ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
MENEMUKAN SOLUSI


__ADS_3

"Ziva, kamu tolong temani mas Bias lagi, ya!"


"Sa-ya, Pak? Tapi bukannya kak Siti ada, Pak." Zee sudah tau karyawan yang bernama Siti sekarang.


"Mas Bias maunya ditemani kamu!"


"Please jangan saya, Pak!" lirih Zee. Iya sebetulnya bimbang, tapi ia ingat beberapa waktu lalu, belum lama tadi tepatnya ia baru saja pergi dengan Johan. Ya, Zee memiliki ikatan dengan Johan dan harus menghargai Johan.


"Tidak ada penolakan ya, Ziva! Sebaiknya kamu cepat ke meja mas Bias!" Kemal langsung meninggalkan Zee.


Zee berjalan landai tidak seperti kemarin, ia menuju meja pria pujaannya. Pria pujaan yang harus ia hindari. Sepanjang jalan itu Zee menarik napas menetralkan hati dan otak. Ia berharap bisa menghadapi Bias seperti menghadapi tamu yang lain, tidak menyertakan rasa di dalamnya.


"Permisi!" kata Zee di depan meja Bias. Bias melirik sekilas wajah itu.


"Duduk!" Zee menurut. Ia duduk dengan wajah terus menunduk.


Saat-saat seperti ini sejatinya hal yang tiga tahun ini Zee nantikan. Tiga tahun sebelum sebulan lalu akhirnya ia memberi kesempatan Johan. Tiga tahun yang ia fikir hanya sebuah mimpi kosong, kerinduan tanpa titik. Bias sudah menghilang dan tidak mungkin kembali. Angan itu sudah ia buang saat menerima rasa Johan, namun semua kini berbalik. Bias muncul. Takdir mempertemukannya lagi dengan pria masa lalunya. Cinta pertamanya!


"Tadi kenapa gak dateng waktu gue panggil!"


"Hah? I-tu aku lagi sibuk, Ka-k. Maaf," lirih Zee masih menunduk.


"Lo bicara sama meja? Lihat ke arah lawan bicara, itu namanya menghargai orang lain!" Zee perlahan mengangkat wajahnya tapi tidak menatap Bias.


"Apa gue begitu menakutkan sampe lo gak mau natap gue!"


"Ma-af, bukan begitu, Ka-k." Zee melirik Bias sekilas dan mengalihkan tatapannya lagi. Bias lagi-lagi menangkap Zee yang sedang mencuri pandang padanya. Bias heran, ia menggelengkan kepala.


Kak Bias benar-benar nggak inget aku!


Lihat kan, Zee! Kamu itu nggak ada artinya buat kak Bias. Memang sih dulu kamu hitam, tapi suara, garis wajah, masak kak Bias pujaan kamu itu sama sekali nggak peka. Ngapain yang seperti ini kamu fikirkan! Fokus aja sama bang Jo, Zee! Tulus dan sayangnya dia nggak perlu kamu raguin!


"Hei!"


"Eh, i-ya Kak?"


"Ahh, bengong lagi! Gue nanya, apa lo selalu terbata bicara dengan orang lain?" tanya Bias dengan mata membulat setelah menelan kunyahan steak.


"Ma-af, Kak!"


Anak ini ngeselin banget sih. Udah gak mau mandang gue, setiap ditanya bukannya jawab malah minta maaf. Padahal jelas gue beberapa kali lihat dia lagi merhatiin gue. Cewe yang aneh! Apa dia lagi pura-pura sok jaim gitu!

__ADS_1


Tunggu__ kalo dilihat-lihat dia itu cantik juga, walau baru dua kali ketemu nggak tau kenapa gue ngerasa dia cewe baik walau ngeselin, wajahnya serasa gak asing. Mirip siapa ya? Hemm, ahh! Gue gak inget! Badannya juga tinggi, bodi oke, kulit bersih. Hmm ... apa gue bawa dia aja ke acara Nasya. Ta-pi__ apa dia bisa berbaur nanti? Kalau secara sifat Siti lebih asik dan mudah akrab, tapi gue gak bisa bawa Siti. Nasya nggak akan percaya gue suka cewe model Siti. Siti terlalu pendek dan jauh dari Nasya. kalau bisa gue harus bawa cewe yang setara bahkan kalau bisa lebih dari Nasya dan nih cewe masuk kriteria itu.


Bias masih menatap pancaran cantik di hadapannya tanpa berkedip. Melihat Zee, ia seakan menemukan solusi dari masalahnya.


Kisah masalalu itu sudah cukup lama. Kisah seorang gadis cupu yang menyukai bahkan sampai mengirim surat pada Bias sang idola. Bias yang menganggap Zee sepintas lalu tanpa memasukkannya ke dalam hati sungguh tak menyadari ia adalah Zee.


Mungkin suara itu sama, garis wajah itu sama, tapi otak tidak selamanya menyimpan memori secara permanen, kecuali terhadap hal yang begitu disukai, gilai, atau kebalikannya sangat ia benci. Sedang Zee, ia tidak masuk semua kriteria itu. Kehadiran Zee biasa saja di hati Bias, terlebih Zee 3 tahun lalu menjelekkan wajahnya, ia berbeda dari Zee di masa kini. Zee 3 tahun kemudian dengan tinggi yang bertambah, garis wajah yang semakin tegas, bagian tubuh yang semakin menunjukkan kewanitaannya, juga pandainya Zee kini memoles wajahnya. Polesan natural dan tidak berlebih namun menambah jauh wajahnya dari sosok Zee di masa lalu.


Bias masih berfikir, sedang Zee dengan tidak nyaman hanya bisa bisa pasrah menyadari sepasang mata bergeming menatapnya, menelusuri wajahnya dan tidak mengalihkan wajahnya sedikitpun dari indranya. Bias memang terkesima dengan wajah itu. Wajah yang diharap bisa menjadi penolongnya.


Ponsel di saku Bias tiba-tiba berdering, Bias sadar dan segera mengalihkan wajah ke arah jendela sambil meletakkan ponsel di telinga. "Wa'alaikumsalam, Ma." Bias menjawab salam yang diucap Dona. Ya, Dona lah yang menelepon Bias.


"Kamu di Kafe?"


"Iya, Ma."


"Mumpung kamu di sana, minta pada Kemal laporan Kafe 2 hari ini. Mama sedang malas ke luar!"


"Apa tidak sebaiknya Bias suruh mas Kemal ke rumah?"


"Ahh, tidak perlu! Lagi pula kamu ada di sana, kamu saja yang bicara pada Kemal, tanyakan apa ada kendala yang ia alami belakangan ini."


"Begitu, kah?"


"Ya sudah. Nanti Bias bicara dengan Kemal."


"Oh ya, Bii!"


"Iya, Ma?"


"Tinggal besok malam, Sayang. Sudah ada gadis yang akan kamu ajak ke pesta?"


Bias terdiam dan menoleh ke arah gadis yang duduk di dekatnya. Gadis yang sedang membalik-balik majalah dengan wajah sangat datar. Jelas ia tidak menikmati aktivitas itu. Membuka majalah hanya pengalihannya saja.


"Sudah. Bias pastikan besok Bias akan datang bersama seorang gadis." Zee yang terus menyimak setiap ucapan Bias di telepon mendadak hatinya perih.


Benar lelaki pujaannya ternyata memang sudah mendapat pengganti Nasya.


Dengar itu, Zee! Sakit ... sakit, bukan? Bagaimana, kamu puas dengan kenyataan yang baru saja dengar?


Zee menelan saliva kasar. Ia merasa sangat bodoh menanti satu pria hingga mulai mengalihkan pria yang selama ini di sisinya. Kini ia semakin sadar posisi dirinya dan mantap hanya setia dan akan berjuang pada hubungannya bersama Johan.

__ADS_1


"Hei kamu!"


"Eh, iya, Ka-k."


"Kamu bisa pergi! Bilang pada Kemal aku menunggunya di ruangan ibu Dona!"


Bayang Bias hilang di balik sebuah ruangan, tak lama berselang Kemal masuk. Hampir 20 menit keduanya di dalam, hingga Bias keluar setelahnya. Bias langsung meninggalkan Kafe itu.


Jam kerja berakhir, berhubung anak Novi sedang sakit, Kemal pulang hingga akhir Shift. Seperti biasa sebelum pulang, manajer bertugas di shift itu akan memberi sepatah dua patah kalimat semangat setelah closing dilakukan pada seluruh karyawan baru membiarkan mereka pulang.


Baru saja Zee hendak melewati pintu, Kemal memanggil. "Ziva!"


"Saya, Pak?"


"Besok jam 3 kamu tidak perlu datang ke Kafe!"


"A-pa saya di-pecat, Pa-k?"


"Oh, bukan, bukan!"


"Lalu?"


"Jam 4 besok kamu datang ke Butik dalam alamat ini, akan ada tugas untuk kamu di sana!"


"Oh."


"Jangan bingung, ini hanya tugas mudah! Jadi lakukan yang terbaik jika kamu memang ingin bekerja lama di Kafe ini!"


"Oh, iya, Pa-k!"


..._________________________________________...


🥀Berikut pemenang giveaway Bubu😘




🥀5 orang di atas chat pribadi Bubu, ya! Yang belum Follow bisa follow akun Bubu dulu❤️❤️


🥀Terima kasih pada seluruh pembaca, kehadiran kalian luar biasa untuk Bubu. Sayang kalian pokoknya, giveaway ini hanya bonus karena sudah sayang dengan karya2 Bubu, untuk yang belum beruntung jangan berkecil hati😍

__ADS_1


🥀Tetap beri dukungan like, komen, vote selalu untuk Bubu, yaa🌹🌹


🥀Happy reading kalian jiwa baik, big hug always for U all🤗🤗❤️❤️


__ADS_2