
"Zee, bangun, Nak! Kamu jangan begini dong, Sayang!" Farah duduk di sisi ranjang Zee. Ia terus mengusap lengan Zee, berharap dengan sentuhannya Zee lekas sadar dari pingsannya. Farid berdiri di belakang Farah, ia mengusap bahu istrinya tanpa kata.
Bias tak kalah resah, ia berdiri di dekat kepala Zee dan ikut terus membelai rambut Zee berupaya agar Zee sadar. Di sudut kamar tampak pula Johan berdiri mematung. Melihat Bias yang menemukan Zee dan interaksi Bias saat ini, ia merasa kalah.
Beberapa saat berlalu akhirnya jemari Zee bergerak dan netra itu perlahan terbuka. "I-bu," panggil Zee lirih.
"Iya sayang, ibu di sini, Nak," ucap Farah menciumi jemari itu, ia mendangak ke arah Farid setelahnya.
"Zee sudah sadar, Yah." Farah bicara pada Farid. Farid mengangguk sambil sesekali melirik Bias yang tersenyum saat ini.
"Bu, Zee di-mana? Tadi Zee bermimpi bertemu kak Bi-as, Bu. Ma-af!" Melihat Zee meminta maaf padanya Farah jadi sedih. Putrinya itu bahkan berfikir bermimpi bertemu Bias merasa bersalah padanya. Putrinya itu sungguh tak sadar kalau tadi ia benar-benar bertemu Bias. Farah kini melirik ke arah Bias.
"Kamu tadi pingsan dan kini di Rumah Sakit. Kamu tadi nggak mimpi, kamu memang bertemu Bias!"
"Hah?" Zee masih tak percaya dengan yang didengar.
"Itu Bias!" Farah menaikkan dagunya di tempat Bias berada. Zee spontan mendangak, netranya berkaca melihat lelaki yang ia rindukan benar ada di sekitarnya.
"Ka-kak!" Melihat interaksi antara Bias dan Zee, Johan tak tahan. Ia ke luar dari ruangan itu. Farah yang melihat menyusul. Farid berjalan ke tepi jendela. Ia juga tak ingin melihat interaksi Zee bersama anak dari seseorang yang telah membuatnya mendekam dalam jeruji. Farid terdiam, namun otaknya terus berfikir.
Bias langsung membungkukkan badan, ia dekatkan wajahnya ke arah Zee. "Hai Zivanya, kamu kenapa? Nggak sayang tubuhmu? Kata dokter, asupan nutrisimu kurang. Apa saat jauh dari aku, kamu juga benci nasi?"
"Ka-kak ...." Zee tak merespon tanya Bias, di otaknya hanya ada wajah Bias. Wajah orang yang dirindukan. Ia hanya ingin memanggil Bias saat ini. Memastikan kehadiran Bias.
"Aku di-sini!" Bias menahan wajah Zee dan mendekatkan pipi keduanya. Bias berbisik di telinga Zee dengan sangat lembut.
"A-ku tidak akan melepas kamu lagi!"
"Ta-pi____
"Jangan bicara, puas-puasin lihat wajah aku, sebelum ibu kamu datang dan aku diminta pulang!" bisik Bias lagi. Ia tampak melirik Farid yang fokus menatap jendela. Bias dengan cepat mendekatkan bibirnya dan mengecup singkat kening Zee.
"Ka-kak? A-da ayah," ucap Zee lirih.
"Ayah nggak lihat! Itu obat supaya kamu cepat pulih dan nggak marah sama aku. Aku minta maaf, Zee! Aku bersalah! Benar, awalnya aku memang suka karena wajah cantik kamu, tapi____
Zee meletakkan telunjuknya ke bibir Bias. Menghentikan kalimat Bias. Zee tidak ingin membahas permasalahan kemarin.
Farid memang bergeming di depan jendela. Tapi sungguh setiap aktivitas anaknya terpantul dari kaca di hadapannya. Ia terus menggeleng.
___________________
__ADS_1
"Nak Johan!"
"I-bu ...." Johan seketika berhenti mendengar panggilan Farah.
"Ma-af kan i-bu, Nak."
"Tidak apa-apa, Bu." Johan tersenyum getir baru melanjutkan katanya lagi. "Sejak awal saya sudah tahu ini akan sulit. Hati Zee bukan milik saya."
"Ma-af!"
"Kenapa ibu minta maaf? Saya yang memaksakan hati Zee. Sudah Bu, saya permisi. Semoga Zee selalu bahagia bersama Bias!"
"Nak Jo!"
"Santai, Bu. Bukankah jodoh sudah ditetapkan sejak ruh kita ditiup. Jo yakin akan menemukan gadis yang tidak kalah baik dari Zee."
"Ma-af, Nak Jo ...." Farah seketika teringat setiap kebaikan Johan pada keluarganya, ia tak enak hati melihat kesedihan Jo. Tapi ia pun sadar tak bisa mempertaruhkan kebahagiaan Zee demi keinginannya. Masalah keluarga Bias yang memiliki sangkut paut dengan keluarganya di masa lalu akan ia bicarakan lagi penyelesaian itu bersama Farid. Satu yang Farah tahu. Zee harus tenang.
"Sudah Jo bilang jangan meminta maaf, Bu!" Farah tersenyum dan mengangguk.
"Nak Jo lelaki baik, Ibu yakin nak Jo akan dipertemukan dengan wanita yang baik pula." Jo kembali mengangguk, ia senang dengan kalimat yang diucap Farah.
____________________
Berbeda dengan Farah, wajah Farid masih datar. Tak pernah sedikit pun ia bicara pada Bias. Bias tidak tahu apa di otak lelaki paruh baya itu, tapi Bias tak ambil pusing. Untuknya bisa menghabiskan sedikit waktu bersama Zee membuatnya bahagia. Terlebih ia sadar Johan tak pernah muncul lagi.
Apa Johan sudah mundur, ahh biarkan lah, decak Bias dalam hati dalam perjalanan ke Rumah Sakit.
Melihat bakulan bakso, Bias menepikan mobil sportnya dan membungkus bakso untuk Zee. Ia juga membawa martabak manis. Ya, belakangan ia ketahui keluarga Zee menyukai makanan manis tersebut.
Bias membuka bangsal tempat Zee menginap. Ruangan itu kosong dan hanya ada Zee sendiri. Zee tidak tidur, Bias melihat netra itu sedang menghadap pintu saat ia masuk. Zee yang tau di jam itu bias akan datang menunggu kedatangan Bias. Wajah Zee langsung merona saat orang yang dinantinya terlihat.
"Haii, assalamu'alaikum," ucap Bias mengedar pandang. "Ibu kamu nggak ada?" ucap Bias lagi.
"Wa'alaikumsalam. Sore tadi ibu pulang, Kak." Bias mengangguk mendekati Zee dan mencium kening itu.
"Bagaimana kondisi kamu kata dokter hari ini?"
"Besok aku sudah boleh pulang."
"Alhamdulillah. Apa setelah di rumah ibu akan tetap membiarkan aku ketemu kamu?" tanya Bias masih mengusap kepala Zee.
__ADS_1
"Hmm, sepertinya iya."
"Sungguh?"
"Semoga."
"Tapi ayah kamu belum bicara sama aku. Kadang aku bingung, apa salah aku?"
"Jangan negatif thinking sama ayah, Kak." Bias tersenyum.
"Ma-af. Oh ya, aku bawa bakso. Aku suapin kamu, ya?" Zee mengangguk dengan cepat.
______________________
Matahari meninggi, Di jam makan siang Bias melajukan mobil sportnya ke Rumah Sakit karena di jam itu Zee di jadwalkan pulang. Bias langsung mengurus administrasi dan membantu Farah dan Farid mengurus kepulangan Zee.
Bias menyiapkan mobil setelahnya dan mengantar Zee dan keluarga pulang. Walau keluarga Zee belum banyak bicara padanya, tapi mereka menerima uluran bantuan Bias dan Bias senang.
Setelah memastikan Zee sampai dan beristirahat dengan baik di kamarnya, Bias izin pada orang tua Zee untuk kembali ke kantor. Baru saja hendak melewati pintu, mendadak Farid memanggil. Bias kaget dan kembali masuk.
"Kamu serius dengan Zee?" tanya itu terlontar begitu saja.
"Serius, Om," tegas Bias.
"Kalau serius, lamar Zee! Saya tidak butuh lelaki yang cuma datang menemani Zee dan pulang. Nikahi Zee!"
"Hah?"
"A-yah?" Farah yang mendengar mendadak memanggil Farid. Farid mengangguk.
Jadi bang Farid nggak main-main. Semalam ia membahas masalah ini. Bias adalah pion Libra, penerus bisnis Libra. Apa Bias akan mempertahankan Zee dan bisa meyakinkan Libra untuk membiarkannya menikah muda? Menikah muda dengan gadis dari putri orang masa lalu yang dihancurkannya.
Farah menelan kasar salivanya. Kebahagiaan putri mereka sedang keduanya pertaruhkan. Jika Bias menyerah entah bagaimana dengan Zee. Tapi Libra harus mendapat efek jera dan kali ini rivalnya adalah putranya sendiri, itu pun jika Bias benar-benar serius dengan Zee.
...__________________________________________...
🥀Happy reading😘
🥀Mampir ke karya sahabat literasi bubu ini yuk😍
__ADS_1