ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
TETAP MENUNGGU BEASISWA


__ADS_3

"Lho kok Mama belum mulai makan?" Bias dan Zee yang baru tiba kaget melihat makanan di meja belum disentuh dan aktivitas makan nyatanya belum dimulai.


"Kami kan nunggu kalian. Udah ayo duduk!" Zee dengan cekatan membantu Bias duduk, di sebelah Zee Bibik sudah standby seperti biasa siap meraih tongkat Bias. Bibik meletakkan tongkat majikannya itu di tepi.


Zee mengambilkan nasi, lauk dan sayur ke piring Bias, baru setelahnya ia mengambil menu ke piringnya. Dona dan Bias sudah mulai menyantap hidangan, sedang Dara masih sibuk dengan ponselnya. Zee berkali memastikan kancing kemeja bagian atasnya tertutup, ia khawatir Dona melihat tanda kenakalan anaknya belum lama tadi. Ia pun mulai makan.


"Ra, taruh ponselmu, Sayang! Ayo makan dulu!"


"Iya, Ma!"


"Sudah siang kenapa baru mandi sih, Bi?" ucap Dona sambil melirik rambut Bias dan Zee yang sama-sama basah. Zee tak berani menatap Dona. Ia malu, bahkan Bias sedang sakit. mengapa ia tidak bisa menolak keinginan suaminya itu tadi. Zee takut Dona berpikir ia tidak mengurus Bias dengan baik, justru sibuk bermain-main. Padahal Zee sendiri sebetulnya takut terjadi apa-apa pada kaki Bias setelah aktivitas keduanya.


"Tadi Bias sibuk mengecek laporan Kafe sampai lupa waktu, Ma!" jawab Bias dengan santainya.


Nakal ... kamu nakal banget, Yang! Kalau Mama marah sama aku dan kondisi kaki kamu memburuk bagaimana? Kamu juga kok bisa santai begitu!


Bias menarik alisnya bingung mengapa Zee terus menatap ke arahnya. Bias yang tidak paham Zee takut terjadi apa-apa padanya dengan santainya melanjutkan makan.


"Zii ... Ziva!"


"Eh iya, Ma?" Zee dengan cepat meletakkan tangan ke atas kemejanya. Khawatir ada kancing terbuka dan saat ini Dona akan membahas itu.


"Kamu kenapa megangin baju kayak begitu? Mama cuma mau bilang, kalau di meja makan jangan banyak bengong! Makan yang banyak, Sayang!"


"Hee, i-ya, Ma." Zee menghembuskan nafas tenang nyatanya Dona tidak membahas itu.


Aktivitas makan berlangsung tenang setelahnya. Dara yang memiliki banyak tugas langsung menuju kamar. Dona mengajak Bias dan Zee berbincang di ruang keluarga.


"Bagaimana kaki kamu, Bii? Apa lebih baik setelah terapi kemarin?"

__ADS_1


"Alhamdulillah lebih baik, Ma. Therapisnya selain melatih berjalan juga memberi support internal bagaimana kita memberi keyakinan dalam otak bahwa kita pasti sembuh, segala penyakit selalu ada jalan penyembuhan dan lebih bersyukur dalam menjalani hari," terang Bias. Dona mengerutkan dahi.


"Sama dong kayak yang Mama ucapkan di Rumah Sakit?"


"Eh, iya, Ma. Kurang lebih begitu. Mama keren, udah cocok jadi pakar psikologi." Dona menggeleng-geleng.


"Tapi Mama seneng kamu lebih terlihat happy, bersemangat dan gak sering ngeluh. Mama yakin semua juga berkata support Ziva!" Dona menatap Zee setelahnya.


"Terima kasih Sayang, sudah sabar merawat Bias." Zee mengangguk sambil tersenyum. Lagi-lagi Zee memastikan kancing kemeja tetap pada tempatnya. Walaupun Bias dan Zee tinggal dengan orang tua tapi Bias meminta Zee yang merawatnya, ia tidak ingin mamanya ikut sibuk untuknya.


"Oh ya, jadi Ziva mulai kapan kuliah? Masih semangat kuliah, 'kan?"


"Ma-sih, Tante."


"Duhh Ziva, kok Mama lupa terus sih mau ngomongin ini. Kamu tuh berhenti panggil Mama dengan sebutan Tante dong. Sudah Mama bilang kan, orang tua Bias berarti orang tua Ziva juga. Semua yang ada di rumah ini juga milik Ziva. Jangan sungkan dan belajar memanggil dengan sebutan Mama mulai saat ini, ya!" ucap Dona sembari tersenyum hangat.


"Oh ya, jadi bagaimana tadi mengenai kuliah Ziva?" Dona bertanya lagi.


"Tadi di kamar Bias dan Zee juga baru membahas ini, Ma. Sementara Zee masih menunggu pengajuan beasiswanya, tapi tadi Bias mengusulkan bagaimana jika sampai akhir bulan ini belum ada kabar, Bias akan mendaftarkan Zee sendiri melalui jalur umum," terang Bias.


"Bagus itu! Mama juga mau kok biayain Ziva kuliah. Lagipula beasiswa itu untuk kalangan tidak mampu. Kalau kamu merasa mampu ya pakai umum saja, mungkin di luaran ada banyak yang lebih pantas mendapat beasiswa itu," utar Mama. Bias mengangguk setuju, sebaliknya Zee tampak terdiam.


"Ada apa, Sayang? Kamu diem aja?"Bias menggenggam jemari Zee.


"Maaf Tante, maksud Zee ... Mama, terima kasih atas kebaikan Mama dan kamu Yang, tapi aku tetap masih mau nunggu beasiswa. Aku nggak mau nyusahin kalian," ucap Zee sungguh-sungguh. Dona mengarahkan pandangnya pada Zee.


"Ziva, kamu memang anak baik, baik banget malah. Gak mau nyusahin Bias atau Mama. Tapi supaya kamu tau, dalam rumah tangga sebaiknya buang kata dan pikiran kalau kita menyusahkan! Justru Mama pernah dengar ceramah ustad, semakin banyak istri menyusahkan suami itu semakin bagus!" Bias yang tidak mengerti maksud ucapan Dona mengerutkan dahi.


"Kata pak ustad, semakin istri banyak meminta maka ladang kebaikan dan pahala suami juga semakin banyak. Semakin kebutuhan istri terpenuhi dan ia merasa bahagia, maka rezeki suami akan semakin mengalir deras. Begitu yang Mama dengar!" Bias menatap Zee dan mengangguk, sebaliknya Zee hanya bergeming.

__ADS_1


"Seperti halnya saat Bias sakit kayak sekarang, semakin Ziva sabar dan ikhlas, ladang pahala Ziva juga semakin banyak. Ziva juga gak mau kan kalau Bias sungkan dan merasa telah menyusahkan kamu?" Zee menggeleng. "Nah seperti itu, jadi buang kata aku menyusahkan kamu. Oke!" Zee masih terdiam.


"Ma ... Yang ... bukan aku nolak. Ta-pi selama aku bisa dapetin beasiswa aku tetap mau ambil i-tu. Tenang, aku juga mau banyakin pahala kamu. Ta-pi, aku mau jatah aku kita sumbangan aja sama yang membutuhkan, seperti kita keluarkan untuk sodaqoh dan berbagi. Itu ju-ga bisa melancarkan rezeki kan, Ma? Maaf kalau Zee salah." Zee menatap netra Bias dan dona dengan pandangan tulus. Zee sungguh-sungguh tidak ingin menyusahkan Bias, terlebih beberapa bulan ini Bias selalu rutin memberi uang pada keluarganya juga.


"Hmm, okelah semua terserah kalian. Selama kalian ikhlas dan sama-sama bahagia Mama pribadi tidak ada masalah. Intinya apapun sebaiknya dibicarakan dengan kepala dingin. Mama percaya baik kamu maupun Ziva anak-anak yang baik." Dona tersenyum setelah menyelesaikan kalimatnya. Bias dan Zee ikut tersenyum pula.


"Oh ya Zee, nanti sore ikut Mama, yuk!"


"Ke-mana, Ma?"


"Mama ada arisan sama ibu-ibu komplek. Sekalian Mama mau ngenalin kamu sebagai istri Bias, biar gak ada perbincangan di luar!"


"I-ya Ma.Tapi kak Bias____


"Bias biar saja di rumah, udah pinter tuh dia pakai tongkat! Ada Bibik dan Satyo juga. Gak jauh kok, nanti Mama nyetir sendiri aja!"


"Kamu gpp aku tinggal nanti sore kan, Yang?"


"Aduh ngapain juga tuh anak ditanya! Dia aja udah bisa gangguin kamu, berarti udah sehat, kan?" Mama tampak berlalu meninggalkan kedua pasangan muda yang saling bertatap.


Tak berselang lama Dona masuk lagi ke ruang keluarga dengan sebuah benda di tangan. "Ini bawa ke kamar! Pakai buat ngeringin rambut kamu sama Bias! Lain kali jangan ke luar kamar saat rambut masih basah. Gak bagus dilihat Bibik!" Kedua insan tersenyum getir mendengar ucapan Dona yang ternyata bisa menebak aktivitas yang baru saja keduanya lakukan.


"Oh ya satu lagi!" Bias dan Zee seketika menatap Dona serius.


"Kamu Bii! Mungkin Ziva gak bisa nolak kamu! Mama juga gak bisa ngelarang kamu! Tapi kamu harus pastikan kondisi kaki kamu itu nggak bertambah buruk setelah bermain-main!"


..._________________________________________...


🥀Happy reading😘

__ADS_1


__ADS_2