ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
CURHAT


__ADS_3

Mentari merangkak naik ke angkasa, siswa-siswi tampak gaduh sibuk dengan aktivitasnya mengisi waktu sebelum akhirnya bel berbunyi dan kegiatan belajar di mulai.


Gadis berkulit legam baru saja tiba, ia masuk ke dalam kelas dengan wajah yang terus merona. Dua gadis lain yang sudah tiba lebih dulu langsung menghampiri. Keduanya yang heran mulai melontar tanya pada Zee, sang gadis berkulit hitam.


"Zee, lo kemarin jadi latihan basket?" tanya Siska, gadis bertubuh tinggi dengan wajah yang lumayan cantik.


"Jadi," jawab Zee.


"Trus gimana pas latihan? Ada kak Bias gak? Wajah lo kok kayak seneng banget gitu?"


"Duh, pakai ditanya lagi, Ay. Terang lah Zee seneng, kan di ekskul basket ada gebetan ganteng, kak Bi-as!" sela Siska membuat wajah Zee bersemu.


"Huss ... pelanin suara kalian! Aku nggak mau sekelas ini heboh!"


"Tuh kan, pasti ada yang terjadi deh kemarin. Ayo ceritain ke kita-kita, Zee!"


"Iya, pokoknya lo harus cerita!" Ayu dan Siska tampak saling bersahutan mendesak Zee.


"Hmm, gimana ya ... nggak ah, aku nggak mau cerita! Raha-sia!"


"Ihh, kok gitu sih? Kita kan temen." Bibir Ayu sudah memberengut saja. Siska menggeser kursi lebih dekat ke arah Zee.


"Zee, ayo dong cerita. Kita akan juga pengen denger cerita bahagia lo, kita pasti ikut seneng juga," imbuh Siska lagi berusaha merayu Zee.


Zee tersenyum, gadis belia yang sedang bahagia itu memang paling tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari dua orang sahabatnya. Ya, Zee dengan kepolosannya justru sejak pertama melihat kedua sahabatnya di kelas, sudah tak sabar menceritakan yang ia rasa. Ia hanya berkilah menggoda keduanya saja tadi.


Pun Zee akhirnya mulai menceritakan yang terjadi kemarin pada Ayu dan Siska, dimulai dari permintaan Bias padanya untuk bergabung dalam tim basket putri di perlombaan mewakili sekolah, hingga berbagai interaksi antara dirinya dan Bias semua diceritakan tak ada yang terlewat. Zee sangat tidak menyangka dengan kedekatan dirinya dan Bias, ia sangat bahagia.


Ayu dan Siska adalah dua gadis yang awalnya berteman untuk mendapat manfaat dari Zee, namun karena kebaikan hati Zee keduanya luluh juga. Kini Ayu dan Siska benar-benar ingin menjadi teman yang baik untuk Zee. Keduanya tampak bahagia mendengar setiap kata dari bibir Zee. Mereka yang sebelumnya sering menggoda Zee tentang Bias, kini seolah setiap candaan itu menjadi nyata. Ya, keduanya senang Zee dan Bias semakin sering berinteraksi.


"Berarti semalem lo dianter pulang sama kak Bias?" tanya Ayu dengan antusias. Zee mengangguk membuat kedua gadis kian bahagia tak menyangka.


"Lo pegangan badan kak Bias gak waktu di bonceng?" tanya Siska antusias hingga tak sadar suaranya cukup nyaring.


"Huss ... please pelanin suara kamu, Sis! Aku nggak pegangan, nggak berani aku."

__ADS_1


"Ya ampun, Zee. Orang pegangan di motor itu biasa kali, kita tuh udah dewasa," lontar Siska lagi. Zee menggeleng.


"Lo kan bisa bilang takut jatuh, Zee! Secara motor kak Bias kan tinggi banget." Siska sangat antusias, sebaliknya Ayu masih menyimak.


"Tapi Zee bener Sis, ini kan pertama kalinya Zee dibonceng kak Bias, masa udah pegang-pegang, yang ada kak Bias illfeel!" Zee mengangguk.


"Hmm ... iya juga sih, eh tapi perasaan lo gimana Zee waktu dibonceng doi?"


"Deg-degan. Seneng banget aku," jawab Zee sambil berbisik. Kedua sahabat ikut tersenyum-senyum.


"Eh, tau nggak. Semalem tiba-tiba aku inget surat yang dikasih kak Bias. Apa kak Bias sebenernya memang suka aku, ya?"


Kedua sahabat saling menatap, ada rasa takut di hati keduanya jika Zee tau jika surat itu adalah ulah kejahilan mereka, keduanya kini memilih diam tak merespon ucapan Zee mengenai surat itu.


"Eh, kalian kok tumben jadi diem. Kak Bias itu kemarin care banget sama aku, dia baik dan sabar ngajarin aku, dia juga gak malu boncengan motor sama aku. Nggak tahu kenapa aku kayaknya jadi pengen bales surat kak Bias deh______


"Jangan Zee!" sela keduanya bersamaan.


_________________


"Semalam pas aku telfon kamu udah tidur, Yang?"


"Iya, aku lagi tidur cepet."


"Padahal aku lagi pengen banget cerita!"


"Tentang Papa kamu?" Bias mengangguk.


"Kenapa lagi memang papa kamu?" Nasya bertanya dengan malas sambil menyeruput teh hangat di hadapannya.


"Papa lagi-lagi membujuk mama pakai materi. Jelas-jelas papa salah, dia pergi nggak ada kabar selama satu minggu dan kembali dengan santai seolah nggak berbuat salah. Emang sih aku cek ke kantor katanya papa lagi ngurusin bisnis restorannya di Turki, tapi papa matiin kontaknya dari kami! Gimana aku nggak curiga, dia Seolah nggak mau diganggu dan tiba-tiba pulang bawa banyak hadiah untuk kami."


"Wah asik dong banyak hadiah. Kamu dibeliin apa aja sama papa kamu?"


"Kok kamu malah bahas hadiah sih, Yang? Aku itu lagi bahas perilaku papa!" Bias menatap lekat Nasya.

__ADS_1


"Eh sorry sorry ... iya emang kelewatan banget papa kamu, Yang. Terus reaksi mama kamu gimana? Mama nanya kemana aja papa kamu pergi, nggak?"


"Boro-boro, mama hanya sibuk sama perhiasan-perhiasan yang papa bawa untuk dia. Giliran aku tanya, mama malah membela papa."


"Udah sih, sabar aja, Yang! Yang penting mama kamu happy aja, kan?"


Bias bergeming. Sejujurnya ia kurang setuju dengan pendapat Nasya, tapi ia menghargai Nasya yang mau mendengar cerita tentang keluarganya, pun Bias akhirnya mengangguk dan tersenyum ke arah Nasya.


"Thanks ya,Yang ... kamu udah mau dengerin cerita tentang keluarga aku." Nasya tersenyum menarik sebelah sudut bibirnya.


"Sambil naik, yuk, Yang! Bentar lagi bel," ajak Nasya. Bias mengangguk.


"Oh iya, Yang. Ajakan shopping kamu nanti siang kita undur besok aja, ya! In Syaa Allah besok aku bisa anter kamu."


"Yakin? Emang kamu nggak latihan?"


"Besok aku izin aja sama bang Johan. Aku udah sering ngecewain kamu, Yang. Maaf, aku janji besok kita jalan."


"Oke, aku pegang ucapan kamu kali ini."


"Thanks pengertiannya, ya. Berarti kita nggak jadi putus kan, Yang?" lirih Bias dengan tatapan fokus ke depan dan berjalan biasa saja tak ingin menjadi perhatian siswa lain.


"Hmm ... oke." Wajah Bias langsung berbinar mendengar ujaran Nasya.


"Tapi kamu juga harus jaga perasaan aku, Yang!" tambah Nasya lagi. Bias mengangguk.


Sampai di lantai atas, Bias menyapu bahu Nasya sesaat baru keduanya berpencar, Bias ke arah kanan, sedang Nasya menuju kelasnya ke arah kiri. Di muka kelas Bias berhenti memastikan Nasya masuk ke kelasnya dahulu baru ia masuk pula ke kelasnya. Tak lama kemudian bel masuk berbunyi.


Bii, hari ini tentu kamu boleh latihan, toh aku juga udah ada janji sama kak Reno ....


...__________________________________________...


🥀Happy reading😘


🥀Sambil nunggu up, mampir ke karya sahabat literasi Bubu ini yuk😍

__ADS_1



__ADS_2