
Ketika botol itu mengarah ke arah Misa. Seketika semua pasang mata yang ada di sekeliling meja langsung menatap ke arahnya.
Kenapa mereka melihat ku begitu?
"Misa." Serempak Rina dan Pak Dani.
"Eh," terhenyak, Misa melirik arah botol yang mengarah padanya. Oh pantas...
Dan ada senyuman terulas di bibir tipis Egi.
"Ekhem." Berdehem untuk menetralkan kembali suasana.
"Baiklah, siapa yang mau bertanya pada saya?" Misa mengedarkan melirik setiap wajah.
Sreet.
Seketika semua tangan mengangkat kecuali Cesa yang hanya jadi pengamat.
"Ke-kenapa semua nya angkat tangan?" Bingung Misa melihat ke semua orang yang berada di meja.
"Pilih salah satu dari kita bertiga Misa," ucap Rina sambil menunjuk diri.
Misa mengedarkan pandangan nya pada ketiga orang itu, lalu telunjukknya berhenti menunjuk orang yang akan memberikan pertanyaan.
"Rina saja." Ucap Misa menunjuk Rina.
"Yuhuy." Girang Rina menurunkan tangan, lalu merapatkan diri ke dengan menggeser kursi ke depan.
Misa tersenyum menanggapinya. "Jadi apa pertanyaan dari mu Rin?"
Rina berdehem sejenak sebelum bertanya. "Ekhem... Misa apa kamu pernah merasakan jatuh cinta dan sama siapa orang nya?"
Dengan refleks Misa menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu Rina," ucapnya jujur.
"Kenapa Bu Misa tidak di pilihkan truth or dare?" Tanya Cesa bingung.
Misa melirik ke arah gadis di sampingnya. "Tapi saya sudah menjawab jujur Cesa, jadi saya sudah pilih truth." Jawab Misa membuat Rina mengerucutkan bibir nya sebal.
"Yaah jadi aku dong yang makan cabe lagi." Kecewa Rina lemas, dan dengan gerakan lesu ia mengambil satu buah cabai di mangkuk.
"Tapi sebentar." Cegah Pak Dani menghentikan pergerakan tangan Rina yang hendak menyuapkan cabai rawit ke mulut. "Bu Misa kan jawab seperti itu belum tentu jujur, dia kan tidak tahu seperti apa yang nama nya jatuh cinta."
"Dan siapa tahu dia sekarang sedang merasakan nya, namun tidak menyadari." Tambah Egi membuat pernyataan.
"Selamat...selamat." Oceh Rina menaruh kembali cabai ke mangkuknya. "Dan benar apa kata Pak Dani, setuju saya."
Seketika semua orang mengangguk setuju kecuali Misa.
Rina mencondongkan tubuh bersedekap tangan di atas meja. "Memang kamu tahu Mis. Seperti apa perasaan jatuh cinta?"
Misa menggeleng pelan sebagai jawaban tidak.
Plak.
Rina menepuk jidat nya sendiri." Ya ampuun. Kenapa aku bisa lupa, Misa kan tidak punya pengalaman. Hah...," Dia kembali menatap serius ke arah gadis cantik sebrangnya.
"Baiklah Misa, aku akan bertanya semua tentang ciri-ciri jatuh cinta itu dan kamu cukup jawab jujur sejujur jujurnya dengan apa yang kamu rasakan."
"Hmm... bo-boleh." Misa mengangguk mengiyakan.
Rina menghela napas pelan sebelum mengajukan pertanyaan, dengan tatapan serius seakan mengintrogasi. "Pertama, apakah kamu pernah merasakan jantung berdebar sangat kencang jika dekat dengan salah satu laki laki?"
__ADS_1
Misa tampak berpikir termenung dengan bibir merapat.
Berdebar sangat kencang? Iya aku merasakan nya ketika aku dekat dengan si singa. Tapi kan itu karena dia menakutkan.
Semua orang tampak sedang menatap nya serius menunggu jawaban Misa.
Misa menatap Rina lalu menganggukkan kepala, seketika membuat senyuman terbersit di bibir Egi dan Pak Dani.
"Oke, yang kedua... apakah kamu pernah merasakan di hantui bayang-bayang wajah orang tersebut yang membuat jantung mu seketika berdebar saat mengingatnya?"
Misa kembali berpikir menerawang.
Iya si singa juga sering muncul dalam pikiran sampai jantung ku seakan meloncat keluar. Tapi masa sih jatuh cinta? Itu pasti hanya perasaan takut saja.
Dan semua masih menunggu jawaban dari gadis cantik yang tampak terdiam termenung itu.
Hah... Misa menghela napas pelan, lalu mengangguk pelan seketika senyuman di bibir Egi dan Pak Dani semakin melebar.
"Haha... baiklah yang ketiga. Apa kamu pernah merasakan rasa khawatir, cemas terhadapnya jika melihat dia murung atau tingkah dia yang tidak seperti biasanya?"
Semua pasang mata menatap sangat serius ke arah Misa menunggu jawaban yang terlontar dari bibir mungil itu. Namun Misa masih diam berpikir.
Benar juga aku pernah merasakan khawatir jika si singa belum makan, dan ketika sikap dia yang berubah.
Misa melihat orang yang sedang menunggu jawaban nya lalu ia mengangguk lemah.
Rina semakin terkekeh geli. "Dan yang terakhir nih, apa kamu pernah merasakan rasa kesal dan amarah ketika melihat dia sedang berbicara dengan lawan jenis nya?"
Semua kembali memperhatikan Misa menunggu jawaban nya.
Kesal, marah sepertinya aku tidak pernah. karena selama ini aku tidak pernah mendengar atau melihat si singa sama wanita lain.
Brak.
Rina menggebrak meja sehingga sebagian para tamu melirik ke arah meja mereka.
"Waah Misa kamu benar-benar sedang jatuh cinta, cepat katakan sama siapa kamu jatuh cinta... katakan lah ayo katakan." Antusias Rina mendekat ke arah gadis itu.
Sedangkan Egi dan Pak Dani bertambah serius menatap penuh harap menunggu jawaban, berharap nama nya yang akan di sebut.
Misa mengedarkan pandangan nya melihat mereka satu persatu.
Jika aku mengatakan siapa orang nya memang tidak apa-apa, toh mereka kan tidak kenal si singa, tapi di sini ada adiknya. Lebih baik aku tidak mengatakan nya.
"Ada Rina, aku tidak bisa mengatakan siapa orang nya." Ucap Misa.
"Hah." Semua orang menghembuskan napas kecewa.
"Yaah Mis, padahal tinggal sebutkan nama nya saja, atau inisial gimana?" Rina tak gencar memaksa.
"Nggak bisa Rina, ini masalah hati dan pribadi jadi aku tidak bisa mengatakannya. Maaf aku pilih dare saja." Ujar Misa dan hendak mengambil satu buah cabe rawit merah.
Namun tangan nya yang akan meraih mangkuk itu terhenti ketika Pak Dani juga Egi bebarengan mengambil cabe ke mangkuk.
"Biar saya wakil kan." Kata Pak Dani.
"Egi saja yang wakil kan."
Pak Dani dan Egi saling tatap menatap tajam dengan tangan masing-masing saling berpegangan pada satu buah cabe yang di pilih di mangkuk.
Rina tertawa melihat nya. "Hahaha.... kalian lagi pada ngapain. Kalau mau pacaran sepasang gay jangan di sini malu-maluin." Ledeknya.
__ADS_1
Membuat kedua pria itu menatap tajam ke arahnya.
Sedangkan Rina yang di tatap seperti itu bukannya berhenti tertawa tapi malah semakin gencar tertawa geli.
"Sudahlah jangan tunjukkan adegan mesra kalian pada kami, jijik tahu aku lihat nya." Ucap Rina masih dengan tawa nya.
Huh... Egi dan Pak Dani saling membuang muka dengan wajah masam.
Misa dan Cesa terkekeh geli melihat ke konyolan mereka.
"Sudah biar saya saja yang wakil kan." Cesa mengambil satu buah cabe rawit dari mangkuk lalu langsung melahapnya.
Membuat kedua pria tampan itu mendesah kecewa.
Misa tersenyum lalu meraih botol di tengah-tengah meja.
"Mau di lanjutkan permainan nya?" Tanya Misa menunggu persetujuan dari orang sekeliling.
Mereka mengangguk setuju. "Boleh."
Misa mulai memutar botol dan kini botol itu berputar melewati Misa, Cesa, Rina dan berhenti tepat di Pak Dani.
"Siapa yang mau bertanya?" Ucap Pak Dani menatap Misa berharap gadis itu yang akan mengajukan pertanyaan.
"Saya saja deh," ucap Rina mengangkat sebelah tangan.
"Hmm.. baiklah apa pertanyaa nya?"
"Siapa wanita yang jadi inceran Pak Dani... hayo jawab?" Ucap Rina.
Pak Dani tampak gelagapan melirik gadis cantik di sebrang meja.
"Eh, bentar mau truth atau dare nih?" Misa mengajukan pilihan.
Drrtt... drrrtt.
Bunyi ponsel berasal dari gadis sebelah Misa, menghentikan kegiatan dan semua mata langsung terarah ke Cesa.
Cesa mengangkat panggilan telepon itu, ia tampak diam sejenak mendengarkan ucapan perintah dari suara sebrang telepon. "Iya baik, akan segera." Ucapnya tegas lalu memutuskan panggilan.
Cesa mendekatkan diri ke arah Misa. "Nona, sudah larut sore dan sebentar lagi magrib. Apa Nona tidak akan pulang sekarang?" Dia berbisik pelan di telinga Misa.
Seketika mata Misa melebar tersadar dengan waktu. Aku sampai lupa waktu.
Sementara ketiga orang masih menatap bingung ke arah Cesa juga Misa.
"Kenapa kalian berbisik-bisik?" Celetuk Rina.
"Ah, tidak apa-apa Rina. Sepertinya sebentar lagi akan adzan magrib. Saya... saya pulang duluan yah sama Cesa." Ucap Misa bangkit dari duduknya.
"Iya benar, kita keasyikan bermain permainan ini jadi lupa waktu. Yasudah kita pulang yuk." Ajak Rina yang ikutan bangkit dari duduknya.
"Bu Misa biar saya antar," tawar Pak Dani.
"Tidak perlu Pak, saya bersama Cesa."
"Baiklah, hati-hati di jalannya Bu Misa."
Misa mengangguk kecil menimpali ucapan Dani.
BERSAMBUNG...
__ADS_1