Romisa Kehidupan

Romisa Kehidupan
65


__ADS_3

Misa dan Arga berjalan beriringan menuju meja makan. Tampak dari kedua nya menampilkan ekspresi wajah yang berbeda.


Misa menampilkan wajah yang begitu ceria dengan adanya senyuman terus mengembang di bibir, sementara Arga wajahnya tertekuk kusut dan muram.


Sesampainya di meja makan.


Egi dan Asyila yang melihat kedua nya dari arah pintu masuk sampai memasuki ruang makan, keduanya mengerutkan kening heran.


"Kakak ipar Kak Arga kenapa? Apa Kak Arga sakit? Kenapa wajah nya jelek banget sih?" Celetuk Syila menelisik wajah pria itu.


Arga dan Misa duduk di kursinya masing-masing.


Menggeleng kecil Misa menanggapi ucapan Asyila. "Mungkin lagi ada masalah aja Asyila." Ucapnya sembari membalikkan piring kosong di hadapan Arga juga piring nya.


Sekali lagi alis Syila berkerut bingung. "Masalah apa Kakak ipar?" tanya Asyila penasaran, dengan tangan bergerak memotong omelet.


Senyuman terbesit di bibir Misa yang tengah menyiapkan makanan ke piring. Masalah suami istri di ranjang Syila...


"Sssttt. Sudahlah Syila di makan sarapannya, nanti tersedak kalau bicara sambil makan." Kata Misa lalu tersenyum.


Syila mendesah sebal dan akhirnya diam tidak bertanya lagi.


Sedangkan Arga masih terdiam dengan wajah masih kusut tanpa ekspresi. Egi menatap Kakak nya yang berada di sebrang meja juga melirik Misa secara bergantian.


Ada apa dengan Kakak dan kenapa Misa terlihat senang seperti itu?


Tidak ada lagi perbincangan di meja makan semua nya sibuk dengan pikiran dan sarapan masing-masing.


Setelah sarapan Misa seperti biasanya mengikuti Arga menuju ke teras depan untuk mengantar keberangkatan suaminya bekerja.


Dan di sini Misa berdiri tersenyum ke arah Arga yang berjalan menuju mobil hitam.


Sekertaris Tang yang berdiri di samping pintu mobil terbuka itu, ia mengkerutan dahi heran saat melihat raut wajah tuannya yang tertekuk muram juga wajah Misa yang tersenyum ceria.


Ada apa dengan tuan? Kenapa wajah nya di tekuk seperti itu? Bukannya harus bahagia jika semalam telah berhasil mengikat Nona.


Sekertaris Tang membukakan pintu mobil kursi belakang.


Arga dengan gerakan malas masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi nya.


Blam.


Menutup pintu mobil, sejenak Sekertaris Tang menunduk hormat ke arah Misa, sebelum akhirnya ia masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.


Perlahan mobil hitam itu melaju di pelataran meninggalkan rumah Putra, hingga saat ini melaju di jalanan kota.


Huh!... Arga mendesah kasar setelah mobil yang di tumpangi melewati gerbang rumah. Dan...

__ADS_1


Bugh!


Dia merebahkan tubuh ke badan kursi.


Sekertaris Tang melirik kaca depan yang menampilkan Arga duduk bersender dengan kedua tangan sebagai bantalan kepala nya dan memejamkan mata.


Alis Tang terangkat sebelah, lalu kembali menatap lurus ke depan. Ada apa dengan tuan?


"Tuan." Panggil Tang pelan.


"Hemm," balas Arga malas.


"Ada apa? Bukan nya tuan harus berbahagia hari ini karena sudah mengikat Nona Romisa semalam." Ucap Tang penuh kehati-hatian agar tidak mengganggu mood Arga yang sedang buruk.


"Tang." Panggil Arga pelan.


"Iya tuan." Balas Tang.


"Tang." Panggil Arga lagi.


"Iya tuan." Balas Tang.


"Tang!" Sedikit meninggi.


"Iya tuan, ada apa?" Jawab Tang.


"Aku... aku tidak berhasil semalam," ucap Arga pelan di sertai desah napas berat.


"Kenapa tuan bisa gagal?" tanya Tang heran.


Arga membuka mata nya lalu bangkit dari senderan memposisikan duduk normal.


"Apakah Nona, sedang datang bulan?" tanya Tang lagi karena belum mendapat jawaban dari yang di tanya.


Arga menggeleng pelan sebagai jawaban tidak. Lalu ia menatap ke arah depan dengan sorot mata sayu tersirat keputusasaan.


"Aku tidak tahu cara melakukan nya Tang." Ujar Arga jujur.


Seketika senyuman kecil di bibir Tang terulas. Tuan... kenapa anda benar-benar polos? Iya benar, tuan tidak suka bermain atau bahkan tidak punya pengalaman dengan wanita yang mendekati tuan. Tapi kenapa masalah ini tuan sampe sepolos ini.


"Kenapa tuan tidak bisa melakukan nya?" tanya Tang memastikan.


"Aku melihat nya Tang, tapi... tapi..," ucap Arga terputus lalu mendesah panjang.


"Tapi kenapa tuan?" tanya Tang menyelidik.


"Tapi Tidak ada lubang nya Tang, jadi aku tidak bisa melakukannya." Ucap Arga pelan kemudian menghela napas frustasi dengan kepala tertunduk.

__ADS_1


Tang menahan tawa nya agar tidak terdengar atau meledak.


"Tuan sudah menyentuh bagian inti nya?" tanya Tang menyelidiki.


Kenapa tuan benar-benar sangat polos pikir Tang.


"Tidak menyentuh, hanya... hanya melihat nya, dan aku bingung. Aku tidak bisa melakukan nya Tang... bagaimana Tang?" Ucap Arga memelas gusar frustasi.


"Hahaha... tuan, benarkah." tawa Tang sudah tidak bisa lagi di tahan.


Plaakk.


Arga menimpuk keras kepala Tang keras sehingga tawa nya terhenti dan pria itu mengaduh mengusap kepala nya yang terasa berdenyut panas.


"Kenapa kau tertawa, aku sedang tidak melawak Tang. Beri aku solusi bukan malah menertawai ku." Ujar Arga kesal.


"Maaf tuan, saya kelepasan," ucap Tang masih mengusap kepala nya yang berdenyut nyeri.


"Bagaiman ini Tang?" tanya Arga lagi terlihat gusar.


"Tuan, sepertinya tuan butuh buku panduan **** agar tahu caranya." Usul Tang memberikan ide.


Arga menatap ke depan. "Memang ada buku seperti itu? Tadi nya aku ingin menonton video nya langsung dari internet tapi Romisa melarang ku, kata dia tidak baik untuk nya juga untuk ku. Dia menyuruh ku mencari secara pendidikan gitu ucap nya," tutur Arga polos.


Tuan usia mu sudah 25 tahun tapi kenapa tuan tidak tahu akan hal ini. Bahkan di zaman sekarang anak kecil saja sudah banyak yang paham.


"Tentu ada tuan, jika tuan mau, saya akan carikan." Ucap Tang menawarkan.


Puk...puk.


Arga menepuk pundak Tang penuh harap.


"Carikan Tang dan bawalah padaku. Aku ingin segera mengikat Romisa agar selalu di samping ku," ucap Arga lalu terulas senyuman setelah beberapa saat tadi hanya terdiam muram.


"Baik tuan, nanti saya carikan. Nggak sekalian dengan buku panduan merayu wanita nya tuan?" tawar Tang.


Arga tampak berpikir sejenak.


"Memang ada buku seperti itu?" tanyanya.


"Ada Tuan." Jawab Tang meyakinkan.


"Baiklah, bawakan langsung padaku buku-buku itu. Aku ingin segera mempelajari nya."


Lalu Arga kembali menyenderkan punggung ke badan kursi dengan senyuman kebahagian di bibirnya mengembang.


Tang melirik kaca depan, menggeleng kecil beberapa kali. Kemudian menatap ke jalanan kembali.

__ADS_1


Tuan... jatuh cinta mu merepotkan dan merubah mu jadi konyol seperti ini. Sungguh benar-benar cinta itu menakutkan bagai virus.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2