
Di Dalam Mobil Hitam Mewah.
Hah... Arga menghela napas lelah kemudian ia menyenderkan punggung dan kepala ke badan kursi mobil.
Tang yang sedang menyetir, merogoh ponsel dari balik jas. "Tuan, ini laporan mengenai kegiatan Nona selama hari ini." Memberikan ponsel ke arah kursi belakang.
Arga menerima ponsel tanpa merubah posisinya. Dia tampak membolak-balikkan benda pipih milik Sekertaris Tang itu.
"Tang. Ponsel baru lagi?" Tanya Arga melihat model ponsel yang berbeda dari sebelumnya.
"Iya tuan." Jawab Tang.
Pria tampan itu menyalakan layar ponsel. Kemudian mulai melihat jepretan gambar Misa di dalam layar ponsel itu.
Jepretan gambar ke 1, 2, 3 Arga tampak biasa saja dan masih bisa tersenyum. Namun ketika bergeser ke gambar ke-4 sampai seterusnya.
Seketika rahang tegas dia mengeras dengan tatapan yang berkilat menyala oleh amarah menciptakan tatapan yang begitu tajam tak suka.
"Tang!"
Brak... krak.
Sentak Arga geram dan saking geramnya dia melempar ponsel dalam genggaman ke depan. Hingga ponsel itu terbagi dua yang berakhir di bawah kaki Tang.
Tang melirik kaku ke arah bawah, tatapannya terlihat sendu melihat nasib ponselnya yang sudah hancur.
Di lempar lagi. Apa tuan tidak kasihan pada saya yang terus berganti ponsel? Kenapa harus ponsel saya yang di lempar, hancurlaah.
"Tang! Kenapa si Dani terus melekat pada Romisa!" Ucap Arga dengan posisi duduk kaki terbuka, wajahnya terlihat memerah karena emosi.
Jangan tanya pada saya tuan, tanya lah pada orangnya.
Namun Tang memilih terdiam mendengarkan dan pandangan fokus ke jalan.
__ADS_1
"Selain Adik ku, ternyata Dani pun ikut-ikutan bersaing dengan ku." Cerocos Arga lagi masih dengan nada meninggi penuh kekesalan.
"Harus bagaimana aku Taaang?" gerutunya lalu mendesah kasar.
Sekertaris Tang berdehem sejenak sebelum berucap. "Ekhem.. tuan. Apakah tuan masih kurang percaya diri bisa mendapatkan Nona Romisa sepenuhnya? Lihat lah posisi tuan sekarang dan status tuan terhadap Nona."
Seketika Arga bangkit dari senderan membenarkan posisi duduknya sedikit mencondongkan tubuh ke depan. "Posisi dan status, maksud mu Tang?" tanya Arga meminta kejelasan.
Sekertaris Tang menghela napas pelan.
Kenapa cemburu tuan selalu membuatnya tidak bisa berpikir?
"Sebagai suami sah secara hukum juga secara agama." Jelas Tang.
Seketika senyuman lebar tercetak di bibir pria tampan itu, ia mengangguk paham. "Benar kata kau Tang. Bagaimana pun aku sudah menjadi suami Romisa yang sah." Ucap Arga masih dengan senyuman.
Tang melirik sekilas ke kaca depan melihat keadaan raut wajah pria di kursi belakang. Baru nyadar tuan.
"Tinggal buat Nona mengandung anak tuan agar bisa tetap tinggal di samping tuan selamanya... karena dengan Nona melahirkan anak tuan, maka tuan Egi mau pun tuan Dani tidak akan berani bersaing lagi dengan, tuan." Usul Tang.
Cetak.
Arga menjentikkan jemarinya. "Ide bagus kau Tang." Girangnya sumringah. Kemudian dia...
Puk...puk.
Menepuk tegas sebelah pundak Tang dengan perasaan semangat.
Tang tersenyum kecil melirik kilas ke samping. Jadi selama ini tuan masih belum menyentuh Nona, tapi wajar lah pasangan tuan dan Nona memang pasangan yang masih polos dan tahap belajar menjalin cinta.
Senyuman di bibir Arga perlahan meredup kala mengingat persyaratannya sebelum menikah. "Tapi Tang, di perjanjian itu sudah di jelaskan tidak ada sentuhan fisik. Bagaimana aku melakukannya sedang dalam perjanjian yang ku ajukan seperti itu?"
Hah... Tang menghembuskan napas lelah, menatap lurus ke depan. "Tuan, soal perjanjian itu tuan bisa membatalkannya karena tuan sendiri yang membuatnya."
__ADS_1
Alis Arga terangkat sebelah, dengan telunjuk menggaruk dagunya yang tak gatal. "Kenapa aku jadi sebodoh ini Tang?"
Saya tidak tahu tuan. Memang anda setelah mengenal cinta jadi bisa, di bilang bodoh.
"Huh... baiklah Tang, usul mu akan ku coba." Sambungnya lagi.
Arga kembali menyenderkan punggung di badan kursi dengan kedua lengan jadi bantalan kepala. Ada senyuman bahagia dari bibir nya.
"Kau suruh Bi Ane, siapkan gaun indah berwarna merah tanpa lengan juga bahu," titah Arga melihat ke depan.
"Baik Tuan." Ucap Tang lalu tesenyum. Namun tiba-tiba...
Plakk.
Keplakan keras di kepala Tang sontak membuatnya mengernyit kesakitan.
Kenapa saya di timpuk tuan, apa salah saya?
"Sakit tuan." Celetuk Tang mengusap bagian kepala yang terasa berdenyut panas.
"Maka nya kau jangan membayangkan Romisa memakai gaun itu." Ketus Arga tidak suka.
Tang masih mengusap kepala dengan pandangan fokus ke jalanan. Tuan siapa juga yang membayangkan Nona, saya tersenyum karena saya senang melihat tuan tersenyum bahagia bukan membayangkan Nona.
"Ah, dan satu lagi Tang." Ucap Arga kembali menormalkan duduk nya.
Apalagi tuan? Apalagi... saya lagi kesal.
Wajah Arga berubah serius. "Undang Dani ke rumah, agar dia tahu siapa yang sedang dia dekati itu." titahnya lalu menyeringai misterius.
"Baik tuan." Wah... bakal ada perang saudara nih.
BERSAMBUNG...
__ADS_1