ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
HARUS SEMANGAT


__ADS_3

Seorang gadis duduk lesu di halte setelah tubuhnya letih berlatih basket. Walau ia tahu jarang angkot kosong di jam itu, tubuhnya seolah masih enggan diajak bergerak melintasi trotoar. Si gadis yang lesu itu tak lain adalah Zee, selain letih tubuh, ia juga sedih lantaran dua hari ini tak bertemu Bias. Memang di jam istirahat atau jam sekolah ia masih bisa melihat Bias di kejauhan, tapi nyatanya Zee berharap lebih. Zee berangan bisa latihan bersama atau minimal melihat Bias saat latihan dalam jarak dekat.


Ya, hati itu sudah memilih, memilih sosok yang pernah menjadi pahlawan untuknya, berbaik hati padanya, juga pernah mengirim surat padanya. Alasan terakhir adalah yang lebih dominan, karena surat itu sungguh melambungkan Zee hingga ia berani dan terus berangan.


Zee masih mengintip ke dalam tas di mana ada sebuah surat yang pernah dan selalu membuatnya melambung, namun dua hari ini kian membuatnya sesak. Ya, sosok yang menyatakan rasanya itu nyatanya seolah hilang dan tak memberi kode perhatian lagi padanya. Zee masih terduduk lesu saat sebuah suara menyapanya.


"Hai Zee ...."


Johan, dia lah sosok yang menyapa Zee. Johan memang selalu pulang terakhir setelah semua anggota basketnya pulang. Berhubung anggota yang lain rata-rata membawa kendaraan sendiri ke sekolah atau beberapa dijemput kakak atau kekasihnya, tinggallah kini Zee sendiri yang mengandalkan angkot untuk mencapai rumah.


"Eh, bang Jo," lirih Zee.


"Masih belum ada angkot kosong?" Zee menggeleng.


"Yaudah yuk bareng lagi, kita searah ini kok." Zee bergeming, ia yang letih sedang tidak mau menolak, tapi ia teringat sedang menggunakan rok.


"Terima kasih, Bang. Tapi a-ku____


Zee menatap roknya.


"Yaudah ayo naik! Nih pake lagi jaket gue!" Zee tersenyum senang Johan memahaminya. Zee kini meraih jaket Johan dan mendekat pada jok belakang itu.


Keduanya naik ke atas motor dan berhenti pada sebuah masjid seperti sebelumnya. Saat Zee mulai naik, Johan kembali mengarahkan kaca spionnya dan terus tersenyum melihat perilaku Zee.


Angin malam terasa menyamankan, kesejukannya membuat raga yang tercekam lelah merasa damai. Sapuan angin yang lembut bahkan membuat netra gadis yang berkali-kali membenahi posisi jaket yang menutupi bagian kaki atasnya itu seakan berat terbuka. Ya, Zee yang letih lagi-lagi merasa mengantuk. Terbentur berkali-kali kepalanya pada helm Johan. Membuat Johan menggelengkan kepala.


"Zee! Kita di jalan lo jangan tidur!"


"Ngantuk banget, Bang!" lirih Zee.


"Iya tapi lo jangan tidur, bahaya woi!"


Berbeda dengan perilaku Bias, Johan justru mempercepat laju motornya membuat sontak Zee kaget dan terpaksa membuka mata karena takut.


"Bang Jo parah banget sih, kalau aku jatuh gimana?" lontar Zee setelah matanya kini terbuka. Johan bukan merasa bersalah justru terus tertawa.


"Nyatanya lo nggak jatuh, kan? Lo juga sih, lo pikir jalanan kamar, bisa pules gitu tidur!"

__ADS_1


"Aku capek, Bang."


"Sehari lagi besok kita latihan Zee, harus semangat! Buktiin lo bisa diandalkan. Inget aja, kalo lo menang, Bias pasti bangga sama lo!"


Keduanya saling berteriak bersahutan, hingga tak menyadari motor yang dikemudikan Johan sudah masuk ke pemukiman tempat tinggal Zee.


"Udah Bang berhenti di sini aja!"


"Lo nggak mau apa sekali-kali ngajak gue mampir minum teh gitu?" Johan yang penasaran jati diri Zee sebenarnya mulai mencari celah.


"Maaf nggak ya, Bang. Lain x aja!"


"Oh, yaudah."


Seperti biasa saat Zee hendak turun Johan mengarahkan spionnya.


Sampai di kamar otak Zee tidak tenang, ia rindu pada sosok Bias yang seakan kini begitu jauh darinya, padahal hatinya sudah terpaut pada surat palsu Bias buatan Ayu dan Siska. Ia merasa segalanya benar, bahwa Bias menyukainya dan kini Bias seolah hilang dan melupakannya. Hati itu begitu sakit. Kini Zee mulai berasumsi sendiri dengan fikirnya.


Apa kak Bias marah karena aku tidak membalas surat itu dan kini kak Bias enggan bertemu denganku?


__________________


Pagi sudah tiba lagi, Zee berjalan dengan penuh semangat setelah semalam terpenjara dalam kerinduan yang membuat pilu. Semalam Zee sudah memutuskan untuk membuat keputusan besar dalam menyelesaikan masalah hatinya.


Zee yang yakin surat yang dibuat tertanda Bias benar-benar surat pernyataan rasa Bias berfikir merasa perlu membalas surat itu. Ia membenarkan ucapan dua sahabatnya bahwa ia sudah dewasa, ia berhak memiliki seseorang sebagai tempatnya berkeluh kesah dan berbagi. Pun malam itu juga Zee membuat balasan surat itu. Balasan surat yang kini telah tersimpan rapi dalam sebuah kotak di kamarnya. Surat itu memang rencananya baru akan diberikan pada Bias setelah perlombaan basket selesai.


Langkah kaki itu mulai memasuki gerbang sekolah, melewati ruang guru dan mulai menapaki koridor kelas, saat sebuah panggilan didengarnya.


"Zee!"


Merasa mengenal suara itu, Zee dengan cepat menoleh ke asal suara. Zee bergeming menatap wajah yang sangat ingin ia jumpai sebetulnya.


"Ka-k_____


Suara itu terdengar sangat lirih dan berat, tapi hati itu sangat bahagia. Zee mengatur agar sesaknya tak mempengaruhi kenormalannya.


"Lo kenapa? Baik kan?" tanya Bias dengan sangat lembut, Zee mengangguk.

__ADS_1


"Gue denger dari Johan lo masuk tim inti gantiin Mayang. Keren. Gue bangga!" ucap Bias sambil spontan menepuk bahu itu.


Bahagianya Zee sulit tergambar, Bias mengutarakan bangganya sudah membuatnya senang, ditambah sentuhan ikut menyertai membuat Zee lagi-lagi melambung. Ia merasa diperhatikan dan entah mengapa hati itu yakin Bias menyukainya. Kini kerinduan berhati lalu tak berjumpa seakan terbayar, Zee yang bahagia seakan ingin terus tersenyum saja sepertinya.


"Ka-kak, nan-ti latihan?" tanya itu terlontar. Bias mendengar tanya itu biasa saja, junior bertanya pada senior basketnya, tapi untuk Zee tanya itu adalah bentuk ia ingin dekat dengan Bias, Zee berharap Bias datang.


"Hmm___ sorry kayaknya nggak Zee, tapi besok gue akan datang dan duduk paling depan nonton pertandingan lo saat lomba! Semangat yaa ...!" Tadi menepuk-nepuk, kini jemari Bias kembali menuju bahu Zee, Bias mengusap sesaat bahu itu sebagai bentuk support dan menyatakan Bias benar-benar percaya pada Zee.


Zee bergeming, ia menatap terus wajah itu. Ada kekecewaan dirasa, tapi tak bisa pula Zee membatasi apa yang ingin dilakukan Bias.


"Kenapa?" tanya Bias sadar Zee memperhatikannya. Zee menggeleng.


"Latihan itu sama siapa aja semangatnya harus sama, gue lagi ada urusan gak bisa fokus latihan, yang pasti walau gue nggak dateng hati gue tetep buat semua tim dan gue selalu support kalian. Jaga kepercayaan gue, Zee!"


Zee yang menunduk menoleh menatap lagi wajah itu. Ia harus memahami Bias yang memang berhalangan hadir.


Semangat Zee! Lo denger kan tadi, kak Bias akan duduk paling depan ngasih semangat untuk lo pas lomba! Jangan egois, Zee!


Hmm___ tapi nanti latihan nggak ada kak Bias lagi, dong?


Semangat!


Eh, Kak Bias kan gak pernah lihat lo latihan, tunjukkan sama dia pas lomba nanti kemampuan lo sesungguhnya, buat dia tercengang pas lomba nanti*!"


Dua sisi dalam diri Zee saling berbisik. Zee tersenyum setelahnya.


Ya, aku harus semangat walau nggak ada kak Bias nanti siang!


..._______________________________________...


🥀Happy reading😘


🥀Makasih yang selalu rajin like dan komen serta ikhlas menyisihkan poinnya untuk ngasih gift Bubu❤️❤️


🥀Akan ada giveaway pertengahan Februari nanti untuk yang menjadi top fans Bubu di karya ini dan pemilik komen dengan like terbanyak. So, tunjukkan bentuk support terbaik kalian,😍😍


🥀Sayang kalian semua💋💋

__ADS_1


__ADS_2