Romisa Kehidupan

Romisa Kehidupan
151


__ADS_3

Misa memasuki ruangan yang di tunjuk Arga, semua anak anak di ruangan yang melihat Misa langsung berhambur mendekati dan menyalami nya. Setelah semua bersalaman pada Misa anak anak kembali pada tempat duduknya masing masing. Bi Ita, bi Sum, bi Sinta (istri nya paman Reno) berjalan menghampiri Misa.


"Neng," ucap bi Ita dan bi Sum lalu kedua nya mencium kedua pipi Misa.


"Bibi Misa sangat senang, semua bisa berkumpul di sini," jawab Misa menatap bi Ita dan bi Sum bergantian.


"Bibi juga neng sangat senang bisa bertemu dengan neng lagi," ucap bi Ita.


"Ekhem... Ambii nggak di sun nih dek," tegur bi Sinta.


Misa menoleh pada bi Sinta yang sudah ada di samping nya.


"Ambiii.." girang Misa sambil berhambur memeluk bi Sinta.


"Iya adek.." jawab bi Sinta membalas pelukan Misa.


"Ambii kemana aja Misa kangen tahu. Ke pernikahan nggak dateng dan baru nongol sekarang," gerutu Misa dalam dekapan bi Sinta.


Bi Sinta melepaskan pelukannya dan memberi jarak dirinya dengan Misa agar bisa melihat wajah Misa. "Maafkan ambii dek, saat adek menikah, ambii sedang perjalanan umroh, dan paman mu itu tidak memberitahukan nya pada ambi, tahu tahu adek sudah menikah dan sekarang sudah isi saja," tutur bi Sinta dan mengusap wajah Misa.


Misa mengangguk. "Tidak apa, dengan ambii sekarang ada di sini saja misa sudah sangat senang. Oh, yaa bang Iki belum pulang mbii?" tanya Misa.


"Belum dek, koas nya sekitar 2 bulanan lagi selesai," jawab bi Sinta.


"Ekhem... mbak Misa nggak nyapa Annisa nih. Duh, jadi sedih nggak di anggap sama mbak Misa," ucap Annisa yang sedari tadi menonton acara peluk kangen Misa dengan bi Sinta.


Misa menoleh ke belakang nya bi Sinta dan seketika sorot mata nya berbinar senang. "An an," celetuk Misa dan beralih memeluk ke Annisa.


"An an, kamu tambah gede dan cantik lagi. Makan apa kamu jadi gede gini?" celoteh Misa mencubit gemas lengan Annisa.


"Aww... mbak Misa jangan di cubit dong, sakit tau," ucap Annisa dan tersenyum.


Misa melepaskan pelukannya pada Annisa, lalu menangkup wajah Annisa dengan kedua tangan Misa. "Pipi mu juga gembil Ann.. bisa dandan juga kamu Ann, padahal kamu itu dulu tomboy sekali," ucap Misa mencubit pipi gembil Annisa.


"Haiissh... mbak Misa udah dong ini pipi bukan bakpao, sakit tau. Annisa pulang ah," rajuk Annisa pura pura sebal.


"Habisnya gemes banget pengen nyubit, yaudah sono pulang, tidak di butuhkan juga..haha," goda Misa mencoel pipi Annisa yang cemberut.

__ADS_1


"Mbak Misa... gitu deh, Annisa kangen tahu sama mbak. Nggak ada mbak Misa rasa nya hidup Annisa hilang separuh tahu..hiks..hiks," gerutu Annisa kembali memeluk Misa.


"Cup..cup..anak kadal, jangan nangis dong. mbak jadi ikutan nangis nih. Masa anak kadal yang tak takut apapun nangis sih...malu dong," ucap Misa menepuk nepuk pelan punggung Annisa.


"Iiih mbak Misa masih sama saja, senang banget manggil Annisa anak kadal," gumam Annisa.


Misa melepaskan pelukannya. "Emang kamu anak kadal alias anak nakal, sering bikin ulah. Sekarang masih gitu nggak?" ucap Misa mencubit puncuk hidung mancung nya Annisa.


"Nggak laah mbak. Sekarang Annisa tinggal di asrama kampus jadi nggak bakal bikin bibi pusing lagi dengan kenakalan Annisa," jawab Annisa.


"Pantas sekarang kamu berubah drastis dari tomboy jadi anggun gini..haha."


Misa asyik berceloteh dengan Annisa. Sementara bi Sinta, bi Ita dan bi Sum yang melihat Misa dan Annisa sedang temu kangen. memilih meninggalkan mereka berdua dan bergabung dengan ibu ibu lainnya. Dan Cesa yang jadi pengamat Misa dari jarak jauh mengirimkan video kegiatan Misa ke Sekertaris Tang.


"Kakak ipar... lihat Syila sudah cantik nggak dengan gaun ini?" tanya Syila yang baru datang dan langsung bergabung dengan Misa.


Misa menatap penampilan Syila. "Masya Allah Syila, kamu cantik banget..kaka sampai pangling melihatnya," balas Misa dengan nada tenang.


Syila menggaet sebelah lengan Misa lalu melirik Annisa yang memegang tangan Misa. "Siapa kamu? Pegang pegang tangan kaka ipar... ini kakak ipar Syila yah, hanya Syila yang boleh memegang nya begitu," seloroh Syila dengan nada ketus dan menarik tangan Misa dari pegangan Annisa.


"Sssut... jangan bicara seperti itu Syila, dia ini teman kakak waktu kaka tinggal di panti. Jd Syila jangan marah pada nya," tutur Misa lembut.


Annisa tersenyum kepaksa. "Iya..nona Syila yang cantik," ucapnya dengan penuh penekanan karena kesal.


"Bagus kalau kau tahu..huh," balas Syila mendengus.


"Kakak ipar yuk pindah, jauh jauh dari nya. Syila nggak suka dengannya yang sok akrab," pinta Syila menarik lengan Misa.


"Syilaa... tp kaka masih mau berbicara dengan nya," ucap Misa menahan tarikan Syila.


"Tapi Syila nggak suka dengannya. Pokok nya dia jangan dekat dekat kakak ipar," rajuk Syila menatap sebal pada Annisa begitu pun Annisa menatap sinis pada Syila.


Haish... kenapa Syila sama seperti s singa sih, ya tuhaan padahal aku masih ingin banyak mengobrol dengan An an..kan sudah lama nggak bertemu dengannya. Tp melihat kedua nya jika di satukan akan bertengkar mending aku menjauhkan mereka dulu.


"Baiklah kaka ikut dengan mu Syila... An an. Bergabunglah dengan yang lain. Maaf mbak harus tinggal dulu," ucap Misa yang di balas anggukkan kepala oleh annisa.


"Ayo kakak ipar, Syila ingin ke sana gabung dengan pengawal nya kakak ipar," rengek Syila sambil menarik lengan Misa.

__ADS_1


"Iya Syila, yuk Asyila sayang," ucap Misa menuruti permintaan Syila.


Misa dan Syila ikut bergabung bersama Cesa juga bi Ane. Kedua nya banyak bercerita panjang lebar, dan tiba tiba suara intrupsi dari pengeras suara menghentikan semua aktivitas di ruangan itu juga membuat suasana seketika hening.


Intrupsi dalam pengeras suara mengatakan bahwa pengajian akan segera di mulai dan akan ada ceramah yang akan di pimpin oleh seorang Ustadz terkenal. Semua orang dalam ruangan itu, mengambil al-Qur'an untuk mengikuti pengajian. Dan di mulailah pengajian dengan membacakan surah Ar-Rahman, surah al-Luqman dan surah lainnya dengan di pandu oleh seorang Ustadz lewat pengeras suara.


Selesai membaca al-Qur'an, pak Ustadz memberikan sedikit pencerahan pada tamu tamu di sana lewat ceramahnya. Dengan khidmat acara demi acara terlewati dan terlaksana dengan lancar dan tiba di penghujung acara yaitu doa doa untuk Misa dan kandungannya agar selalu di beri kesehatan dan di lindungi oleh Allah Swt.


Acara tasyakuran telah selesai dengan lancar dan khidmat, para tamu di persilahkan untuk menikmati jamuan yang telah di sediakan sepuasnya. Tampak binar kebahagiaan selalu terpancar di sorot mata Misa melihat orang orang terdekatnya berkumpul dan bercengkrama bahagia.


Sementara Arga yang berada di ruangan khusus laki laki merasa uring uringan karena ingin bertemu Misa namun terhalang oleh banyaknya para tamu juga pak Ustadz jika di tinggal begitu saja akan merasa tidak enak dan mana mungkin Arga akan menerobos ke tempat perempuan.


Sekertaris Tang yang melihat wajah muram tuan nya hanya bisa menggeleng pelan dan menghembuskan napas panjang.


"Tang.. masih lama kah acara nya?" tanya Arga setengah berbisik.


"Sebentar lagi Tuan," balas Tang.


"Bagaimana kabar Romisa di ruangan sebelah?" tanya Arga masih dengan suara berbisik.


"Cesa melaporkannya tiap 10 menit sekali, Nona baik baik saja Tuan. Dan malah kelihatannya sangat bahagia," jelas Tang membuat Arga bernapas lega.


Dan tiba tiba paman Reno menghampiri Arga. "Tuan Arga Putra," ucap paman Reno.


Arga menatap paman Reno yang ada di hadapan nya tanpa bersuara.


Paman Reno tersenyum. "Tuan Arga, apa saya mengganggu anda?" tanya nya.


"Tidak," jawab singkat Arga masih menatap paman Reno dengan tatapan dingin.


"Selesai acara ini, bisakah saya berbicara dengan anda juga adek Romisa?" tanya paman Reno dengan nada tegas di akhiri senyuman.


Arga mengangguk kecil. "Bisa," jawab nya singkat.


Paman Reno tersenyum. "Baiklah, terimakasih atas waktu nya Tuan Arga. Sungguh kehormatan bagi saya bisa di undang di acara ini," tuturnya.


"Sama sama pak Reno. Anda adalah orang terdekat nya istri saya, sudah seharusnya saya mempertemukannya, jadi tidak perlu sungkan. Dan silahkan nikmati jamuan yang kami sediakan," ucap Arga dengan nada tegas.

__ADS_1


Paman Reno mengangguk. "Terimakasih Tuan Arga," balasnya.


BERSAMBUNG...


__ADS_2