ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
JAWABAN BEASISWA


__ADS_3

"Jadi kamu masih nunda hamil?" Zee mengangguk menanggapi tanya Sashi.


"Pakai KB?" Zee lagi-lagi mengangguk.


"Kenapa KB, banyak yang setelah lepas KB jadi agak susah punya anak. Kenapa gak coba pakai cara alami aja?"


"Aku gak suka pakai yang rasa-rasa buah itu, Kak."


"Bukan pakai itu, sini aku bisikin!"


Zee masih mematung di depan meja rias memikirkan ucapan Sashi saat keduanya berjalan menuju pelataran tadi. Sebuah solusi yang bisa membuat rahimnya tetap baik. Ya, walau keinginan Dona memiliki cucu jelas terlihat, tapi Zee bertekad untuk kuliah dulu.


"Yang ...."


"Sini! Kamu ngapain bengong-bengong aja di situ?"


Zee mendekati Bias. "Gpp."


"Masih kepikiran yang tadi siang?" Zee akhirnya mengangguk. Ia tidak bisa bohong.


"Besok aku bicara sama mama, ya."


"Eh jangan. Aku nggak enak, Yang. Apalagi ngeliat mama kayaknya udah pengen cucu banget, pasti mama kecewa."


"Gpp. Biar mama tau dan kamu juga tenang gak merasa seolah dituntut buru-buru hamil. Mama aku pasti ngerti kok. Sekalian aku juga mau minta izin supaya kita balik ke rumah kita!" Seketika wajah Zee semringah, ia mengangguk dengan cepat. Bias tersenyum.


"Tapi kalau mama kamu gak setuju?"


"Sesuai perjanjian kan sampai kaki aku membaik. Aku merasa kaki aku sudah lebih baik, Yang! Rencananya aku juga mau mulai dateng ke Kafe."


"Untuk mobilitas?"


"Motor aku kemarin kan ada asuransinya, setelah di klaim, yah lumayan buat nambahin DP, kita ambil mobil murah-murah aja."


"Ambil tabungan privasi kita juga gpp, Yang! Kan mobil saat ini juga penting apalagi kaki kamu belum pulih sepenuhnya."


"Iya juga sih. Hmm ... okelah. Thanks ya, Yang!" Zee mengangguk.


"Oh ya Yang, tadi kak Sashi ngasih tau aku satu hal."


"Tentang apa?"


"Biar rahim aku tetap bagus walau harus menunda kehamilan."


"Gimana?" Zee pun berbisik.


_____________________


Tak ingin menunggu lama, esoknya setelah makan siang, Bias dan Zee mengajak Dona yang baru pulang mengecek Kafe miliknya untuk berbincang. Keduanya kini duduk di ruang keluarga. Awalnya saling menatap dalam diam, hingga Bias akhirnya melontarkan inginnya.


"Ma ...."


"Wajah kalian kok tegang banget sih, emang ada masalah serius, ya?" tanya Dona heran tak biasanya Bias dan Zee menampilkan tatapan seperti itu saat bicara padanya.


"Sebelumnya kami berdua ingin minta maaf, begini Ma ... kami tahu Mama sudah sangat ingin memiliki cucu dari kami. Tapi tekad Zee dan Bias sudah bulat sejak awal kami menikah untuk menundanya dahulu, Ma. Kami minta maaf, untuk saat ini, kami masih belum bisa memberi apa yang mama inginkan." Dona menatap Zee dan Bias bergantian. Ia terdiam.


Melihat Dona tak merespon, Bias bicara lagi. "Selain itu, kami juga ingin minta izin untuk pulang ke rumah kami. Kondisi Bias sudah lebih baik, Bias dan Zee akan kembali melakukan rutinitas kami sebelumnya. Kami sangat berterima kasih atas semua yang papa mama beri saat kami tinggal di sini. Tapi kami harus mulai menapaki hidup kami dan tidak hanya bersantai-santai saja! Mohon Mama mengerti!" ucap Bias dengan sangat hati-hati. Bias merasakan genggaman tangan Zee semakin kuat, bahkan keringat Zee sudah menyatu ke kulitnya.


"Apa kalian ingin pergi karena masalah cucu?" tanya Dona. Zee dan Bias bergeming.

__ADS_1


"Sayang, kalian tentu berhak melakukan apapun yang kalian ingin termasuk menunda kehadiran anak. Ya, betul belakangan Mama memang sering membayangkan celoteh manja dan teriakan bocah kecil mewarnai rumah ini. Ta-pi Mama kembalikan semua pada kalian, semua keputusan adalah hak kalian. Mama tidak bisa dan tidak akan memaksa. Tolong jangan pergi, Sayang! Kalian bisa kan tetap beraktivitas dan kembali setelahnya ke rumah ini!"


Tatapan Dona penuh harap, tapi Bias dan Zee tetap ingin kembali ke rumah mereka. Mereka sudah menikah dan memang seharusnya berpisah dari rumah orang tua, belajar mandiri dan merancang masa depan kehidupan mereka sendiri.


"Maaf Ma, tapi kami tetap akan kembali!" lirih Bias.


"Sayang ...."


"Ma, kami janji akan sering datang!"


"Dan mobilitas kalian?"


"Kami sudah merencanakan membeli sebuah mobil untuk memudahkan aktivitas kami." Dona menghela napas kasar.


"Apa rumah ini membuat kalian tidak nyaman?"


"Bukan begitu, Ma. Bias dan Zee hanya ingin mandiri, tidak tergantung pada Mama dan Papa. Ingin belajar menentukan hidup kami sendiri. Please ... tolong beri kepercayaan pada kami, Ma!" Dona menggelengkan kepala. Ada kesedihan dan kebanggan yang berbaur di hati Dona.


"Hmm ... baiklah, kalian boleh pergi. Tapi ada hal yang harus kalian bawa juga!" Bias dan Zee saling menatap. "Ikut, Mama!"


Kaki Bias dan Zee terus melangkah mengikuti arah Dona berjalan. Dona menuju gudang dan meminta Satyo membuka pintunya. Sebuah benda besar tertutup cover saat ini di hadapan keduanya. Dona meminta Satyo membuka cover itu dan bias terperanjat. Begitu pula Zee, netranya membulat kaget dan bingung. Mereka tak menyangka benda itu masih di sana. Benda yang sangat berat dilepas Bias saat itu.


Bias menatap Lekat Dona, banyak hal yang memutari otak Bias saat ini. "Ma____


"Mama akan kirim motor ini ke rumah kalian! Jangan dijual lagi. Jika kakimu pulih bisa kamu pakai lagi. Jika kamu kekurangan uang hubungi Mama!"


"Ta-pi darimana____


"Tidak perlu banyak bertanya! Untuk mobilitas jangan membeli mobil apapun! Simpan saja uang kalian untuk tabungan, Mama akan tenang. Mama sudah siapkan satu mobil, rencananya akan dikirim lusa ke rumah ini, tapi kalau kalian mau kembali ke rumah kalian, mama akan minta dealer mengantar mobil langsung ke alamat kalian. Urusan papa, nanti Mama bantu bicara."


"Ma-ma____


Sebelah tangan Bias seketika memeluk Dona. Ada rasa haru di hati itu. Dona memikirkan detail keperluannya. Dona juga diam-diam yang membeli Ducatinya, membantu memberi modal usaha padanya. Tetesan bulir itu dibiarkan Bias membasahi sudut matanya. Zee tak kuasa pula menahan haru, ia kini ikut menopang tubuh Bias dan memeluk Dona.


Zee bersyukur atas segalanya. Dipertemukan orang-orang baik, ibu yang baik, walau kegetiran masa lalu pernah mengeraskan hatinya. Kini bongkahan kebencian itu perlahan luluh. Ia tidak lagi melihat diri Libra pribadi, tapi ia melihat keseluruhan keluarga Bias. Ia diterima di rumah itu dan Libra tak pernah terang-terangan mengganggunya. Ia meyakini keluarga Bias baik, kini seperti halnya Bias, Zee tidak menahan bulir yang terus memaksa ke luar dari dalam matanya.


"Jangan menangis! Janji kalian harus sering datang! Lakukan apapun yang ingin kalian lakukan, tapi attitude harus dipegang di manapun kalian berada. Mama doakan kalian dinaungi kemudahan dan keberhasilan selalu. Bisnis Bias semakin berkembang dan Ziva berhasil mencapai cita-cita yang diinginkan!"


_____________________


Matahari meninggi, dua bulan segalanya berlalu, Bias sudah melepas tongkat panjangnya dan kini hanya menggunakan tongkat tangan, gips di kakinya juga sudah dilepas. Rasa nyeri itu tak lagi terasa, walau untuk menapak Bias masih ragu.


Bias dan Zee seperti sebelumnya berkerjasama menjalankan bisnis mereka. Mobil pemberian Dona sangat bermanfaat untuk mobilitas mereka menuju Jakarta-Bekasi-Bandung. Untuk Jakarta-Bekasi mereka biasa pulang pergi, tapi untuk Bandung, karena udaranya yang sejuk mereka bisa 2-3 hari berada di sana. Mereka menginap di hotel dan menghabiskan waktu. Kaki Bias tak menjadi alasan, Bias mulai terbiasa dengan tongkatnya. Digadang bulan depan terapi berjalannya akan dimulai. Bias merasa harus lebih serius melakukan terapi itu agar cepat berjalan lagi.


Pagi itu terlihat mendung. Embun pagi belum beranjak sempurna membuat dingin begitu menusuk kulit. Bias dan Zee memang sedang berada di Bandung. Kini keduanya masih asik membenamkan diri satu sama lain, tak ingin beranjak dari ranjang hingga sebuah panggilan terus berdering di ponsel Zee.


"Angkat, Yang!"


"Tapi ponsel aku ada di atas meja deket sama kamu, Yang!" Bias mengangkat badan sedikit dan meraih Ponsel Zee.


"Ini."


"Siapa?"


"Ibu."


"Halo assalamu'alaikum, Bu?"


"Wa'alaikumsalam. Zee, kamu sama Bias masih di Bandung atau sudah di rumah kalian?"

__ADS_1


"Masih di Bandung, Bu."


"Kapan pulang?"


"Rencananya nanti sore. Ada apa, Bu?"


"Ini barusan ada surat datang, ada tulisan beasiswa-beasiswanya gitu."


"Hah?"


"Zee___


"Eh iya Bu. Bu, makasih banyak ya. Nanti sore Zee akan langsung ke rumah ibu. Assalamu'alaikum Bu."


"Wa'alaikumsalam."




"Ada Apa, Yang?"


"Kemungkinan aku dapet balesan beasiswa, Yang."


"Coba sekarang cek email kamu!"


"Oh iya." Zee dengan cepat melilitkan selimut ke tubuh, ia mengambil laptop Bias di sofa. Zee kembali ke ranjang dan mulai memasukkan sebuah alamat email.


"Ada pesan masuk, Yang!"


"Ayo buruan buka!" Setelah menekan kotak masuk. Zee mulai membaca sebuah email di sana, wajah Zee terus berbinar hingga membaca kalimat di bagian bawah rona itu berubah. Zee kaget, ia tampak menggulirkan layar ke atas dan melihat kops surat pengirim balasan email untuknya. Zee terlihat lemas setelahnya.


"Ke-napa, Yang?"


Zee menghadapkan laptop ke arah Bias dan Bias mulai membaca setiap kalimatnya dengan teliti, terus dan terus, hingga tiba-tiba____


"Yang ... Jogya?"


...______________________________________...


🥀Happy reading,😘


🥀Ini ada karya sahabat literasi Bubu juga, yuk mampir😍😍


JUDUL : MANTAN TERINDAH


PENULIS : RINI SYA


DIA MENCERAIKAN ISTRINYA DEMI KEMBALI KE CINTA MASA LALUNYA? APAKAH INI ADALAH KEPUTUSAN YANG TEPAT!?


Zien menceraikan istri sahnya demi kembali pada kekasih masa lalunya.


Serasa disambar petir perasaan sang istri saat Zein mengungkapkan keinginannya itu.


Keputusan apa yang akan diambil oleh istri sah Zein? Mungkinkah ia akan meluruskan niat suaminya itu?


Lalu bagaimana dengan kekasih masa lalu Zein? Mungkinkah ia akan tetap melangkah maju, setelah ia tahu bahwa Zein menceraikan istrinya demi kembali padanya?


__ADS_1


__ADS_2