ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
REKAM JEJAK


__ADS_3

"Yang ... yakin mau itu lagi?" tanya Bias menghadapkan wajahnya pada Zee yang tampak begitu sungguh-sungguh meminta sesuatu padanya pagi itu. Terlihat Zee mengangguk. Dua pasang mata itu masih saling menatap, cinta membingkai tatapan keduanya. Rasa cinta yang berselimut sayang, pengorbanan, keikhlasan, penyerahan hati dan jiwa sepenuhnya. Cinta itu telah berlabuh sempurna, tak ingin hilang dan ingin selalu menjalani segalanya bersama, mengisi dan memberi bahagia satu sama lain.


"Yang ... ayo mulai!" lirih Zee lagi melihat Bias hanya tertegun menatapnya.


Seketika Zee menahan wajah itu, wajah tampan yang selalu mewarnai hari-harinya tak kenal lelah. Perlahan Zee memiringkan wajah dan mendekatkan bibir keduanya. Dengan aktif Zee tampak mendominasi permainan bibir itu, hingga Zee merasa Bias tak meresponnya ia melepaskan bibirnya.


"Balas aku, Yang! Please!" lirih Zee dengan wajah mengiba.


"Yang ... nggak."


"Yang ... Ayo! Malam ini aku mau melayani kamu! Sampai kamu puas!"


"Jangan bicara begitu! Kamu berbadan dua! Sejak kemarin kamu sudah melayani aku, sudah cukup. Kamu harus banyak istirahat, Sayang."


"Besok setelah melahirkan aku nggak akan bisa melayani kamu lagi, Yang! Ayo, please!"


Bias menarik napas dan membuangnya. "Kenapa kamu kekeh begini sih? Kepala dedek sudah masuk ke pinggul loh. Aku takut melukai dia!"


"Nggak! Kata dokter itu malah bisa gampangin jalannya saat mau ke luar nanti!" kekeh Zee lagi.


"Tapi sudah seminggu ini kita ngelakuin itu. Aku sudah puas! Sudah cukup kok stoknya buat bekal puasa 40 hari nanti!" ucap Bias.


"Tapi aku mau!"


"Kita tidur aja, ya!" ucap Bias terus mengusap-usap kepala Zee. Zee mengangkat wajah menatap netra Bias sesaat dan segera membalik badannya memunggungi Bias. Bias tahu Zee marah, tapi ia terpaksa membiarkannya, Bias takut Zee sakit. Kini Bias memeluk Zee dan menempelkan dagunya di bahu Zee. Ia mulai bernyanyi sembari sesekali mengecup bahu terbuka dengan satu tali menggantung itu. Bias sangat berharap Zee lekas terlelap.


Sebetulnya secara manusiawi Bias tentu merasa senang hasratnya terpenuhi, tapi entah mengapa Bias merasa semua berlebihan. Seminggu ini Zee kerap mengajaknya berhubungan intim. Bahkan mereka melakukan tidak hanya satu atau dua jam, tenaga Zee entah mengapa belakangan ini sangat berbeda, ia kuat dan tidak kenal lelah. Zee bisa melayaninya hingga menjelang pagi. Hal yang bahkan Bias sendiri hampir merasa kepayahan menghadapinya.


Akan tetapi, untuk malam ini Bias terpaksa menolak ingin Zee, ia tak ingin Zee lelah dan sakit apalagi tinggal menghitung hari sesuai prediksi Zee akan melahirkan. Bias kini masih terus bernyanyi.


Wise men say - Only fools rush in - But I can't help falling in love with you


Shall I stay? - Would it be a sin - If I can't help falling in love with you?


Like a river flows - Surely to the sea - Darling, so it goes - Some things are meant to be


Take my hand - Take my whole life too - For I can't help falling in love with you


Bias menyanyikan lagu yang dipopulerkan oleh Elvis Presley itu dengan begitu lirih dan dalam. Hingga seluruh lirik selesai dinyanyikan ia mendongakkan kepalanya melihat wajah Zee dan ia tenang istrinya itu sudah terlelap.


____________________


"Yang ... bangun! Sudah jam 8!" panggil Zee pada Bias yang memeluk erat perutnya sejak selesai menjalankan ibadah subuh tadi. Kini Zee yang ingin bangun kesulitan mengangkat badan. Terlihat Bias kini tersenyum menatap wajah istrinya yang kini sudah menghadapnya. Ia senang Zee bukan tipikal orang yang senang lama-lama marah. Ia tidur dan saat bangun semua berjalan biasa seperti tak pernah ada masalah diantara keduanya.


"Mau kemana, Hem? Bukankah kemarin sudah izin cuti kuliah!" ucap Bias meletakkan jemari di dagu Zee dan memberi kecupan singkat di bibir tipis istrinya itu.


"Aku dan princess lapar, Yang! Ini mau bangun tapi ada tangan kamu susah" lirih Zee membuat Bias kaget. Ia Bias lupa istrinya itu belum sarapan.


Setelahnya keduanya menuju dapur. Bias dengan cekatan membuat nasi tim untuk Zee. Hari itu mbak yang biasanya membantu bersih-bersih rumah sekaligus membuat sarapan memang sedang libur, jadi Bias yang mengambil alih pekerjaan si mbak.


Bias yang melihat ada daging slice di kulkas segera mengiris bawah bombai dan bawang putih dan setelahnya langsung menumis daging itu dengan campuran saos tiram dan lada hitam. Di kompor berbeda Bias juga membuat kuah kaldu.


Kuah kaldu sudah matang dan harum. Sambil menunggu nasi tim yang masih dikukus, Bias yang tidak ingin Zee bosan mengajak Zee mandi dan berendam di bathtub beberapa saat. Keduanya menghabiskan pagi itu dengan saling bergantian menggosok tubuh dan bercanda, baru setelahnya keduanya sarapan.


"Hari ini aku akan di rumah nemenin kamu, Yang! Sekarang bilang, nanti siang mau makan apa? Aku akan masak untuk kamu," ucap Bias penuh semangat.

__ADS_1


"Aku mau nasi tim seperti ini lagi, enak banget, Yang!" ucap Zee yang sudah menghabiskan 2 porsi nasi tim dengan sangat lahap.



"Oke siap, pokoknya kamu harus bilang kalau ada yang kamu dan princess mau. Oke!" Zee mengangguk dengan cepat.


Zee melanjutkan makan, hingga tiba-tiba ia berucap lagi. "Yang, aku mau ke suatu tempat!"


"Mau ke mana?" tanya Bias meraih jemari Zee.


"SMA Duta Bangsa!"


"Se-kolah ki-ta?" tanya Bias memastikan dan Zee mengangguk.


"Hmm ... oke, semoga Mang Jaka ada di rumahnya, ya? Ini kan hari libur sekolah tutup. Nanti kita ke rumah Mang Jaka dulu minta kunci," terang Bias. Mang Jaka adalah petugas kebersihan sekolah, ia memegang kunci sebab diamanahi menjaga sekolah.


"Kamu tau rumah mang Jaka?"


"Tau. Dia tinggal gak jauh dari sekolah." Zee mengangguk sembari mengunyah makanan di mulut.


___________________


Pukul 10 pagi dua insan sudah sampai di pelataran sekolah yang penuh kenangan keduanya. Berbekal kunci yang diperoleh Bias dari mang Jaka, keduanya bisa membuka gerbang dan kini mulai memasuki gedung sekolah.


"Yang, Yang ... jalannya jangan cepat-cepat!" utar Bias yang melihat Zee langsung melangkah cepat seperti berlari saja padahal kondisi perutnya sudah sangat besar.


"Eh iya maaf, Yang." Kini Zee menunggu Bias yang ia tinggal sebelumnya. Keduanya beriringan kini masuk ke dalam.


Baru naik ke undakan tangga menuju arah dalam, langsung terlihat di sana piala yang berjejer dalam kotak kaca di sisi kiri dan kanan koridor di sisi ruang guru.



"Harusnya ada, kita cari, yuk! Hmm ... bagaimana kalau kita buat permainan, yang paling cepat menemukan akan mendapat ciuman!" ucap Bias dan Zee tersenyum. Ia mendekat ke arah Bias. "Siapa takut! Yakin hanya ciuman!" Bisik Zee.


Bias meraih pinggul Zee yang lebih lebar dari sebelum mengandung. "Iya cium saja, yang lainnya nanti setelah princess lahir!" bisik Bias.


"Tapi kalau aku yang menang aku nggak mau sekedar kiss, aku akan melayani kamu!" Zee mengedipkan sebelah matanya menggoda Bias. Bias menggelengkan kepala merasa istrinya itu aneh-aneh saja. Padahal Bias sangat khawatir dengan keadaan Zee serta putri dalam kandungannya, tapi Zee tampak santai.


Keduanya pun mulai menyisir piala satu-persatu dengan matanya. Hingga beberapa saat____


"Yeaa, aku menemukan, Sayang!" pekik Bias melihat dua piala kompetisi mapel, piala juara 1 matematika yang diperoleh Zee dan piala juara 1 bahasa Inggris yang diperoleh dirinya.


"Mana?" Zee mendekat dan melihat dua piala berjejer yang ditunjuk Bias.


"Bahkan piala kita seperti jodoh, diletakkan berjejer seolah saling menjaga!" ucap Bias, Zee melirik Bias dan tersenyum.


"Eh mau apa?" Bias bingung Zee seketika mendekatkan wajahnya.


"Kamu yang menang! Jadi kamu harus mendapat ciuman!"


"Eh, jangan di sini! Lihat itu jalan raya, nanti ada yang lihat! Di rumah saja, hem?" Bias menatap ke arah kanan 8 meter dari mereka berdiri terdapat gerbang yang membatasi jalan raya dan sekolah.


"Kalau jangan di sini, ayo di sana!" Seketika Zee menarik lengan Bias dan kini berdiri di depan ruang kepala sekolah.


"Mana kuncinya?"

__ADS_1


"Eh, buat apa?" Zee langsung meraih kunci dari tangan Bias dan mencoba membuka pintu ruangan itu. Di kunci ke sepuluh, pintu terbuka dan Zee tersenyum.


"Ayo masuk, Yang!"


"Yang, ta-pi___


Dengan cepat Zee mendorong tubuh tegap Bias hingga bersandar dinding. "Kamu harus balas aku!" ucap Zee sebelum akhirnya mulai memiringkan wajah dan memberi ciuman di pagi menjelang siang itu.


Bias lagi-lagi merasa Zee begitu menggebu. Zee bahkan meraih jemarinya dan mengarahkan jari itu ke kancing kemeja long tunik full kancing yang ia kenakan, Zee seolah mengarahkan Bias untuk membukanya. Jemari Zee juga sudah menyelusup ke dalam kaos yang Bias kenakan.


Bias tiba-tiba menarik wajahnya. "Sudah, Sayang! Cukup! Aku puas!"


"Yakin tidak mau lebih?" lirih Zee. Bias tersenyum getir. "Yakin. Eh yuk kita berkeliling lagi!" Bias kini yang menarik jemari Zee ke luar dari ruang yang mendadak panas beberapa waktu lalu itu.


"Ini kelas kamu, kan?" tanya Bias mengintip sebuah kelas dari jendela.


"Iya, aku duduk di sana sama Ayu, Siska di belakang kami." Bias mengangguk-angguk.


"Tau gak, Yang, dulu hari-hari kami nggak pernah ketinggalan ngomongin kamu," ucap Zee lagi.


"Wahh, jadi si anak pintar hari-harinya suka ngegosip, ya!" ucap Bias menarik hidung Zee gemas.


"Ahh sakit, Yang. Tapi yang kami bicarakan tentang kamu yang baik-baik kok!"


"Tetap saja namanya gosip, Sayang! Princess nanti jangan kayak mama, ya! Hobinya suka ngomongin papa!" Bias bicara mendekatkan wajah ke perut, Zee tersenyum.


"Eh Yang, inget gak ada kejadian apa di sini?" tanya Zee setelahnya saat keduanya berada di depan sebuah lapangan.


"Hmm ... ada apa ya?" Bias sebetulnya ingat tapi ia berpura lupa ingin melihat reaksi Zee.


"Kok kamu lupa sih, Yang! Ayo coba ingat-ingat lagi!" ucap Zee dengan bibir yang sudah keju ke depan, ia kesal.


"Bibir kamu jangan begitu. Aku gemes! Tadi aku bercanda. Tentu aku ingat, di sini tempat pertama aku ketemu kamu. Saat kamu yang masih hitam terkena lemparan bola voli dan aku ngajak kamu ke UKS," terang Bias.


"Ah, kamu, Yang ... Tapi seratus! Kamu betul. Makasih kamu masih inget, Yang!" Wajah Zee merona ternyata Bias masih ingat kejadian itu.


"Kamu tau, Yang ... saat itu aku tuh takut banget kamu akan macem-macem sama aku karena kamu terus tarik aku ke koridor yang jauh sana, mana saat itu sekolah sepi." Bias tertawa. "Benar kamu berpikir begitu?" Zee mengangguk.


"Iya, tapi ternyata kamu lagi jadi pahlawan aku! Kamu mau nolong aku! Dan kamu tau, Yang? Detik saat aku melihat wajah kamu adalah hal yang gak akan pernah aku lupa!" Zee menatap Bias seksama.


"Kenapa?" ucap Bias.


"Aku langsung terpukau. Apa itu namanya, love at first sight! Kamu ganteng banget, Yang!"


Bias tersenyum. "Kamu bisa aja!"


"Bener, Yang," kata Zee lagi.


"Terus pertemuan kedua kita di kelas aku, kamu masuk dan mempromosikan ekskul basket! Saat itu mata aku gak bisa berhenti melihat kamu. Jantung aku kayak mau copot, aku bilang dalam hati, aku akan ikut ekskul kamu!" Bias menatap intens wajah Zee, ia memberi kecupan di kening itu. "Terima Kasih," lirih Bias sembari tersenyum.


"Eh Yang, aku mau ke lapangan basket! Ayo kita ke sana!" ucap Zee. Bias mengangguk dan keduanya tampak berjalan menuju lapangan basket yang menyimpan banyak kenangan kini.


..._____________________________________...


🥀Happy reading😘😘

__ADS_1


__ADS_2