
"Bagaimana kondisi ayah teman aku, Om?"
"Serangan jantung ringan! Tolong semua anggota keluarga tidak banyak bertanya dahulu dengan pasien! Biarkan ayah teman kamu tenang!" Zee dan semua raga dalam ruang tamu itu mengangguk termasuk Zaa dan Joy yang saling berangkulan di sudut.
Farah terus melihat sosok Bias. Bias yang beberapa saat lalu tampak sigap langsung menghubungi dokter pribadi keluarganya sehingga penanganan Farid cepat dilakukan di rumahnya. Bias kini terlihat meraih resep yang disodorkan dokter dan langsung bergegas ke luar rumah mengemudikan Ducatinya. Farah kemudian masuk ke kamar di mana Farid tampak terus bergeming. Farah terus mengusap-usap lengan Farid dan berbisik lirih di telinga suaminya itu untuk tidak banyak memikirkan hal yang tidak perlu.
Zee masuk ke dalam kamar dengan segelas teh hangat, ia ikut duduk di sisi ranjang Farid dan terus menciumi wajah ayahnya itu. Joy dan Zaa ada di bagian bawah tubuh Farid, keduanya dengan lembut terus memijat kaki Farid.
Semua mendengarkan perintah dokter, tidak banyak bertanya dan bicara. Hanya doa mengiringi kediaman semua raga dalam ruangan itu. Berharap kondisi Farid tidak lebih buruk dan segera membaik.
Beberapa saat berlalu, Ducati Bias sudah terdengar masuk ke pelataran. Tak berselang lama Bias ikut masuk ke kamar itu dan mendekati Farah.
"Ini resep dari dokter, Tante! Tablet berbentuk hati ini diminum satu kali sehari 1 tablet, ini 3 x sehari dan obat dalam botol juga 3 x sehari," jelas Bias. Farah mengangguk tanpa kata. Di kejauhan Farid melihat aktivitas Bias, sudut mata itu mengeluarkan bulir namun ia masih terdiam sambil terus mengatur napasnya.
"Tante, karena ini sudah malam Bias undur diri. Tante bisa hubungi Bias jika membutuhkan apapun." Lagi-lagi Farah mengangguk dalam diam.
Bias menghadap ke arah Farid dan membungkukkan kepala, ia berpamitan pada Farid namun di luar dugaan Farid justru membuang wajahnya. Bias bingung tapi berusaha tenang. Ia keluar rumah setelahnya diikuti Zee berjalan mengekor di belakang Bias.
"Kak, terima kasih," ucap Zee dalam perjalanan menuju Ducati Bias.
Bias mengusap bahu Zee. "Hubungi aku jika kondisi ayah kamu memburuk, tapi semoga tidak." Zee mengangguk.
"Aku pamit, kamu jaga diri!"
"Iya, Kak. Sekali lagi terima kasih."
"Kamu bicara begitu seperti aku orang asing!" Bias mengusap-usap pipi Zee. Zee tersenyum.
"Zee!"
__ADS_1
"Iya?"
"Aku harap besok kita tetap bertemu bang Jo! Aku ingin masalah kamu dan bang Jo cepat selesai dan kita tenang menjalani hubungan ini." Zee mengangguk.
"Semoga keadaan ayah besok sudah membaik."
"Aamiin. Aku pulang, Sayang!" Zee tersenyum Bias menematkan panggilan itu padanya. Bias mengusap kepala Zee dan menarik kepala itu, ia mengecup kening Zee baru naik ke Ducatinya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, hati-hati jangan ngebut, Kak!" Bias kini yang tersenyum ia selalu senang melihat rahut antusias Zee menatap dan memberi perhatian padanya.
Farah mengamati semua dari balik jendela. Ia bergeming, bingung apa yang harus ia lakukan, sedang ia melihat Zee tampak begitu bahagia dekat Bias. Ia juga sadar Bias sebetulnya bukan pria buruk, hanya waktu telah mendekatkan Johan lebih dulu pada keluarganya. Perlahan Farah memundurkan langkah dan kembali melihat kondisi Farid yang kini telah tertidur setelah meminum obatnya.
Ducati itu perlahan menjauh dari rumah Zee. Sepanjang jalan Bias berfikir, mengapa Farid seakan kaget dengan keberadaannya juga seolah membuang wajah saat ia berpamitan tadi.
_____________________
Di tempat berbeda, sejak siang Bias sudah menyelesaikan pekerjaannya dan ia meminta Taufiq menghandle kantor. Bias yang berangkat langsung dari kantor tak bisa menjemput Zee. Zee paham dengan kesibukan Bias.
Semua sesuai rencana, sore itu Zee tiba paling awal disusul Bias. Keduanya tampak kini duduk sambil menyesap orange jus yang sudah dipesan. Zee tak melepas eratan jemarinya pada Bias. Jelas semua tidak mudah untuk Zee, tapi ia harus mengambil sikap dengan yakin dan mantap demi kelanjutan hubungannya bersama Bias.
"Tenang! Kamu jangan panik," ucap Bias meraih jemari Zee dan mengecupnya. Zee mengangguk.
"Kamu hanya perlu duduk manis di samping aku. Aku yang akan bicara pada bang Jo," ucap Bias. Zee mengangguk dan seketika melepaskan eratan jemarinya dari tangan Bias saat melihat sosok tegap Johan telah datang. Johan melihat Zee dan Bias di kejauhan tampak kaget, namun ia berusaha tenang.
Bias dan Zee berdiri saat Johan sudah berdiri tepat di sisi meja mereka. "Bang Jo," sapa Bias dan Zee bersamaan tanpa direncanakan.
"Hai, Yang." Johan menahan kepala Zee, baru hendak menyatukan pipi keduanya Bias menahan tubuh Johan.
__ADS_1
"Ada apa, Bi? Lo terganggu? Zee cewe gue!"
"Duduk dulu, Bang! Ada yang mau gue omongin!" Johan menatap Zee dan Bias bergantian. Otaknya mulai menerka dan fikir negatif mulai menguasai emosinya.
"Jaga batasan lo, Bi! Eh ngomong-ngomong kenapa bisa kebetulan ya lo sama Zee barengan di sini?" Zee tampak menunduk.
"Ini ada sangkut paut sama yang mau gue bicarain sama lo, Bang!"
"Yauda ngomong aja. Eh bentar!" Johan menahan Bias bicara dan menghadap ke arah Zee.
"Kabar kamu baik, Yang? Kamu jarang bales chat aku. Telfon aku juga sering gak diangkat. Apa aku buat salah sama kamu?" Johan berucap sangat lembut pada Zee. Ia meraih jemari Zee, tapi lagi-lagi ditahan Bias. Johan kaget lagi-lagi Bias mengganggu interaksinya dengan Zee.
"Bang, ada yang perlu lo tau. Gue mulai buka hati gue buat Zee, jadi please lepasin Zee!"
Bukan menjawab Johan sudah menarik kerah kemeja Bias. "Lo itu ngarang! Bicara apa lo barusan! Bisa-bisanya ya, lo menghilang dan tiba-tiba dateng minta gue ngelepas Zee! Maksud lo apa? Mikir nggak selama ini lo udah sakitin Zee! Apa lo begini karena tau Zee itu sebetulnya cantik! Hah, buaya lo!"
Bias tak terima Johan menarik kemejanya, ia menarik balik kemeja Johan tak kalah kuat. "Jaga bicara lo, Bang! Alasan apa pun itu, yang jelas sekarang gue akan bales cinta Zee! Kami saling sayang, jadi mending lo yang mundur daripada kedekatan kalian cuma nyakitin Zee! Di hati Zee cuma ada gue!"
"Kurang ajar!"
BUG
Sebuah pukulan sudah mendarat di bibir Bias dan darah mengalir dari luka robek di sudut bibir itu.
"Bang Jo, jangan pukul kak Bias! Bang Jo kasar!"
"Yang ...!"
"Aku gpp, Zee!"
__ADS_1
...________________________________________...
🥀Happy reading😘