Romisa Kehidupan

Romisa Kehidupan
152


__ADS_3

Acara demi acara telah selesai, para tamu mulai bersiap siap pulang ke panti dan rumah nya masing masing. Misa mengantar kepulangan anak anak panti, bi Ita, bi Sum, ambi Sinta, dan Annisa sampai ke teras rumah hingga sampai mereka menaiki mobil dan meninggalkan Misa dan Cesa yang masih berdiri menatap hilang nya mobil mobil yang membawa mereka dari pandangannya.


Sementara Arga setelah mengantar pulang pak Ustadz beserta rombongannya, Arga langsung memasuki ruangan kerja bersama paman Reno dan Sekertaris Tang.


Egi dan Syila pun telah kembali ke kamar masing masing tinggal para Pelayan yang sibuk membereskan ruangan yang sudah berantakan bekas acara tersebut.


"Nona, Tuan meminta anda untuk ke ruang kerja sekarang," ucap Cesa yang berada di belakang Misa.


Misa berbalik dan melangkah kan kaki nya.


"Baiklah, saya akan ke sana," jawab Misa.


Cesa mengikuti langkah kaki Misa yang berjalan menuju ruangan kerja Arga. Sesampainya Misa dan Cesa di pintu ruangan kerja Arga. Cesa maju beberapa langkah lalu mengetuk pintu ruangan kerja.


Tok...tok..tok.


"Tuan, Nona sudah sampai," ucap Cesa.


"Masuk," titah Arga dari dalam.


Cesa membuka kan pintu dan mempersilahkan Misa memasuki ruangan kerja Arga.


"Paman," celetuk Misa ketika sudah melangkah kan kaki nya ke dalam ruangan dan pandangan nya mendapati paman Reno tengah terduduk di sofa sebrang Arga.


Paman Reno menoleh ke arah Misa dan tersenyum. "Adek," sahut paman Reno.


Misa berjalan mendekati paman Reno dan menyalami tangan paman Reno.


"Syukurlah, kira Misa paman nggak datang kemari," ucap Misa tersenyum manis.


Paman Reno mengusap puncuk kepala Misa lembut. "Mana mungkin paman tidak datang ke acara penting mu dek, karena adek segala nya bagi paman yang harus paman jaga dan lindungi," tutur paman Reno.


Membuat Misa tertawa pelan.


"Ah, paman bisa saja ngegombal nya," ucap Misa hendak menyentuh tangan paman Reno.


"Ekhem..." dehem Arga menghentikan gerakan Misa yang akan menyentuh tangan paman Reno.


"Romisa, kemarilah. Kenapa kau berdiri di sana, suami mu di sini," titah Arga dengan nada dingin.


Apa s singa marah kenapa nada suara nya berbeda dari biasanya.


Misa menoleh pada Arga yang terduduk di sofa panjang sebrang Misa berdiri.


"Eh, suamiku...iya suamiku," ucap Misa dan memasang senyuman manis meski terpaksa.


Misa berjalan ke arah Arga dan duduk di sebelah Arga. Dan Arga dengan posesif merangkulkan sebelah tangannya di pinggang Misa.


Sementara Sekertaris Tang dan Cesa hanya jadi pengamat berdiri di dekat sofa Arga.

__ADS_1


Arga menatap tajam ke arah paman Reno.


"Apa yang akan anda bicarakan pak Reno, silahkan istriku sudah ada di sini," ucap Arga dengan nada dingin.


Paman Reno tersenyum dan membenarkan posisi duduk nya lalu menatap hangat ke arah Misa.


"Adek, kamu kan sedang mengandung. Jadi harus menjaga diri juga kesehatan secara ekstra. Paman merekomendasikan seorang mahasiswi kebidanan untuk menjaga dan merawat adek agar paman tenang. Dan untuk itu paman meminta izin nya dulu dari mu juga suami mu sebelum membawa orang itu untuk berjaga di sisi mu. Bagaimana menurut adek?" tutur paman Reno.


Mahasiswi, bagaimana bisa paman berani mengajukan seorang bidan yang masih mahasiswi ke s singa. Apa orang tersebut aku mengenalnya sehingga paman mengajukan nya tanpa ragu pada s singa.


Misa menghela napas pelan lalu melirik Arga sejenak yang memasang wajah dingin dan kembali menatap paman Reno.


"Hmm... paman apakah misa mengenal mahasiswi tersebut?" tanya Misa memastikan.


Paman reno mengangguk.


"Iya, bahkan sangat mengenalnya," jawab paman Reno membuat Misa semakin teka teki.


"Si..siapa dia paman?" tanya Misa gugup.


"Nurul Annisatul Alawiyah, dia perawat yang akan menjaga mu," ucap paman Reno membuat Misa terbelalak kaget.


"Apa? Jadi An an, mengambil kebidanan?" ucap Misa seakan tidak percaya, yang di balas anggukkan kepala oleh paman Reno.


Ternyata An an itu selain penampilannya berubah juga profesi nya akan di rubah dari tukang tinju jadi wanita pejuang untuk ibu hamil..sungguh mengejutkan sekali.


"Romisa... bagaimana kau mau mengambil perawat itu dari pak Reno?" tanya Arga pelan sambil mengusap kepala Misa.


"Iya suamiku. Aku mau, bolehkan?" ucap Misa mantap.


"Tentu saja, jika kau menginginkannya aku akan mengizinkannya Romisa" ucap Arga.


"Syukurlah, jika adek menyetujui nya paman akan mengabari Annisa, agar mulai besok dia sudah menjalankan tugas nya" tutur paman Reno.


Misa mengkerutkan alis nya bingung.


"Paman bukannya dia masih mahasiswi jadi pasti dia sibuk dengan perkuliahannya," ucap heran Misa.


"Soal itu adek tidak perlu cemas paman akan mengurusnya, lagian kampus tempat belajar nya Annisa adalah salah satu dari kampus yang di miliki oleh tuan Arga Putra jadi akan mempermudah untuk mengaturnya," jelas paman Reno.


Benarkah...ternyata s singa sekaya itu. Kenapa aku tidak menyadari nya.


"Baiklah, semua nya sudah di setujui. Apakah ada yang akan di bicarakan lagi?" tegas Arga.


"Ada satu hal penting lagi Tuan Arga, yang ingin saya bicarakan pada adek Romisa," ucap nya paman Reno membuat Misa menatap nya.


"Apa itu paman?" tanya heran misa.


Paman Reno menghela napas pelan lalu menatap Misa serius.

__ADS_1


"Adek, masalah perusahaan. Paman rasa..sudah saat nya adek ambil alih, adek kan tahu umur paman tidak muda lagi dan paman mempunyai riwayat penyakit diabetes. Jadi paman ingin adek bisa mengambil alih perusahaan Ayah adek," jelas paman Reno membuat Arga menatap nya tajam.


"Anda menyuruh istri ku bekerja dalam keadaan seperti ini hah. Saya tidak mengizinkannya," tegas Arga dengan nada tajam.


Misa mengusap sebelah tangan Arga yang ada di pangkuannya.


"Suamiku, tenanglah. Maksud paman bukan seperti itu, jadi tenanglah dan dengarkan penjelasan paman terlebih dahulu," tutur Misa lembut menenangkan.


Arga menghembuskan napas kasar.


"Baiklah jelaskan apa maksud anda berbicara seperti itu," titah arga tegas.


"Maaf Tuan Arga bukan maksud saya menyuruh adek romisa mengambil alih saat ini, tp maksud saya jika saya sudah berbicara seperti ini, saya akan tenang. jika suatu saat nanti saya telah tiada, adek Romisa sudah siap untuk mengambil alih perusahaan ayah nya. Jadi saya hanya memperingatkan nya saja Tuan," jelas paman Reno membuat tatapan Arga yang tajam seketika meredup lalu Arga melirik Misa yang tampak bingung.


"Bagaimana Romisa? Keputusan nya ada di tangan mu. Karena bagaimana pun itu adalah perusahaan ayah mu," ucap Arga pelan.


Misa melirik Arga sejenak lalu menatap pamannya. "Baiklah paman, Misa akan bersedia mengambil alih perusahaan ketika sudah saat nya tiba. Harapan Misa sih semoga paman panjang umur dan setia selalu mengelola perusahaan ayah," tutur Misa membuat paman Reno terkekeh.


"Adek, apakah adek tidak kasihan pada paman yang menghabiskan masa tua nya di depan laptop dan lembaran lembaran kertas yang memusingkan. Anak semata wayang paman juga nggak bakal mengizinkannya dek," ucap paman Reno lalu tersenyum.


"Hehe... iya iya paman. Oh, iya bang iki ngambil jurusan nya kedokteran sih.. coba kalau bisnis suruh bang Iki saja paman yang ambil alih perusahaan," tutur Misa membuat Arga menatap sebal.


"Mana mau dia dek, kayak nggak tahu sifat s Iki saja. Tp paman juga nggak mau dek, jika anak paman harus di suruh menggantikan, lebih baik dia mengambil profesi yang di inginkannya saja itu lebih baik agar dia tidak merasa tertekan oleh paman," jelas paman Reno.


"Ya..ya...orang tua yang baik. Hehehe," balas Misa di selingi tawa kecil.


"Ekhem... pak Reno sepertinya pembicaraan nya telah selesai, ini sudah larut malam. Tidak apakah pembicaraannya cukup sampai di sini!" tegas Arga menghentikan tawa kedua nya.


Paman Reno mengangguk paham.


"Iya tuan arga, adek Romisa pasti butuh istirahat tidak baik bagi kandungannya jika tidur terlalu larut. Adek..istirahatlah dan selalu jaga kesehatan mu" tutur paman Reno dengan menatap Misa hangat.


"Baik paman. Misa akan selalu menjaga kesehatan," jawab Misa.


Paman Reno bangkit dari duduk nya di ikuti Misa dan Arga. "Sudah larut paman akan permisi pulang dek, cepatlah tidur," ucap paman Reno.


Misa mengangguk. "Iya paman," jawabnya.


Sekertaris Tang berjalan ke arah pintu ruangan membukakan nya untuk paman Reno yang sudah melangkah ke arah pintu. Paman Reno berjalan menyusuri setiap ruangan untuk menuju ke pintu utama keluar rumah Arga. Sedang Misa dan Arga mengikuti paman Reno dari belakang, mengantar nya sampai ke teras rumah.


Sesampainya di teras depan paman Reno mengusap lembut puncuk kepala Misa.


"Jaga diri dan kesahatan mu adek. Jangan beraktivitas terlalu capek," ucap paman Reno.


Misa mengangguk lalu menyalami tangan paman Reno. "Baik, paman hati hati di jalan. Dan suruh supir paman Jangan ngebut bawa mobilnya," ucap Misa yang di angguki oleh paman Reno.


Paman Reno melirik Arga yang ada di samping Misa yang sudah memasang wajah muram. Lalu tersenyum ke arahnya, dan berjalan ke arah pintu penumpang yang sudah di buka kan oleh supir nya.


Paman Reno memasuki mobil nya dan kini Mobil paman Reno telah melaju meninggalkan pelataran rumah Arga.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2