
Selepas jogging, Risya kembali menceritakan perihal tetangga kossannya. Setelahnya Risya tampak asik membaca buku di ranjang, hingga tak terasa netra yang sejak tadi menahan kantuk itu akhirnya terpejam. Zee yang tak tega membiarkan Risya tertidur, sedang Zee melanjutkan kegiatannya di akhir pekan, mencuci pakaian.
Tiga jam berlalu, aktivitas Zee selesai. Zee bahkan sudah memasak dan membersihkan diri. Kini Zee tampak santai duduk bersandar di tepi ranjang sambil memeriksa ponsel, memastikan apakah ada pesan dari Bias atau tidak. Aktivitas pagi di akhir pekan memang selalu membuat Bias dan seluruh karyawan di Kafe sibuk, itu sebabnya Zee memilih menunggu Bias menghubungi lebih dulu setimbang ia akan mengganggu fokus suaminya itu.
Pukul 11:30 ponsel Zee mulai berdering. Wajah Zee seketika berbinar. Ia sudah tau bahkan tanpa melihat layar di ponselnya. Ya, siapa lagi kalau bukan Bias yang menelepon. Ini bahkan kali terlama jeda Bias menghubunginya, terakhir kali semalam dan baru siang itu Bias kembali menghubunginya.
"Assalamu'alaikum Istri," sapa Bias memberi senyum menawan di layar ponsel itu.
"Wa'alaikumsalam Suami," jawab balik Zee memberi senyum tak kalah semringah.
"Yang, aku matiin dulu ya panggilan kamu! Aku mau nyalain laptop!" Bias tersenyum. "Oke!"
Zee langsung mematikan panggilannya dan menyalakan laptop. Hingga beberapa saat laptop itu menyala, tak menunggu lama terdapat panggilan dari Bias ke WhatsApp Dekstop di laptop Zee. Zee langsung menekan tombol terima.
"Ha-i Istri," sapa Bias kembali.
"Hai juga, Suami," jawab Zee menyertakan senyum merona seperti sebelumnya.
"Nah kan lebih puas lihat wajah kamu full di layar begini, Yang," lontar Zee lagi membuat Bias tertawa.
"Kamu di mobil, Yang?" tanya Zee setelahnya melihat latar di sekitar Bias.
"Yup, aku otw Bekasi, Yang! Barusan habis dari Kafe Jakarta. Alhamdulillah rame banget. Lagi ada acara di Kampus sebelah dan mereka pada sarapan di Kafe kita tadi."
"Mereka sarapan steak?" tanya Zee memastikan.
"Yup, kebanyakan mereka memesan menu baru, Korean Barbeque Steak with rice bowl."
"Oh iya, itu ada nasinya ya, Yang. Yang dagingnya tetap di panggang dengan irisan kecil dan dimasak pakai banyak rempah juga lada hitam, kan?" ucap Zee. Sesaat Zee ingat ada menu baru di Kafe mereka yang memakai nasi sebagai pelengkap, sesuai kebutuhan perut orang Indonesia.
"Yup Sayang, kamu pinter."
"Ahh Yang, aku jadi laper kan kamu ngomongin steak!" Kini Zee merengek dengan raut manja.
"Emang kamu belum makan?"
"Udah sih, tapi tiba-tiba mau steak," ucap Zee lagi.
"Huu Sayang ... ma-af! Delivery order aja, ya! Di Jogya juga udah banyak kan penjual steak?"
"Belum banyak sih, tapi ada. Masalahnya rasanya nggak ada yang seenak punya Kafe kita, Yang." lirih Zee. Bias tampak terus tersenyum melihat wajah manja Zee.
__ADS_1
"Yaudah nanti aku buka di sana deh, biar kamu gampang kalau lagi pengen steak," ucap Bias.
"Serius?" Wajah Zee bertambah semringah. Bias seketika tertawa.
"Sayang, kamu kira buka Kafe seperti buka warung kelontong. Banyak yang harus dipikirin dong, Yang! Maaf, aku cuma bercanda tadi." Sesaat Zee kecewa, ia berpikir Bias akan benar-benar merealisasikan ucapannya tapi nyatanya Bias hanya bercanda.
"Aku pikir beneran," lirih kata itu terucap. Zee tampak mengerucutkan bibirnya.
"Sementara doain aku dulu ya, Yang!" Zee mengangguk menanggapi ucapan Bias. Hingga beberapa saat Bias bicara lagi. "Yang, sini deh mendekat!" Zee sudah hapal ucapan ini. Ia mendekatkan wajahnya.
"Muachhh. Sekarang bibir kamu!" Zee mendekatkan kini bibirnya. "Muach Muach, Sayang!" Bias berlaga seperti orang yang mencium.
"Ah Yangg ... gak berasa!"
"Yang berasanya nanti, yaaa," ucap Bias. Zee mengangguk.
"Kamu kangen banget, ya?" tanya Bias menatap lekat wajah Zee.
"Hu um," decak Zee sambil mengangguk.
"Aku juga," lirih Bias
"Kamu ke-sini dong, Yang!" Bias terdiam.
"Oh ya Sayang, kamu tadi jadi jogging?"
"Jadi."
"Sama Risya?" Zee mengangguk. Ia masih menatap wajah tampan Bias di layar saat tiba-tiba suara rintik air terdengar.
"Duh Yang, di luar hujan, sebentar aku angkat jemuran dulu!" Seperti Biasa Zee langsung menghilang saja membiarkan panggilan itu tetap berlangsung.
"Yang ... Sa-yang ...!" Bias tau Zee sedang di balkon, tapi ia senang menggoda istrinya, berkali-kali ia memanggil Zee.
You know I can't smile without you. I can't smile without you. I can't laugh and I can't sing. I'm finding it hard to do anything.
You see I feel sad when you're sad. I feel glad when you're glad. If you only knew what I'm going through. I just can't smile ... without you.
Di balkon Zee terus tersenyum mendengar Bias sedang bernyanyi sebuah lagu lawas milik Barry Mannilow dengan sangat merdunya. Lelakinya itu tampak sedang meluapkan rasanya melalui lagu yang ia nyanyikan.
Zee kembali dengan membawa keranjang pakaian. Wajah itu terlihat begitu semringah. Ia meletakkan keranjang ke tepi dan kembali duduk di ranjang. Zee mengangkat laptop kembali ke pangkuannya dan seketika itu pula mata Bias menyipit. Bias memastikan pemandangan yang ditangkapnya beberapa detik lalu. Sebuah kaki memang tertangkap netra Bias dan Zee tidak menyadarinya.
__ADS_1
"Sayang, ayo nyanyi lagi, kenapa berhenti aku dateng!" rengek Zee tak menyadari yang terjadi.
"Yang, jawab aku! Kamu sama siapa di kamar sekarang?" lugas Bias dengan wajah serius. Hati itu seketika dipenuhi prasangka. Bias mengira kaki seorang lelaki lah yang dilihatnya.
Seketika Zee melirik Risya.
Apa kak Bias melihat ada Risya?
Belum lagi Zee menjawab, Bias sudah bertanya lagi. "Yang, jawab! Kenapa diam! Aku lihat ada kaki tadi waktu kamu ngangkat laptop. Itu kaki siapa, Yang!"
Setelah mendengar penjelasan Bias, Zee merasa tenang. Ternyata benar prasangkanya. Kini ia tahu bahwa Bias tengah salah paham. "Kamu tuh Yang, bikin kaget aja! Oke sorry aku lupa cerita, ada Risya memang saat ini di kamar," jawab Zee.
"Oh___
"Eh tunggu! Ja-di dari tadi kita ngobrol ada Risya? Dia denger semua dong?" Bias kembali membulatkan matanya.
"Yang, Risya lagi tidur kok, aman!" ucap Zee. Bias bergeming. Menurut Zee memang semua tak jadi masalah, tapi tidak dengan Bias. Bias memiliki cara berpikir sendiri.
"Oh ya, Yang! Berhubung lagi bahas Risya, ada yang mau aku omongin sama kamu!" Zee berucap lagi. Ia merasa ini adalah waktu yang tepat membahas Risya.
"Kenapa dia?" Bias menepikan mobilnya ke tepi. Moodnya seketika tidak baik.
"Kamu tau nggak sih, Yang. Risya itu ngekos di tempat yang laki dan perempuan berbaur, berbaur maksudnya dalam tempat kos itu isinya ada penghuni laki-laki dan ada juga perempuan."
"Hem, terus?"
"Tetangga kontrakan Risya itu kan lelaki, Yang. Dia itu kayak gangguin Risya gitu. Semalem aja dia maksa main dan ngajak ngobrol Risya sampe tengah malem gak pulang-pulang. Padahal Risya kan juga butuh istirahat. Tadi waktu kita jogging juga tiba-tiba tetangga kossan Risya nyamperin dan gangguin Risya lagi. Terus____
"Maaf, Yang, kalau inti dari semua cerita kamu mau ajak Risya tinggal bareng di kossan kamu aku nggak setuju!" sela Bias dengan cepat. Ya, belum lagi Zee selesai bercerita, Bias sudah bisa menebak isi hati istrinya yang baik itu.
"Yang, kamu belum denger cerita aku sampai selesai lho!"
"Aku nggak mau denger kamu! Kamu yang harus denger aku! Denger ya, Yang! Kamar ini punya kita! Raga kita udah berjauhan! Satu-satunya yang bisa bikin kita deket cuma media! Bisanya aku meluapkan rindu aku ya dengan nelfon kamu, lihat wajah kamu, lihat aktivitas kamu, saling mengungkapkan sayang, bernyanyi atau melakukan apa aja yang cuma kita yang tahu! Kamu sama aku! Privasi kita! Dengan kamu membagi kamar kamu sama teman kamu, itu artinya ruang bersama kita terbagi! Dan aku gak mau ya membagi itu semua!" Zee bergeming.
"Kamu ngerti ucapan aku kan, Istri?"
..._________________________________________...
🥀Happy reading😘😘
🥀Visual Risya❤️❤️
__ADS_1