
Gema Adzan Subuh telah terkumandang indah bersamaan dengan matahari perlahan terbit menyingsing menciptakan warna yang sangat indah.
Arga terbangun dari tidurnya ketika merasakan ada sebuah benda basah yang jatuh dari dahinya, perlahan matanya mengerjap pelan melihat sekeliling.
Rasa pusing dan rasa lemas yang di rasakan Arga telah sirna, badannya terasa ringan.
Perlahan Arga ingin bergerak dari posisinya yang terasa sedikit kaku, namun gerakannya terhenti saat merasakan sebuah tangan menggenggam erat jemari tangannya.
Dia sedikit mengangkat kepala untuk melihat sosok yang menggenggam tangannya itu.
"Romisa." Ada seulas senyuman tipis di bibirnya. Dan dengan penuh kehati-hatian agar tidak membangunkan Misa, ia menggerakkan badannya untuk bisa mendudukkan tubuhnya dengan bersandar ke kepala ranjang.
Misa masih terlelap di sampingnya dengan posisi terduduk di kursi rias dan kepala di atas kasur dengan wajah menghadap ke arah Arga, sehingga pria itu dapat melihat jelas wajah tidur lelapnya.
Arga menatap lekat wajah itu dengan tatapan hangat dan senyuman tulus terulas di bibirnya. Ternyata dia merawat ku sampai terlelap di sini. Ayah tidak salah memilih, menjodohkan aku dengannya, pilihan ayah memang selalu bak malaikat.
Ceklek.
Suara pintu kamar terbuka pelan, Arga menoleh ke arah pintu. Tampak Egi memasuki kamar dan berjalan menghampiri ke ranjang dengan sorot mata tajam menatap pria yang berada di ranjang itu.
Egi melirikkan matanya pada seorang gadis mungil yang tampak tertidur kelelahan, ada tatapan ketertarikan dari tatapan Egi ke arah Misa. Yang membuat Arga memicingkan matanya tidak suka.
"Jangan memandangnya seperti itu Egi," tegas Arga dingin.
Egi dan Arga saling memberikan tatapan tajam.
Kepala Misa sedikit bergerak. "Hmm...singa," igauannya di tengah pejaman mata.
Sontak Egi dan Arga beralih menoleh ke arah Misa yang tampaknya masih terpejam lelap.
"Singa?" Celetuk Arga heran. Apa dia bermimpi bertemu singa?
"Haah," tiba-tiba kepala Misa terangkat dan menegakkan punggung, menggeliat ke kiri dan kanan dengan mata masih terpejam. Dia belum tersadar jika dua pasang mata di ruangan itu sedang mengamati semua gerakkannya.
Perlahan mata Misa terbuka, hingga ia langsung terbelalak kaget melihat dirinya tertidur di samping ranjang dengan posisi terduduk.
Eh, kenapa aku tidur di sini? Alisnya sedikit berkerut mengingat kejadian semalam, yang terlintas dalam pikirannya jika ia sedang merawat Arga semalaman.
"Bagaimana keadaanya sekarang?" Gumam Misa melihat sekitar ranjang, hingga pandangannya terjatuh pada satu orang di hadapannya yang sedang duduk setengah terbaring.
"Suamiku, bagaimana keadaan mu?" Ujar Misa, tangannya terulur langsung memeriksa dahi juga pipi Arga. Dan hal itu tidak luput dari tatapan awas Arga, juga tatapan tajam Egi yang ada di belakang Misa yang keberadaannya belum di sadari.
Menatap hangat. "Aku baik-baik saja," ucap Arga pelan.
Misa menarik kembali tangannya. "Syukurlah, suhunya sudah turun, tapi sepertinya tubuh mu masih lemas," pandangan mata Misa masih terus menelisik wajah Arga.
Arga mengangguk pelan.
"Ekhem..," deheman Egi menyadarkan Misa.
Gadis mungil itu sedikit memutar tubuhnya menolehkan kepala ke arah belakang.
"Egi sejak kapan kamu ada di situ?" tanya Misa heran mendapati Egi tengah berdiri di belakangnya.
Arga menangkup wajah Misa dan memutar kepala itu agar mengahadap ke arahnya kembali.
"Sejak tadi Adzan Subuh Romisa," Arga menjawab dengan tangan masih menangkup sebelah pipi Misa agar tidak menoleh ke arah Egi lagi.
"Subuh, Astaghfirullah, iya sekarang jam berapa, aku belum Shalat," kaget Misa melirik jam dinding yang ada di sebrang lurus.
"Suamiku aku ke kamar mandi dan Shalat dulu, boleh?" Sambung Misa sambil melepaskan tangan Arga yang menempel di pipinya.
__ADS_1
Arga mengangguk mengiyakan.
Misa beranjak dari duduknya dan berbalik. Namun ketika kakinya hendak melangkah dia melirik ke arah Egi yang sekarang posisinya di samping.
"Egi tolong jaga kakak mu sebentar, dan jika-"
"Sudahlah cepat sana Romisa, jangan bicara padanya," tegas Arga memotong ucapan Misa.
Misa menunduk menghembuskan napas nya pelan lalu berlalu ke kamar mandi.
Sepeninggalan Misa yang menyisa kan dua orang pria di ruangan itu.
Egi duduk di kursi bekas Misa terduduk tadi hingga jarak dirinya dengan Arga tidak terlalu jauh.
"Kenapa kau kemari?" tanya Arga dingin.
"Aku hanya ingin melihat Misa, apakah dia baik-baik saja?" ucap Egi tenang.
"Dia sudah menjadi Kakak Ipar mu, panggil dia dengan benar," menatap tajam.
Egi tersenyum kecut. "Aku tidak pernah menganggapnya sebagai Kakak Ipar, dia tetap akan menjadi Misa ku," tantangnya menatap tak kalah sengit.
"Coba saja kalau kau berani mendekatinya, dia sekarang sudah menjadi milik ku," tegas Arga masih menatap tajam.
Sudut bibir Egi berkedut tersenyum sinis. "Jika saja, aku tau yang akan di jodohkan Ayah itu Misa ku, aku yang akan mengajukan diri waktu itu, ketika kau dengan tegasnya mengatakan tidak menerima perjodohan ini. Kenapa sekarang kau berubah setelah melihat Misa ku? Dulu sebelum pernikahan itu di ajukan kau ingin memberontak menolak pada Ayah. Kenapa sekarang malah sebalik nya? Jangan mengambil Misa ku Kakak!" cerocos Egi penuh peringatan.
Arga terdiam sejenak, namun mata nya semakin menatap tajam, rahang tegasnya mengeras dengan gigi mengkerat geram. Dia tidak terima dengan pernyataan adiknya bahwa Misa adalah miliknya.
"Aku mengambil yang sudah semestinya jadi milik ku," tegas Arga menyatakan ke pemilikannya.
Egi menatap dingin dalam diam dengan bibir bungkam merapat. Meskipun kau tidak bisa melepas Misa, tapi lihat saja kak siapa yang akan bisa mendapatkan hatinya. Karena aku tau di hati Misa masih kosong belum terisi siapa pun.
Menghela napas pelan, dan membuang muka. "Baiklah Kak, sepertinya sebentar lagi Sekertaris Tang juga dokter Kevin akan segera tiba di sini, aku sudah menelponnya tadi, semoga lekas sembuh Kakak," ujar Egi bangkit dari duduknya dan tersenyum menyeringai sebelum berbalik.
Hah... Arga menghembuskan napas kasar. "Kenapa aku punya adik seperti itu? Kakak Ipar sendiri ingin di rebut. Apakah dia tidak waras?" gumam Arga kesal.
Tidak lama kemudian sepeninggalan Egi, Sekertaris Tang, bi Ane dan dokter Kevin sudah berada di dalam kamar.
"Dokter Kevin cepat periksalah tuan, apa yang di deritanya?" Cemas Tang.
Dokter Kevin segera melaksanakan tugas dokternya untuk memeriksa Arga.
"Kau sedang tidak main-main kan tuan Arga, setau ku kau tidak pernah sakit bukannya tubuh mu ini baja," canda dokter Kevin yang di balas tatapan tajam oleh Arga.
Tersenyum tipis, Kevin mulai memeriksa kondisi tubuh Arga. "Kau makan apa semalam, kenapa bisa terkena diare seperti ini?"
"Aku tidak memakan apa-apa, hanya memakan sup buatan istriku saja," ucap Arga.
Kevin menurunkan stetoskop yang menempel di telinganya. "Sup apa yang kau makan?"
"Sup krim jagung dokter Kevin, dan tuan memakannya sampai 4 porsi," ucap bi Ane yang langsung di beri lirikkan tajam oleh Arga.
Ada apa dengan si Arga ini? Baru kali ini aku mendengar hal konyol mu Arga. gumam kevin dalam hati dan tersenyum.
Ceklek.
Romisa keluar dari ruang ganti baju, ia melangkah mendekat ke arah ranjang yang tampak sudah ada beberapa orang berkumpul di sekitarnya.
"Eh, Sekertaris Tang. Akhirnya anda datang juga," sapa Misa pada Tang yang di balas anggukkan kepala hormat oleh Tang.
Kevin menoleh ke arah suara. Dia melihat penampilan Misa dari atas sampai bawah dengan sorot menilai. Jadi ini Nona Romisa, sangat cantik dan imut.
__ADS_1
Arga yang melihat kevin yang terus menatap Misa, tangannya terangkat. Dan...
Plakk.
Dia menepuk belakang kepala dokter Kevin cukup keras, sehingga dokter Kevin terlonjak mengaduh.
Menoleh cepat. "Hey sakit!" seru dokter Kevin sambil mengusap belakang kepalanya yang terasa panas.
Arga memberikan tatapan tajam tidak suka padanya sehingga membuat senyuman Kevin semakin melebar senang.
Haha... jangan begitu juga kau memperingati, baru saja jatuh cinta tingkah mu sudah seperti anak TK saja yang tidak mau miliknya di pegang atau di lihat orang.
Misa yang melihat ada pria dengan jas kedokteran duduk di samping Arga mengulaskan senyuman ke arahnya.
Dan itu membuat Arga semakin tajam menatap Kevin.
Senyuman Kevin semakin lebar, ia beranjak dari duduknya. Baiklah, baiklah, sepertinya aku harus pergi dari sini sebelum tatapan tajam mu itu menusuk jantung ku.
"Dokter mau kemana, gimana keadaan Suamiku?" tanya Misa yang melihat Kevin sudah berdiri di samping ranjang.
"Keadaannya sudah membaik, tapi alangkah baiknya jika Nona terus merawatnya, supaya cepat pulih kembali," tutur dokter Kevin tersirat maksud dalam perkataannya.
Misa termenung sejenak memikirkan tugasnya yang sebagai guru. "Suamiku, bolehkah aku pergi mengajar? Soalnya aku ada kelas pagi hari ini, biar Sekertaris Tang atau bi Ane di sini sementara, bolehkah?" Misa berjalan mendekati ranjang dan duduk di kursi kecil samping ranjang sehingga dia berhadapan langsung dengannya.
"Tidak Romisa, kau harus tanggung jawab, aku sakit juga karena memakan sup itu," tegas Arga menolak izin Misa mentah-mentah.
"Tapi Suamiku...," cela Misa.
"Kau mau membantah!" tegas Arga sedikit membentak.
Misa sedikit terlonjak kaget oleh bentakan itu. Katanya kau sedang sakit, tapi masih saja bisa mengaung keras di depan wajah ku...hiks hiks.
Misa menundukkan kepalanya tak berani melihat tatapan tajam dari Arga. "Baiklah Suamiku aku akan menemanimu hari ini, aku akan menelpon dulu Rina, untuk meminta izin juga menemui Egi sepertinya dia masih di bawah untuk meninggalkan tugas, soalnya aku bagian mengajar di kelasnya hari ini," tutur Misa tenang agar Arga tidak mengamuk lagi.
"Kasih saja sama Tang tugas itu, biar dia yang memberikannya pada Egi," titah Arga.
Yang di balas anggukkan kepala oleh Misa.
Kevin yang masih di sana, menyaksikan mereka. Ia tersenyum menghela napas pelan sebelum berucap. "Baiklah Nona, baik-baik merawat Suami mu, dan resep obatnya sudah saya kasih ke bi Ane, saya permisi Nona," ucapnya menunduk hormat ke arah ranjang lalu berlalu dari ruangan itu dengan di ikuti bi Ane.
Kini tinggal tiga orang yang tersisa di dalam kamar.
"Suamiku aku akan menelpon Rina dulu sebentar yaa," izin Misa beranjak pergi ke arah sofa setelah mendapat anggukkan kepala dari Arga.
Misa menelpon Rina agar bisa izin dari mengajarnya juga mengabari soal tugas yang di titipkannya pada Egi.
"Tang, urusan kerjaan kau yang urus," instruksi Arga pada Tang yang masih berdiri di sekitar ranjang.
"Baik tuan, lekaslah sembuh tuan."
"Dan jangan biarkan Ayah tau aku sakit, untuk saat ini biarkan Ayah di dalam kamarnya saja dan jika mau jalan-jalan ajaklah Ayah ke taman belakang," perintahnya lagi pada Tang yang balas anggukkan kepala mengiyakan.
"Dan satu lagi Tang, awasi terus Egi," titah Arga.
"Baik tuan."
Misa bergabung kembali dengan Arga setelah menelpon Rina.
Dia mendekat ke ranjang. "Suamiku, apakah kamu mau mandi? Akan ku siapkan keperluan nya."
Arga mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
Misa pun berlalu ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuk mandinya Arga.
BERSAMBUNG...