
Pagi menjelang. Setelah menjalankan ibadah, Bias sudah berada di muka kamar Zee. Mengetuk pintu itu perlahan dan memanggil lirih nama Zee. Tak berselang lama pintu itu terbuka.
"Sudah siap?" tanya Bias seketika.
"Sudah." Keduanya memang berjanji joging pagi itu. Bias kini tampak memperhatikan Zee seksama.
"Ada apa, Kak? Ada yang salah dengan penampilan aku?"
"Kaosnya nggak ada yang lebih longgar?"
"Ini juga nyaman kok, Kak!"
"Kamu yang memakai nyaman, tapi yang melihat nggak!"
"Tapi kaos Dara yang lain kecil-kecil, Kak. Ada kemeja. masa joging pakai kemeja!" Bias bergeming sesaat dan seketika masuk ke kamar yang Zee tempati.
"Kakak cari apa?" Zee bingung melihat Bias membuka-buka lemari Dara mencari-cari sesuatu.
"Oke, yang aku cari sudah kudapat. Kamu pakai ini, ya!"
"To-pi?"
"Iya, biar nggak semua orang bisa lihat wajah kamu!" Zee menggelengkan kepala.
"Yuk kita jalan! Sebelum mataharinya meninggi!" Zee mengangguk.
Keduanya mulai menyamakan langkah sepanjang perjalanan sambil saling berbagi cerita. Bias terlihat lebih ceria, ia tak melepas sedetik pun eratan jemarinya pada jemari Zee. Hingga sampai di sebuah bundaran Bias mengajak Zee rehat. Bias membeli botol air mineral dan keduanya saling bergantian minum. Senyum keduanya merekah, jelas keduanya sedang berusaha saling menyamankan dan sudah siap memulai hubungan yang baik.
"Kamu mau bubur ayam?"
"Boleh, Kak."
"Oke, tunggu sini, ya! Agak ramai, sabar gpp, ya?"
"Iya." Zee melihat raga tegap itu menjauh. Ia masih tak melepas pandangannya pada bahu Bias, hingga ia seketika ingin tersenyum mengingat perilaku spontannya semalam. Ada rasa malu di hati itu, tapi bahagia lebih mendominasi.
🥀 FLASHBACK
"Ini pasti yang pertama," lirih Bias berkata sambil menaikkan wajah Zee yang terus menunduk setelah aktivitas spontan yang saling berbalas itu selesai. Zee mengangguk setelahnya. Bias tersenyum merapatkan tubuhnya. Ia senang memeluk Zee.
"Terima kasih sudah memilih aku!" bisik Bias. "Kita mulai semuanya tanpa masalalu! Kita buang semua cerita perih hari kemarin. Tapi kamu ingat, harus selalu di samping aku, bantu aku?" Zee menganggukkan kepalanya di bahu Bias. Bias mengusap rambut lurus Zee.
"Boleh aku tanya sesuatu?" Zee melontar tanya.
"Silahkan!"
"Bagaimana Kakak bisa tahu aku adalah Zee?"
__ADS_1
"I-tu___
"Kenapa ragu menjawab?" Bias tersenyum.
"Nas-ya yang memberitahu aku!"
"Kenapa terbata menyebut nama i-tu. Pasti hati Kakak berat menyebut nama wanita tercinta yang tega menyakiti hati Kakak!" kata Zee melepaskan dekapan Bias.
"Jujur iya, semua berproses ya. Tapi aku janji akan jaga perasaan kamu! Aku akan buat nama Nas-ya biasa dan nama Zivanya yang istimewa."
"Jangan terlalu dipaksakan, biar semuanya mengalir." Bias tersenyum dan mengangguk. Ia menyandarkan bahunya di sofa dan meraih bahu Zee ikut bersandar pula di sofa.
"Hanya karena Nasya yang bicara jadi Kakak langsung percaya?" Zee tampak berucap kini.
"Tidak hanya itu. Aku melihat____
Zee menatap Bias yang seketika menghentikan kalimatnya. Zee menunggu kelanjutan kata itu.
"Zee, aku lupa menanyakan i-ni____
"Iya?" ucap Zee.
"Bang Jo. Sejak kapan Bang Jo tahu wajah kamu yang sebenarnya?" Bias tak menyadari Zee merubah posisi duduknya. Zee mengangkat tubuh dari sandaran sofa, hati itu sesak seketika ingat Johan. Zee teringat tentang Johan yang kini masih kekasihnya dan ia telah menyakiti Johan yang berharap padanya.
"Zee, malam itu aku lihat kalian bersama. Ia menjemput kamu di taman! Kalian masih berhubungan baik, 'kah? Bagaimana kabar bang Jo? aku kangen bang Jo! Apa ia masih kuliah? Atau dia sudah bekerja sekarang? Aku pernah datang ke tempat kosnya, tapi bang Jo sudah pindah. Kamu tahu kabar bang Jo 'kan, Zee?
"Kenapa? Cerita Zee! Jangan ada yang kamu tutupi supaya hubungan yang akan kita mulai berjalan baik." Bias yang melihat wajah Zee resah meraih jemari Zee dan mengecupnya.
"Kak!"
"A-pa?"
Mendadak sepasang mata Zee berkaca. "Hubungan kita sa-lah. Ada yang belum aku ka-takan pada Ka-kak ...!"
"Ada apa?"
"Ba-ng Jo____
"Kenapa bang Jo?"
"Di-a yang se-lama i-ni jaga a-ku!" Tangisan itu pecah. Zee menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Zee, aku nggak ngerti maksud kamu? Bicara perlahan, oke!" Bias merusaha meraih wajah itu. Merangkum wajah Zee yang kini menolak untuk ia tatap.
"Zee, bicara! Ada apa dengan bang Jo?"
"Ham-pir 2 bulan ini, a-ku sudah menerima ba-ng Jo jadi pacar a-ku. Ma-af, Kak!" Zee menangis, tangisan yang begitu menyesakkan sebab ia takut Bias akan marah padanya, takut Bias meninggalkannya lagi.
"Zee?"
__ADS_1
"Tiga tahun bang Jo menunggu a-ku, Kak. Dia terlalu baik untuk aku tolak! Semua sebelum a-ku bertemu Kakak la-gi ...." Bias menarik napas panjang dan mencerna setiap kata Zee dan waktu yang keduanya lewati belakangan ini. Bias terdiam sesaat, baru meraih kepala Zee masuk dalam dekapannya. Bias tahu Zee jujur, Zee tidak bohong. Bias tau menunggunya selama ini adalah perilaku bodoh yang Zee lakukan, hingga akhirnya Zee menyerah pada Johan. Bias memahami Zee. Ia tau Zee cinta dirinya. Mengenyampingkan akalnya beberapa saat lalu dengan menciumnya. Hati Bias yang mulai terketuk dan sudah bertekad membuka dirinya untuk Zee merasa perlu mempertahankan Zee. Bias terus menyapu kepala Zee saat ini.
Zee mendangak. "Ka-k, jadi ki-ta bagaimana?"
"Aku akan bicara dengan Johan!"
"Kakak ya-kin? Tapi Kakak belum cinta aku!"
"Aku sudah mulai suka kamu dan sepertinya tidak sulit mencintai kamu! Aku butuh kamu, Zivanya!" Bias menarik lagi kepala Zee ke dadanya.
"Kita akan menyakiti bang Jo, Ka-k!"
Bias menaikkan wajah Zee. "Bahagia diri harus kita sendiri yang mengusahakan, walau terkadang menyakiti hati lain!" Zee masih bergeming.
"A-tau ... kamu lebih senang bersama bang Jo ketimbang aku?" Zee menggeleng dengan cepat.
"Bagus! Besok kita akan temui bang Jo!"
"Bang Jo 6 hari lagi baru pulang. Ia sedang di Semarang, Kak!"
"Itu jauh lebih bagus, kita bisa mempersiapkan diri bertemu bang Jo!" Zee mengangguk.
"Dan i-bu aku?"
"Kita akan cari waktu yang tepat bicara dengan ibu kamu!"
"Terima ka-sih, Kak!"
"Aku yang terima kasih sama kamu! Sudah malam, kamu istirahat, ya! Besok pagi kita joging, bagaimana?"
"I-ya, Kak!"
"Kamu mau?"
"Iya, mau."
"Zee pacar Bias gadis yang penurut!"
"Aku gadis yang bodoh!"
"Aku juga lelaki yang bodoh!" Keduanya saling tersenyum setelahnya.
..._________________________________________...
🥀Happy reading😘
🥀Mampir juga ke karya sahabat literasi bubu, yaa😍
__ADS_1