Romisa Kehidupan

Romisa Kehidupan
29


__ADS_3

Di Pagi Hari.


Saat Misa dan keluarga Arga berada di meja makan sedang menikmati sarapan.


"Romisa setelah sarapan ikut aku ke kamar Ayah," ucap Arga yang memang sarapan kali ini tidak di temani oleh Ayah Putra.


"Baiklah Suamiku."


Sedang Egi dan Syila memakan sarapannya tanpa


mengeluarkan sepatah kata.


Beberapa saat kemudian.


Mereka telah menghabiskan sarapannya, dan saat ini sepasang suami istri itu tengah berjalan menuju ke kamar Ayah Putra. Sedangkan Egi dan Syila entah kemana mungkin sudah berangkat ke sekolah masing-masing.


Keduanya berjalan melewati beberapa pintu juga lorong yang di jaga ketat oleh para bodyguard di sekitarnya. Hal itu membuat alis Misa berkerut heran dan Arga yang berada di sampingnya melirik tersenyum tipis.


"Ayah suka ketenangan, dan tidak ingin di ganggu," ucap tenang Arga yang seakan mengerti pikiran Misa.


Misa mendongak menatap ragu. "Suamiku..," ucapnya tercekat.


Arga memperhatikan setiap mimik wajah yang Misa keluarkan sehingga Arga tau jika Misa ingin menanyakan sesuatu.


"Ada apa? Tanyalah jika ada yang ingin kau tanyakan." Arga berkata lembut sembari mengusap pelan puncuk kepala Misa.


Lagi-lagi Misa tertegun menunduk, kaget dengan perlakuan Arga yang tak biasa sehingga membuatnya lupa akan menanyakan apa.


Kenapa dia sangat lembut kepada ku biasanya garang banget kayak singa?


Langkah kaki keduanya terhenti tepat di depan pintu yang menjulang sangat tinggi bagi Misa yang bertubuh mungil sehingga membuat gadis cantik itu harus mendongak melihatnya.


"Apakah ini kamar Ayah?" tanya Misa.


Arga mengangguk tipis tanpa berkata. Lalu tiba-tiba pintu itu terbuka lebar yang memunculkan 4 pria berjas hitam menyambut keduanya.


"Pagi tuan Arga," ucap mereka serempak.


Arga hanya menanggapinya dalam diam dan ekspresi wajah dingin.


Kemudian pria tampan itu melangkah menuju pintu yang seukuran tinggi badannya hanya melebihi sedikit. Arga membuka pintu itu dengan sidik jari yang di tempelkan pada panel kunci pintu, dan terbukalah pintu tersebut.


"Pagi tuan Arga dan Nona Romisa." Sambut beberapa pelayan menunduk hormat.


Yang lagi-lagi tak di hiraukan oleh Arga. Namun tidak dengan Misa yang melengkungkan bibirnya membalas tersenyum dengan anggukkan kepala santun.


Dalam kamar itu, ada 2 orang berjas kedokteran, dengan beberapa pelayan, pengawal yang berdiri di sekitar. Dari atas ranjang tampak seorang pria paruh baya terbaring lemah dengan mata terpejam seakan tertidur lelap tenang.


Misa masih mematung tidak bergerak, di ambang pintu.


"Romisa, masuklah." Arga menarik tangan gadis mungil itu agar ikut masuk ke dalam.


Misa hanya pasrah menurut mengikuti langkah kaki pria yang menggenggam jemarinya.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Arga pada dua dokter yang berdiri dekat dengan ranjang.


Menoleh lalu menundukkan kepala. "Seperti yang sudah saya ajukan kepada tuan," ucap salah satu dokter yang sepertinya seumuran dengannya.


Arga memberi isyaratan mata pada kedua dokter itu untuk mundur, yang langsung di mengerti. Kedua dokter, para pelayan juga para penjaga yang ada di ruangan itu seketika semuanya berjalan mundur keluar kamar hinhga menyisakan tiga orang dalam ruangan itu.


Arga duduk di kursi kecil samping ranjang. "Ayah." Lirihnya.

__ADS_1


Sedang Misa menjadi pengamat dari tadi berdiri di sisi suaminya.


Mata Ayah Putra perlahan terbuka yang di lirikkan ke arah samping, terulas senyuman ke arah dua orang di dekatnya.


"Bagaimana? Apa yang di rasakan Ayah?" Dengan suara pelan Arga bertanya.


"Ayah baik-baik saja Arga, jangan terlalu khawatir," ucap Ayah Putra parau, lalu kedua bola mata nya melirik ke samping Arga yang dimana seorang gadis mungil berdiri.


"Romisa, kemari Nak," mengulurkan sebelah tangan ke arah Misa.


Misa menurut tanpa penolakan berdiri di samping ranjang.


"Duduklah Nak," ucapnya lagi Ayah Putra menepuk kasur di sisi ranjang.


Misa menurut duduk di sisi ranjang samping tubuh terbaring itu. "Ayah, baik-baik saja? Kenapa hari ini tidak ikut sarapan seperti biasanya?" tanya Misa dengan suara lembut.


Mengangguk lemah dengan senyuman tenang. "Ayah hanya malas beranjak dari kasur empuk ini nak." Bohongnya.


Tatapan Misa sedikit menyipit selidik. Sepertinya ada yang di sembunyikan, kenapa tatapan ayah seperti menahan kesedihan? Apa karena sakitnya?


"Ayah, jangan menyembunyikan sesuatu dari orang yang sangat menyayangi ayah, apalagi itu menyangkut diri dan kesehatan. Ayah ingin kan orang yang di sayangi juga menyayangi ayah bahagia juga merasa tenang?" tutur Misa masih dengan suara lembut.


Ayah Putra membalasnya dengan senyuman dan anggukkan lemah lagi.


"Meskipun di dunia ini terkadang ada yang tidak sesuai seperti yang kita inginkan, tapi rencana tuhan juga kehendaknya akan selalu yang terbaik buat kita ayah. Jadi Misa mohon berusahalah terus untuk kesembuhan ayah. Takdir memang sudah di tentukan oleh Tuhan, tapi buat apa Tuhan menyuruh hamba nya berikhtiar juga tawakal jika memang benar takdir juga nasib itu tidak bisa kita ubah. Jika Ayah sudah menyerah dengan nasib ini, setidaknya ayah harus melihat orang di sekitar yang menyayangi ayah dengan sangat tulus sebelum kata menyerah terlintas di pikiran ayah," tutur Misa panjang yang seketika membuat mata Ayah Putra berkaca-kaca.


"Tidak salah ayah mengingikan mu sebagai menantu ayah, hati juga wajah mu sangat cantik. Nak," ucap Putra sambil mengusap lembut pipi Misa.


"Ayah, istirahatlah, maafkan Misa yang tidak bisa menemani ayah lebih lama, Misa masih punya tanggung jawab untuk mengajar, jagalah selalu kesehatan ayah," Misa mengusap pelan punggung tangan Putra.


Ayah Putra mengangguk mengiyakan, setelah mendapat anggukkan darinya. Misa beranjak berdiri kembali di samping Arga.


Kemudian Arga berdiri dari duduknya. "Baiklah Ayah, sepertinya kita akan bekerja dulu, ayah istirahatlah dan pikirkan apa yang Arga pernah katakan, Arga hanya ingin yang terbaik untuk ayah, Arga menunggu persetujuan itu nanti sore."


Ayah Putra hanya mengangguk dan tersenyum ke arah keduanya.


Sepasang suami istri itu, berbalik melangkah ke arah pintu keluar.


"Assalamualaikum Ayah," pamit Misa yang sudah berada di ambang pintu hendak keluar kamar meninggalkan putra sendirian di kamar itu.


"Walaikumsalam Nak." Menatap kepergian mereka hingga pintu tertutup kembali.


Nak Romisa, kamu memiliki sifat yang sangat mirip dengan istriku Airin. Aku tidak salah menitipkan Arga kepada mu Nak Romisa.


*****


Kedua orang itu telah berada di teras rumah.


"Naik apa kau ke sekolah?" tanya Arga.


"Naik taxi Suamiku, hati-hatilah di jalan," ucap Misa saat melihat sekertaris Tang yang sudah membuka kan pintu mobil penumpang.


Namun Arga masih berdiri di hadapan Misa, menatap sejenak. Lalu ia berbalik menuju mobilnya.


"Tang,.." perintah Arga mengisyaratkan dengan tatapan mata pada Tang sebelum ia benar-benar masuk ke dalam mobil.


Setelah menutup kembali pintu mobil, Tang menghampiri Misa yang masih berdiri tempatnya.


"Nona, naiklah ke mobil," ucap Tang yang sudah ada di hadapan Misa.


"Eh," senyuman di bibir Misa perlahan memudar, ia menatap bingung. Naik ke mobil mana maksudnya?

__ADS_1


"Tuan sudah menunggu di dalam," ucap Tang lagi yang membuat Misa bertambah bingung.


Misa masih diam menatap Tang lalu melirik mobil di belakang tubuh tegap pria di hadapannya. Apa aku tidak salah, si singa menyuruh ku masuk mobilnya?


"Silahkan Nona, jangan membuat tuan menunggu," ucap Tang, kemudian berbalik melangkah ke arah mobil untuk membukakan pintu penumpang mobil yang di dalamnya sudah ada Arga terduduk elegan.


Misa masih mematung sejenak menatap ragu, namun setelah mendapat tatapan dingin dari Tang akhirnya dia berjalan ke arah pintu terbuka itu. Dia berdiri di lawang pintu, melirik pada pria yang sedang duduk di dalam.


"Masuklah Nona, waktu tuan tidak terlalu banyak. Dia akan terlambat masuk kantor," ucap Sekertaris Tang lagi mempersilahkan.


Misa mengangkat kakinya melangkah masuk kedalam dan duduk di kursi sebelah Arga. Ada rasa canggung, gugup dalam sikap Misa.


Setelah Tang menutup pintu mobil penumpang, ia masuk dan duduk di kursi kemudi.


Mobil itu perlahan bergerak melaju di pelataran rumaj hingga melaju di jalanan kota dengan kecepatan sedang.


Misa sudah membeku kaku di tempatnya, ia tidak sanggup melirik pada orang yang di sampingnya, posisi duduknya bagai boneka kayu dengan punggung yang di tegakkan, wajah lurus ke depan dan tangan tergenggam di pangkuan.


Membuat Arga yang melirik sekilas mengulas senyuman. Apa dia robot duduk seperti itu, lucu sekali.


Sedang Sekertaris Tang memilih fokus menyetir menatap pada jalanan, dan sesekali ia pun melirik pada kaca depan menyoroti kedua insan yang di kursi belakang. Terulas senyuman kecil di bibir Tang saat melihat kecanggungan Misa.


Tidak ada percakapan di dalam mobil itu, semuanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Misa masih duduk dengan posisi semula sedang Arga duduk dengan santainya dan wajah menghadap ke jendela. Ada senyuman terus terulas di bibirnya setiap kali melirik pantulan Misa di kaca jendela.


Tangan Misa yang berada di pangkuan mencengkram kuat kain bajunya. Dia masih terlihat tegang dan kaku.


Cepatlah sampai, aku tidak sanggup lagi duduk berdua berdekatan dengan si singa.


"Nona, sudah sampai," ucap Sekertaris Tang membuyarkan lamunan Misa.


"Ah," terlonjak Misa, ia menggerakkan dengan pelan dan kaku kepalanya untuk melihat sekitar jalanan luar jendela.


Syukurlah sekertaris datar ini mengerti apa yang ku inginkan, dia menurunkan ku di jalan pertigaan.


"Sua-suamiku, terimakasih atas tumpangannya, dan hati-hati di jalan," ucap Misa.


Tangannya yang bergetar meraih handle pintu lalu dengan gerakan cepat membuka pintu mobil itu tanpa menunggu Sekertaris Tang membukakannya.


Dia segera turun dari mobil dan...


Brakk.


Menutup kembali pintu mobil dengan sedikit membantingnya. Misa tanpa menengok lagi kebelakang ia langsung berjalan tergesa terbirit pergi.


Melihat tingkah Misa seperti itu, seketika membuat Arga tertawa pelan.


"Lihatlah Tang lucu sekali dia."


Tang melirik kaca depan melihat wajah Arga. Baru kali ini saya melihat tuan tertawa lagi setelah kepergian Nyonya, yang membuat tuan menjadi kepribadian kaku dan dingin.


Senyuman melengkung di bibir Tang, sambil kembali memutar stir mobil untuk melajukannya bergabung dengan kendaraan lain.


"Hei kau tersenyum untuknya," tegur Arga tidak suka.


"Tidak Tuan."


"Jangan kau tersenyum untuk Romisa, hanya aku yang boleh melakukannya," tegasnya tajam.


Bagaimana jika tuan tahu. Nona selalu banyak tersenyum ketika mengajar akan seperti apa reaksinya, membayangkannya saja sudah membuat saya ngeri.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2