubuh sudah mulai samar walau sakitnya masih terasa, juga luka tusukan kaca juga sudah mulai membaik. Tubuh yang sebelumnya ikut diperban menyilang karena mengkondisikan bekas jahitan di bahu agar tidak bergeser, kini sudah tak dipasang meninggalkan kasa dengan plester saja.


Karena waktu sudah masuk Zuhur dan Zee belum menjalankan ibadah. Zee langsung menuju toilet dan berwudhu, ia menjalankan ibadah di samping ranjang Bias. Setelahnya ia duduk di sisi ranjang suaminya.


"Bagaimana aktivitas hari ini, hem?" tanya Bias sembari mengusap-usap jemari Zee dalam genggamannya.


"Sesuai rencana hari ini aku berpamitan dengan para dosen dan teman-teman," ucap Zee berusaha mengukir senyum, tapi Bias bisa tahu senyuman itu berat dilakukan. Zee berdiri setelahnya menuju nacash mengambil apel dan mengupasnya. Ia membawa potongan apel tersebut ke hadapan Bias dan menyodorkan ke mulut suaminya itu. Bukan membuka mulut, Bias justru meraih piring dan meletakkan di nacash.


"Aku baru saja makan. Duduk sini!" Bias menepuk tempat di tepi ranjang.


"Ayo!" ucap Bias lagi melihat Zee hanya diam menatapnya. Zee menurut, ia duduk dengan kaki mengambang di atas lantai, tapi tatapan mata mengarah pada sepasang netra Bias.


"Terima kasih ya, Yang, kamu mengenyampingkan ingin kamu dan mau ikut aku ke Jakarta," lirih Bias. Zee lagi-lagi memaksa tersenyum.


"Aku tahu kamu berat ambil keputusan ini, tapi aku sungguh-sungguh ingin kamu di dekat aku!" Zee mengangguk.


"Apa kamu marah aku mengacaukan mimpi dan setiap rencana kamu?" Zee terdiam.


"Yang, bicara," pinta Bias. Zee tersenyum.


"Semua orang benar, aku egois! Kamu juga pasti mikir yang sama." Netra Zee sudah berkaca.


"Heii, kata siapa? Aku gak anggap kamu begitu!" Bias bingung dengan hal yang diucapkan Zee.


"Tapi aku egois! Ya, mungkin benar! Aku itu egois, Yang! Aku kekeh mempertahankan beasiswa dan justru banyak hal terjadi setelahnya. Gak mau nyusahin kamu, tapi justru banyak yang kamu korbanin untuk aku, gak hanya materi tapi juga nyawa kamu hampir aku korbanin juga!" Bulir yang sebelumnya hanya satu persatu keluar kini bertambah deras.


"Sayang ... jangan nangis!"


"Andai sejak awal aku nurut pinta kamu untuk kuliah di Jakarta aja pasti gak begini, tapi sungguh niat aku baik, Yang! Aku juga gak mau kamu kayak gini! Apa mungkin kata-kata papa kamu itu benar, aku cuma pembawa sial untuk kamu!"


Hus ... Huss ....

__ADS_1


Bias meletakkan telunjuk ke bibir Zee. "Kamu itu ngomong apa?"


"Bukan aku yang ngomong tapi papa kamu! Aku juga istri durhaka! Harusnya aku sadar setelah menikah kamu prioritas aku! Tapi lagi-lagi aku gadis yang egois! Apa lagi kata papa kamu ... oh ya, aku masih terlalu muda menikah, aku masih labil! Belum pantas jadi istri! Gak bisa juga ngurus suami! Aku juga sering ngeyel dibilangin, kekanakan! Nyusahin kamu! Oh ya ada lagi yang terakhir_____


Belum lagi bicara air mata itu semakin berderai.


"Yang, kita jangan bahas ini, yaa! Jangan bicara lagi!" Bias memperhatikan wajah istrinya itu intens. Ia yang mengira Zee terlihat sedih karena akan meninggalkan Jogya dan kuliahnya tapi ternyata salah. Ada hal yang lebih membuat Zee pilu, ucapan papanya.


"Aku masih mau ngomong! Ada satu yang terakhir, mungkin papa ngomongnya menghadap kamu, tapi aku juga punya telinga, aku denger, Yang! Papa minta kamu tinggalin a-ku, biar aku jadi janda. Papa kamu bicaranya jahat banget, Ya-ng ...."


"Sayang." Bias meraih tisu dan menghapus setiap bulir yang membasahi pipi Zee.


"Kamu jujur aja, Yang! Apa kamu kepikiran ceraiin aku! Pisah sama aku? Hem? Ayo jawab!" lugas Zee masih bercucur tangis.


"Kamu pasti tau jawabnya, nggak mungkin lah, Yang! Sini!" Bias meminta Zee mendekat setelah menjawab tanya istrinya itu.


"Sini!" ucap Bias lagi membuka kedua lengannya lebar.


"Nggak mau peluk, nanti kena bahu kamu yang sakit! Nanti papa kamu bilang aku nggak paham kondisi suaminya yang lagi sakit lagi." Bias tersenyum getir.


"Oh ya, aku nggak lihat ibu, mama, ayah dan papa?" tanya Zee seketika.


"Ibu dan Mama ke bawah cari makan. Kalau ayah dan papa ikut om Tyo ke kantor polisi, katanya Bowo sudah ditemukan dan papa ingin bicara."


"Udah sini!" ucap Bias lagi melihat Zee yang bergeming. Bias meminta Zee kembali mendekat, masuk ke pelukannya. Zee menurut.


"Aku nggak mau dibilang istri durhaka, Yang!" Bias tersenyum.


"Iya aku tahu. Kamu istri terbaik aku!"


"Bohong!"


"Bener, Yang!" Bias terus mengusap bahu Zee.

__ADS_1


"Kamu cuma mau nyenengin aku, kan Yang? Yang ... janji jangan ceraiin aku! Aku gak mau kehilangan kamu! Kamu cinta pertama aku dan selamanya! Maaf kalau aku suka ngeyel kalau dibilangin! Aku akan rubah perlahan-lahan! Aku akan lebih baik jadi istri kamu!"


"Iya iya, aku tahu! Makasih Sayang!" Bias berkali-kali mengecup kepala Zee.


"Sebetulnya kalau masalah kekurangan, aku yang justru banyak kurangnya, gak beda dari kamu, aku juga sering labil, sering down. Justru kamu semangat aku! Jadi setiap ucapan papa gak perlu kamu inget sampai sedetail itu. Kita yang tahu satu sama lain. Jadi walau orang lain bicara begini begitu, biarin aja! Yang terpenting adalah hati kita. Kita yang saling menerima dan harus saling mengingatkan jika satu diantara kita berbuat salah. Aku juga sadar belum bisa jadi pemimpin rumah tangga yang baik! Aku masih harus banyak belajar! Ma-af ya, Sayang!" Zee terus mengangguk di dada Bias.


"Kamu itu hidup aku, aku butuh kamu! Jadi mana mungkin aku cerai-in kamu! Gak akan! Aku juga nggak rela ada yang menyentuh kamu selain aku! Semua yang ada di diri kamu punya aku! Punya Bias!" Zee merasa senang, ia yang malu mendengar ucapan Bias semakin menenggelamkan wajahnya. Bias mengusap kepala Zee sambil tersenyum. Ia senang melihat reaksi malu Zee.


"Yang!"


"Hemm?"


"Tamu kamu udah pergi, kan? Berarti aku udah bisa minta jatah aku," bisik Bias membuat Zee bertambah malu, Zee memukul lembut dada Bias.


"Kamu tuh sakit tapi mesum Yang, kayak dulu!" Bias tertawa.


"Jadi gimana? Aku bisa dapet jatah aku, kan?" Bias lagi-lagi berbisik, ia senang menggoda Zee.


"Emang kaki kamu gpp?"


"Tadi aku udah tanya dokter hasil rontgennya bagus, ini digerakin juga udah gak sakit kok!" ucap Bias menggerak-gerakkan kakinya.


"Ihh kamu," lirih zee malu.


"Jadi gimana?"


"Boleh, tapi kalau kita udah di Jakarta aja!" lirih Zee.


"Di rumah kita?"


Zee mengangguk.


...______________________________________...

__ADS_1


🥀Happy reading,😘😘


__ADS_2