Romisa Kehidupan

Romisa Kehidupan
33


__ADS_3

Malam semakin larut, Arga baru saja pulang dari mengantar ke berangkatan ayahnya.


Ceklek.


Dia memasuki kamar, yang saat pertama kali masuk Arga langsung di hadapkan dengan Misa yang akan bersiap-siap tidur di sofa.


Arga mendekati ranjang dan merebahkan diri di atas kasur.


Sedang Misa yang sudah mengerti dengan kewajibannya, ia berjalan mematikan lampu ruangan juga menyelimuti tubuh pria yang sebagai suaminya itu. Lalu berbalik melangkah hendak kembali lagi ke arah sofa.


"Kemarilah." Suara tegas penuh titah itu menghentikan pergerakan Misa.


Misa menoleh dengan alis tertaut bingung. Maksud dia kemari, kemana?


Puk...puk.


Arga menepuk samping kasur yang kosong. "Kemarilah Romisa."


Misa berbalik melangkah beberapa langkah menghampiri hingga kini berdiri di samping ranjang.


"Disini Romisa, bukan disitu," tegas Arga sambil menepuk kembali tempat yang di tunjuknya.


"Ma-maksud suamiku?" tanya Misa ragu.


Arga menatap tajam yang masih terlihat jelas, meskipun lampu ruangan itu sudah di matikan karena sorot lampu tidur yang berada di meja nakas masih menyorot ke wajah tampan Arga. Jadi Misa bisa melihat cukup jelas tatapan tajam itu.


Hah... Misa menghela napas lelah, yang akhirnya pasrah. Dia naik ke atas kasur dan duduk di samping Arga.


"Berbaringlah," titahnya lagi.


Mata Misa sedikit melebar terkejut, ia masih diam terduduk tak bergerak sama sekali. Jadi maksud si singa aku di suruh tidur satu ranjang? Bukannya dalam persyaratan tidak akan ada kontak fisik?


"Romisaa." Suara peringatan penuh penekanan dari Arga.


"I-iya suamiku." Misa menurut, tubuhnya yang gemetar merosot untuk di baringkan terlentang di samping Arga.


Degh...degh. Jantung Misa berdetak sangat cepat sampai terdengar jelas oleh telinganya sendiri, tangannya tergenggam meremet takut.


Tuhaan. Ada apa lagi sebenarnya dengan si singa? Sikapnya selalu berubah-ubah bagai bunglon.

__ADS_1


Arga bangkit untuk menarik selimut yang ada di ujung, ia menyelimuti tubuh Misa sampai dada. Lalu kembali terbaring menyamping ke arah gadis mungil itu, sedang Misa masih kaku bergetar terbaring.


"Mulai malam ini kau tidur di ranjang bersama ku," ucapan Arga membuat Misa semakin bergetar hebat sampai panas menjalar ke pipinya.


Apa tadi dia bilang? Tidur seranjang? Sesantai itukah dia mengatakannya.


Arga menarik sebelah tangan Misa yang ada di atas perut, lalu meletakkannya ke atas kepalanya.


"Usap lah, aku ingin tidur," pinta Arga seiring memejamkan mata.


"Hah!" Kaget Misa terpaku diam menatap wajah pria tampan itu.


Apa dia ini bayi besar, mau tidur saja ingin di keloni?


"Romisaa." Ucap Arga memperingati.


"Ah, eh i-iya." Tangan Misa yang kaku mulai mengusap-usap kepala Arga dengan usapan lembut.


Grep.


Arga menarik kuat lengan Misa, sehingga tubuh gadis mungil itu bergerak menjadi tidur menyamping berhadapan dengannya.


"Teruskan," tegas Arga karena merasakan gerakkan tangan Misa terhenti.


Misa dengan sedikit kaku, gemetar mulai menggerakkan kembali tangannya untuk mengusap-usap rambut Arga.


Perlahan mereka tertidur dengan posisi saling menyamping, berhadapan dan dengan Misa masih mengelus rambut Arga.


*****


Pagi telah tiba.


Misa terbangun dari tidurnya, ia menggeliatkan badan ke kiri dan ke kanan seakan hanya ada dia sendirian di atas kasur itu. Dan pada saat badannya menggeliat ke arah kanan, secara tidak sengaja tangannya meninju dada bidang Arga.


Bugh.


Arga terperanjat langsung membuka mata nya saat merasakan pukulan yang cukup keras.


Sedang Misa yang masih tidak sadar dan belum tahu apa yang di pukulnya, mata Misa masih terpejam rapat ia dengan seenaknya meraba dada itu dan mengetuk-ngetuknya dengan jemari telunjuk.

__ADS_1


Tuk...tuk.


Ini apa yah? Masa bantal guling begitu keras? Alis Misa mengernyit bingung, masih dengan mata terpejam.


Arga yang sudah dari tadi terbangun karena pukulan tangan Misa, ia memperhatikan apa yang di lakukan gadis mungil di hadapannya itu. Ada senyuman di bibir Arga saat melihat tingkah Misa.


Mata Misa mulai mengerjap perlahan, untuk melihat yang di raba dan di pegangnya itu. Yang pertama kali Misa lihat adalah dada bidang Arga yang di selimuti baju tidur berwarna hitam.


Eh, ini baju siapa?


Pandangan Misa naik mendongak melihat ke atas yang langsung di sambut dengan tatapan tajam Arga dan seringaian.


Singa!


Mata Misa terbelalak kaget dan dengan Refleks ia langsung mendorong dada Arga. Namun dengan gerakan cepat Arga menarik kedua tangan Misa hingga...


Dugh.


Tubuh Misa tertabrak di dada bidang Arga dan sekarang berada dalam pelukannya.


Apa ini? Kenapa bisa begini?


"Kau berani mendorong ku!" Ujar Arga, yang entah Misa tidak tahu ekspresi apa yang di tunjukkan Arga sekarang.


Yang Misa tau, sekarang ia ada dalam pelukan Arga yang dimana detak jantung pria itu terdengar jelas di telinganya.


"Sua-suamiku, bi-bisa kah kau melepaskan ku," terbata Misa gugup karena jantungnya sudah berontak berdegup sangat cepat juga badannya terasa panas bergetar.


Arga mengelus puncuk kepala Misa sejenak, lalu melepaskan pelukannya.


Sreet... Dugh.


Misa langsung bangkit dari tidurnya dan meloncat dari ranjang, berlari terbirit ke kamar mandi. Seketika membuat Arga tertawa cukup keras sampai terdengar ke kamar mandi.


Misa merosot lemas berjongkok, di senderkannya punggung ke daun pintu kamar mandi.


Ya Tuhaan, dia tertawa senang begitu, sedang aku menahan malu dan gejolak apa ini dalam hati juga jantung ku?


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2