Romisa Kehidupan

Romisa Kehidupan
148


__ADS_3

Setelah memutuskan panggilan ke Arga. Misa langsung memberitahukan Rina janji temu nya akan di adakan di rumah lama Misa dan mengadakan bakar bakar ayam di pekarangan rumah, Rina menyetujuinya dan akan menyiapan semua keperluannya.


"Cesa. Apakah di parkiran ada motor?" tanya Misa sambil membenarkan hijabnya.


Alis Cesa berkerut heran. "Ada Nona. Tp semua motor di parkiran adalah koleksi motor nya Tuan Egi. Sedang Tuan Arga hanya mengkoleksi mobil saja," ucap Cesa.


Misa menghela napasnya pelan. "Apa Cesa bisa mengendarai motor?" tanya nya.


Cesa mengangguk. "Bisa Nona. Apa Nona ingin kita berangkat ke sana dengan mengendarai motor?" tanya Cesa menyelidik.


"Iya Cesa. Rasanya saya ingin menikmati angin saat dikendaraan nanti," tutur Misa sambil mata terpejam sejenak membayangkan saat di bonceng.


"Tidak Nona. Bisa marah tuan jika nona kesana menggunakan motor," tegur Cesa tidak setuju.


Misa menoleh pada Cesa yang ada di belakangnya. "Bukannya tadi kamu sendiri sudah bilang jika saya adalah prioritas utama mu. Jadi turuti saja permintaan saya Cesa, dan jangan kau laporkan pada suamiku," tegas Misa.


Cesa menghela napas pelan. "Tapi Nona, itu akan berbahaya bagi kesehatan Nona juga bayi dalam kandungan Nona," sanggah Cesa masih tidak setuju dengan ide Misa.


Misa menatap dingin ke arah Cesa. "Pokok nya saya ingin menaiki motor. Kalau nggak naik motor ya sudah jangan jadi kesana nya," tukas Misa kesal sambil mendudukkan dirinya ke sofa tv.


"Nona... jangan seperti ini. Tolonglah, saya hanya tidak ingin terjadi sesuatu pada Nona nantinya," bujuk Cesa dan berdiri di hadapan Misa.


Misa membuang muka ke arah lain. "Iya kan kamu bisa mengendarai nya dengan hati hati Cesa. Pokok nya saya ingin naik motor... titik," tegas Misa lagi dan memasang wajah sebal.


Apakah ini bagian dari ngidamnya Nona...


Cesa dengan tatapan pasrah menatap Misa. "Baiklah Nona kita ke sana akan naik motor. Saya akan meminta izin terlebih dahulu pada tuan Egi agar mau meminjamkan salah satu motor nya untuk Nona," tutur Cesa dengan nada pelan.


Seketika wajah Misa berbinar semangat. "Terimakasih Cesa, ya sudah saya akan siap siap untuk berangkat," girang Misa lalu beranjak ke ruang ganti sambil bersenandung senang.


Cesa menggeleng kecil beberapa kali. "Semoga saja tuan tidak marah pada saya karena ini juga permintaan Nona. Baiklah sekarang bagian menelpon tuan Egi," gumam Cesa sambil melihat layar ponsel mencari nomor Egi di kontak.


---------


Cesa sudah memarkirkan motor gede di halaman depan. Misa yang melihat kemunculannya Cesa langsung tersenyum senang.


"Cesa apa tidak ada motor matic yang seperti Rina?" tanya Misa karena melihat motor yang di keluarkan Cesa adalah sejenis Moge keluaran terbaru.


"Tidak ada Nona, semua koleksi motor nya tuan Egi sejenis ini semua. Bagaimana apa Nona masih ingin menggunakan motor untuk berangkat ke sana?" ucap Cesa.


Misa mengangguk. "Iya Cesa, soalnya saya lagi ingin naik motor," ucap nya.


Cesa menghela napas pelan lalu menghampiri Misa yang berdiri di teras rumah dan memandang penampilan Misa dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Nona, tunggu sebentar," ucap Cesa lalu berlalu ke dalam rumah.


Apa ada yang di perlukan lagi. Perasaan semua nya sudah lengkap. pakai sepatu tinggi sudah.Tas juga sudah. apa lagi yang di perlukan.


Tidak berapa lama Cesa datang membawa bantal duduk yang empuk untuk di jok motor, jaket kulit anti air, masker, kaca mata hitam, syal rajut dan sarung tangan.


Alis Misa berkerut heran. "Buat apa semua itu Cesa?" tanya Misa.


"Pakailah ini Nona, agar tidak terkena angin dan debu jalanan," titah Cesa memakaikan sarung tangan ke tangan Misa.


"Tapi Cesa... ini seperti saya akan ke kutub utara saja harus memakai semua ini," celoteh Misa melihat barang barang yang sedang di pakaikan Cesa ke tubuh nya.


Cesa sejenak menatap misa. "Ini peraturannya, jika Nona ingin menaiki motor maka harus memakai ini semua untuk perlindungan Nona," tutur Cesa sambil memakaikan jaket kulit ke badan Misa.


Misa menghela napas pasrah dan membiarkan Cesa memakaikan barang barang tersebut ke tubuhnya.


Setelah semua sudah terpakai Cesa menghampiri motor lalu memasangkan bantal duduk ke jok motor untuk duduknya Misa.

__ADS_1


"Mari Nona kita berangkat," ucap Cesa menggiring Misa.


Cesa melihat penampilan Misa terlebih dahulu yang memakai dress terusan.


"Nona, apakah tidak ada celana bahan yang biasa Nona pakai? Jika pakai dress begini bagaimana bisa Nona akan menaiki motor," tanya Cesa bingung.


"Cesa saya memakai mihnah (celana panjang dalaman gamis) dan mihnah saya juga longgar jadi tidak apa jika terlihat sedikit ketika menaiki motor ini. Habisnya di lemari saya semua nya baju dress terusan seperti ini tidak ada pakaian potongan atau celana bahan. Jadi tidak apa kan Cesa," jelas Misa menatap Cesa yang sudah menaiki motor.


Cesa mengangguk. "Tidak apa Nona. Kemarilah Nona biar saya pakaikan helm nya," pinta Cesa agar Misa mendekat.


Misa mendekat dan berdiri di samping motor. Lalu Cesa memakaikan Misa helm.


"Naiklah Nona. Hati hati," titah Cesa sambil memegang tangan Misa saat Misa menaiki motor untuk di bonceng nya.


"Sudah Cesa. Yuk kita berangkat," ucap Misa setelah dirinya duduk nyaman di boncengan.


"Nona tolong pegangan tangan nya ke perut saya," ucap Cesa yang langsung di turuti Misa melingkarkan lengannya ke perut Cesa.


Lalu motor yang di kendarai Cesa mulai melaju di pelataran rumah Arga dan melewati gerbang utama untuk bergabung dengan kendaraan lainnya di jalanan kota.


Cesa mengendarai motor nya dengan kecepatan rendah sehingga sangat lamban.


Kalau begini jalannya mau sampai kapan ini nyampe di rumah.


"Cesa bisakah di tambah kecepatannya. Agar cepat sampai ke rumah saya," ucap Misa dekat telinga Cesa sedikit meninggikan suara nya agar terdengar.


"Tidak bisa Nona. Karena keselamatan Nona yang paling utama," tolak Cesa dengan nada tegas dan pandangan tetap fokus pada jalanan.


Misa mencebikkan bibir nya yang tertutup masker.


Ya tuhan. Sudah berpakaian seakan menghadapi badai salju. Di tambah kecepatan motor juga sangat lamban seperti siput. Kalau tahu begini mending naik mobil nya saja..menyebalkan.


--------


Misa dan Cesa sudah sampai di rumah lama Misa.


"Misaaaa... Assalamualaikum bebeb Misa ku," suara cempreng Rina yang berada di pekarangan rumah berlari menyambut Misa yang baru turun dari boncengan motor.


"Walaikumsalam Rina," balas Misa sambil melepaskan helm.


Rina menelisik penampilan Misa yang menurut nya berlebihan sampai memutari tubuh Misa.


"Mis... kamu ini habis dari kutub yah. Kenapa penampilan nya sampai segini nya. Kamu nggak lagi sakit kan bebeb Misa," cerocos Rina memeriksa dahi Misa.


Misa menurunkan telapak tangan Rina dari dahi nya lalu melepaskan masker dan kaca mata nya. "Aku sehat sehat saja Rina. Ini ulah nya Cesa yang terlalu berlebihan," balas Misa sambil berjalan ke arah kursi teras.


Rina menoleh ke belakang melirik motor dan Cesa secara bergantian. "Wih hebat yah kamu Cesa, bisa mengendarai moge. Aku saja motor gigi yang biasa belum bisa," celoteh Rina sambil tersenyum.


"Terimakasih atas pujian nya bu Rina," jawab Cesa yang masih memarkirkan motor ke pekarangan rumah.


"Cesa kau apakan sahabat ku di bungkus segitunya seperti lontong saja," tegur Rina mendekati Cesa.


Cesa berjalan mengekori misa. "Saya melakukan itu untuk kebaikan Nona. Karena sudah tugas saya dari Tuan untuk selalu menjaga Nona," ucap Cesa santai.


Rina duduk di kursi teras lalu menatap Misa. "Sepertinya suami mu itu sangat OP yah mis," ucap Rina yang duduk di kursi sebrang Misa.


Alis Misa berkerut. "Apa itu OP?" tanya nya.


Rina terkekeh. "Over protektip, jadi terlalu ngatur kamu gitu," jawab Rina.


Misa mengangguk mengiyakan. "Mungkin juga Rina. Tp memang kita sebagai istri sih sudah seharusnya menuruti perintah suami kan, yaa selagi perintah nya untuk kebaikan dalam rumah tangga kita dan tidak mengajak ke jalan keburukan," ucap Misa sambil melepaskan jaket kulit, sarung tangan dan syal di leher.

__ADS_1


"Iya juga sih. Tp apakah kamu nyaman Misa di perlakukan seperti itu oleh suami mu?" tanya Rina menatap Misa.


Misa menghela napas pelan. "Aku sih nyaman2 saja... yaa terkadang ada yang membuat ku sebal dan risih, tp aku paham dengan semua peraturan dan perintah yang suamiku terapkan memang untuk keutuhan dan kebaikan rumah tangga," tutur Misa.


"Dan selama itu kamu tidak pernah membantah atau memberontak, meskipun perintah nya tidak kamu sukai," sanggah Rina.


Misa mengangguk. "Rina... jika kita memberontak dan membantah keinginan suami yang memang baik untuk kita. Bagaimana bisa akan tercipta nya ketenangan dan kasih sayang dalam rumah tangga.


Lagian, Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. mengatakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda: "Apabila aku diperintahkan agar seorang bersujud kepada orang lain, maka pasti aku perintahkan wanita (istri) sujud kepada suaminya."


Bukannya sudah jelas, berarti kita tidak boleh membantah atau sampai membangkang terhadap perintah suami, selagi perintahnya itu baik dan tidak mengarah ke keburukan yang akan di laknat Allah," tutur Misa panjang dengan nada tenang.


"Baiklah... baiklah aku paham Misa, aku hanya berharap kamu bahagia misa dan suami mu itu selalu membahagiakan mu," ucap Rina dan tersenyum.


"Amiiin Rina."


"Ekhem...," dehem Cesa membuyarkan obrolan Misa dan Rina. "Bukannya kita kemari akan bakar bakar ayam yah, bu Rina?" tanya Cesa membuat Rina tertawa.


"Hahaha...iya yah, kenapa malah ngebahas soal rumah tangga mu Misa. Sedang aku saja belum nikah... hahaha," jawab Rina masih di selingi tawa pelan.


"Rina, apa bi Sum ada di sini? Soalnya pintu rumah sudah kebuka," tanya Misa melihat pintu rumah nya terbuka.


"Oh, iya. Dan bi Sum sedang membeli ayam nya. Palingan sebentar lagi pulang," balas Rina.


"Ya sudah mending kita siap siapin dulu alat alat nya keluar rumah, kita bakar bakar ayam nya di situ saja," ucap Misa dan menunjuk pekarangan rumah nya yang terhampar rumputan hijau di samping pot bunga anggrek yang berjejer.


Rina dan Cesa mengangguk mengiyakan. "Ya sudah yuk!" serempak kedua nya lalu beranjak dari duduk.


Misa masuk ke dalam rumah nya di ikuti Rina dan Cesa di belakang untuk mengambil peralatan memanggang ayam dan meracik bumbu.


Alhamdulillah ternyata rumah ku terawat meskipun sudah aku tinggalkan dan jarang di singgahi oleh ku.


Ketika Misa hendak membawa alat pemanggang, cesa dengan sigap menghampiri Misa.


"Nona, jangan membawa barang barang atau mengangkat apapun. Bisa marah tuan. Nona kan sedang mengandung jadi harus hati hati dalam beraktivitas," tutur Cesa sambil mengambil alih alat pemanggang yang di pegang Misa.


Rina yang mendengar penuturan Cesa membelalakan mata nya terkejut. "Benarkah kamu sedang hamil Misa?" tanya Rina.


Misa tersenyum lalu mengangguk . "Iya Rina".


"Waaah sebentar lagi aku akan di panggil tante..ya tuhaan Misaa. Kenapa kamu tidak memberitahukan aku sih. Sudah berapa bulan Misa," girang Rina sambil mengelus perut Misa yang masih rata.


Misa terkekeh. "Jalan 2 bulan Rina" jawab Misa tenang.


"Jalan 2 bulan dan kamu tidak memberitahukan nya pada ku. Kamu jahat Misa," ucap Rina mencebikkan bibirnya sebal.


"Kami pun baru mengetahui nya beberapa hari yang lalu Rina."


Rina memicingkan mata nya menyelidik. "Apa jangan jangan karena ini suami mu tidak mengizinkan untuk mengajar lagi yah?" tanya Rina yang di balas anggukkan kepala oleh Misa sebagai jawaban iya.


"Kalau ini sih aku setuju dengan perintah suami mu itu Misa. Karena memang sangat baik untuk mu juga buah hati mu nanti. Kan orang hamil tidak boleh kecapean dan terlalu banyak aktivitas," celoteh Rina sambil mengambil peralatan untuk meracik bumbu.


"Iya Rina," hendak mengambil tempat bumbu.


"Nona, sudah saya bilang. Nona cukup diam jangan membawa barang apapun biar saya yang bawakan," cegah Cesa dan mengambil alih kembali tempat bumbu.


Rina terkekeh. "Benar itu Nona Romisa Arya putri. Jadi cukup melihat kami saja yah. Misaa bebeb ku," cerocos Rina sambil mencubit pelan sebelah pipi gembil Misa.


"Dasar kamu Rinaa Rinaa," sambil menggelengkan kepala pelan.


Lalu mereka berdua menyiapkan semua peralatan untuk memanggang ayam di pekarangan rumah sedang Misa di suruh duduk di kursi teras karena di cegah bergerak kesana kemari oleh kedua nya. Dan tidak berselang lama bi Sum sudah kembali dari pasar membawa belanjaan yang akan di masak.

__ADS_1


Mereka semua mulai sibuk untuk memanggang ayam dan masakan pelengkap lainnya, Rina dan Cesa kebagian untuk memanggang ayam. Bi Sum kebagian untuk memasak masakan pelengkap lainnya, sedang Misa yang di larang ini itu hanya terduduk sambil menyiapkan bahan bahan untuk membuat sambal.


BERSAMBUNG...


__ADS_2