ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
HARUS WASPADA


__ADS_3

"Yang ... kita langsung ke rumah mama ini?" tanya Zee melihat Bias mengambil stir ke arah kanan melalui jalan yang biasanya mereka lewati saat hendak ke rumah mama Dona.


Tiga bulan sudah berlalu, tragedi yang menimpa dua insan sudah dilupakan. Dua insan kini menjalani aktivitas normal seperti rumah tangga lain pada umumnya. Zee seperti sebelumnya saat Bias sakit, ia merawat dan mendukung penyembuhan Bias dengan sangat sabar. Ia juga selalu berada di sisi Bias membantu suaminya itu mengembangkan bisnisnya. Zee yang memiliki cita-cita tinggi menjadi pengacara bahkan belum ingin melanjutkan kuliahnya. Ia belum tega membiarkan suaminya menjalankan aktivitasnya sendiri kendati kondisi kaki Bias kini sudah banyak kemajuan. Ia bisa berjalan cepat dengan stabil tanpa rasa sakit,


"Iya, langsung aja ya, Yang. Tadi kata mama kita disuruh ke rumah jam 5 sore loh, ini jam 5 kita malah baru otw."


"Yauda, tapi tumben sih mama ngundang kita ke rumah di hari kerja, biasanya kan di akhir pekan," ucap Zee.


"Kamu kayak gak tau mama aja, pasti mama lagi masak banyak hari ini, jadi biar gak mubadzir mama undang kita untuk makan bareng. Tau sendiri mama kalau baru dapet resep baru langsung eksekusi di rumah." Zee mengangguk-angguk.


"Yang, tapi kita nanti pulang aja, ya! Gak usah nginep," utar Zee dibalas anggukan oleh Bias. Bias tau Zee masih kurang nyaman dengan kehadiran papanya.


Dua puluh menit berlalu, pagar hitam menjulang yang menutupi bangunan dominasi putih dengan pilar-pilar tinggi menjulang mereka masuki. Bias seketika bergeming melihat mobil asing berada di pelataran rumahnya. Masalahnya mobil itu berwarna merah, Bias seketika ingat seseorang yang pernah melontar suatu saat ingin memiliki mobil berwarna merah yang menggambarkan semangat katanya. Zee yang melihat perubahan wajah Bias akhirnya melontar tanya.


"Yang, kenapa?"


"Ehh, gpp kok," lirih Bias.


"Kayaknya di rumah kamu lagi ada tamu, Yang? Mobilnya asing! Tapi warnanya bagus ya, Yang? Cerah!" Bias mengangguk datar.


"Yuk turun!" Bias berusaha memfokuskan konsentrasinya. Bersikap biasa tak ingin larut dalam asumsinya.


Kedua raga langsung masuk ke dalam rumah, suasana rumah yang terlihat di luar tenang, berbeda dengan kondisi di dalam. Suasana riuh tawa bocah menggema ke seantero rumah. Dua raga memastikan dari mana suara itu berasal ternyata dari ruang keluarga. Keduanya pun bergegas ke sana.


Zee bergeming, ia tau cepat atau lambat hal seperti ini pasti terjadi, tapi hatinya ternyata belum cukup siap saat semua terhampar di hadapan. Nasya tampak sedang duduk manis bersebrangan dengan Dara yang sedang bercanda dengan bocah menggemaskan berumur 3 tahun lebih itu, Nayna.


Haa ... Haaa ... Haaaa ....


Tawa Nayna begitu nyaring terdengar.


"Yang," sapa Bias melihat Zee mematung.


"Eh, iya.Ternyata ada yayang kamu lagi main tuh, yang!" Zee berucap sangat lirih di telinga Bias. Kata-kata yang sebetulnya sulit terucap tapi Zee meloloskannya, ia ingin melihat reaksi suaminya.


Bias merengkuh pinggang Zee. "Yayang aku cuma kamu!" bisik Bias setelahnya.


"Pantas di depan tadi kamu pucat, jadi telepati mantan masih bisa dirasakan. Kamu udah curiga di depan itu mobil Nasya, kan?" ucap Zee mengalihkan tatapan netra Bias.


"Kamu kalau cemburu begini tambah cantik!" lirih Bias malah menggoda Zee yang sedang terbakar cemburu.


"Aku nggak cemburu!"


"Kamu cemburu, Sayang!"


"Nggak!" Bias tersenyum menggelengkan kepalanya. Ia yang di luar tadi sesaat merasa bingung bagaimana menghadapi Nasya, melihat kecemburuan Zee menyadarkan Bias siapa wanita yang memang mendampinginya saat ini dan harus ia pikirkan. Bukan Nasya lagi, tapi Zee. Kisah Nasya sudah lama berakhir, yang ada kini hanyalah kisah cinta Bias dan Zee.

__ADS_1


"Masuk, yuk!" bisik Bias lagi.


"Kamu nggak sabar ketemu Nasya, Yang?" Bias tersenyum mendengar asumsi Zee.


"Aku nggak sabar habisin malam ini berdua sama kamu!" bisik Bias sembari berjalan mendekat ke arah sofa.


"Kamu pasti lagi ngatur hati kamu mau ketemu mantan!" bisik Zee lagi.


"Haii cantik," ucap Bias seketika mendekat ke arah Dara dan Nayna. Bias tak menggubris tanya Zee, Zee memberengut.


"Kak Nasya," sapa Zee sembari menganggukkan kepala.


"Hai," ucap Nasya datar.


"Kenapa kamu diam saja, Cantik? Lupa sama Om Bias?" Bias mengusap-usap pipi Nayna. Nayna yang malu berlari memeluk Nasya.


"Kasihan deh, Nayna takut sama Mas," celetuk Dara. Bias tersenyum.


"Nay malu ya sama om Bias, ya? Itu om Bias, Sayang. Dulu Nayna kecil sering digendong om Bias loh, om Bias baik, kok," ucap Nasya kini ingin mendekatkan Nayna dan Bias, tapi Nayna masih saja bergeming namun diam-diam melirik Bias.


Nasya dulu memang sering tiba-tiba berkunjung ke rumah Bias, Bias pun saat itu berusaha bersikap Biasa. Ia bersikap ramah pada Nayna dan Nasya, kendati hatinya masih sakit kala itu mengingat hubungan cinta yang harus kandas di masa lalu, tapi Nasya sungguh tak memikirkan perasaannnya. Lagi-lagi itu dulu, tidak saat ini. Saat ini Bias benar-benar biasa bertemu Nasya.


"Kamu nikah gak ngabarin aku, Bi!" ucap Nasya menatap Bias tanpa melirik sedikit pun Zee.


"Oh iya, emang gak dirayain besar-besaran kok, kami akad aja, yang penting sah," jawab Bias memindahkan duduknya ke samping Zee.


Aku bukan kamu! batin Zee.


Bias melihat wajah memberengut Zee, terus mengusap bahu istrinya itu. "Nggak lah, kalau Zee memang hamil perutnya pasti sudah membuncit. Lagipula kamu tau aku bukan lelaki yang suka mencoba-coba yang belum jadi milik aku!" Nasya langsung menunduk.


"Oh ya Ra, mama mana?" Bias mengalihkan tanya pada Dara.


"Ada ke dapur kayaknya bawa Nico!"


"Nico?"


"Anak aku yang kedua Bii," ucap Nasya.


"Oh iya waktu aku ajak Zee tempo hari kamu lagi hamil 7 bulan ya. Duh sampe lupa, sorry!" Nasya tersenyum.


"Nayna ikut mbak Dara, yuk! Mbak Dara punya boneka banyak di kamar!" Nayna menurut, ia meraih jemari Dara dan tak lama keduanya tak terlihat lagi di ruang keluarga.


"Sudah berapa lama usia pernikahan kamu?" tanya Nasya lagi hanya menatap Bias.


"Berapa ya, Yang? Hampir setahun ya, Yang?" Zee mengangguk lirih. Kendati Nasya tak menganggap kehadiran Zee, tapi Bias berusaha mengajak Zee masuk dalam obrolan keduanya.

__ADS_1


"Udah lama juga, ya? Kenapa dia belum hamil juga? Istri kamu sehat, kan?"


Zee menarik nafasnya dalam, lagi-lagi ia tak suka dengan ucapan Nasya.


Wanita ini kenapa senang sekali berasumsi ini dan itu, menyebalkan! monolog Zee.


"Kami memang belum program kok! Masih ingin berduaan dulu!" Kilah Bias memindahkan tangan yang sebelumnya berada di bahu Zee kini jemari itu sudah merangkul pinggang Zee.


"Oh," decak Nasya.


"Eh kalian udah datang!" Dona masuk ke ruang keluarga menggendong Nico yang tampak asik memasukkan biskuit ke mulut, ia langsung mencium pipi Zee dan Bias bergantian.


"Macet, Sayang?"


"Nggak Ma. Hanya tadi pak Aric sedang ada di Kafe, jadi kami baru bisa keluar setelah pak Aric pulang.


"Yasudah gpp, yang penting sekarang kalian sudah sampai. Eh lihat deh, anak Nasya embul banget, mama gemes dari tadi," ucap Dona spontan tak juga bermaksud menyinggung Zee, tapi Zee yang sensitif seketika menunduk. Hal itu tertangkap Nasya, ia yang sudah mendengar dari Dara kalau Zee belum mau punya anak, kini seakan memiliki cara menyudutkan Zee.


"Kayaknya Tante emang udah cocok banget jadi uti loh, Nico ini biasanya susah deket sama orang, Te. Eh ini kok anteng banget sih, kamu berasa ya Sayang kalau tangan uti udah gak sabar gendong cucu," seloroh Nasya.


"Kamu bisa aja sih, Sya! Mama emang seneng kok sama anak kecil. Mama jadi inget waktu Bias masih bayi begini," ucap Dona semringah. Dona yang baru saja ingin mengajak Zee dan Bias makan, mengurungkan inginnya sebab adzan Maghrib Sudah berkumandang


"Kalian ke kamar dulu, nanti setelah ibadah kita makan malam bersama!" tutur Dona. Tak lama kemudian semua raga sudah masuk ke kamar masing-masing tak terkecuali Nasya yang masuk ke kamar tamu membawa Nico.




"Makanan Tante tuh selalu enak, Nasya suka. Nasya juga ingin jadi mama seperti Tante, ingin tetap berkarir tapi nggak melupakan tugas seorang ibu di rumah. Pokoknya Tante keren banget menurut Nasya." Nasya terus bicara di sela makan mereka.


"Ah kamu tuh Sya, paling pinter memuji Tante. Makasih Sayang," ucap Dona.


"Om juga nih, aku lihat-lihat makin matang makin kece, pengusaha sejati dan bertekad kuat. Lelaki idaman banget. Tante Dona pasti beruntung banget bisa jadi istri Om Libra," ucap Nasya lagi. Libra tersenyum simpul.


Dalam hati Zee juga membenarkan ucapan Nasya, ingin melontarkan tapi karena sudah diucap Nasya lebih dulu, ia memilih diam. Zee yang melihat Nasya tidak berhenti bicara dan selalu ada kata-katanya yang membuat Dona dan seluruh penghuni rumah yang lain semringah hanya bisa mengelus dada. Wanita di hadapannya seolah terus menunjukkan kedekatannya dengan seluruh penghuni rumah itu.


Mengapa kak Nasya bersikap begitu? Apa ia ingin menarik perhatian mama dan papa? Tau ia ingin mencari perhatian kak Bias? Dia datang hanya dengan anak-anak, di mana suaminya? Bagaimana jika hubungan ia dan suaminya tidak baik-baik saja? Jangan-jangan ia berniat mengambil kak Bias dari aku?


Otak Zee dipenuhi bongkahan tanya yang intinya sepertinya ia harus waspada pada Nasya. Kini Zee terus melihat wajah Bias, memastikan apakah kehadiran dan setiap kata-kata Nasya mempengaruhi suaminya itu. Bias tampak tenang saja makan, hingga tiba-tiba Bias mengangkat wajah dan menyadari Zee sedang menatapnya. Bias menarik sepasang alis, merasa heran istrinya itu bukannya makan malah melamun saja.


...______________________________________...


🥀Happy reading😘


🥀Promo pagi ini, mampir yuk ke karya kece yang gak bosenin bacanya ini. Bisa dibaca blurnya di gambar, pasti bikin penasaran kan? Yuk mampir😍😍

__ADS_1



__ADS_2