
Misa telah selesai memasak, dia melepaskan apron dapur dari tubuhnya. Bibir Misa melengkung tersenyum senang menatap masakannya yang telah terhidang di dalam mangkuk sayur yang berukuran cukup besar dan sup itu cukup untuk 5 porsi mangkuk makan yang berukuran besar.
"Suamiku, cepatlah ke meja makan, akan ku bawakan mangkuk ini," ucap Misa hendak mengangkat mangkuk besar itu.
"Kau ingin menenggelamkan tubuh kerdil mu ke dalam mangkuk itu, suruh Tang bawakan sup nya." Kata Arga memberikan isyarat mata pada sekertaris Tang.
Tangan Misa tidak jadi menyentuh mangkuk, ia terdiam mematung di depan meja dapur.
"Baik tuan, Nona biar saya saja yang bawakan, silahkan Nona ke meja makan bersama tuan," Tang hendak memangku mangkuk sayur itu dengan kedua tangannya yang tanpa penghalang apa pun.
Misa menyambar sarung tangan kain yang berada tidak jauh di dekatnya. "Sekertaris Tang sebentar." Dia menarik lengan jas Tang.
Tang menurut menghentikan gerakannya. Lalu menoleh bingung. "Ada apa Nona?"
Arga memicingkan mata nya tajam tidak suka ketika melihat tangan Misa menarik lengan jas Tang.
Menarik narik jas hingga tangan Tang sedikit bergerak. "Sini tangan mu, pakai sarung tangan kain ini, sup nya masih panas, akan terasa terbakar nanti tangan mu jika mengangkat mangkuk itu tanpa penghalang kain," tutur Misa menunjukkan sarung tangan kain.
Tang menatap lengan jas nya yang di tarik dengan raut wajah tegang. "Nona," liriknya ke arah tangan Misa yang masih bertengger memegang jas.
Misa yang tersadar segera melepaskan pegangannya. "Eh, Maaf. Refleks," tersenyum cengengesan.
Tang menatap diam tanpa berkata. Dia melirikkan bola mata nya ke arah Arga yang ternyata dirinya sedang di tatap tajam membunuh. Tamatlah riwayat saya Nona, sepertinya tuan salah paham.
"Kemarikan tangan mu sekertaris Tang, dan pakai sarung tangan ini." Misa menyodorkan sarung tangan itu.
Sreet... Brak.
Secara tiba-tiba Arga bangkit dari duduknya. Dia berjalan cepat ke arah dapur lalu menghadang diantara Tang juga Misa.
"Tang, awas kau, biar aku saja yang mengangkatnya," ucap Arga yang sudah ada di hadapan mereka berdua.
"Eh, tapi...," ucapan Misa menggantung.
"Pakaikan sarung tangan," Arga menjulurkan kedua tangan ke arah Misa.
Misa terbengong melirik tangan Arga dan sekertaris Tang secara bergantian. Ini seriusan raja singa mau turun tangan?
"Kenapa kau masih diam saja, pakaikan!" titah Arga sedikit menyentak.
"Eh, iya Suamiku, tapi kan ini sup nya berat dan panas, Suamiku yakin akan mengangkat nya?" tanya Misa dengan gerakan tangan memakaikan sarung tangan kain itu ke telapak tangan Arga.
Arga tidak menjawab ucapan Misa, ia langsung mengangkat mangkuk sayur itu menuju ke meja makan, dengan melewati Tang yang masih mematung di tempatnya begitu saja.
Tang dan Misa ikut menyusul di belakang Arga menuju ruang makan.
Dan saat ini mangkuk sup itu sudah berpindah bertengger di atas meja makan, Misa menarik salah satu kursi yang langsung di duduki Arga.
__ADS_1
Tang dan bi Ane masih setia mengikuti mereka berdua dan keduanya berdiri berada di belakang kursi Arga.
"Sekertaris Tang, dan bi Ane mau mencicipi? Saya tuangkan ke mangkuk makan kalian," tanya Misa yang tangannya sedang menyendokkan sup itu ke mangkuk makan.
Arga menggerakkan kepalanya untuk melirik dengan tatapan tajam pada kedua orang di belakangnya, dan benar saja tatapannya itu sukses membuat bi Ane juga Sekertaris Tang menciut.
"Buat apa kau tawari mereka, itu sup kau buatkan untuk ku." Sinis Arga.
"Tapi Suamiku, sup nya aku buatkan untuk 5 porsi bukannya akan cukup jika di bagi untuk mereka juga," sela Misa dan hendak menyendokkan ke mangkuk lain.
Kenapa dia serakah gini sih, apa karena aku menamainya singa jadi sifat juga sikapnya benar-benar mirip singa.
"Kau berani membantah, taruh kembali mangkuk itu," titah Arga dengan tegas.
Misa mengerucutkan bibirnya sebal dan menurut meletakkan kembali mangkuk makan itu.
Melihat itu Arga menahan senyumannya dan akhirnya menciptakan senyuman kecil sangat kecil sehingga tidak terlihat oleh Misa yang tidak bisa membaca ekspresi wajahnya.
*****
Arga memakan sup krim jagung itu dengan lahap bahkan sudah 3 mangkuk porsi besar dia menghabiskannya.
Glek... Misa menelan ludahnya dengan kasar saat melihat Arga yang makan begitu lahap juga sebanyak itu. Apa seenak itu sup buatannya? Pikir Misa.
"Suamiku, kamu sudah memakan 3 mangkuk sup. Apa tidak akan bermasalah dengan perut mu?" tanya Misa cemas.
Namun tidak di hiraukan oleh Arga yang sibuk menyuapkan kuah sup itu ke mulutnya.
"Suamiku...," ucapan Misa menggantung karena di tatap tajam oleh Arga.
"Diamlah, kau hanya perlu menemaniku makan." Suara dingin nan tegas Arga membuat Misa terdiam.
Misa menoleh ke belakang, mencoba untuk memberikan isyarat kepada Sekertaris Tang agar menghentikan Arga.
Namun sekertaris Tang seakan sudah pasrah, ia memberikan jawaban dari isyarat Misa dengan ekspresi wajah 'sudahlah Nona, patuhi saja apa kata Tuan' itu yang bisa Misa tangkap dari isyarat Tang yang menggerakkan kepalanya.
"Suamiku, sudah kenyangkah?" ucap Misa kembali menatap Arga.
Arga sudah menghabiskan 4 mangkuk makan porsi besar sup krim jagung itu, dan dia sedikit menghentikan aktivitas menyuapkan kuah sup itu ke mulutnya.
Dia terdiam sejenak lalu menoleh ke arah Misa. "Aku masih lapar... euuu," ucap Arga di selingi sendawa pelan dari mulut nya.
Misa menahan tawanya, membuang muka. Dia masih berpikir untuk menghentikan Arga, agar tidak meneruskan makan lagi.
"Suamiku, kamu sudah sendawa artinya kamu sudah kenyang."
Arga melirik sup di mangkuk sayur yang tersisa tinggal sedikit dan melihat mangkuk bekas dirinya makan, ada 4 mangkuk kosong yang tandas menandakan Arga telah memakan isinya.
__ADS_1
Kenapa aku melakukan hal memalukan seperti ini? Belum pernah aku memakan banyak makanan sampai bersendawa seperti itu. Kenapa aku jadi orang bodoh seperti ini? Termenung Arga menatap mangkuk kosong.
"Kau habiskan sup itu, aku ke kamar dulu," ujar Arga beranjak dari duduknya dan berlalu pergi.
Misa, bi Ane dan Sekertaris Tang di ruang makan itu. Terlongo heran menatap kepergian Arga.
Seketika Misa tertawa pelan menutup bibirnya, sehingga tawanya terdengar oleh dua orang di belakang.
"Mengapa Nona tertawa?" tanya bi Ane yang sebenarnya dirinya pun ikut menahan tawanya sedari tadi ketika melihat tingkah Arga.
"Tidak apa-apa." Misa menggeleng pelan masih menutup bibir menahan tawa.
Kemudian ia beralih mengambil sinduk sayur. "Sekertaris Tang, bi Ane mau mencicipi sup ini? Ada satu mangkuk besar lagi mungkin, soalnya saya sudah kenyang tadi sudah makan di rumah lama," tawar Misa menyendokkan sup itu ke kedua mangkuk makan yang berukuran porsi kecil sehingga dari 1 mangkuk makan porsi besar menjadi dua mangkuk makan porsi kecil.
"Duduklah sebelah sini, tidak apa-apa, tuan kalian sedang di kamar tidak akan ke sini," tutur Misa lagi dan menepuk kursi sebelahnya.
Sekertaris Tang dan bi Ane saling pandang tanpa bicara, yang tak urung membuat mereka melangkah maju.
Misa beranjak dari duduknya, menarik lengan bi Ane sedang Sekertaris Tang Misa mengisyaratkan dengan gerakkan kepala.
Dan setelah di bujuk dan di tarik oleh Misa mereka akhirnya duduk di kursi makan berdampingan, Misa memilih kembali duduk di kursinya sebelah bi Ane.
"Cobalah, apa kalian tidak suka dengan sup ini?" tanya Misa yang melihat mereka masih beku tidak menggerakkan tangannya.
"Tidak Nona, maksud saya sangat suka, tidak perlu seperti ini Nona," ucap bi Ane namun ada nada gelisah dari suaranya.
Sedang Sekertaris Tang masih diam dengan raut wajah tanpa ekspresi.
"Jika kalian suka, makanlah saya akan senang, saya tidak mencampurinya dengan racun kok, jadi tenanglah," tutur Misa sedikit memaksa.
"Baiklah." Akhirnya bi Ane mengambil mangkuk itu lalu mulai menyendokkan untuk di suapkannya sup itu ke mulut.
Sedang Sekertaris Tang masih diam tak bergerak.
"Enak Nona, sup nya sangat enak," ucap bi Ane senang dan kembali menyuapkan sup itu ke mulutnya.
Misa tersenyum manis mendengarnya.
"Sekertaris Tang, apa anda tidak akan mencoba nya?" tanya Misa yang melihat Tang masih diam.
Sekertaris Tang melirik bi Ane juga Misa secara bergantian, lalu dengan gerakan tenang tangannya meraih mangkuk itu dan mulai menyendok untuk menyuapkan ke mulutnya. Namun tidak ada sepatah kata yang keluar dari bibirnya setelah sup itu di cecap dan di rasa.
Misa mengerucutkan bibir, menatap sebal. Nggak ada tanggapan gitu soal rasanya.
"Sepertinya saya dan Suami saya tidak akan bisa menemani adik-adik makan malam," ucap Misa.
"Baik Nona, saya akan menyampaikan jika Nona dan Tuan sudah makan duluan." Timpal bi Ane seakan mengerti maksud Misa.
__ADS_1
"Terimakasih bi Ane."
BERSAMBUNG...