ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
OVER POSESIF


__ADS_3

"Yang ... masih diem aja, sih?"


"Aku lagi males ngomong!" Bias berucap datar sambil memasukkan suapan nasi goreng ati ampela itu ke mulut.


"Kamu masih kesel masalah tadi?" tanya Zee, Bias hanya bergeming.


"Bukannya Tirta tadi udah jelasin kalau aku sama dia cuma teman satu kelas, gak lebih, Yang!" ucap Zee yang bahkan belum memakan satu suap makanan yang ia pesan.


"Udah buruan makan! Dingin gak enak!"


"Habis muka kamu jutek begitu bikin laper aku hilang!" Bias bergeming sesaat baru akhirnya ia bicara.


"Lain kali kamu tuh di mana pun harus inget punya suami. Gak bagus ketawa-ketiwi sama cowok begitu!"


"Cuma ngobrol wajar kok, Yang! Itu juga bahas presentasi! Sekali lagi! Gak lebih, Yang!"


"Tetep aja gak bagus! Bikin aku semakin gak tenang aja ninggalin kamu sendiri di Jogya," ucap Bias lagi-lagi dengan nada ketus dan wajah gusar membuat Zee semakin tak habis pikir dengan sifat posesif tanpa alasan tersebut.


"Ya ampun, Yang, berapa kali aku bilang sih. Dia cuma temen kampus. Hari ini tuh Alhamdulillah presentasiku dinyatakan yang terbaik sama pak Dito, dosen aku. Pak Dito itu minta beberapa anak-anak merevisi presentasinya dan nanya ke aku. Tirta itu salah satunya yang harus revisi, dia sekedar tanya perihal presentasi gak lebih. Masalah ketawa-ketiwi, aku cuma bersikap normal! Ada ucapan lucu ya aku ketawa. Salah aku di mana coba? Denger aku ya, Yang! Kalau aku niat macem-macem, ngapain juga aku jalan barengan sama Tirta padahal ada kamu nunggu di depan, aku juga masih cium tangan kamu di depan Tirta. Aku gak nutupin kalau kita ada hubungan. Sekarang jawab! Apa semua ucapan aku salah?"


"Banyak banget kamu sebut nama si Tirta itu barusan, Yang! Hati-hati nanti bisa kesimpen di dalem hati!" Ucapan ketus lagi-lagi didengar Zee. Bias bukannya fokus dengan isi pembicaraan Zee, ia justru fokus dengan banyaknya Zee menyebut nama Tirta. Zee mendengus napas kasar. Ia kecewa.


"Aku capek! Mau pulang duluan!" Zee seketika berdiri meninggalkan Bias beserta sepiring mie ayam Jawa di meja yang sama sekali belum tersentuh.


"Yang ... Yang! Kamu mau ke mana, Yang!" Bias yang menyadari Zee marah menghentikan makannya dan menyelipkan uang selembar seratus ribuan di bawah piring. Ia berlari mengejar Zee setelahnya menggunakan Beat sewaannya.


"Yang, berhenti gak!" Bias masih berusaha membuat Zee menghentikan langkahnya tapi Zee tak menggubris. Zee bahkan berjalan semakin cepat. Bias mengentikan laju matic tepat di depan Zee. Ia turun, mendorong tubuh Zee ke dinding dan meraih jemari Zee setelahnya.


"Kok jadi kamu yang marah, sih?" ucap Bias.

__ADS_1


"Jadi kamu belum nyadar salah kamu, Yang?" Zee menggelengkan kepala membuang wajah dari sepasang netra yang seolah ingin menerkamnya.


"Harusnya aku yang tanya kamu. Bisa nggak kamu jauhin diri dari si Tirta itu! Kok malah kamu yang marah?" ucap Bias tak kalah gusar.


"Aku kecewa sama kamu, Yang! Kamu gak percaya aku! Kamu over posesif! Maaf Yang, aku lagi pengen sendiri. Aku mau ke homestay sendiri! Kamu main-main aja ke Marlboro atau kemana pun terserah!" ucap Zee terus berusaha melepaskan eratan tangan Bias.


"Yang ... huh!"


Bias yang melihat langkah Zee semakin lebar dan jarak keduanya semakin jauh sadar Zee tidak main-main dengan kemarahannya. Ia meraih matic dan kembali mengejar Zee. "Yang ... please berhenti! Oke sorry, Sayang! Iya, aku salah! Aku akui aku yang salah! Ma-afin a-ku, Yang!" Biar ssepeti sebelumnya menghentikan matic didepan Zee. Menahan tubuh Zee.


"Lepas!"


"Nggak sebelum kamu maafin aku!" Zee bergeming, sedang Bias tak perduli mereka sedang berada di tepi jalan yang cukup ramai, ia memeluk Zee erat.


"Yang, jangan diem aja! Tolong maafin aku, Yang! Aku janji gak akan terlalu posesif lagi, akan percaya kamu! Kamu mau maafin a-ku, ka-n?"


"Yang, aku begini karena takut kehilangan kamu, Yang! Aku takut kamu berpaling!" ucap Bias lagi.


(Kamu tahu kenapa? Karena kamu sangat cantik! Aku sadar kamu dan semua yang kamu miliki begitu istimewa dan menarik. kamu menyenangkan dan itu akan membuat para lelaki gak akan sulit suka kamu. aku hanya takut, Yang! Sungguh!)


Bias berucap lagi dengan sangat lembut. Ia bingung Zee tak juga merespon dirinya. Zee hanya mematung, bahkan dekapan Bias tak ia balas. Bias kini terus mengusap-usap bahu Zee, berharap hati istrinya itu melembut.


Sesaat ego menguasai Zee, ia marah dan tak ingin mendengar maaf Bias. Zee merasa sedang sulit memaafkan. Hal buruk menguasai Zee, namun sapuan jemari Bias menyadarkan segalanya. Ia tak boleh kalah, hubungan keduanya tak boleh kalah hanya karena kecemburuan semata. Sudah banyak yang keduanya alami hingga titik ini. Zee mengedar pandang. Lagi-lagi ia kaget, nyatanya sudah bersikap sangat memalukan di depan umum, saling berpelukan disaksikan banyak mata. Zee mendorong perlahan tubuh Bias.


"Kita bicara di rumah!" lirih Zee. Bias mengangguk penuh semangat. Ia mendengar suara Zee. Zee tidak bergeming lagi, ia mau bicara dengannya.


"Iya."


________________

__ADS_1


Keduanya duduk berhadapan di sofa saat ini, saling menatap dan berpikir. Bias yang merasa bersalah memilih lebih dulu bicara.


"Yang, sorry!"


"Jangan terlalu posesif, Yang. Hubungan long distance seperti kita hanya berlandas kepercayaan. Jika itu hilang, maka bersiaplah bangunan hubungan kita rusak!"


Bias terus menggeleng. "Nggak, Yang! Aku gak akan pernah membuat semua itu terjadi!" Bias meraih jemari Zee dan menciumnya.


"Kalau gak mau, berarti percaya aku! Aku juga sadar milik kamu! Aku istri! Aku mengambil keputusan berjauhan hanya karena mimpi aku, cita-cita aku. Maka aku akan jaga kepercayaan itu. Masalah senyum atau bicara sama lelaki. Ya, memang kampus bukan asrama putri, kami berbaur saling menyemangati, mendukung, tapi yang penting hati aku gak bergeser sekali pun. Cuma kamu yang aku cinta. Tolong digaris bawahi, cuma kamu!" lirih Zee sambil terus menatap Bias yang tampak serius mendengar ucapnya. Bias kembali mengangguk dan dengan cepat meraih tubuh Zee.


"Aku juga cinta kamu, Sayang. Ma-af, aku akan berusaha rubah sifat posesif aku dan selalu percaya kamu!" Zee mengangguk sambil menatap Bias, ia membalas pelukan Bias. Menahan pelukan itu beberapa saat, hingga Zee semakin memperdalam pelukannya saat jemari Bias sudah menyusup ke kaos yang dikenakan, mengusap bahu dan melepas sepasang pengait di sana.


"Yaaa-ng?"


"Aku mau main-main, Yang!"


"Tapi aku masih belum bisa!" lirih Zee.


"Gpp. Striker urusan aku!" ucap Bias menaikkan kaos yang Zee pakai, Zee spontan mengangkat tangan, memudahkan urusan suaminya.




"Yang, bangun Yang! Astagfirullah, jam 5, Yang! Kita belum sholat dan ada janji sama bang Jo juga!" Zee seketika berlari menuju kamar mandi hanya berbalut pembungkus bagian bawah yang tersisa.


..._____________________________________...


🥀Happy reading😘😘

__ADS_1


🥀Senin manis jangan lupa votenya, yaa,❤️❤️


__ADS_2