ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
HANYA BISA BERUSAHA


__ADS_3

"Ziva Sayang, tolong ambilkan buah di situ ya, Nak!"


Sang menantu menurut, ia segera mengambil apa yang dibutuhkan ibu mertuanya dan tak lama ia kembali dengan keranjang buah di tangan.


"Ayo-ayo ah, jangan ngobrol terus! Dimakan pencuci mulutnya!" utar Dona sang ibu mertua yang hari itu menjadi tuan rumah kepada para hadirin teman sejawatnya. Ya minggu itu memang jadwal arisan di rumah Dona.


"Sini duduk, Sayang!" ucap Dona setelahnya melihat Zee berdiri di sampingnya. Zee menurut.


"Duh mantumu makin cantik saja sih, Don," ucap salah satu ibu-ibu yang memicu tanggapan dari ibu-ibu lainnya.



"Iya tambah cantik, siapa namanya waktu itu?"


"Ziva," ucap Dona mantap sambil mengusap-usap bahu Zee, ia tentunya bangga memiliki menantu cantik.


"Ziva sama Bias tinggal di mana sih, Don?" tanya satu ibu-ibu lagi.


"Di daerah Bintaro," jawab Dona, Zee tersenyum sembari mengangguk mendengar jawaban Dona.


"Kenapa nggak bareng kamu tingalnya, biar rame!" utar satu ibu-ibu lagi.


"Eh gimana sih kamu, ya memang anak yang sudah berumah tangga ya lebih bagus mandiri jauh dari orang tua." Belum lagi di jawab Dona, ibu yang lainnya menimpali.


"Oh ya, bagaimana usaha Kafenya, Cantik?" tanya lagi salah satu ibu-ibu.


"Alhamdulillah lancar, Tante," jawab Zee.


"Bias sudah buka 4 cabang loh," tambah Dona menginformasikan hal membuatnya ia bangga.

__ADS_1


"Wah keren-keren. Aku acungi jempol Bias anakmu itu, Don! Jiwa usahanya pasti menurun dari Libra."


"Iya, dari Bias kecil memang kami terbiasa mengajaknya ke Restoran, nah mungkin sambil bermain ia diam-diam menyimak setiap yang dilakukan orang tuanya." Dona begitu bersemangat menceritakan Bias kecil yang pintar.


"Oh ya, selain membantu Bias, aktivitas Ziva apa?" tanya lagi Satu ibu-ibu.


"Aku kuliah, Tante," jawab Zee.


"Kuliah di mana?"


"Ambil jurusan apa?"


"Sudah semester berapa?"


Banyak lagi tanya yang di arahkan pada Zee setelahnya mengenai aktivitasnya yang sudah 6 bulan mengenyam pendidikan di bangku kuliah itu. Zee berusaha menjawabnya satu persatu tanya dengan tenang.


"Yahh, terus masalah momongan gimana kalau belajar terus," celetuk satu ibu bergaun merah.


"Satu tahun setengah lebih, lah," jawab Dona.


"Tanyaku gak dijawab, Don. Anak dan menantumu apa nggak memikirkan meramaikan rumah ini dengan anak-anak mereka apa? Itu termasuk sudah lama loh nikahnya," ucap ibu-ibu yang belum lama menyeletuk mengenai masalah momongan.


"Gpp juga kok Mbak, mereka ini toh masih muda. Ziva baru 21, Bias 23. Masih pada muda, biar mereka sukses dulu," jawab Dona membela anak-anaknya. Dona memang tidak tahu Zee dan Bias diam-diam memprogramkan memberinya cucu, namun memang keinginan mereka belum dikabulkan sang pencipta.


"Iya sih masih muda, tapi kalau kelamaan ditunda nanti malah kering loh rahim mantumu, saat mereka benar-benar ingin punya anak malah diledek pencipta dan dibuat lama!" celetuk lagi sang ibu yang tadi bertanya.


"Hei Tante-tante Cantik lagi bahas apa?" tanya Bias yang seketika datang dan ikut berbaur. Bias yang sedang duduk bersama beberapa anak teman mamanya melihat di kejauhan istrinya sedang disudutkan langsung mendekat.


Setelah Bias mencium tangan satu persatu wanita paruh baya dalam ruang itu, ia duduk dengan santainya di tepi sofa tepat di samping Zee duduk. Bias dengan santai meletakkan lengan di bahu Zee.

__ADS_1


"Tuh ada Biasnya, langsung aja tanya sama sang kepala keluarga!" ucap salah satu ibu menyindir temannya yang belum lama gencar menyudutkan Zee dan Dona.


"Eh tanya apa nih?" ucap Bias pura-pura tidak tahu.


"Itu Bi, emang kamu belum mau apa gendong anak? Kasihan loh mamamu kesepian," ucap sang wanita bergaun merah.


"Oh i-tu, mau dong Tante. Bias dan Zee juga sedang program kok. Tapi memang belum dikasih sama Pencipta. Kita makhluk cuma bisa ngikutin alur Pencipta yang penting sudah usaha," lugas Bias membuat Zee langsung menoleh. Sebelumnya keduanya memang ingin merahasiakan ini, tapi Bias yang melihat di mata orang Zee seolah ingin menunda tak ada pilihan membukanya.


"Oh, sudah program ya. Wahh bagus tuh. Tante doakan segera di jabah ya," ucap Tante berbaju merah setelahnya dengan malu. Rekan Dona yang lain bergantian ikut mendoakan Bias dan Zee pula akhirnya. Dona yang duduk di samping Zee tercekat, ada rasa bahagia di hatinya, ia masih menatap Bias dan Zee bergantian seolah memastikan semuanya. Bias pun mengangguk.


Acara arisan akhirnya selesai, Dona mendekati Bias dan Zee. Ia merasa ingin memastikan lagi semua, mendengar bahwa semuanya benar dan bukan ucapan bibir semata lantaran Bias sedang membela Zee.


"Benar kalian sudah program cucu untuk Mama?" tanya Dona seketika.


"Benar, Ma. Sejak 8 bulan lalu, tapi maaf sepertinya kami masih diminta sabar," ujar Bias membuat Dona seketika memeluk Zee. "Terima kasih, Sayang. Tidak apa-apa belum berhasil yang terpenting sudah berusaha. Nanti pasti dijabah Alloh di saat yang paling tepat, Mama yakin. Mama doakan segera! Pasti Ziva akan jadi mama juga!" Zee seketika menangis. Zee memang diam-diam mulai frustasi merasa semua salahnya, ia di awal yang tidak ingin memiliki anak dan kini Pencipta sedang membalas sifat egoisnya dulu.


"Hei jangan nangis. Ziva benar-benar ingin punya anak ya?" Zee mengangguk cepat. "Ahh Sayang manisnya. In Syaa Allah, Ziva dengar Mama. Ziva harus benar-benar yakin dan tetap positif sama Allah ya! Jangan berburuk sangka!" Air mata Zee semakin deras, ia merasa Dona memahaminya. Hatinya pun kini lebih tenang setelah keduanya jujur.


Setelahnya keduanya pun undur diri. Dalam perjalanan pulang Zee meminta Bias untuk mampir dulu ke rumah orang tuanya, rumah Farah dan Farid, Zee yang merasa tenang mendapat doa dari Dona merasa perlu mendapat doa dari Farah dan Farid pula. Ia tidak ingin menyembunyikannya lagi. Ia merasa kejujuran itu menenangkan.


____________________


"Ahhhh. Terima kasih ... terima kasih Sayang!" ucap Bias setelah mengakhiri penyatuan mereka pagi itu diiringi berbagai doa dalam hatinya. Zee yang lelah langsung memiringkan tubuh dan terlelap.


Bias masih menatap wajah Zee sang istri yang tampak polos setelah ia buat lelah pagi itu padahal ia tahu betul istrinya sampai tengah malam baru selesai mengerjakan tugas dan di jam 9 nanti sudah harus berangkat kuliah, tapi Zee tak pernah menolak inginnya.


Bias memeluk lagi istrinya itu, membayangkan berbagai kejadian yang mempertemukan keduanya pertama kali di sekolah, saat si gadis hitam terkena bola basket di wajahnya. Tentang hatinya yang tiba-tiba tergerak menolong, menolong si gadis hitam yang sama sekali tidak cantik dan menarik. Hamparan kejadian berlanjut saat keduanya entah mengapa bisa dipertemukan lagi menjadi perwakilan lomba di sekolah, tentang ia yang dengan yakin Zee si gadis hitam akan bisa membantunya mengharumkan nama tim basket putri, hatinya yang kembali tergerak untuk mau melatihnya, ia yang pernah menolong Zee saat ada noda datang bulan pada celana Zee, mengantar Zee pulang, tentang banyaknya foto Zee di galerinya dan yang utama adalah bagaimana dua sahabat Zee bisa terpikir membuat surat cinta palsu tertanda dirinya untuk Zee. Bias terus tertawa saat ini sambil tak henti menciumi bahu itu.


Hah, takdir. Mengapa aku baru sadar bahwa sejak awal tanpa disadari kami telah berjodoh. Juga Zee yang entah bagaimana tiba-tiba menjadi karyawan di Kafe mama dan kami bertemu lagi. Terima kasih ya Robb. Terima kasih sudah dekatkan aku dengan seorang wanita baik. Tolong ya Rob, kabulkan setiap doa istriku ini. Beri kami penyejuk hati yang mendiami rahimnya," lirih Bias mengusap perut Zee. Ia tahu Zee sedih belum juga hamil, tapi Bias juga bukan Pencipta, ia hanya Bisa menguatkan Zee dan tetap berusaha.

__ADS_1


..._____________________________________...


🥀Happy reading😘


__ADS_2