
Misa menuruni anak tangga satu persatu, di susul Arga di belakangnya. Mereka berdua berjalan beriringan menuju meja makan, yang sudah di tunggu oleh kedua adiknya Arga.
"Pagi kakak ipar imut," sapa Syila pada Misa yang telah sampai di depan meja makan.
"Pagi Syila, dan pagi Egi," jawab Misa tersenyum tulus lalu duduk di samping Arga.
"Ayah mana?" tanya Arga yang melihat kursi kosong di sebelahnya.
"Ayah disini Arga," ucap Ayah Putra baru datang yang kursi roda nya di dorong oleh Bi Ane. "Pagi Nak Romisa," sambungnya lagi ketika sudah merapat di meja.
"Pagi Ayah," sahut Misa.
"Ayah mau sarapan apa biar Misa ambilkan?" tanya Misa lembut pada Ayah Putra.
Rupanya wanita ini sudah memulai aktingnya. gumam Arga dalam hati.
"Tidak perlu Nak Romisa, biar Bi Ane yang menyiapkannya, layanilah suami mu saja," ucap Putra yang menunjuk dengan dagunya ke arah piring Arga yang memang masih kosong.
"Ah, iya Misa lupa Ayah," ucap Misa tersenyum cengengesan. "Suamiku, mau sarapan apa?" tanya Misa dengan senyuman manis yang di paksakan.
Suamiku? Kepikiran panggilan darimana aku memanggilnya seperti ini.
Mendengar panggilan seperti itu Arga menoleh sebentar pada Misa lalu menunjuk menu sarapan ke arah tengah meja. Egi menatap Misa cukup tajam dan Ayah Putra tersenyum mendengar Misa memanggil anaknya langsung dengan panggilan mesra seperti itu, pikirnya Misa menerima perjodohan ini dengan senang hati. Namun, kenyataannya mereka hanya berakting.
"Itu aja," tunjuk Arga pada piring omelet sayur.
Misa mengambilkannya dan meletakkan di piring Arga. Lalu untuk sarapannya, ia mengambil roti bakar dengan di isi selai kacang.
"Suamiku, minumnya mau jus atau susu?" tanya Misa lagi.
"Yang itu," jawab Arga lagi sambil menunjuk ke teko jus apel. Misa menuangkannya ke gelas Arga juga ke gelas nya.
__ADS_1
"Kakak ipar Syila juga mau dong di ambilin seperti kakak," goda Syila padahal dirinya sudah mengambil sarapannya.
"Syila, jangan manja deh," sambar Egi.
"Hehe.. abisnya enak banget kakak mau ini mau itu tinggal tunjuk," godanya pura-pura merajuk.
Misa tersenyum. "Syila, mau di ambilkan apa sama kakak?" tawar Misa yang di balas dengan tatapan tajam Egi.
Kenapa si Egi menatapku seperti itu?
"Sudah Nak Romisa jangan di hiraukan dengan sikap Syila, mulailah di makan sarapannya Nak," ucap Ayah Putra menengahi.
Syila mencebikkan bibirnya sebal dan mulai mengiris pancake di piringnya.
"Nak Romisa, sudah mau masuk kerja lagi hari ini? Kenapa nggak izinnya 3 hari atau seminggu?" tanya Ayah Putra yang melihat seragam guru yang dikena kan Misa.
"Iya Ayah, Misa tidak mau meninggalkan kewajiban Misa, lagian 1 hari sudah cukup bagi Misa," jawab Misa tenang dan tidak lupa dengan senyuman ramah.
Misa hanya tersenyum canggung menanggapinya.
Maafkan Misa Ayah Putra, Misa sudah berbohong begitu banyak tapi ini juga ulah anak singa mu, kalau saja pernikahan ini normal dan sesuai apa yang di harapkan Misa mungkin aku akan izin sebulan.
Tidak ada perbincangan lagi di meja makan hanya suara denting garpu dan pisau yang beradu dengan piring ketika semuanya fokus dengan makanannya.
*****
Misa di depan pintu masuk utama akan mengantar Arga berangkat bekerja. Sedangkan Asyila yang masih duduk di bangku SMP telah berangkat ke sekolah, lalu Egi sudah berangkat entah kemana, dan untuk Ayah Putra telah kembali ke biliknya untuk mengistirahatkan kembali tubuhnya.
Sekertaris Tang sudah ada berdiri di samping mobil, dia masih kaku seperti biasanya. Pria berjas itu menunduk hormat ketika Arga berjalan ke arahnya.
Tang membukakan pintu mobil penumpang dan menutupnya kembali. Ia mendekat ke arah Misa dan memberikan isyarat mata pada Bi Ane agar para Pelayan yang lainnya bubar dan kembali pada tugasnya masing-masing.
__ADS_1
"Nona, ini ada kartu kredit tanpa limit, anda bisa menggunakannya untuk berbelanja sesuka anda," Tang menyodorkan kartu berwarna perak ke arah Misa.
"Terimakasih Sekertaris Tang, saya akan menggunakannya dengan bijaksana," Misa menerima kartu itu dan tersenyum.
"Nona, Tuan biasa pulang di sore hari," peringatan Tang dengan tatapan dingin sedikit membuat Misa gentar.
"Baik Sekertaris Tang," ucap Misa dan tetap tersenyum.
"Pastikan Nona menjalankan syarat itu dengan menyambut kepulangannya layaknya seorang istri menunggu suami," tutur Tang pelan namun dengan suara peringatan tajam mendekatkan wajahnya ke samping telinga Misa.
"Iya, Saya tidak akan melanggar syarat itu," Misa masih mempertahankan senyuman manisnya berusaha tenang dan menguasai dirinya yang sudah gemetar oleh aura tajam Tang.
"Baiklah, semoga hari mu menyenangkan Nona," ucap Tang menunduk hormat dan tersenyum sinis.
Senang sekali mereka menunjukkan senyuman seperti itu. Benar-benar ini rumah banyak hewan buas nya.
Misa melihat kartu kerdit yang di pegangnya dia menggenggam erat kartu itu. "Kartu kredit, dia pikir aku kekurangan uang. Tapi lumayan juga untuk hal lain." Gumamnya sambil berlalu masuk kedalam untuk mengambil tas kerja, karena ia ada kelas pagi untuk mengajar.
*****
"Tang, apa wanita itu seorang guru?" tanya Arga yang duduk di kursi belakang.
"Iya Tuan," jawab Tang dan tetap fokus pada jalanan.
"Kenapa badan semungil itu bisa jadi guru, dan bukannya usia nya masih berapa waktu itu Tang, aku tidak ingat?" tanya Arga dengan santai.
"21 tahun Tuan, Nona sudah jadi guru di usianya yang masih berumur 18 tahun, karena kecerdasan IQ yang di atas rata-rata. Memudahkan dia untuk meringkas pendidikan," tutur Tang menjelaskan.
"Pantas saja dia pandai berakting dan menyesuaikan keadaan," ucap Arga santai di akhiri seringaian.
BERSAMBUNG...
__ADS_1